
Bagian 1
*5 menit kemudian*
*seorang pelayan datang ke kamar tersebut*
"Maaf mengganggu, saya datang kesini hanya ingin memberitahu, bahwa makan siang akan segera dimulai. Pangeran sudah menunggu di meja makan." Ucap pelayan tersebut.
"Iya, kami akan segera kesana." Ucap Luna.
"Baik tuan putri, kalau begitu saya undur pamit dari sini."
*pelayan tersebut pergi*
"Ibunya Gera dan Gera, ayo kita pergi untuk menyantap makan siang!"
"Baik tuan putri." Ucap Vima.
"Jangan panggil aku tuan putri, aku adalah teman Gera panggil saja aku Luna."
"Saya merasa tidak sopan jika memanggil anda dengan nama anda sendiri, tuan putri."
"Tidak apa-apa, aku malah akan sangat senang jika ibu dari temanku memanggilku dengan sebutan itu."
"Baiklah kalau begitu, Luna." Ucap Vima.
Aku tidak menyangka Luna bisa se tegas itu, dia bahkan berani untuk menamparku….
*Gera memegang pipinya*
Ini masih sakit.
"Nak, apakah kamu bisa turun dan berjalan?"
"Tenang saja ibu, aku sudah sehat sekarang!"
"Syukurlah…"
*Gera turun dari kasur, saat turun dia menyadari sesuatu*
Hm, seperti ada yang beda… tunggu, mengapa baju dan celanaku berubah? Siapa yang menggantinya?.
"Em, ibu siapa yang mengganti pakaianku?"
"Ibu tidak tahu nak."
"Pelayan yang menggantinya, Gera." Ucap Luna.
"Hei, jika ingin mengganti pakaian seseorang minta izinlah terlebih dahulu!"
"Bagaimana caranya? Kamu kan pingsan."
Oh iya, sial aku lupa.
"Omong-omong semua pelayan disini perempuan kan?"
*Luna menatap tajam ke arah Gera*
"Iya, mereka semua perempuan!"
Hehe, kalau begitu tidak masalah bagiku!.
"Ya sudah, ayo kita segera pergi ke meja makan!" Ucap Luna.
"Um, ya! Ayo ibu kita pergi."
"Ya, nak."
*mereka pergi ke meja makan untuk menyantap makan siang bersama*
Bagian 2
*mereka telah sampai di meja makan, disitu Gera melihat sang pangeran sedang duduk menunggu*
"Oh, kalian sudah sampai duduklah." Ucap sang pangeran.
*Gera dan Luna duduk di meja makan tersebut*
Meja makan ini sangatlah megah! Dan... Woah, makanannya terlihat sangat lezat! Aku jadi tergoda untuk menyantapnya.
"Nyonya, apakah anda tidak ingin bergabung dengan kami?" Ucap sang pangeran.
"Ibu? Hey, duduklah kita akan menyantap makanan ini, bersama!"
"Maafkan saya pangeran tapi saya tidak bisa bergabung dalam makan siang ini."
"Ibu?"
Ibu kenapa?.
*sang pangeran tertawa*
"Hahaha."
Dia kenapa?.
"Jangan seperti itu nyonya, bergabunglah bersama kami, kami sudah menganggap anda sebagai tamu disini. Jika anda menolaknya, apakah anda tidak mengasihani saya, nyonya?"
"Maksud anda pangeran?" Ucap Vima.
"Anakmu ini, dia pasti akan sangat marah kepada saya karena ibunya tidak ikut makan, tadi saja saat saya memberitahu bahwa anda sedang membantu para pelayan, dia menjadi sangat marah kepada saya."
*Vima langsung duduk dan mengikuti makan siang setelah mendengar perkataan sang pangeran tersebut*
"Terima kasih nyonya." Ucap sang pangeran.
"Sama-sama pangeran."
*Vima membisikkan sesuatu kepada Gera*
"Nak mengapa kamu sangat berani memarahi pangeran?!"
"Hehe..."
*Vima hanya terheran-heran mendengar jawaban dari Gera*
*mereka mulai menyantap makanan mereka masing-masing*
*di tengah-tengah makan siang tersebut, sang pangeran menanyakan sesuatu kepada Gera dan Vima*
"Jika aku boleh tahu, tujuan kalian sekarang apa?"
*Vima hanya diam*
"Sudah jelas, aku akan mencari kedua orang tuaku!" Ucap Gera.
"Bagaimana caranya? Kau kan tidak tahu dimana orang tuamu berada."
"Aku sudah memikirkan caranya."
"Bagaimana?"
"Aku ini sangat ahli dalam menggambar!"
"Lalu?"
"Aku juga masih ingat dengan wajah kedua orang tuaku! Jadi aku akan menggambar wajah mereka berdua semirip mungkin lalu menempelkannya di tiang atau pun di tembok!"
"Serius kau bisa menggambar wajah mereka semirip mungkin?"
"Iya! Aku ini sangat hebat dalam menggambar!"
"Woah, baguslah."
"Aku juga ingin bertanya padamu."
"Apa itu?"
"Kau itu seorang pangeran, pasti kau tahu orang tuaku berada di daerah mana."
"Nak pakailah kata-kata yang sopan!" Ucap Vima.
"Hehe, maaf ibu."
"Maksudmu, bocah?"
"Maksudku, kau pasti tau kemungkinan kecil orang tuaku beraada di daerah mana? Kau seorang pangeran kan? Apalagi jika aku lihat, kau itu adalah orang yang tahu semua tentang dunia ini."
"Nak…"
"Maaf ibu, aku sudah terbiasa memanggilnya begitu."
"Begitu ya…"
"Apakah kau tahu?!"
"Memang mereka pergi berobat kemana?"
"Katanya sih ke kota, ya Eridanus ini! Tunggu darimana kau tahu kalau mereka pergi berobat?"
"Apakah itu perlu aku jelaskan?"
"Eeee, tidak perlu."
"Aku sudah tahu! Tapi ini hanya sebuah kemungkinan kecil saja!"
"Sungguh?! Dimana itu?!"
"Debag. Itu adalah nama untuk wilayah pembatas antara ibukota dan wilayah keluargaku!"
*mendengar perkataan dari sang pangeran membuat Gera sangat senang*
Yes! Akhirnya sudah bertahun-tahun lamanya, aku bisa mengetahui ayah dan ibu ada dimana, walaupun kemungkinannya hanya kecil tapi itu adalah informasi yang sangat membantu!.
"Tidak, kita tidak boleh kesitu nak!" Ucap Vima.
"Ha? Apa yang ibu katakan?"
*Gera menjadi kebingungan mendengar pernyataan dari Vima*
"Betul kata ibumu. Debag bukanlah sembarangan wilayah, melainkan Debag adalah wilayah yang sangat berbahaya lebih berbahaya daripada Eridanus di malam hari! Disitu adalah pusat dari kejahatan."
"..."
"Pasar gelap, jual beli manusia, dan hal-hal diluar nalar ada disitu."
"Apa yang kau katakan?! Jadi maksudmu ayah dan ibuku ditangkap lalu dijual?! Bukankah ayahku adalah anak dari salah satu 5 penguasa!"
"Aku sudah mendengar semuanya dari ibumu, ayahmu sudah bukan siapa-siapa lagi! Dia hanya seorang ras Bangsawan yang menggunakan nama Ursanya saja."
"Bu-bukankah kau anak dari raja?! Dan kau juga membenci hal seperti itu kan?! Tapi mengapa kau membiarkan tempat seperti itu ada!"
"Kau kira tempat itu sudah ada sejak kapan?"
"Kapan?"
"Debag sudah ada sejak generasi ke 6 keluarga Gliese!"
*mendengarnya membuat Gera terkejut*
"Lalu mengapa hingga sekarang wilayah itu masih ada? Apakah keluarga kalian tidak mempunyai hati nurani?"
"Debag sengaja dibuat agar penyusup yang ingin memberontak tidak bisa masuk ke wilayah Gliese. Saat itu banyak dari orang-orang ras Niksmi dan Bangsawan yang ingin membunuh raja dan mengambil tahta raja, dari karena itu Debag diciptakan."
"..."
"Bocah, jika kau pergi ke Debag sama saja kau menyerahkan diri untuk dijual, bukan hanya itu saja! Dari sini ke wilayah tersebut sangatlah jauh benar-benar jauh! Apalagi kau ini sudah resmi menjadi seorang buronan besar! Jadi kau tidak akan bisa menggunakan fasilitas di benua ini seperti transportasi hingga penginapan! Kau benar-benar akan berjalan kaki!."
"Apakah kau bisa membantuku?"
"Bisa tapi tidak banyak! Aku mungkin bisa memberikanmu uang atau membelikan sesuatu untukmu tapi jika melepaskanmu dari buronan ataupun dari daftar hitam, itu sangat mustahil! Karena hanya seorang raja yang bisa melakukan itu."
"Dan ingat! Aku ini seorang pangeran dan belum menjadi seorang raja!"
*Gera menjadi sangat putus asa akibat mendengar perkataan dari sang pangeran*
Apa-apaan ini? Hei, aku sudah sangat senang mendengar orang tuaku kemungkinan ada di wilayah tersebut, tetapi mengapa setiap aku berharap, itu semua bisa hancur....