New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Perempuan dan seorang anak



Bagian 1


"Gera, kenapa kamu sangat keras kepala!"


"Maaf yah, tapi memang seperti ini lah anakmu ini!"


Aku terus berdebat dengan ayah, kami seperti hal nya pro dan kontra, aku berusaha untuk meyakinkan ayah, sedangkan ayah selalu membantahku. 


Hari sudah sangat malam, hujan lebat menghiasi perdebatan aku dengan ayah. Hingga, pada saat kami berdebat, ada ketukan pintu terdengar.


Tuk tuk.


Ayah menghentikan perdebatan kita, lalu pergi ke arah pintu dan membukanya.


"Selamat malam pak, ada yang bisa di bantu?"


Ayah mengatakan kata-kata itu kepada seseorang, mungkin orang yang lebih tua darinya?. Aku melihat Luna dia khawatir, tidak dia sangat khawatir, lalu aku melihat ibu dia merasa sangat shock?.


(Apa yang sebenarnya terjadi?).


Saat aku menanyakannya kepada ibu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


"Bu, apa yang sebe…."


Dor!.


Aku seketika menoleh ke arah ayah,


Dia mulai terjatuh ke lantai, dengan darah yang berceceran. 


Aku hanya bisa terdiam dan shock, sedangkan ibu dia berlari ke arah ayah dengan wajah yang panik, "sayang, sayang bangunlah!" Ibu mulai menjatuhkan air matanya sambil menyebut nama ayah.


Seseorang misterius tersebut mulai masuk kedalam rumah, dia mulai mendekati Luna, seketika aku menyembunyikan Luna di belakang ku.


Tapi dia langsung memukul ku, pukulan tersebut membuat aku terpental.


Aw, akh, sial pukulannya yang keras membuat diri ku mulai kehilangan kesadaran, kesadaranku mulai kabur, mungkin aku akan pingsan.


"Cih dasar ras sampah, beraninya menyentuh sang putri raja."


Apa-apaan kata-katanya itu, itu membuat aku sangat jengkel, tiba-tiba datang ke rumah orang, dan menyerang pemilik rumah, lalu berkata seperti itu.


Di penglihatan terakhir, aku melihat orang misterius itu membawa paksa Luna.


Bagian 2


Aku terbangun, saat aku terbangun hari sudah sore, aku berusaha mengingat kembali apa yang terjadi semalam …, ayah! Aku mulai mengingat apa yang terjadi semalam.


Aku mencari ayah dan ibu, aku sangat khawatir terhadap mereka berdua.


Aku memanggil ayah dan ibu, tapi tidak ada yang menjawab satupun, ketika aku pergi ke teras, aku melihat sebuah surat yang terjepit oleh pintu, isi dari surat tersebut adalah.


"Gera untuk beberapa minggu ini atau bulan ini, ibu tidak akan ada di rumah, ibu pergi ke kota untuk membawa ayah kamu berobat, kamu tidak perlu khawatir ibu sudah menyiapkan uang yang cukup untuk kamu, dan jika kamu merasa kesepian ibu juga sudah meminta tolong adik ibu untuk menginap di rumah, mereka akan datang malam hari, jadi kamu tunggu saja ya."


Aku merasa sangat sedih, ini semua salahku andaikan aku mendengarkan perkataan ayah, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.


Aku yang merasa sangat tersalahkan, hanya bisa meneteskan air mata, tapi saat aku membalikkan kertas tersebut, ada sebuah surat tambahan yang ibu buat.


"Gera, jika kamu merasa bersalah, itu tidaklah perlu, ibu dan ayahmu tidak akan pernah membencimu, kamu adalah anak kami satu-satunya, kami hanya sedih saat kamu membentak kami, hanya itu yang membuat kami sedih, jadi tolong ubahlah sifat kamu yang itu, ya Gera anak yang paling kami sayangi, dan juga harapan kami, kamu jugalah motivasi kami untuk terus berjuang dan bersemangat dalam hidup ini, kami mencintaimu lebih dari apapun...."


Ibu, sebenarnya kamu ingin membuatku senang apa membuatku tambah sedih?.


Aku mulai menjatuhkan air mata dengan sangat banyak, di hatiku aku mengatakan, bahwa aku akan berubah, aku berjanji tidak akan membentak kalian lagi, aku akan menuruti perintah kalian, jadi kumohon agar ayahku bisa disembuhkan.


Aku hanya menangis, selama itu.


10 menit berlalu, tangisanku sudah mulai berhenti, aku melihat lanjutan surat dari ibu.


"... Oya Gera ada sesuatu dari kami, kamu penasaran kan? Jika iya kamu bisa melihatnya di meja makan, ada sebuah kotak di situ kamu buka saja. Gera, mungkin hanya itu saja pesan dari aku ibu mu, yang penting jaga kesehatan ya Gera anak kesayangan kami."


Iya bu, aku akan menjaga kesehatanku.


Aku pergi ke meja makan untuk melihat kotak yang di maksud ibu, sesampainya di meja makan aku melihat 1 kotak berwarna biru dan merah yang tertutup.


Aku mencoba untuk membukanya, dan di dalam kotak tersebut terdapat, koin perak sebagai alat tukar di dunia ini ada juga koin emas, selain koin perak terdapat kertas yang terlipat dua.


Surat lagi?.


Aku membuka kertas tersebut, dan terdapat tulisan.


"Selamat ulang tahun Gera!"


Di dunia ini ternyata ada perayaan hari lahir juga ya, ternyata mereka masih mengingat hari lahir ku. 


(Aku saja tidak mengingatnya sama sekali).


"Gera ini adalah hadiah ulang tahun dari kami, semoga kamu menyukainya…."


Whoa! Sebuah kalung, bagusnya! Ini terbuat dari kayu yang dihaluskan, dan bentuknya seperti huruf G dan U yang digabungkan, sudah sangat jelas bahwa ini adalah nama dan marga ku.


"Dan kami akan sangat senang jika kamu menjaganya dengan sepenuh hati lalu memakainya."


Um! Aku akan memakainya dan menjaganya dengan sepenuh hati.


Aku pun memakai kalung itu, dan akan berjanji untuk menjaganya dengan sepenuh hati.


Hari sudah malam.


Kata ibu dari surat ini, akan ada yang datang malam ini, tapi mana kok dia gak datang-datang?.


Tuk tuk.


Apakah itu dia? Aku pun membuka kan pintu.


"Halo selamat malam, apakah anda tuan Gera?"


(Hah, apa maksudnya tuan?).


"Eh, tuan? Apa maksudmu?"


"Oh, jadi anda bukan tuan Gera ya, mohon maafkan saya."


"Nama saya Gera, tapi, tuan? Apa maksudmu?"


"Jadi anda, tuan Gera!"


"Berhenti memanggil ku tuan! Itu memalukan tau."


"Mohon maaf kan saya, jadi saya harus memanggil anda siapa?"


"Panggil saja aku Gera."


"Baiklah kalau begitu, tu… maksud saya Gera."


Apa-apaan perempuan ini, tapi kalau aku melihat body nya sih.


Boing boing.


Wah pasti ini cup E! Tipeku banget.


"Mamah, lihat aku lihat aku!"


"Lisa, jangan lari-lari."


Lah udah punya anak toh.


(Tipe ku padahal yang masih segar).


"Lisa, kesini, perkenalkan dia adalah kakak kamu, Gera Ursa."


Hah kakak?.


"Perkenalkan aku adalah Lisa Ursa, salam kenal ya."


"Ya salam kenal ju… Aaaaaa! Apa maksudmu dengan Lisa Ursa!"


"Apa maksudmu? Ya itu adalah namaku!"


"Lisa kamu harus sedikit hormat! Kepada tuan Gera!"


"Maafkan aku mamah." 


"Beeerheeentilah! Memanggilku tuan!"


Apa-apaan situasi ini, aku tidak mengerti sama sekali, tuan? Kakak? Apa-apaan itu? Aku benar-benar bingung.


"Kalian masuklah segera, di luar sangat dingin, dan nanti di dalam kasih tau aku apa yang sebenarnya terjadi!"


"Baik tuan Gera."


"Kumohon jangan memanggilku tuan lagi! Rasanya tidak enak tau, di panggil tuan dari orang yang lebih tua."


"Baiklah Gera, Lisa mari masuk ke dalam rumah."


"Ok mama."


Mereka masuk kedalam rumah, si perempuan tersebut langsung melihat keadaan sekitar, hmm mencari apa dia?.


"Tua… Maksud saya Gera, dimana dapurnya?"


"Di sana, ee."


"Maafkan saya, saya lupa mengatakan nama saya, nama saya adalah Vima Ursa."


"Ah, tidak apa-apa ee."


Sial, aku harus memanggilnya dengan sebutan bibi, tante, kakak?!.


"Saya akan sangat senang jika anda memanggil saya, dengan nama saya saja."


"Oh, baiklah kalau begitu, dapurnya ada di situ Vima."


"Terimakasih tuan Gera."


ampun deh, udah di ingetin berapa kali masih memanggilku tuan.


...****************...


Note: bagi kalian yang bingung kenapa Gera sudah tidak gugup lagi berbicara dengan orang, itu karena 4 tahun dia habiskan berinteraksi dengan dirinya sendiri melalui kaca di rumahnya.