New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Semua ini hanyalah kebohongan



Bagian 1


"Ukh, aah."


Aku terbangun dari tidurku yang pulas sambil menggeliatkan tubuhku tak lama setelah itu aku pergi mengecek keluar melalui jendela.


Hmm, mengapa ada banyak orang yang datang kesini? Apakah sekarang ada acara… haaaa, aku bosan apa yang harus aku lakukan? Oya mending aku menggambar sudah lama aku tak menggambar.


Aku pun pergi ke meja untuk menggambar sesuatu saat aku ingin memulai untuk menggambar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku.


Ha, siapa itu?.


Aku pun membuka pintu tersebut dan saat pintu terbuka ada si asisten yang menunggu, "selamat pagi tuan Gera… hm mengapa anda belum siap-siap? Tamu sudah datang loh tuan Gera." Ucap si asisten.


"Apa maksudmu asisten?"


"Hah~ apa anda lupa tuan jika sekarang adalah perkenalan tuan?"


"…"


Sial!! Aku lupa itu aaah gara-gara semalam aku terlalu lelah dan langsung tertidur, aku malah melupakan jika hari ini adalah hari perkenalan diriku!.


"Maafkan, aku asisten! Aku melupakan itu."


"Tidak apa-apa tuan masalah seperti ini sangat mudah untuk diselesaikan."


"Umm, bagaimana caranya asisten? Aku saja belum mandi."


"Apakah anda lupa tuan jika disini memiliki 300 pelayan yang profesional?"


"Ya, aku mengingatnya terus apa?."


"Baguslah kalau begitu."


Asisten pun langsung menepuk tangannya setelah dia menepuk tangannya tiba-tiba ada seorang pelayan perempuan berambut hitam yang datang, si asisten membisikan sesuatu kepada pelayan itu setelah itu pelayan itu menganggukkan kepalanya lalu pergi.


"Baiklah kalau begitu tuan, saya akan menunggu anda di lantai 1."


"Hah, apa yang sebenarnya terjadi? Terus untuk apa kamu membisikkan sesuatu kepada pelayan itu?"


"Tenang saja tuan yang perlu anda lakukan sekarang adalah menunggu."


Aku tak tahu apa yang akan terjadi tapi aku turuti saja dia.


"Baiklah."


*asisten pergi dari kamar Gera*


Hah, aku bosan sekarang mending diriku ini melanjutkan membaca buku Astronomi itu saja, lumayan ilmunya bukan?.


Aku mengambil buku itu dari tempat tidurku lalu membacanya.


*10 menit kemudian*


Aku yang sedang membaca buku mendengar ketukan pintu.


Apakah itu yang dimaksud oleh si asisten?.


Aku pun membuka pintu tersebut, disitu aku melihat ada 5 pelayan perempuan berambut hitam sedang berdiri di depan pintu kamarku.


Woo! Ada 5 pelayan yang sedang berdiri di depan kamarku!. 


Aku melihat-lihat tubuh mereka dan tertuju pada satu hal.


Muehehe boing-boing yang mantap! Aku sangat menyukainya, aku seperti ingin menyentuhnya dan meraba-rabanya hehehe, akhirnya aku bisa mencuci mataku dari sekian lamanya.


"Halo tuan, kami disini ingin membantu tuan untuk membersihkan diri dan mengantar tuan ke acara perkenalannya."


Membersihkan diri? ... Maksud kalian mandi bersama! Whoa impianku saat, aku di dunia sebelumnya terwujudkan! Baiklah!! Mari kita membersihkan diri bersama!!.


*20 menit kemudian*


Ini yang kalian maksud sebagai membersihkan diri? Sial, aku sangat kecewa dengan ini, jiwa mesumku yang awalnya meronta-ronta habis keluar dari goa malah masuk lagi ke dalam goa dan bersedih disitu.


"Hei kamu ambilkan parfum itu!" Ucap salah satu dari mereka.


"Tuan baju ini terlihat cocok untukmu." Ucap salah satu dari mereka [bukan yang tadi].


"Ya terserah kalian saja." Ucap diriku.


"Anda ingin model rambut seperti apa tuan?"


"Terserah kamu saja."


"Hm model ini seperti cocok untuk tuan."


Berhentilah bertanya kepadaku, aku sedang sedih tahu, lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan pada tubuhku ini, hiks maafkan aku wahai jiwa mesumku.


*15 menit kemudian*


"Creng." Ucap mereka bersama.


"Bagaimana dengan hasilnya tuan? Apakah tuan puas?" Ucap salah satu dari mereka.


Woh, ini tidak terlalu buruk… tidak, ini sangat bagus! Aku terlihat sangat tampan dengan penampilan ini.


"Ya! Aku sangat puas dengan hasilnya! Terima kasih ya kalian semua."


"Wah baik dan imutnya." Ucap mereka bersama.


"Baiklah kalau begitu, tuan silahkan ikuti saya akan saya antar tuan ke tempat acaranya." Ucap salah satu dari mereka.


"Baiklah."


Bagian 2


Aku pun keluar dari kamar dan mengikuti pelayan tersebut, kami berjalan seperti biasa hening tanpa obrolan, kami menuruni tangga ke lantai 1 dan berjalan ke arah berlawanan dari pintu keluar, kami terus berjalan hingga sampai pada tempat acaranya.


Whoa ada banyak orang disini mereka sedang berbicara satu sama lain.


Saat, aku sedang memperhatikan orang-orang berbicara si asisten menghampiriku.


"Oh penampilan anda hari ini sangat bagus tuan Gera."


"Terima kasih asisten, hahaha."


"Tuan kalau begitu saya undur pamit dulu." Ucap si pelayan.


"Baiklah, terima kasih ya."


"Tuan Gera sekarang ikuti saya, kita akan memulai acaranya." Ucap si asisten.


Aku mengikuti si asisten, si asisten berjalan menuju ke arah panggung yang sangat mewah, kami pun menaiki panggung tersebut.


Di panggung itu, aku melihat Vima dan Lisa sedang duduk di kursi bukan hanya Vima dan Lisa yang ada disana melainkan kakekku yang sedang berbicara dengan para tamu dan juga beberapa pria misterius.


Aku sempat menyapa Lisa dan Vima dengan mengayunkan tanganku dan mereka merespon sapaan aku.


"Tuan tunggulah sebentar disini saya akan memberitahu tuan Dux jika anda sudah sampai."


"Baiklah asisten."


Si asisten pergi untuk memberitahukan kakek, aku melihatnya sedang membisikkan sesuatu kepada kakek lalu kakek menjawabnya, si asisten pun pergi ke arahku.


"Tuan sini ikuti saya."


"Hm ok."


Aku mengikutinya.


"... hahaha lihatlah cucuku sudah datang…." Ucap kakek.


Aku mulai menampakkan diriku di panggung dan mereka semua bertepuk tangan megah.


"Sini cucuku duduklah di sampingku."


"I-iya kakek."


Aku duduk di kursi yang sangat mewah di samping kakekku dan si asisten sedang berdiri di belakang kami.


Wah dari sini, aku dapat melihat semua orang-orang berkumpul… tunggu mereka siapa yang sedang berdiri di sudut ruangan? Baju mereka sama persis dengan para pria misterius di belakang….


"Cucuku biar kakek perkenalkan kepada kamu siapa saja yang datang hari ini, kakek akan mengasih tahu mulai dari kanan ya."


"I-iya kakek."


"Nah yang paling kanan itu dari keluarga Ton, kalau itu dari keluarga Majoris, di samping keluarga Majoris ada keluarga Lupi, dan disampingnya lagi adalah ras Bangsawan dari keluarga lain yang hanya ingin melihatmu."


Begitukah ternyata seperti ini tampang dari keluargaku, hah hanya, aku sendiri yang berbeda dari mereka.


Kakek mulai berdiri dari kursinya dan memperkenalkan diriku kepada mereka semua, kakek memperkenalkan diriku mulai dari dia sangat menyayangi aku dan dilanjutkan dengan memberitahukan mereka semua tentang betapa bencinya dia dengan orang yang sudah memisahkan aku dengannya.


Aku hanya bisa terdiam mendengar pidato dari kakekku, kakek pun melanjutkan pidatonya dengan membesar-besarkan namaku seperti betapa hebatnya aku hingga bisa meninju tentara sampai terjatuh, dan betapa hebatnya aku dalam menggambar, semua dibesar-besarkan oleh kakek bahkan hal yang tidak penting.


Aku seperti ingin membantah perkataan kakekku, tapi aku tak bisa menggerakkan tubuh dan mulutku seperti ada sesuatu yang menahannya.


Hei!! Apa-apaan ini bergeraklah tubuhku!! Berbicaralah mulutku!!!.


Badanku seperti di tahan oleh sesuatu dan mulutku seperti dilakban, aku seperti di paksa mendengarkan pidato ini.


Bagian 3


1 jam sudah berlalu.


Kakek masih berpidato tapi sekarang dia tidak membahas tentang diriku melainkan tentang dirinya, aku hanya bisa pasrah mendengar perkataan darinya, aku pun melihat para tamu mereka hanya diam saja tak bergerak sama sekali.


"... ya karena umurku sudah tak lama lagi akibat sebuah penyakit yang menyerang diriku ini jadi, aku memutuskan untuk mewariskan kepemimpinan keluarga Ursa ini kepada Gera Borealis Ursa!"


……….


Hah? Apa-apaan semua ini? Jadi ini mengapa aku di bawa kesini dan di buat seperti layaknya raja, Vima mengapa kamu membuat diriku seperti ini? Apa salah dari diriku ini? Aku hanya ingin mencari kedua orang tuaku saja.


*seseorang melempar gelasnya*


"Apa yang kau katakan? Dia menjadi pewaris pemimpin keluarga Ursa? Jangan bercanda kau!" Ucap pria yang melempar gelas tersebut.


"Siapa yang bercanda disini?" Ucap kakek.


"Tch, aku tak sudi melayani ras Niksmi kapanpun dimanapun!"


"Hei apa yang kau katakan? Jangan pernah menentang tuan Dux jika ingin nyawamu selamat." Ucap salah satu tamu di sana.


"Aku tak peduli! Hei, kalian lihat orang ini? Memang sudah tak waras! Sudah bau tanah juga!!" Ucap pria yang melempar gelas tersebut.


Semua orang hanya bisa diam tak ada yang berani berkata-kata


"Mengapa kalian diam? Betul bukan apa yang aku katakan?"


"Berani sekali kau mengatakan diriku sudah tak waras, pengawas bawa dia!"


Pria misterius yang ada di sudut ruangan mulai bergerak dan menghampiri pria yang menentang kakek tadi, pria yang menentang kakek tadi berusaha melawan tapi tak bisa dia tetap tertangkap dan dibawa entah kemana.


"Maafkan, aku tamu-tamuku atas kekacauan tadi… mari kita lanjutkan pidato ku ini."


Kakek mengulangi perkataannya bahwa aku akan menjadi pewaris pemimpin keluarga Ursa dan melanjutkan pidatonya lagi.


Dia mulai menjelek-jelekkan orang tuaku, seperti mengatakan jika orang tuaku adalah sampah dan iblis karena sudah memisahkan aku darinya.


Kumohon jangan menjelek-jelekkan orang tuaku, mereka tak memiliki salah apapun.


30 menit berlalu.


*Dux sudah menyelesaikan pidatonya*


"Kalau begitu mari kita bersulang untuk pewaris terbaru keluarga Ursa yang akan datang, bersulang untuk Gera!" Ucap kakek.


"Bersulang untuk Gera!!!" Ucap para tamu.


Para tamu pun mulai bergerak dan mengobrol satu sama lain, sedangkan kakek memanggil si asisten dia berbisik kepada asisten, aku dapat mendengar bisikan tersebut.


"Aku akan pergi menemui orang yang tadi, kau bawa Gera ke tempatku biar dia bisa belajar menjadi pemimpin keluarga yang baik."


"Siap tuan Dux."


Kakek pun pergi dari panggung.


Apa yang, dia maksud belajar menjadi pemimpin yang baik?.


"Tuan Gera ayo ikuti saya ke suatu tempat."


Apa kamu tidak melihatnya asisten? Aku tak bisa bergerak… tunggu aku bisa menggerakkan tanganku dan bagian tubuhku yang lain tapi aku masih tak bisa berbicara.


Aku pun mengikuti si asisten, aku juga sempat melihat Vima dan Lisa, Vima menundukkan wajahnya dia seperti tidak ingin dilihat oleh diriku, sedangkan Lisa dia seperti tidak tahu apa-apa.


Syukurlah Lisa kamu masih polos.


Aku lanjut mengikuti si asisten, si asisten menuju kepada suatu ruangan yang tak kuketahui di ruangan itu hanya ada sebuah lemari bekas, si asisten pun mendorong lemari itu ke samping dan terlihatlah sebuah ruangan rahasia.


Apa-apaan rumah ini? sebuah labirin sampai memiliki ruangan seperti ini?.


"Tuan Gera silahkan masuk."


Aku pun menurutinya saat aku masuk hanya ada sebuah tangga menuju ke bawah, aku mulai turun melalui tangga itu saat ingin sampai ke dasar dari ruangan itu, aku mendengar suara kakek sedang marah dan memukul sesuatu.


"Beraninya, kau mengganggu acara aku dengan cucuku! Dan berani sekali kau mengatakan aku tak waras, ha?!"


Kakek berkata seperti itu sambil memukul sesuatu… itu bukan sesuatu melainkan orang yang menentang kakek tadi.


Aku dan si asisten terus berjalan menuju ke tempat kakek, sesampai nya disitu kakek menyambut diriku dengan rasa senang.


"Ah cucuku sampai juga kamu disini, kamu lihat orang itu dia adalah orang yang mengatakan kakek gak waras kamu pasti sakit hati mendengar dia berkata seperti itu kepada kakek kan?"


Aku melihat orang itu tangannya sudah diikat dan digantung, dia sudah babak belur dan lemas akibat dipukuli oleh kakek, aku melihat kebawah sudah banyak darah yang berceceran.


"Karena dia sudah menentang kakek dan mengatakan kakek gak waras, kakek mau dia mati di hadapan kakek...."


Ha, apa yang dia katakan? Apa dia sudah gila?.


"... dan kakek akan lebih senang jika kamu yang melakukannya, biar dia tahu jika kamulah yang berkuasa."


Hentikan itu, aku tidak mau melakukan itu, kamu benar-benar tidak waras dasar kakek tua!!.


"Hei pengawas berikan pistolmu ke cucuku!"


"Baik tuan."


Pengawas itu memberikan, aku sebuah pistol.


Aku tidak ingin melakukan ini! Kumohon biarkan dia hidup, lagi pula dia tidak melukai siapa-siapa.


Kakek memegang tanganku.


"Cucuku begini cara memegang pistol yang benar, tangan kananmu memegang gagang pistolnya dan jari telunjuk menyentuh pelatuknya…."


Hei, hentikan!! 


"Nah iya begini…."


"Sudah kubilang hentikan!!!"


hah, hah, hah, Akhirnya, aku sudah bisa berbicara.


"Apa yang kamu katakan, cucuku?"


"Kubilang hentikan! Dia tidak menyakiti siapa-siapa mengapa kau ingin membunuhnya!"


Aku pun membuang pistol itu dengan melemparnya jauh-jauh.


"Sudah cukup dengan semua ini, aku sudah muak denganmu! Kau menjelekkan orang tuaku di depanku mengapa kau melakukan itu!! Dan persetan dengan pewaris pemimpin keluarga Ursa, aku kesini hanya ingin mencari kedua orang tuaku!!"


"Sudah berani kau melawan kakek ya?"


"Tentu saja aku berani melawanmu! Karena selama aku hidup aku tidak pernah mengenal orang yang namanya Dux! Kau itu adalah iblis! Kau bukanlah manusia! Kau sudah tak waras!!!"


"Sifat ayahmu benar-benar sudah menempel dengan dirimu Gera…."


"Sekarang lepaskan orang ini!."


"Te-terima ka…."


Dor!.


Dia menembak orang itu tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, darah mulai mengalir turun dari kepalanya, aku seketika merasa mual dan muntah.


"Kau benar-benar membuatku kecewa Gera, pengawas cepat kremasi mayatnya!"


Dia seketika pergi dari ruangan itu bersama dengan beberapa pengawasnya.


Hah? Apa-apaan ini? Hei mengapa semua tiba-tiba berubah seperti ini! Mengapa hidupku berubah drastis seperti ini!! Hei!! Kumohon jawab!! Kumohon!!!! Aaaaaaa!!!.


….


….


Tidak yang kujalani sekarang hanyalah sebuah kebohongan, tidak ada yang namanya keindahan dari dunia ini, aku, aku, aku sekarang hidup di dunia yang sangat kejam.