
Ok, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku sudah sampai di kota, dan sekarang apa?.
Jika kulihat-lihat disini biasa saja, padahal aku sudah berekspektasi tinggi lo… hah mengecewakan sekali.
"Vima sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Pergi ke kota tuan."
"Hah, apa maksud kamu Vima? Kita kan sudah di kota sekarang."
"Siapa yang mengatakan ini kota tuan?"
"Eeee, siapa ya? Hehe."
"Tuan ini adalah daerah awal, daerah ini bernama Tenal, bisa dianggap kita baru saja sampai di gerbangnya, kota berada di depannya lagi tuan."
"Hehe maafkan aku Vima, aku baru mengetahuinya."
"Tidak apa-apa tuan."
"Jadi Vima berapa lama lagi kita akan sampai di kota?"
"Sebentar lagi tuan."
"Hmm begitukah?"
Kami pun melanjutkan perjalanan kami.
Di perjalanan terkadang aku mencoba untuk menyapa orang-orang tapi ya mereka tidak ada yang peduli.
Aku juga sempat menyapa ras Niksmi syukur mereka masih menjawab sapaanku.
20 menit berlalu.
Aku sampai di suatu tempat yang terasa familiar bagiku, aku merasa seperti pernah kesini tapi dimana? Dan kapan?.
Kami pun masuk kedalam tempat itu, dan betapa kagetnya diriku, disini sangatlah ramai orang-orang pada mengantri untuk menunggu sesuatu, ada juga tempat duduk untuk menunggu.
Tunggu, aku seperti pernah merasakan suasana seperti atau aku hanya deja vu?.
Vima pun menyarankan diriku untuk duduk, "tuan duduklah terlebih dahulu sambil kita menunggu…." Hmm, kenapa dia berhenti?.
"Menunggu apa Vima?"
"Tuan… tuan tahu kereta listrik?"
….
Tunggu jangan bilang yang akan kita tunggu adalah kereta listrik!.
Apa yang harus aku jawab ke Vima? Tentu saja aku tahu kereta listrik. Saat aku SMP jika aku ingin pergi sekolah, aku menggunakan kereta listrik untuk pergi menuju ke sekolahku.
Ahem.
"Kereta listrik itu apa Vima?"
"Oh betapa bodohnya saya tuan, kereta listrik itulah yang akan mengantarkan kita ke kota tuan, nanti tuan akan tahu sendiri apa itu kereta listrik setelah kita masuk kedalamnya."
"Ooo begitu ya Vima."
Sebenarnya tanpa kamu kasih tahu, aku juga sudah tahu sendiri Vima.
"Kalau begitu tuan saya akan membeli tiketnya terlebih dahulu tuan, tanpa tiket kita tidak akan bisa memakai kereta listriknya tuan."
"Baiklah Vima aku mengerti."
Vima pun pergi untuk membeli tiketnya.
Wah tak kusangka teknologi disini sangatlah maju yang menciptakan ini sangatlah jenius! Walaupun Vima sering menceritakan kepadaku betapa modernnya kota, tapi yang dia ceritakan hanyalah hal kecilnya saja, dia tidak pernah menceritakan kepadaku jika ada kereta listrik disini.
Aku tak sabar melihat apalagi hal modern yang ada disini, jangan bilang… disini ada handphone! Yosh! Aku jadi semakin bersemangat.
"Kakak dari tadi kenapa?"
"Apa maksud kamu Lisa?"
"Ya kakak dari tadi seperti kesenangan banget, memang ada apa kak?"
"Gimana aku tidak senang Lisa? Aku melihat sesuatu yang baru di mataku, itu membuat hatiku berdebar-debar."
"Tumben kakak tidak menggambarnya? Biasanya jika ada sesuatu yang membuat kakak senang pasti akan kak Gera gambar."
"Gimana ya Lisa, aku ingin sekali menggambarnya tapikan kita sudah berjalan cukup lama jadi aku juga ingin beristirahat."
"Iya kamu benar kak Gera aku juga lelah, tapi…."
"Hmm, tapi apa Lisa?"
"Hihi, aku jadi tak sabar menunggu kita sampai di rumah kak!!"
"Memang ada apa di rumah Lisa?"
"Gak asik jika aku menceritakannya ke kak Gera, kakak rasain aja deh nanti."
"Ok jika itu yang kamu bilang, awas saja jika tidak ada yang spesial."
"Hehe."
*20 menit kemudian*
Vima sudah membeli tiketnya, dan yang harus kami lakukan adalah menunggu hingga keretanya tiba.
Hari sudah malam, memangnya butuh berapa lama lagi hingga kereta tiba ya?.
"Vima boleh aku lihat tiketnya?"
"Boleh tuan… ini."
"Terima kasih Vima."
"Sama-sama tuan."
Tidak mungkin jika mereka tidak tahu buktinya ada kertas, hah biarlah mungkin itu kebijakan dari dunia ini.
Ting~ ting~ ting~.
Hah, suara apa itu?.
Selamat malam, kereta dengan nomor 27 dengan tujuan ke Eridanus sebentar lagi akan sampai, semua penumpang dengan tujuan yang sama diharapkan untuk mengantri.
Ting~ ting~ ting~.
"Tuan ayo kita ikut mengantri."
"Tapikan Vima tujuan kita ke kota bukan ke Eridanus."
"Tuan Eridanus itu nama daerah kota."
"Oh begitukah Vima?"
"Hahaha, masa itu saja kamu tidak tahu kak Gera?"
"Lisa aku kan baru pertama kali kesini."
"Hehe, maafkan aku kak."
"Iya, iya."
Kami pun ikut mengantri sambil menunggu keretanya tiba.
*5 menit kemudian*
Aku mulai mendengar suara kereta dari kejauhan.
*40 detik kemudian*
Kereta sampai ke stasiun dan orang-orang yang mengantri mulai masuk ke dalam kereta.
Waw disini sangat sejuk padahal aku tidak melihat AC satupun disini.
Kereta pun mulai berjalan kembali.
Whoa! Sangat cepat kereta ini sangat cepat! Hahaha, sudah lama aku tidak merasakan ini aku sangat ingat terakhir kali aku menaiki kereta, itu pada saat aku berumur 20 tahun, saat itu aku berusaha untuk mencari kerja dan aku menggunakan kereta listrik pada waktu itu.
Kecepatannya sama persis dengan kereta yang ini.
"Tuan kesini."
"Iya Vima aku akan segera datang."
Rasa nostalgia selalu muncul di kepalaku, aku mengingat masa-masa aku menaiki kereta bersama ibuku.
"Ibu kita akan kemana?"
"Kita akan pergi ketaman nak."
"Yey asik, kita sudah lama sekali tidak ketaman bu."
"Ibu senang jika kamu ikut senang nak, hanya kamu yang ibu miliki sekarang."
"Ibu kenapa kamu menangis?"
"Tidak ada nak ibu tidak menangis, tapi ibu hanya senang melihat kamu, sini biar ibu gendong kamu."
"Kak Gera kenapa kamu menangis?"
"Ah tidak, tidak ada Lisa."
"Tuan apakah ada masalah?"
"Tidak Vima aku… aku… hanya mengingat kenanganku bersama ibuku saja Vima."
"Begitukah tuan."
Vima memegang tanganku.
"Tuan jangan sedih, kita pasti akan menemukan kedua orang tua tuan."
"Betul kata mama kak, yang perlu kita lakukan adalah jangan pantang menyerah."
"Kalian berdua… terima kasih ya, kalian terus ada untukku bahkan saat diriku sedang sedih begini kalian selalu menyemangatiku, terima kasih ya kalian berdua."
"Sama-sama kak."
"Sama-sama tuan."
Aku tidak bisa memberitahu mereka jika aku adalah reinkarnasi dari dunia lain, jika aku memberitahu mereka aku takut ada masalah baru yang akan datang.
*4 jam kemudian*
Aku sudah sampai di tujuan, saat aku keluar dari kereta yang kulihat pertama kali adalah sebuah tulisan yang bertuliskan, "selamat datang di Eridanus, ibukota para ras Bangsawan... tanda seru, tanda seru, tanda seru."
Kami pun keluar dari stasiun.
Tunggu aku melihat ada seorang pria berjas hitam sedang menunggu sesuatu disitu.
Pria itu mulai menyadari kehadiran kami dan menghampiri kami.
"Selamat datang kembali nyonya Vima dan Lisa."
siapa orang ini?.
"Oh, jadi anda cucu pertama dari tuan Dux? Salam kenal tuan saya adalah asisten pribadi tuan Dux Borealis Ursa."
"Salam kenal juga."
Sopan sekali orang ini, berbeda dengan para militer tadi.
"Kalau begitu sekarang kalian ikuti diriku, kuda ada di depan sedang menunggu kita."