New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Tertawa untuk terakhir kalinya



*Vima terduduk menangis di lantai*


"Nyonya?!" Ucap asisten.


"Mengapa Glenn? Mengapa kamu membiarkan Gera melakukan ini? Dia hanya seorang anak kecil yang baik hati, tapi kenapa kamu membiarkannya membunuh manusia?"


"Ta-tapi nyonya…"


"Setega itu kamu membuat anakku menjadi seorang pembunuh?! Jawab Glenn…! Aku sudah meninggalkan suamiku, aku ditinggal pergi oleh putriku yang masih kecil, dan sekarang kamu ingin aku melihat anakku satu-satunya untuk menjadi seorang pembunuh?! Sedendam itu kamu terhadapku, Glenn?" Ucap Vima sambil mengeluarkan air matanya.


Ibu….


*Gera menghampiri Vima*


"Gera…?" Ucap Vima.


"Ibu…"


Mengapa ada banyak air mata disini? Apakah kamu sangat sedih, ibu?.


*Gera mengelap air mata Vima dengan tangan kanannya*


"Jangan keluarkan air mata ini, ibu."


"Nak?"


*Vima melihat tangan Gera yang berlumuran darah*


"Nak tangan kamu!"


"Oh, tidak apa-apa ibu ini hanya luka kecil saja."


*Gera mulai meneteskan air matanya*


"Akhirnya… akhirnya… aku dapat melihatmu ibu, aku sangat merindukanmu."


*Gera memeluk Vima. Darah yang berada di tangan Gera menempel di rambut Vima. Gera menangis dengan sangat kencang."


"Heee!! Ibu akhirnya aku dapat melihatmu lagi!"


"Nak…. Maafkan ibu anakku! Ibumu ini sangatlah bodoh, seharusnya ibu tidak melakukan hal itu…"


"... ibu hanya memikirkan keegoisan ibu saja, maaf nak! Seharusnya ibu peka akan perubahan sikapmu… ibu hanya memperburuk mental kamu saja Gera!"


*Vima memeluk Gera dengan sangat erat*


Haah, pelukan ini… aku seperti dapat merasakan semua kesedihan yang ibu rasakan, aku juga merasakan rasa aman dan nyaman dari pelukannya.


"Padahal ibu sudah berjanji akan selalu bersamamu, tapi ibu mengingkari janji itu."


"Tidak apa-apa bu, yang penting bagiku sekarang adalah dapat melihatmu. Aku merasa tenang jika melihat wajahmu itu ibu, pelukan hangatmu membuat semua beban pikiranku hilang, sekaligus dengan suara bisikan itu…."


"Betapa buruknya aku menjadi ibumu Gera, bisa-bisanya seorang induk membuat sebuah beban pikiran kepada sang anak yang masih berusia 10 tahun...."


"... ibu berjanji nak dan tidak akan mengingkarinya lagi, ibu janji akan selalu bersamamu."


*Gera mengingat darah di tangannya*


"Ah maaf bu, darah di tanganku mengotori rambutmu."


"Tidak apa-apa nak."


*10 menit kemudian*


*Vima masih memeluk Gera dengan erat*


"Ibu maafkan aku, gara-gara aku Lisa…"


"Jangan salahkan dirimu sepenuhnya nak. Gara-gara ibu terlalu mempercayakan Lisa kepada kamu tanpa memikirkan jika kalian masihlah anak kecil, ini semua terjadi."


"Ibu menyesal nak, andai ibu tidak membawa kamu dan Lisa kesini, ini semua pasti tidak akan pernah terjadi."


*sebuah ingatan teringat oleh Gera*


"Keluarlah dari rumah ini, Gera!"


…….


"Ibu aku ingin keluar dari rumah ini!"


"Ibu juga berpikir begitu nak."


"Apa?!"


"Entahlah nak ibu berpikir rumah ini tidaklah cocok untuk kita."


"Kamu benar bu tapi bagaimana cara kita keluar dari sini?"


*seseorang datang*


"Hahaha, apa yang kau katakan, Gera? Kau ingin keluar dari rumah ini? Heh, jangan bercanda kau!" Ucap Dux.


"Ayah?!" 


"Kakek!"


Sial mengapa dia harus datang sih!.


"Vima sekarang kau sudah berani membantahku ya? Sudah berani kabur dari sini ya?!"


"..."


"Kau bagaikan dinding pembatas yang baru untuk kami, Vima. Aaah, sial! Padahal aku sudah memikirkan semuanya dengan matang!"


Apa yang dia maksud, sudah memikirkannya dengan matang?.


"Tapi itu semua bisa dengan mudahnya hancur karena ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai ibunya, biadab!"


H-hei, apa yang kau katakan? Jangan-jangan….


"Tuan apa anda yang merencanakan semua ini!!" Bentak asisten.


"Heh, haha, hahaha, zhahahaha! Tepat sekali akulah dalang utamanya!"


*Gera, Vima, dan asisten merasa tidak percaya apa yang dikatakan oleh Dux*


"Akulah yang merencanakan semua ini!"


"Untuk apa anda melakukan ini, tuan?!" Ucap asisten.


"Tentu saja demi penerusku yaitu Gera."


"Iya memang, tapi aku berpikir, kau tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin jika kau terlalu baik hati, Gera! Jadi aku membuat sebuah rencana untuk merubah sikapmu itu menjadi kejam dan keras jadi tidak akan ada yang berani menyentuhmu ataupun menggulingkan tahtamu. Rencanaku seperti yang kau saksikan itu Gera! Aku mengancam mereka bertujuh untuk berakting dengan ancaman keluarga mereka, sebenarnya akulah yang membunuh Lisa!"


Tu-tunggu, apa? "Hah… hah… hah… hah…"


"Nak?"


"Saat Lisa pergi dari cafe sebelum dia sampai dirumah, aku menghampirinya dan mengajaknya pergi ke sebuah tempat, di tempat itu aku memberinya minuman yang sudah dicampuri racun mematikan, dan kau tahu apa yang dia katakan setelah meminum itu…?"


"... dia mengatakan, 'wah, ini sangat enak kakek! Aku jadi ingin meminumnya lagi' zhahaha, zhahaha, aku tidak bisa menahan ketawa saat itu."


"Kau sudah sangat kelewatan, tuan!!!" Bentak asisten.


"Apa yang kau katakan asisten? Sudah berapa lama kau denganku dan sudah berapa kali kau melihat orang-orang mati tidak wajar di depanmu? Mengapa kau baru mengatakan itu dan marah kepadaku sekarang?" Ucap Dux.


"..."


*Dux melanjutkan bicaranya*


"Lalu 30 detik kemudian, Lisa mulai tumbang dan terjatuh ke tanah, disitu aku mulai membuat memar dan luka di mayat Lisa dan membuangnya ke sungai. Orang yang kamu bunuh itu mereka tidak melakukan apa-apa, mereka tidak membunuh siapapun, mereka hanya akting, Gera..."


"Hah… hah… hah, hah, hah, hah," apa yang aku lakukan? Aku telah membunuh orang yang tidak bersalah, dan adikku… "hah, hah, hah, hah, hah."


*Gera sangat syok, itu membuatnya susah untuk mengatur pernapasannya*


*Vima yang mendengar perkataan dari ayahnya merasa tidak terima*


"Mengapa kamu melakukan ini kepada anakmu sendiri, ayah!!? Mengapa kamu membunuh cucumu!!!?" Bentak Vima.


"Vima sebenarnya aku tidak mengharapkan dirimu terlahir dari dunia ini, aku tidak mengharapkan anak perempuan, yang kuinginkan adalah anak laki-laki saja."


"Jaga ucapanmu, tuan!!!" 


Hah… hah… haah… apa-apaan semua ini? Ini tidak benar bukan? Ini sebuah mimpikan…? Ya ini adalah sebuah mimpi! Tanganku terluka dan berdarah saja aku tidak dapat merasakannya….


Aw…… oi jangan bercanda kau! Mengapa rasa sakitnya baru terasa? Apakah takdir berusaha mengejekku?.


[Bunuh kakek itu, Gera! Lalu keluarlah dari rumah ini!]


Bagaimana caranya? Dia selalu membawa sebuah pistol.


[Hahahaha! Tenang saja Gera, kau maju saja ke arahnya dengan santai. Percaya padaku, Gera!]


"Baiklah, aku akan mempercayaimu."


[Bagus! Hahahah!]


*Gera tersadar*


"Hah… hah… hah…"


Aku melihat asisten dia sedang berdebat dengan kakek. Aku melihat ibu, dia… dia… sial!.


*Gera melepaskan pelukannya dari Vima*


"Nak?"


*Gera mulai berdiri*


"Nak mau kemana kamu! Tetaplah disini! Ibu mohon nak, ibu tidak mau kehilangan anak ibu lagi… ibu mohon, Gera." Vima mengatakan sambil menangis.


"Tenanglah ibu, aku tidak akan mati."


*Gera mulai berjalan ke arah Dux*


"Tuan Gera jangan mendekat kepadanya, dia membawa sebuah pistol di sakunya!" Teriak asisten.


"Heh, sudah ingin mati, Gera? Aku tidak peduli denganmu lagi, aku akan mencari pewaris yang pas bagiku!"


*Gera hanya diam dan terus berjalan ke arah Dux*


"Nak ibu mohon jangan pergi lebih jauh lagi!"


"Tu-tuan."


*Gera terus berjalan*


"Perkenalkan aku adalah Lisa Ursa, salam kenal ya."


"Hei! Kenapa kamu melihat tubuh mama dengan tatapan mesum begitu!"


"Hahaha, kamu sangat bodoh!"


"Apakah aku masih pantas untuk disebut adikmu, setelah aku mengatakan jika aku membencimu?"


"Pelit, kak Gera pelit, pelit, pelit."


"Kak Gera terima kasih ya, berkat kamu aku bisa menggambar, dan berkat kamu aku bisa tahu tujuan hidupku, kata-kata kamu sangatlah memotivasi orang, dan kamu bukanlah orang yang bodoh, melainkan orang yang sangat bijaksana."


"Kenapa kak? Apakah karena diriku? Jika iya maafkan aku kak Gera, ini salahku tidak bisa menjaga kesehatanku."


"Kembalikan! Kembalikan buku gambar itu, di buku itu sudah banyak sekali kenanganku dengan kakakku!"


"Kamu memang kakak yang hebat, terima kasih kak."


Lisa terima kasih sudah menemani hari-hariku yang indah bersamamu, kamu adalah adikku yang pertama sekaligus menjadi adik tersayang bagiku… terima kasih Lisa.


*Gera melihat wujud Lisa*


"Hehe, sama-sama kak, terima kasih juga sudah mau menemani aku selama aku hidup. Kak Gera, boleh kamu berjanji demi aku, kak?"


"Hm? Apa itu, Lisa?"


"Kumohon jagalah mama demi aku."


"hahaha, sudah pasti! Aku pasti akan menjaga ibu kita Lisa."


"Hehe, aku percayakan mama kepada kamu kak…! Baiklah kalau begitu..., aku pergi dulu ya."


"Hahaha, iya Lisa, semoga kamu tenang disana ya."


"Um!"


"Dadah Lisa."


"Dadah juga kak."


*Lisa menghilang*


Aku berjanji kepadamu, aku akan menjaga ibu dan membuatnya bahagia Lisa…, tapi kamu harus berjanji padaku kamu akan terus bahagia disana.