
Kenapa dia berterima kasih ke padaku? Bukannya si tua itu adalah orang no 5 berkuasa di dunia ini? Jadi seharusnya dia menangkapku, bukan? Apa didunia ini tidak ada polisi dan penjara?.
"Tunggu!"
*sang pangeran menoleh kebelakang*
"Kau benar-benar tidak punya sopan santun ya?"
*Gera tidak memperdulikan perkataan dari sang pangeran*
"Aku tidak paham, mengapa kau berterima kasih kepadaku? Aku sudah membunuh orang no 5 paling berkuasa lo!"
"Terus? Memang kenapa jika dia orang berkuasa no 5? Apakah merubah sesuatu? Malahan aku bersyukur jika dia mati, lagian dia mendapatkan kekuasaan itu dengan cara yang salah."
"Apa!"
"Hem, sepertinya kau sudah mulai tertarik tapi ya sudahlah, aku sudah malas berbicara padamu."
*sang pangeran pergi*
"Tunggu!"
Dia tidak mendengarkanku! Sial, aku masih memiliki banyak pertanyaan kepada nya!.
"Baiklah!"
"Hm?"
"Terima kasih telah menyelamatkanku dari sekte aneh itu! Maafkan aku telah mengarahkan tinjuku kepadamu! Maaf juga telah…"
"Berhenti!"
"Eh?"
"Aku hanya ingin mendengar terima kasihmu saja, selebihnya kau simpan baik-baik."
"…"
"Kau sekarang ikuti aku, kita akan pergi ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Diam dan ikuti saja!"
"Baiklah…"
*Gera mengikuti sang pangeran ke suatu tempat*
*1 jam kemudian. Mereka sampai pada suatu rumah yang megah!*
"Eee, ini dimana?"
"Penginapan, ini adalah penginapan khusus untuk keluarga kerajaan. Aku dan adikku menginap disini."
"Oh…"
"Hey-hey, kau serius hanya mengatakan 'oh' saja? Padahal ini lebih mewah daripada rumah Borealismu itu."
"Kau memang benar tapi aku mengikutimu bukan untuk melihat kemewahan ini."
"Kau benar-benar sangat menarik bocah! Mau itu sikapmu, usia, darah, dan masih banyak lagi!"
"Hah? Kau mengatakan aku menarik hanya karena aku biasa saja dengan kemegahan ini? Dan juga, apa maksudmu dengan darah dan usiaku ini menarik?
Tapi jika dilihat-lihat memang megah juga sih ini rumah… hey diriku! Apa kau ingin menjilat ludah diri sendiri lagi, ha?!.
"Nanti kau akan tahu."
"Hah? Oh, baiklah."
*Gera terus mengikuti sang pangeran*
Woah, di depan sana ada banyak penjaga!.
"Wahai pangeran, selamat datang!" Ucap para pengawas disana.
"Ya, ya, terima kasih telah menyambutku dengan senang hati."
"Kami sangat senang mendengar kata terima kasih dari anda pangeran!"
"Ayo bocah kita masuk."
*Gera masuk ke dalam penginapan itu*
"Em… kau orang yang baik ya." Ucap Gera.
"Menurutmu?"
Ek, kok dia malah nanya?.
"Bocah… jika aku menjadi seorang raja, aku akan membuat dunia ini menjadi lebih baik dari sekarang! Itu adalah janjiku kepada masyarakatku jika aku menjadi seorang raja."
"Iya kah? Jika aku boleh bertanya, lebih baik bagimu memangnya seperti apa?"
"Aku akan membumi hanguskan semua sisi gelap dunia ini! Dari yang kecil hingga besar. Aku juga akan membuat sebuah peraturan mutlak!"
"Em, apa itu?"
"Akan aku samakan semua derajat manusia di dunia ini! Tidak ada yang boleh memandang ras lagi, semuanya sama!"
"Wah! Impian yang super besar!"
"Ini bukan sebuah impian bocah, tapi aku benar-benar akan mewujudkannya!"
"Kau benar-benar orang yang baik, mungkin jika kau menjadi seorang raja, kau adalah raja yang paling baik?"
"Hahaha, terima kasih bocah!"
Bagian 2
"Ini adalah ruang tamunya, dan disinilah kita akan berbicara. Silahkan duduk bocah."
"Berhentilah memanggilku bocah! Aku juga memiliki nama!"
"Lah?"
"Lah? Apa maksudmu?"
"Sudah jelas-jelas masih bocah tapi gak mau dipanggil bocah, kau benar-benar aneh."
Hah, andai dia tahu umurku sebenarnya.
"Duduklah!"
"Baiklah."
*Gera dan sang pangeran duduk di sofa ruang tamu tersebut*
"Oya, kamu ingin minum apa?"
"Tidak usah."
"Kenapa? Bagiku kamu adalah tamu yang spesial loh."
"Hehe, aku jadi malu jika seorang pangeran berkata seperti itu kepadaku."
"Aku masih normal loh!"
"Ek…"
Apa yang dia katakan…? Woi! Aku tidak berbicara ke arah itu!.
"..."
"..."
Jangan membuat suasana menjadi canggung! Berbicaralah sesuatu!.
"Hehe, lupakan saja itu, aku ingin teh saja…." Ucap Gera.
"Baiklah…"
*sang pangeran menepukkan tangannya*
"Pelayan!"
*seorang pelayan datang*
"Iya pangeran?"
"Tolong bawakan 1 teh kepada tamu spesialku ini!"
"Baik pangeran."
*pelayan itu pergi*
Kenapa hanya aku yang dibawakan minuman?.
"Baiklah, sebelum itu perkenalkan terlebih dahulu dirimu, bocah!"
"Eee… aku adalah Gera Ursa, anak dari Edward dan skaila Ursa, aku berumur 10 tahun…" apalagi ya? "Eee…"
"Tidak usah dilanjutkan itu saja sudah cukup. Kita akan memulai pembicaraannya dengan menjawab pertanyaanmu tadi."
"Em, ya!"
"Kau tahu sendiri bukan? Si tua itu adalah orang yang sangat kejam dan cerdik! Dia sering sekali menculik dan membunuh orang yang dianggap akan berkudeta atau menuruni posisinya kekuasaannya di 5 besar, contoh dia pernah membantai satu keluarga besar dan menyisakan 1 orang anak, keluarga itu dibantai karena ingin menjatuhkan posisi keluarga Ursa saat itu. Oya kau masih ingat dengan perkataanku bahwa kekuasaan keluarga Ursa diperoleh dengan cara yang salah?"
"Ya, aku masih ingat itu."
"Yang aku katakan adalah benar…yang menduduki no 5 sebenarnya bukanlah keluar Ursa, melainkan keluarga Carina...!"
*Gera seketika berdiri*
"Kau kenapa bocah?"
"Ti-tidak… aku seperti pernah mendengar nama itu tapi dimana, dan kapan?"
"Sungguh?!"
"Ya… sebentar aku ingin mengingatnya terlebih dahulu."
"Baiklah."
Dimana aku pernah mendengar nama Carina ya? Di rumah? Tidak, emm… perjalanan… malam hari… pasar…?.
Pasar… malam hari… pasar malam! Ya, saat aku sedang menuju rumah keluarga Borealis!.
Sekarang aku ingat! Bocah itu! Bocah yang kuberikan 4 koin emas! Aelfric Carina! Bocah yang lebih tua daripada aku!.
"Sekarang aku ingat!"
"Jadi, dimana kau pernah mendengar nama keluarga ini?!"
"Saat aku pertama kali kesini dan sedang menuju ke rumah keluarga Borealis, di perjalanan aku melihat sebuah pasar malam yang lumayan megah! Disitu aku melihat ada seorang anak laki-laki dikejar oleh salah satu pemilik dagangan karena dia mencuri dagangan milik paman itu. Saat ingin dipukul aku sempat menghentikan paman itu dan membayar barang yang dicuri oleh anak itu."
"Disitu aku mulai menanyakan namanya…"
"Siapa namanya?!"
"Aelfric Carina, dia berumur 10 tahun saat itu. Aku mencoba untuk akrab dengannya, dengan cara membelikan beberapa dagangan untuk dia dan itu berhasil, dia malah menganggap aku sebagai temannya."
"Bagus bocah! Apakah kamu tahu dimana dia tinggal!"
"Tidak, aku terburu-buru saat itu karena ibu memanggilku."
"Ibu? Oh, tidak… jadi kamu tidak tahu dia tinggal dimana ya?"
"Memang untuk apa kamu ingin tahu dia tinggal dimana?"
"Membantunya sudah jelas bukan?! Aku sangat teramat kasihan dengan nasib keluarga Carina, gara-gara pemimpin Ursa saat itu yang menuduh mereka melakukan korupsi besar-besaran, nasib keluarga mereka menjadi sangat tragis."
"Oya, aku sempat membantunya saat itu sebelum aku pergi."
"Dengan apa?"
"Karena saat itu aku terburu-buru, jadi saat itu pula aku memberikan 4 koin emas yang kumiliki kepadanya sebagai tanda perpisahan."
"4 koin emas!!!!"
"Eee, kenapa kau kaget?"
"Kau benar-benar baik dan dermawan bocah, aku salut padamu!"
"Eh? Kenapa tiba-tiba?"
"Oya, 4 koin emas itu kau dapatkan dari mana?"
"Sebenarnya ada 5, 1 lagi buat aku belikan dia beberapa dagangan."
"Serius!"
"Hey! Kau dari tadi kenapa sih?!"
"Kau sepertinya habis di tipu oleh para penjual di pasar itu bocah."
"Hah?"
"Biar aku jelaskan, 1 koin emas itu sangatlah berharga, dengan 1 koin itu kau bisa saja membeli kuda dengan gerobaknya sekalian, bahkan itu masih ada kembaliannya."
"Eeee… kau serius?"
"Ya! Makanya aku mengatakan jika kau sangatlah baik dan dermawan, dan juga telah ditipu! Oya dengan 2 koin emas kau dapat membeli 1 rumah besar!"
Dia tidak bercanda kan? Oi-oi-oi, aku merasa sangat menyesal memberikan semua koin itu kepadanya! Hey, siapapun tolong kembalikan waktu! Sekarang aku sangat membutuhkan semua koin itu!!! Tidak 2 saja sudah sangat cukup bagiku sekarang!.
"Yang membuat harga koin itu mahal adalah jumlah dan angka uniknya. Koin itu diproduksi sebanyak 500 keping di seluruh dunia, setiap koin memiliki sebuah nomor atau angka, 1 sampai 500 di setiap koin, semakin kecil angkanya semakin besar harganya. Ngomong-ngomong punyamu itu memiliki angka berapa saja di setiap koin?"
"Aku tidak tahu… aku tidak memperhatikannya..."
Sial! Jangan kamu jelasin lagi! Aku malah jadi tidak ikhlas kan! Aaa, kembalikan 4 koinku! Aku juga ingin melihat angka mereka!.
"Mengapa kamu sedih? Ya sudahlah, jadi dimana kamu mendapatkan 5 koin itu?"
"Dari orang tuaku, sebelum mereka pergi."
"Begitukah. Baguslah, terima kasih bocah!"
"Hah?"
"Kamu telah menyelesaikan 2 tugasku tanpa kusuruh!"
Aku tidak butuh terima kasihmu! Aku hanya ingin koin emasku kembali! Hanya itu!.
"Ah, maafkan aku pembahasan kita malah belok jauh seperti ini. Ayo mari kita lanjutkan pembahasannya!"
"Ya…"
"Hey, berhentilah bersedih!"
"Ya…"