
Bagian 1
*Gera memegang kepalanya*
Apa yang harus aku lakukan?.
*Luna melihat reaksi Gera. Dia merasa kasihan terhadap Gera*
"Abang, mohon carilah solusi untuknya."
Luna…
"Memang tidak ada solusi lagi, Luna. Cobalah kamu keluar dengan para penjaga, maka kamu akan melihat kertas buronan yang ditempel yang bertuliskan nama dia!"
"Tumben abang bisa kehabisan solusi? Padahal abang adalah orang yang jenius, dan bisa memecahkan semua masalah!"
"Huh… Luna ada dua hal yang membuatku kehabisan solusi."
"Apa itu, abang?"
"Dia sudah menjadi buronan besar, dan ayah sebentar lagi akan sampai disini!"
"..."
Tunggu, ayah? Maksudnya raja! Bagaimana bisa? Dari sini ke Debag saja jauh katanya.
"Bagaimana ayahmu bisa datang kesini secepat itu?!" Ucap Gera.
"Sebenarnya kami akan pergi bersama ke Eridanus tapi Luna meminta untuk pergi cepat, jadinya kami mendahului ayah."
"Memang ayah akan sampai berapa hari lagi, abang?"
"Lusa Luna."
*semua hanya terdiam mendengar perkataan dari sang pangeran*
*sang pangeran mengatakan sesuatu*
"Dan juga aku harus bersikap adil kepada para korban! Aku tahu bocah ini baik! Tapi yang namanya telah membunuh seseorang itu sama saja dengan kejahatan!"
"... aku tahu Gera telah berbuat kejahatan dengan membunuh orang! Tapi bagaimana dengan ibunya? Ibunya tidak memiliki salah!" Ucap Luna.
*sang pangeran berpikir*
"Hah, benar juga…"
"Jadi!" Ucap Luna.
"Nyonya bagaimana jika kau tinggal saja disini?" Ucap sang pangeran.
"Apa yang abang katakan?!"
"Eh, maaf pangeran… tapi saya akan selalu mengikuti anak saya, dia melakukan hal itu karena salah saya juga." Ucap Vima.
"Begitukah… aku suka dengan ibu sepertimu."
"Terima kasih pangeran."
*Gera sedang berpikir dengan keras*
Sial, aku bingung! Aaaaa!.
… hah… aku memang telah membunuh seseorang… aaaaa! Kepalaku sudah panas!.
"Abang apa kau benar-benar tidak ada solusi lagi?" Ucap Luna.
"Kalau solusi tidak ada, Luna..."
*sang pangeran melihat ke arah Gera*
"Bocah." Panggil sang pangeran.
"Ha?"
"Untuk sekarang aku hanya bisa membantu memberikan uang dan membelikanmu sesuatu, hanya itu!"
"Bukankah kau sudah mengatakannya tadi."
"Ya, aku sudah mengatakannya tadi. Dan jika kau memang ingin memaksa mencari orang tuamu…"
"Abang! Itu bukanlah kata-kata yang bagus! Kita sudah tahu jika mereka kesini hanya untuk mencari kedua orang tua Gera!"
"Maaf… tapi jika kau memang ingin memaksa untuk pergi ke Debag. Pergilah bersamaku nanti untuk membeli beberapa barang yang penting! Barang-barang ini akan sangat berguna untuk menyembunyikan identitasmu."
"Betulkah?!"
"Ya, dan juga pembicaraan kita yang tadi malam belum selesai bukan?"
"Kau benar! Ya, aku akan ikut denganmu…"
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan makan siangnya."
Bagian 2
Kami telah menyelesaikan makan siang kami, dan sekarang aku sedang berada di dalam kamar, tempat aku bangun dari pingsanku tadi.
Entah kenapa akhir-akhir ini pikiranku sedang sangat kacau, dan juga akhir-akhir ini aku sering lupa akan sesuatu.
"Bocah…"
"Hah?"
"... pakailah jubah ini."
*sang pangeran memberikan jubah itu kepada Gera*
*Gera memakai jubah itu*
"Keren bukan jubahnya?"
"Iya, ini keren."
"Jangan lupa tutupi kepalamu dengan tudung jubah itu."
"Ah, iya…"
"Nah, ya seperti itu."
"Lihat saja."
"Hmm… oke…"
"Ya sudah ikuti aku!"
"Ya."
*Gera keluar dari kamar tersebut, dan pergi keluar dari penginapan tersebut bersama dengan sang pangeran*
"Em, Mengapa kita tidak menggunakan kuda? Bukankah bahaya jika kita berjalan kaki seperti ini?"
"Santai saja, kau tidak perlu takut."
"Begitu ya…"
"Hahaha, susah ya masih kecil tapi sudah memiliki sebuah beban pikiran yang sangat berat."
Ha, apa yang dia katakan? Mengapa tiba-tiba membahas itu?.
"Jujur aku sebenarnya ingin bertanya padamu."
"Apa?"
"Siapa kau sebenarnya?"
Ha?! Apa! Mengapa dia bisa bertanya hal seperti itu?! Jangan bilang dia tahu bahwa aku adalah orang yang direinkarnasikan ke dunia ini!.
*Gera menelan ludah*
"A-apa maksudmu…? A-aku ya aku!"
"Hm….... lupakan saja, aku tadi ngawur hahahaha."
"Apa-apaan sih kau ini?! Aneh sekali!"
Fiuh, syukurlah dia ngawur.
"Tapi aku salut dengan ibumu, dia bisa menghadapi dirimu sendirian yang dimana sikapmu itu seperti orang dewasa."
"Apa maksudmu?"
"Kau pasti sadar kan? Aku saja sadar mungkin saja ibumu juga…"
*Gera kebingungan*
"A-apalagi yang kau maksud?"
"Yang aku maksud adalah, pikiran dan sikapmu itu yang sudah dewasa! Hei, kau ini masih anak-anak berumur 10 tahun tapi kenapa cara berpikir, sikap, dan bicaramu seperti orang-orang berkepala 3 hingga 4? Aku merasa kasihan kepadamu, seharusnya anak-anak berusia 10 tahun itu masih bermain dengan teman-temannya bukan malah menjadi buronan 1 benua!"
"Haha (ketawa terpaksa) itu lucu, mau bagaimana lagi itu takdirku!"
"Mengapa kau memilih takdir seperti itu?"
Eeek.
"Aku tidak tahu, tapi aku selalu menjalani hidupku seperti air sungai yang mengikuti arusnya."
"Ternyata begitu… bocah, kau harus lebih berani untuk melawan arus hidupmu! Jika begini terus kau akan celaka, bukan hanya dirimu saja bahkan ibumu bisa ikut terkena juga!"
"Entahlah, aku tidak tahu bisa melakukannya atau tidak…"
"Kau kenapa…? Masih memikirkan solusi?"
"Ya, aku bukan memikirkan solusi untuk diriku tapi untuk ibu… ibu akan selalu ikut denganku, dan aku tahu dia pasti akan diincar juga, makanya aku mencari solusi agar dia tidak ikut diincar."
"Memang benar solusi satu-satunya adalah ibumu tidak ikut denganmu!"
"Tapi jika ibu tidak ikut… lalu bagaimana denganku? Tanpanya, aku seperti sebuah debu kecil yang terbang tanpa arah."
"Sungguh bocah yang malang, andai aku bertemu denganmu saat aku ini sudah menjadi seorang raja pasti aku akan membebaskanmu!"
"Tidak perlu, memang benar apa yang kau katakan tadi, membunuh seseorang adalah sebuah kejahatan! Dan juga ini adalah karma bagiku."
"Apa itu?"
"Menjadi seorang buronan, diincar, tidak bisa hidup tenang, dan berjalan kaki menuju ke wilayah yang sangat berbahaya, bahkan wilayah yang aku injak sekarang juga berbahaya di malam hari! Walaupun aku belum merasakannya tapi itu pasti akan segera terjadi!"
"Sangat berat bagi anak-anak sepertimu."
"Begitulah, oya jika aku boleh tahu… mengapa kau sangat ingin membantuku? Bukankah kau sangat membenci orang sepertiku?"
"Mengapa ya, mungkin ada 2 alasan."
"Kalau boleh tahu, apa itu?"
"Aku sudah menganggapmu sebagai teman, dan dirimu yang ini adalah orang yang baik."
"Aku berterima kasih kepadamu karena sudah menganggapku sebagai teman, tapi apa maksudmu dengan diriku yang ini?"
"Aku tidak ingin menjelaskannya."
"Kenapa?"
"Yaa, aku tidak ingin!"
"Baiklah…"
*Beberapa menit kemudian*
"Hey, lihatlah!" Ucap orang-orang di pinggir jalan.
"Woh, sebuah kertas buronan!" Ucap orang-orang di pinggir jalan.
"Eeeh! Seorang anak kecil berusia 10 tahun membunuh 4 orang!" Ucap orang-orang di pinggir jalan.
"Dan salah satu korbannya adalah, salah satu dari 5 penguasa yaitu… Dux Borealis Ursa!"
"Anak kecil berusia 10 tahun membunuh salah satu 5 penguasa?!"
"Bukankah dia telah mencetak sebuah sejarah?! Sebagai pembunuh termuda!"
...****************...
Note: jika kalian merasa aneh saat membaca episode ini atau episode sebelumnya, jangan khawatir! Ingat sekarang kita ada di POV Gera! Dan pikiran Gera di beberapa episode memang sedang sangat kacau hingga sekarang!.