
"Gera bisa tidak kamu ajarkan aku menggambar!"
"Aku juga mau Gera!"
"Aku juga!"
Hah padahal, aku hanya ingin pergi ke cafe dengan tenang tapi mengapa menjadi seperti ini?.
"Ge-gera apa kamu terganggu oleh mereka? Jika iya mending kita pergi ke tempat lain saja."
"Tidak-tidak, aku tidak terganggu kok dengan mereka, oh ya kamu mau pesan apa? Dan Lisa kamu juga mau pesan apa?"
"A-aku pesan sirup saja Gera."
"Kalau, aku jus alpukat kak!"
"Kalian ingin makan apa?"
"S-spaghetti dengan bakso saja, Gera!"
"Ok, Alesha, kalau kamu apa Lisa?"
"Aku sama dengan kakak saja."
"Baiklah kalau begitu, kalian berdua tunggu disini ya."
"Ok!" Ucap mereka berdua.
Aku pun pergi ke tempat chef di cafe ini.
"Chef, saya ingin memesan minuman dan makanan."
"Oh begitu ya, apa yang ingin kamu pesan, dek?"
"Saya ingin memesan 3 minuman yaitu sirup, jus alpukat…" hm, aku apa ya? Oya! "Dan kopi panas, untuk makanannya spaghetti dengan bakso dan sup 2, ok hanya itu saja chef."
"Ok dek pesananmu diterima, adek tunggu saja di meja nanti pelayan yang akan mengantar pesanannya."
"Ok chef."
Aku pun pergi ke mejaku.
Sebenarnya, aku terkejut mendengar ada cafe di dunia ini tapi aku anggap biasa saja karena saat aku mendengar perkataan itu sekilas aku mengingat sesuatu, "kamu berada di alam semesta yang berbeda tapi tidak dengan tata suryanya, yang berbeda itu hanya buminya saja." Aku berpikir saat itu, buminya saja? Mungkin maksudnya memang buminya yang berbeda tidak dengan teknologinya… tapi siapa itu yang berbicara? Aku saja tidak mengenali suaranya dan kenapa bisa terpikirkan olehku? Ya sudahlah mungkin itu hanya sebuah deja vu atau apalah.
Aku hampir sampai di mejaku, disitu aku melihat Lisa dan Alesha sedang adu mulut. Hah kalian ini terus saja bertengkar.
Aku menghampiri mereka, "hei, hei hentikan itu! Kalian jangan bertengkar di tempat umum diliatin orang-orang loh!" Aku melihat wajah Lisa dia tampak sangat kesal, tunggu aku tidak pernah melihat reaksi Lisa sekesal ini.
"Lisa kamu kenapa?"
"Dia kak! Dia menga…."
"Ti-tidak, Gera adikmu mengata-ngatai diriku seperti hewan, karena aku kesal jadi aku melawan kata-katanya."
"Apa itu benar Lisa! Mengapa kamu mengatakan seseorang seperti hewan!"
"Ti…."
"Di-dia bahkan mengatakan diriku seperti anjing peliharaan karena rambutku ini, adikmu sangat jahat Gera."
"Hei, aku tidak mengatakan itu! Dan berhentilah mengambil muka di depan kakakku! Kak aku tidak mengatakan itu kepadanya."
"Lisa kamu sudah sangat kelewatan, kamu kenapa sih Lisa?! Setiap aku jalan dengannya kamu selalu ikut denganku dan ujung-ujungnya kamu bertengkar dengannya."
"Tapi kak ini berbeda, dia mengatakan ka…."
"Lisa! Jangan banyak alasan akui saja jika kamu salah!"
"Tapi, tapi kak."
"Lisa."
Lisa tampak sangat kesal dengan ini semua, dia seperti ingin menangis dan marah.
"Kakak kenapa lebih percaya dengannya! Aku tidak berbohong kak! Tapi … kak Gera jahat!!"
Lisa pergi keluar dari cafe, aku seketika mengejarnya tapi dihentikan oleh Alesha.
"Alesha apa yang kamu lakukan?"
"Ge-gera biarkan saja dia."
"Apa yang kamu katakan? Hei, dia masih anak kecil! Bagaimana jika ada sesuatu yang tertimpa dengannya!"
"Ge-gera kamu masih belum tahu ya jika Eridanus adalah tempat yang sangat aman dan anak kecil boleh saja berkeliaran, pa-palingan adikmu pulang ke rumah."
Apa iya begitu? Aku baru mengetahuinya, jika iya baguslah aku tidak perlu terlalu khawatir kepada Lisa.
"Baguslah kalau begitu jadi kita bisa duduk berdua disini."
"I-iya Gera."
"Ba-baiklah Gera."
Aku pergi ke tempat chef untuk membatalkan pesanan Lisa.
Tapi kenapa, Lisa bersikap seperti itu? Aku sudah pernah melihat dia lari, tapi rasa kesal Lisa ini aku tidak pernah melihatnya, itu seperti rasa kesal yang bertubi-tubi... dan dia ingin mengatakan apa ya? Aaaah! Bodohnya diriku kenapa aku malah memotong Lisa berbicara tadi, nanti aku akan menanyakannya kepada Lisa di rumah.
Aku sampai di tempat chef dan membatalkan pesanan Lisa, aku pergi ke mejaku lalu menunggu pesananku bersama Alesha.
*20 menit kemudian*
Pesanan telah sampai, kami memakan dan meminum pesanan itu bersama, terkadang kami berbicara membahas tentang diri kami.
"A-apa yang kamu sukai Gera?"
"Hidup dengan tenang, mungkin itu, kalau kamu?"
"Be-bermain piano, Gera."
"Wah, bagus banget! Kapan-kapan ajari aku bermain piano ya."
"Te-terima kasih Gera, i-iya kapan-kapan aku ajari."
Aku merasakan sesuatu yang romantis saat berbicara dengan Alesha, entah kenapa aku sangat menyukainya, dari bentuk, suara, dan sikapnya bagiku dia sudah sangat sempurna!.
Yang awalnya, aku menganggap dirinya hanya sebagai fans fanatik saja, malah menjadi sedekat ini.
*7 jam kemudian*
"A-ah, Gera hari sudah sore aku harus pulang, ayahku sudah menunggu dirumah."
"Baiklah, hahaha."
"Hm, ka-kamu kenapa ketawa Gera?"
"Tidak ada, terima kasih ya sudah menghabiskan hari ini bersamaku, Alesha."
*wajah Alesha memerah*
"I-iya sama-sama, Ge-gera… ya sudah aku pergi dulu ya, dadah."
"Iya Alesha, dadah."
Alesha pun pergi dari cafe.
Hm apa yang harus, aku lakukan sekarang? Oya aku mau meminta maaf kepada Lisa dan bertanya apa yang ingin dia katakan tadi.
Aku pun pulang ke rumah, di perjalanan terkadang aku melihat-lihat bentuk kota.
Benar yang dikatakan ibu, suasana di kota 80% mirip dengan desa yang menjadi perbedaannya hanya teknologi, perumahan, toko-toko, dan jalan nya saja, oya di kota populasinya lebih rame menurutku.
Aku terus berjalan hingga aku melihat sebuah toko mainan, di toko itu aku melihat sebuah boneka.
Woah, Lisa pasti suka ini! Akan aku beli boneka ini sebagai tanda maaf dariku untuk Lisa.
Aku membeli boneka itu lalu lanjut pulang dengan ekspektasi yang tinggi.
Hehe, Lisa pasti akan memaafkan aku, ini juga sebagai hadia atas latihan Lisa yang sangat giat dalam menggambar, Lisa… dia semakin besar ya dan juga semakin dekat dengan mimpinya… hmm aku kapan ya? Aku memang sudah mulai belajar tentang mimpiku, tapi aku merasa itu masih jauh untuk menggapainya.
Saat, aku sedang berjalan aku tidak sengaja melihat seseorang yang familiar di diriku, dia sedang berjalan dengan arah yang sama denganku.
Tunggu siapa itu? Dia seorang perempuan dan berambut pu… tunggu...."
Aku seketika mengejar perempuan itu… aku semakin dekat dengannya, saat tanganku sudah bisa menggapai dirinya tiba-tiba ada yang mendorongku.
"Hei, kau, apa hak kamu ingin menyentuh tuan putri kerajaan?"
Tuan putri kerajaan? Tidak salah lagi itu dia!.
"Hei, kamu tunggu!"
"Pengawas siapa itu?" Ucap si tuan putri.
"Tidak ada tuan putri hanya orang gila saja."
"Begitukah?"
"Ayo tuan putri kita lanjutkan perjalanan kita."
"Hei, tunggu!"
Sial, aku melupakan namanya!.
"Jangan dihiraukan tuan putri."
Siapa sih namanya?!.
"Kubilang tunggu!"
Aaaah! Andai saja, aku tidak melupakan namanya, pasti dia akan menghampiri diriku, aku yakin dia pasti tahu keberadaan orang tuaku!.