
"Ek, untuk apa kakek ingin memelukku?"
"Untuk apa? Tentu saja karena kakek sangat rindu kepadamu…, kamu tahu cucuku saat pertama kali kakek mendengar kabar jika kamu sudah dilahirkan ke dunia ini, kakek sangat senang kakek sangat ingin bertemu denganmu tapi karena kakek memiliki konflik dengan ayahmu kakek harus memendam itu."
Hmm, kakekku adalah seorang pemimpin jadi aku bisa bertanya kepadanya dimana orang tua ku, dia pasti tahu.
"Kakek sebelum kamu memelukku, ada yang ingin aku tanyakan kepada kamu."
"Apa itu cucuku?"
"Apakah kamu mengetahui dimana orang tuaku? Mereka sudah 2 tahun tidak pulang, kata ibuku dia mengantarkan ayah ke…."
"Berhenti disitu!"
Ha, kenapa raut wajahnya berubah? Apa dia tahu dimana orang tuaku?.
"Edward ayahmu sudah tidak ada hubungannya dengan keluarga Ursa! Dia hanya menggunakan nama Ursanya saja selebihnya tidak ada hubungannya dengan kami! Dan aku tidak peduli lagi mereka mau kemana."
Ada apa dengan orang ini bisa dengan sekejapnya merubah sikapnya? Dan kenapa dia berkata seperti itu? Hei mereka berdua orang tua ku loh! Dan kamu mengatakan itu depan seorang anak yang sedang mencari kedua orang tuanya?.
"Kenapa kamu berkata seperti itu kakek? Terus kegunaan aku kesini untuk apa? Jika aku bertanya kepadamu saja, kamu tidak tahu? Lebih baik aku tidur di bawah kolong jembatan karena aku bisa bertanya-tanya kepada orang daripada disini, bertanya tentang orang tuaku saja kamu sudah begitu…."
"Tidurlah di bawah kolong jembatan yang kau dapatkan hanya sebuah penyiksaan saja."
"Lebih bagus seperti itu bukan? Memang takdir seseorang dengan ras Niksmi itu untuk ditindas kan? Walau aku belum pernah merasakannya tapi aku sudah melihat sedikit dari mereka yang ingin menindasku."
"Aku mengira kau adalah cucu yang penurut ternyata aku salah…, percakapan kita hanya sampai disini keluar kau aku sedang malas berdebat!"
"Baiklah!"
Aku pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan jengkel dan marah, si asisten sudah menungguku di depan pintu, tanpa basa basi dia langsung mengantarku ke kamarku.
Saat kami sedang berjalan si asisten bertanya kepadaku, "tuan Gera anda tampaknya sedang jenggel, tapi boleh tidak saya bertanya padamu?"
"Hah, tentang apa asisten?"
"Apakah anda sudah bertanya kepada nyonya Vima tentang masa lalu kami?"
Sial, aku harus jawab apa? Mana masa lalu mereka seperti cinta sebelah pihak lagi.
"Hm, tuan?"
Apa yang harus, aku katakan? Aku merasa gak enakan dengannya.
"Hump hump, sepertinya anda sudah mengetahuinya tuan."
"Ek, iya asisten."
"Tidak perlu merasa gak enakan seperti itu tuan Gera... jadi anda sudah tahu semua tentang masa lalu saya?"
"ya begitulah."
"Nama yang diberikan nyonya Vima kepada saya apa tuan?"
Ha, kenapa dia tiba-tiba membuat pertanyaan? Memang untuk apa?.
"Glenn, ya kan?"
"Di umur berapa, saya di kasih nama itu?"
"6 tahun… hei mengapa kamu bertanya sesuatu yang sudah aku ketahui?"
"Hanya untuk memastikan saja."
Ha buat apa sih?!.
"Saat berumur berapa saya melamar nyonya Vima?"
"20 tahun."
"Diterima apa ditolak?"
"He jika diterima memang Lisa dari mana? Hahaha."
"Hump hump, anda benar juga tuan…, nyonya Vima menganggap saya sebagai apa?"
"Sebagai mayat hidup."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih tuan."
Hah, hanya begitu saja? Dia tidak perlu bertanya panjang lebar bukan hanya untuk memastikan itu saja?.
Apakah pertanyaan dia memiliki sebuah maksud? … tunggu jika aku ingat-ingat lagi, hmm…… um… mm…, perkataan dia saat aku pertama kali bertemu dengannya…… Hei! Itu bukannya sebuah sarkas!!!.
"Hey asisten!"
"Hmm? Ada apa tuan Gera?"
"Kamu membuat semua pertanyaan itu hanya untuk, supaya diriku ini sadar jika kamu sedang ngesarkas Vima?"
"Oh anda sangat hebat tuan! … Apakah sebesar itu rasa penasaran anda hingga bisa menjawab apa maksud dari pertanyaan saya?"
Hadeh dia kenapa sih, jika aku sudah tahu cerita masa lalunya dan mengingat kembali perkataan dia saat aku bertemu dengannya pertama kali, sudah jelas bukan jika dia sedang sarkas!.
"Tidak-tidak bukan begitu maksud saya, saya sebenarnya hanya ingin menghibur nyonya Vima, saya tahu nyonya sudah berpisah dengan Harold maka dari itu saya ingin menghiburnya."
"Kamu menghiburnya atau menambah beban pikirannya sih?"
"Nyonya Vima dia tidak terlalu mengerti sarkas, jika ada orang-orang yang sarkas kepadanya nyonya hanya menganggap itu sebagai candaan."
"Lalu bagaimana dengan, kamu yang memaksaku untuk dia bercerita tentang masa lalunya? Setelah bercerita Vima tampak sedih!"
"Eeh, sebenarnya hati saya benar-benar sakit waktu mendengar nyonya tidak memberitahukan kepada tuan tentang diri saya, saya sebenarnya takut dilupakan oleh nyonya Vima maka dari itu saya memaksa tuan untuk memaksa nyonya Vima bercerita."
"Hah, pertama hiburanmu sangat buruk sejak kapan sarkas menjadi sebuah hiburan? Kedua kenapa kamu tidak berbicara 4 mata saja dengan Vima untuk memastikan dia tidak lupa kepadamu."
"Memang begitulah saya tuan Gera dan itu adalah sifat nyonya Vima waktu kecil, lawakannya yang buruk tapi nyonya tetap memaksanya dan juga suka memaksa orang melakukan sesuatu."
"Serius! Wah, sangat berbeda dengan sekarang hahaha, oya memang sifat Vima berubah akibat apa?"
"Saat dia mulai akrab dengan ayah tuan."
"Ayahku?"
"Ya."
"Begitukah."
Sama seperti biasanya ayahku memang sangat berpengaruh bagi orang lain, memang dia orang yang sangat penting ya? Aku juga sempat bertanya seperti ini waktu usiaku berapa ya?.
"Ouh tuan tidak terasa kita mengobrol panjang lebar begini sudah sampai saja di kamar tuan Gera."
"Whoa, ini kamarku?"
"Iya tuan Gera."
Ini benar-benar mewah… tunggu ini bukan kamar orang kan? Sepertinya tidak… yosh aku akan segera masuk!.
Aku pun masuk kedalam kamar itu, saat aku mulai membuka pintu kamar itu…
"Tunggu tuan!"
E, jangan bilang ini kamar orang? Bukan kan?.
"Ada saran dari saya untuk besok."
"Hah saran? Apa itu?"
"Besok pagi tuan harus berpakaian rapi dan bersih dan juga jangan lupa akan kesopanannya."
"Memang besok ada acara apa?"
"Besok ada acara yang diselenggarakan oleh tuan Dux untuk perkenalan tuan Gera."
"Oya asisten kenapa kakekku sampai membuat acara seperti itu? Aku kan hanya seorang anak dengan fisik ras Niksmi."
"Anda akan tahu besok tuan."
"Baiklah kalau begitu aku ingin beristirahat dulu, aku sudah sangat lelah dengan hari ini."
"Tunggu tuan."
"Apa lagi sih?"
"Di sini terdapat 300 pelayan jadi jika tuan membutuhkan sebuah bantuan bisa tekan bell di atas meja di samping kasur tuan itu."
"Yang itu?"
"Iya."
"Baiklah terima kasih asisten."
"Sama-sama jika begitu saya undur pamit tuan."
"Baiklah."
Aku pun masuk kedalam kamar itu dan menutup pintu, aku pergi ke arah kasurku dengan lemas dan lelah, lalu menjatuhkan badanku di kasur itu.
Hah lelahnya diriku, dalam sehari ada banyak masalah yang timbul dari diriku, pertama aku di bentak dan di todong senjata api oleh tentara penjaga gerbang itu, kedua aku bertemu dengan asisten pribadi kakekku yang sangat aneh walaupun aku sudah tahu masa lalunya tapi aku tak tahu motif dia apa sebenarnya, ketiga aku bertemu dengan anak kecil berumur 10 tahun yang dipukuli akibat mencuri makanan dan aku membantunya dan dia menganggapku sebagai temannya, yang keempat aku melihat sifat aneh kakekku yang fetish dengan sebuah foto dan hampir berdebat dengannya.
Oya, aku tidak boleh melupakan jika aku baru melihat dan merasakan teknologi modern pertama yang besar di dunia ini, yaitu sebuah kereta listrik dan juga stasiun kereta. Itu sangat gila menurutku dan juga nostalgia.
Hah kasur ini sangat nyaman dan enak, aku seperti betah disini… eek, aku seperti memakan kembali perkataanku dan juga menjilat ludahku sendiri.
Bodo ah, aku sudah sangat lelah dengan ini, aku juga sudah sangat ngantuk mending aku tidur saja.
Apakah hari baru akan ada masalah yang baru? Tidak ada yang tahu.
...****************...
Note: Mansion Ursa memiliki 3 lantai dan kamar Gera terletak di lantai 2.
Note: Dengan hadirnya episode 26 menandakan chapter 1 selesai dan kita akan sampai di chapter 2: Awal dari sebuah neraka?.