New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Keluarga besar Ursa



Bagian 1


Haaah, masih di hari yang sama, tapi bedanya ini sudah larut malam. Vima dan Lisa mereka sudah tertidur, hanya aku dan pak kuda saja yang masih bangun.


14 hari lagi, itu sangatlah lama!.


"Apa maksud kamu 14 hari lagi Vima? Kamu saja sampai dirumahku kurang dari sehari."


"itu karena saya sudah berangkat dari kota sudah lama tuan, saya diundang oleh ayah tuan untuk merayakan ulang tahun tuan."


Merayakan hari ulang tahun ya, itu mengingatkan aku kepada kalung yang dibuat ayah, mungkin?.


Aku melihat-lihat kalung itu, "G dan U," Gera Ursa ya. 


Aku juga sempat menanyakan kepada Vima, keluarga Ursa itu seperti apa sih? Bukan keras kepalanya, lalu Vima menjawab pertanyaanku, "Keluarga Ursa adalah keluarga yang besar, mereka terdiri dari 4 keluarga besar juga, yaitu: Lupi, Majoris, Ton, dan Borealis."


"Saya tidak akan menjelaskan terlalu detail tentang keluarga Ursa, karena sangat rumit tuan."


"Iya, tidak apa-apa Vima."


"Baiklah tuan, Lupi: Adalah keluarga Ursa dengan kedudukan no 4, mereka hanya keluarga besar biasa saja tuan."


"Majoris: Adalah keluarga Ursa dengan kedudukan no 3, mereka memiliki fungsi untuk keluarga Ursa yang lain."


"Ton: Adalah keluarga Ursa dengan kedudukan yang tinggi, dengan kedudukan no 2, mereka dihormati oleh keluarga yang lain no 3 dan 4."


"Dan keluarga Ursa yang tertinggi sekaligus pemimpin dari keluarga Ursa yang lain adalah Borealis: Borealis memimpin semua keluarga Ursa yang lain, jika ada apa-apa maka keluarga yang lain wajib lapor kepada Borealis, dan jika ada rapat besar maka keluarga Ursa yang Borealis lah yang akan mewakilinya."


"Setiap keluarga besar Ursa memiliki pemimpin keluarganya masing-masing untuk mengurus keluarganya, tapi Borealis adalah pemimpin semua keluarga besar Ursa, mereka sangat dihormati oleh keluarga Ursa yang lain, memang agak susah untuk menjelaskannya dengan detail, tapi tuan pasti akan tahu dengan perlahan jika sudah sampai di kota."


Hah, aku tidak menyangka Ursa adalah keluarga yang sangat besar, aku juga bertanya kepada Vima, memang kita ada di keluarga yang mana? Dan jawabannya sangat mengejutkan.


Aku, Vima, dan Lisa berada di keluarga sang pemimpin yaitu, Borealis!, bahkan kakekku adalah sang pemimpinnya….


Aaaa!!! Bukannya ini gawat! Walaupun semua orang mengatakan aku ini sangatlah beruntung lahir di keluarga yang besar, tapi tubuhku bukanlah tubuh ras Bangsawan melainkan ras Niksmi, aku tidak tahu apa tanggapan mereka melihat diriku nanti.


… Hah, itu membuatku berkeringat dingin. Aku juga bertanya kepada Vima suasana di kota itu seperti apa, yang di pikiranku adalah kota itu seperti duniaku sebelumnya, karena banyak teknologi modern, jadi pasti banyak polusi udara, padat, berisik, dan sangat berbeda dengan desa.


Tapi jawaban Vima sangat berbeda dengan yang aku pikirkan.


"Tuan suasana di kota 80 persen sama dengan desa, yang membuatnya berbeda adalah teknologinya yang lebih canggih saja."


Mendengar perkataan Vima membuat aku terkejut, 80 persen suasananya sama dengan desa, wah bukan?.


*melihat keluar gerobak*


Wah, sangat gelap, tapi kenapa pak kuda bisa melihat jalan yang ada di hadapannya? Skill pak kudanya kah, yang memiliki mata night vision?.


Bodo amat ah, sudah sangat larut mending aku tidur.


Bagian 2


Besoknya, di pagi hari.


Kami menghentikan perjalanan kami sebentar, karena pak kuda sedang beristirahat, dan kami ingin sarapan juga.


"Wah mama di sini sangat indah, sangat menyenangkan jika sarapan di sini, haha."


"Lisa tunggu jangan lari-lari."


"Hahaha, biarkan saja Vima dia masih anak kecil, sangat wajarkan jika dia berlari karena menikmati suasananya."


"Iya tuan, tapi saya hanya khawatir kepada Lisa, bagaimana jika dia terjatuh?"


"Baiklah, aku akan mengawasi Lisa, jadi kamu tenang saja Vima."


"Terimakasih tuan, saya akan segera menyiapkan sarapan kita."


"Ya, sama-sama Vima."


Aku pergi ketempat Lisa, dan memanggilnya, "Lisa!" Dia pergi ke arahku dan berkata, "ada apa kak?" Dia tampak sangat senang.


"Suasana disini sangat bagus bukan?"


"Iya kak, aku sangat menyukainya!"


"Jika begitu, bagaimana jika kita menggambar tempat ini Lisa? Jika kita kangen dengan tempat ini lagi, kita bisa melihat gambarnya bukan?"


"Kamu benar kak!"


"Biar tidak bosan kamu juga ikut membantuku."


"Bantu apa?"


"Ya, aku yang menggambarnya, kamu yang mengatakan kepadaku apa saja yang ada di sini."


"Ah itu membosankan kak, hanya kak Gera saja yang menikmatinya, sedangkan aku tidak."


"Eek."


Apa yang harus aku lakukan? … Oya!.


"Bagaimana jika kita lomba menggambar saja Lisa? Menarikkan."


"Whoa! Itu menarik kak! Hehe, akan aku buktikan kepada kak Gera kalo skill menggambar aku sudah sangat bagus, mungkin sudah bisa melebihi skill menggambar kak Gera."


"Hoho, kamu menantangku ya?"


"Iya aku menantang kamu kak!"


"Baiklah, nanti mama kamu lah yang akan menjadi jurinya, dan yang kalah akan kena hukuman, setuju?"


"Setuju! Tapi tunggu aku akan mengambil buku dan peralatanku dulu kak."


"Ok."


*Lisa mengambil peralatannya*


2 menit kemudian.


Lisa kembali ke tempatku, dan aku melihat dia membawa pewarna, pena bulu ayam, dan buku, "Ayo kita mulai lombanya kak!"


"Baiklah Lisa."


Sambil menunggu Vima menyiapkan sarapan, kami melakukan lomba menggambar, aku melihat sekitar dan pandanganku terfokuskan pada sebuah bukit yang tinggi, yang di belakangnya juga terdapat bukit lagi, aku mulai menyiapkan buku gambarku, dan juga pena bulu dan mulai menggambar.


10 menit kemudian.


Aku memperhatikan lagi bukit itu, dan terlihat dengan ku ada satu pohon yang hidup disana, wah indahnya, dari segedenya bukit itu hanya ada satu pohon yang hidup di situ.


20 menit kemudian.


Aku mendengar kicauan burung, dan melihat sekelompok burung tebang.


5 menit kemudian.


Vima memanggil kami untuk sarapan, "Lisa, tuan, sudah saatnya untuk sarapan."


"Yah kak, aku belum selesai gimana ni?"


"Kita makan aja dulu Lisa nanti kita lanjut, menggambar itu membutuhkan konsentrasi dan juga berfikir Lisa, pasti stamina kita juga bisa habis, jadi kita harus mengisi stamina kita dengan mengisi perut kita."


"Kamu benar kak, ya sudah ayo kita ke tempat mama kak."


 


Kami pergi ketempat Vima untuk menyantap sarapan kami, Lisa memakan sarapannya dengan sangat lahap, mungkin stamina Lisa sudah habis akibat menggambar, dan Vima dia memakan sarapannya dengan santai.


Suasana di sini memang sangat bagus, ini seperti kita sedang piknik, tapi ayah dan ibu tidak ada, seperti ada yang kurang jika mereka tidak ada.


*30 menit kemudian*


Kami sudah selesai memakan sarapan kami dan Lisa menyuruhku untuk langsung memulai lombanya lagi, "kak ayo kita lanjutkan lombanya, kak."


"Tunggu Lisa, kita baru saja mengisi perut kita, harus menunggu beberapa menit untuk memulai beraktivitas setelah makan."


"Iya kah kak? Mama apa itu benar?"


"Iya Lisa tuan Gera benar, perut juga harus beristirahat untuk mencerna makanan kita tadi."


"Baiklah, aku akan menunggu beberapa menit."


"Oya tuan jika saya boleh tahu, memang lomba apa yang anda dan Lisa lakukan?"


"Kami melakukan lomba menggambar Vima."


"Begitukah, temanya apa tuan?"


"Tempat ini Vima, apa saja yang ada disini bisa kita jadikan tema nya."


"Jika begitu biarkan saya yang menilai gambar tuan dan Lisa jika sudah selesai."


"Ya kami memang menjadikan kamu sebagai jurinya Vima."


"Saya akan menilai dengan jujur tuan."


"Um, memang begitu seharusnya haha."


10 menit berlalu.


Aku dan Lisa melanjutkan lomba menggambarnya, kami menggambar dengan sangat fokus sambil diliatin oleh Vima.


2 jam berlalu.


Yes, gambarku sudah selesai, aku melihat Lisa dia masih menggambar, dia lama karena mewarnai gambarnya.


1 jam berlalu.


"Kak!"


"Ya Lisa ada apa?"


"Jreng, gambarku sudah selesai, tapi aku tidak akan memperlihatkannya kepada kamu."


"Hehe, ya sudah mari kita ke tempat mama kamu biar mama kamu yang menilainya."


"Ayo!"


Kami pergi ketempat Vima, "Jadi siapa yang ingin memperlihatkan gambarnya terlebih dahulu?" Ucap Vima.


"Kak Gera aja dulu ma."


"Baiklah, tuan mana gambar anda biar saya lihat, nanti akan saya simpulkan hasil gambar tuan dan Lisa."


Aku memperlihatkan gambar aku kepada Vima, aku melihat ekspresinya ... Dia sangat kaget!.


"Tuan, ini anda sendiri kan yang membuatnya?"


"Iya emang siapa lagi Vima."


"Ini sangat bagus tuan! Anak-anak yang berumur 9 tahun tidak mungkin bisa menggambar seperti ini, bahkan tanpa anda mewarnainya sekalipun ini sudah sangat sempurna."


Ya mau gimana lagi, aku kan sebenarnya berumur 43 tahun, dan ya, di duniaku sebelumnya, terkadang jika aku gabut aku menggambar sesuatu di buku kosong.


"Haha, jangan memujiku berlebihan Vima."


"Saya tidak bermaksud memuji tuan, tapi memang gambar tuan sangatlah bagus."


"Kalau begitu, terimakasih Vima."


Vima mengembalikan gambar itu kepada ku.


"Lisa sekarang mana gambar kamu?"


"Ini ma."


Vima melihat gambar Lisa, tak menjelang lama Vima, dia meneteskan air matanya?.


"Ee, Vima kamu tidak apa-apa?"


"Eh, maafkan saya tuan, tapi saya sangat senang melihat gambar Lisa, baru sekali ini saya melihat gambar Lisa sebagus ini."


"Umm! Jadi mama bilang gambarku yang sebelumnya jelek ya!"


"Bukan begitu maksud mama Lisa, maksud mama, ya gambar kamu yang sebelumnya bagus, tapi gambar yang ini sangatlah bagus Lisa."


"Benarkah mama? Hihihi."


"Kamu belajar dengan siapa Lisa?"


"Sudah jelas bukan mama, kak Gera mengajariku menggambar, aku juga sudah pernah bilang kepada mama, jika aku sangat menyukai gambar kak Gera."


"Benarkah itu tuan?"


"Ya, gimana ya, itu benar Vima."


"Terimakasih tuan!! Sudah mengajari anak saya menggambar."


"Sama-sama Vima."


"Mama, jadi gimana siapa yang menang diantara kami?"


"Mama sudah mengambil keputusan."


"Wah jadi siapa yang menang mama?!"


"Yang menang adalah."


"Siapa ma?"


"Tuan Gera!"


"Yah, bukan aku ya mama."


"Maaf Lisa bukannya mama tidak jujur, tapi gambar tuan Gera sangatlah memukau dan menakjubkan, kamu nanti bisa melihatnya kok, dan juga itu menandakan kamu untuk harus lebih banyak berlatih."


"Iya mama, aku sangat percaya dengan mama, dan aku berjanji akan banyak berlatih! Dan mengalahkan kak Gera!!"


"Haha, kamu pasti bisa mengalahkanku Lisa, nanti akan aku ajarin kamu cara menggambar yang sangat bagus."


"Benaran kak?"


"Iya beneran."


"Terimakasih kak!"