New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Perubahan sikap yang drastis



*pintu tersebut terbuka secara perlahan*


… apa itu beneran Luna…?!.


"Hah, kamu ini sangat lambat Luna! Tinggal buka saja pintu itu apa susahnya?" Ucap sang pangeran.


"Ta-ta-tapi, a-aku…"


"Maafkan aku bocah, dia memang adikku yang pemalu."


"…"


*pintu terbuka lebar*


"Ma-maaf abang…"


"Tidak apa-apa, sekarang kesinilah dan berdiri disampingku!"


"Iya…"


*Luna berjalan ke arah sang pangeran, dan berdiri di sampingnya*


"Baik bocah…"


"Tunggu!" Ucap Gera.


"Ada apa?"


"Ini beneran Luna kan?! Luna yang waktu kecil itukan?"


"Ya, memang kenapa?"


"Aku tidak percaya jika ini Luna! Luna yang kukenal adalah orang yang periang! sama waktu aku mengenalnya pertama kali!"


"Hahahaha kamu lucu bocah!"


"Abang?"


"Kenapa kau tertawa?"


"Sepertinya kau perlu belajar tentang sifat manusia denganku! Hahahaha!"


*sang pangeran terus tertawa*


"Hei, berhentilah tertawa! Tidak ada yang lucu disini!"


"Haha, Maafkan aku… hah, apa kau tahu jika manusia memiliki 3 sikap?"


"3 sikap?"


"Ya! Contohnya seperti dia. Adikku ini jika di depan banyak orang memiliki sikap layaknya seorang yang mempunyai sebuah karisma tapi jika dia sudah sendirian atau sudah sampai di tempat yang dimana orang-orang mengenalnya, maka disitulah sikapnya berubah drastis!"


"Woh, ternyata begitu!"


"Biasanya yang itu adalah sikap aslinya, ya gak Luna…?"


"Iiih! Mengapa abang mengatakannya!"


"Hahahah, maaf-maaf."


*Luna dan sang pangeran mulai berdebat*


"Gak! Aku gak menerima maaf abang!"


"Kenapa begitu?"


*Gera hanya memperhatikan mereka*


Hahaha melihat mereka, aku jadi teringat akan almarhum Lisa….


*Gera menundukkan kepalanya, sang pangeran merespon sikap Gera itu*


"Sudah… sudah Luna… Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu tadi bocah."


*sang pangeran mulai berkata*


"Maafkan adikku bocah!!" Ucap sang pangeran sambil menundukkan kepalanya.


"Apa yang kau katakan?!"


"Luna kamu juga harus menundukkan kepalamu!"


"I-iya abang."


*Luna menundukkan kepalanya*


"Maafkan aku sebesar-besarnya Gera!"


"Hey! Hentikan itu! Mengapa kalian menundukkan kepala kalian?! Kalian ini keluarga kerajaan loh! Apakah kalian tidak malu menundukkan kepala kalian kepada ras Niksmi sepertiku?!"


"Jika kau mendengar cerita aslinya kau pasti akan sangat marah bocah, maka dari itu aku dan adikku meminta maaf terlebih dahulu, walaupun jika ayahku tahu ini dia pasti akan membunuhku!"


"Ya sudah hentikan itu! Dan ceritakan saja!"


"Baiklah bocah…. Adikku sebenarnya tidak kabur dari kami… dia hanya sangat ingin bertemu denganmu kembali tapi dengan cara yang berbeda. Dia ingin mengerjaimu tanpa sepengetahuanku."


"... jadi yang dia katakan jika dia kabur dari keluarganya itu bohong?"


"Betul tapi biarkan aku menyelesaikan ceritaku dulu bocah…. Singkat cerita adikku menemukan dirimu dan mengatakan jika dia pergi melarikan diri dari keluarganya, dan kau membawanya ke rumah. Di lain tempat aku sangat panik karena hari sudah mulai malam dan Luna tak kunjung pulang, aku terus mencari Luna dan sampailah aku di sebuah tempat, disitu aku melihat kau dan Luna bersama dengan orang tuamu, saat aku ingin memanggil Luna kalian sudah masuk kedalam rumah tersebut."


"Aku pergi ke rumah itu dan mendengar suara kamu dan ayahmu sedang berdebat, disitu ayahmu sangat tidak menyukai ras Bangsawan makanya aku sangat takut jika Luna diapa-apain oleh ayahmu, seketika aku mengeluarkan pistol dan mengetuk pintu, ayahmu membukanya dan aku langsung menembak bagian bahunya, emosiku sudah tidak stabil saat itu, aku langsung menghampiri Luna tapi kau malah menghalangi makanya aku memukulmu dan mengatakan jika ras kamu itu adalah sampah."


"Sekali lagi maafkan aku dan adikku!"


*Gera berdiri dan berjalan ke arah Luna, emosi Gera tampak meluap-luap disitu*


*sang pangeran hanya diam melihat Luna di bentak Gera. Luna hanya diam sangat ketakutan dan ingin menangis*


Apa yang aku lakukan?.


*Gera mencoba berpikir logis*


Aaaa! Akulah yang bodoh! Jika aku berpikir dengan logis. Saat itu Luna masih berumur 7 tahun! Wajar saja jika dia melakukan hal bodoh itu, pikiranku saja yang lebih dewasa darinya! Jika aku diposisi Luna mungkin aku akan melakukan hal yang sama.


*Gera terdiam, dia melihat wajah Luna yang sangat ketakutan dan ingin menangis*


Bahkan di umur segini Luna masihlah anak kecil....


*Gera tersenyum lalu mengelus kepala Luna*


"Maafkan perkataanku tadi Luna, aku tidak bisa mengontrol emosiku saat mendengar cerita kakakmu, aku lupa jika kau masih seorang anak kecil yang polos."


"Ge-ge-Gera…?"


*wajah Luna memerah*


*sang pangeran yang melihat perubahan drastis dari sikap Gera dan apa yang dia lakukan kepada Luna, itu membuatnya terkejut*


"Hey, apakah tidak apa-apa aku melakukan ini pada adikmu?"


"..."


"Maafkan aku, sepertinya tidak boleh ya."


"Tidak…, boleh-boleh saja…,  maaf aku tadi termenung… kau boleh saja mengelus kepala adikku tapi jika ketahuan oleh ayahku kau bisa dibunuh!"


"Hahaha terima kasih…, melihat adikmu, aku jadi teringat dengan adikku, oya apakah adikmu ini manja denganmu?"


"Hahaha dia adalah adikku satu-satunya dan juga yang paling manja!"


"Baguslah… jaga dia baik-baik."


"Apa yang kau katakan?"


"Tidak… tidak ada."


*sang pangeran masih terkejut dengan Gera. Gera terus mengelus kepala Luna*


"He-hentikan!"


*Luna mendorong Gera*


"Akh, sakit! Hei, punggungku terkena kaki sofa!"


"Ah, maaf Gera."


*Gera berdiri sambil memegang punggungnya*


"Aw…"


"Hahahaha!"


"Mengapa kau tertawa?"


"Entahlah mungkin dari dirimu sendiri bocah!"


"Hah? Aku tidak mengerti? Dasar kau pangeran aneh."


"Ya sudah jika tidak mengerti diam saja."


"Cih, kau malah menambah pikiranku! Oya, Luna maafkan aku ya."


"Bukankah aku yang seharusnya meminta maaf?" Ucap Luna.


"Tidak, aku sudah memikirnya dengan logis. Pikiran logis ku mengatakan bahwa tidak ada yang salah."


"Maksudmu Gera?!"


"Kau melakukan itu karena pikiran dan sifatmu saat itu masih anak kecil dan polos, sedangkan kakakmu tidak mengetahui apa-apa dan dia khawatir jika adiknya takut diapa-apain, jadi tidak ada yang salah kan?"


"Waw, aku suka dengan pemikiranmu bocah! Tapi kami keluarga kerajaan punya harga diri."


"Hah?"


"Karena harga diri itulah, aku dan adikku sekali lagi meminta maaf!"


"Iya aku maafin."


Tapi bagaimana dengan aku mengelus kepala adikmu? Dan aku yang meludahimu saat dijalanan? Bukankah harga diri kalian jatuh?!.


*Gera pergi ke sofanya lagi*


"Dah, kamu tidur aja lagi." Ucap sang pangeran.


"Gak! Aku mau disini sebentar lagi!"


"Anak kecil tidak boleh bergadang! Apalagi kamu perempuan loh jaga waktu tidurmu!"


"Tapi bang…"


"Hah, baiklah…"


"Terima kasih abang!"


*Gera hanya tersenyum mendengar percakapan mereka*


Apakah mungkin aku bisa seperti itu lagi? Aku masih ingin memanjakan adikku… memiliki seorang adik memang impianku dari kecil.