New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Gangguan jiwa (?)



Bagian 1


*Gera berjalan menuju ruangan tamu sambil memperhatikan pakaiannya*


Jadi dari tadi aku mengobrol panjang lebar dengan menggunakan pakaian berlumuran darah? Tapi mengapa tidak ada yang menyinggung tentang pakaianku sama sekali? Seperti Luna, mangapa dia hanya diam saja melihatku berlumuran darah…? Jangan bilang si pangeran sudah merencanakan semua ini? Tapi, untuk apa dia melakukan itu?.


Dari sikap Luna yang biasa saja, pasti dia sudah merencanakan ini sebelum kita bertemu(?).


*angin malam masuk ke ruangan yang sedang Gera lalui melalui ventilasi di atas di samping Gera*


Huuu, dingin sekali! Untung sebelum aku kesini, aku sudah menyelimuti ibu dengan kain yang entah dari mana, jadi ibu tidak akan merasakan kedinginan.


Ha, kain? Aku sempat bertanya-tanya tentang kain itu datang darimana…. Ternyata benar dia sudah merencanakan semua ini sebelum kita bertemu! Jadi sebelum aku dan ibu sampai ke jembatan dia sudah mengikuti kami?.


Sangat ribet bagiku untuk memikirkan itu, lebih baik aku langsung bertanya ke orangnya saja!.


*Gera terus berjalan menuju ruangan tamu*


Sampai juga. Apakah aku harus memanggilnya atau menunggunya?.


*Gera lebih memilih untuk menunggu*


*20 menit kemudian*


Eeee, mengapa dia belum datang juga? Aku sudah menunggu lama disini!.


*Gera teringat sesuatu*


"kabari saja kami jika sudah selesai."


Sial, aku lupa jika dia menyuruhku untuk mengabarinya! Hah, mengapa aku menjadi pelupa begini?.


*Gera pun mulai berdiri untuk mengabari sang pangeran*


"Ah ternyata kau sudah selesai menyantap makananmu, bocah?"


"Ek..."


*Gera seketika terduduk*


"Mengapa kau tidak mengabari kami? Bukankah sudah aku katakan tadi?"


Mengapa dia baru tiba saat aku baru saja mengangkat pantatku?! Rasanya tidak enak baru mengangkat pantat dan seketika duduk lagi!.


*Sang pangeran pergi ke sofanya lalu duduk disitu*


"Abang kalau begitu aku ingin tidur dulu." Ucap Luna.


"Ya Luna, tidurlah."


*Luna pergi ke kamarnya*


"Sepertinya kalian habis membahas sesuatu."


"Hahaha, hanya membahas hal yang sepele."


"Ooo."


"Baiklah…"


"Tunggu!"


"Ada apa?"


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu!"


"Apa itu?"


"Mengapa selama kita berbicara, kau atau Luna atau siapapun yang kesini tidak pernah menyinggung tentang pakaianku?!"


"..."


"Dan katakan yang sejujurnya! Kau sudah merencanakan semua ini kan?! Kau mengikuti aku dan ibuku hingga ke jembatan, lalu disaat kami tertidur kau memberikan aku sebuah selimut. Bukan hanya itu saja kau juga pasti telah menyuruh Luna dan yang lain untuk diam dan jangan membahas pakaianku kan?!"


"..."


*sang pangeran hanya terdiam saja*


"Hei, jangan diam! Jawablah!"


"... pft…"


"Ha?"


"... hahahaha!"


Mengapa dia tertawa?.


"Maafkan aku, hahahaha!"


"Hahaha! Maafkan aku, aku tidak dapat menahan ketawaku!"


"Hei! Tidak ada yang lucu, berhentilah tertawa!"


*sang pangeran berusaha menahan ketawanya*


"Hahahaha… hah… hah… maafkan aku bocah. Sepertinya kau sangat hebat dalam membuat orang tertawa pagi-pagi buta begini! Ahahaha!"


"Berhentilah! Dan mengapa kau sampai tertawa terbahak-bahak begitu!"


"Hahaha… aku tertawa karena mendengar perkataanmu tadi, pufps… ahahahahaha! Teori macam apa itu!"


"..."


"Mengapa kau bisa sampai menyimpulkan sesuatu dengan semudah itu tanpa adanya sebuah keraguan dan bukti?"


"Ya… kan namanya juga sebuah kesimpulan…"


"Ahahaha!"


*sang pangeran terus tertawa*


Hingga kapan dia akan terus tertawa? Hah, aku biarkan saja dia sampai dia puas.


*3 menit kemudian*


"Hah… hah…"


"Apa kau sudah lelah?"


"Ya, rahangku sudah sakit akibat terlalu lama tertawa."


"Kau mengatakan bahwa kesimpulanku salah, jika memang iya katakanlah yang sebenarnya! Dan mengapa kalian bisa satu penginapan kompak untuk tidak menyinggung pakaianku!"


"Hey-hey santai-santai, aku akan menjelaskannya tapi lain kali jangan pernah membuat kesimpulan yang aneh seperti itu lagi! Lebih baik kau simpan saja kesimpulan seperti itu di dalam dirimu."


"Eek, hatiku rasanya sakit mendengar perkataanmu. Baiklah! Jadi cepat jelaskan!"


*sang pangeran mulai menjelaskannya*


"Tidak membutuhkan waktu lama untuk berita atas kematian kakek tua itu tersebar luas! Karena berita itu sudah terdengar di telingaku jadi aku mencoba untuk pergi mengecek mayatnya, sesampainya aku di rumah keluarga Borealis, aku disambut oleh seorang asisten dia mendampingiku untuk pergi ke tempat mayatnya."


"Aku melihat mayat kakekmu mati dengan sangat tragis, dan kau tahu apa yang membuat aku terkejut? Ya, aku melihat 3 mayat anak kecil yang juga mati dengan sangat tragis!"


"..."


"Aku bertanya kepada asisten tersebut apa yang sebenarnya terjadi, dan memintanya untuk menjelaskan semua kronologinya."


"Dan dari cerita si asisten tersebut itu juga membuatku terkejut, ternyata yang membunuh 3 anak kecil dan 1 kakek tua adalah seorang bocah yang berusia 10 tahun! Aku seketika mencari informasi tentang bocah itu setelah mendapatkan informasi yang cukup, aku menyuruh 5 penjagaku untuk mencarinya dan ya, tidak butuh waktu lama aku dapat menemukanmu! Kau sedang tertidur dengan seorang wanita dewasa di bawah kolong jembatan…"


"... aku melihat dirimu dengan pakaian yang berlumuran darah, aku masih tidak percaya jika kau telah membunuh seseorang."


Bagian 2


Kita akan memasuki POV dari sang pangeran!.


"Apakah ini benar-benar pembunuhnya?!"


"Iya pangeran, anda dapat melihatnya dari pakaian yang dia kenakan, dan juga ciri-ciri yang pangeran sebutkan kepada kami." Ucap salah satu penjaga.


Aku seperti pernah melihat muka ini… bocah ini bukannya yang 3 tahun lalu itu?!.


Apa sih yang ada di dalam pikiranmu?! Hingga bisa terpikir oleh otakmu untuk membunuh seseorang…? aku senang jika pemimpin keluarga itu mati! Tapi apa alasanmu untuk membunuh 3 anak kecil tersebut! Hah, dasar bocah gila!.


"Jadi pangeran apa yang harus kita lakukan kepada anak ini?" Ucap salah satu penjaga.


"Kita tidak bisa menjatuhi hukuman mati untuknya karena dia masih di bawah umur, aku yakin dia pasti memiliki gangguan jiwa!"


"Jadi kita akan membawanya ke rumah sakit jiwa, pangeran?"


"Jangan! Dia masih anak dibawah umur! Bukan pilihan yang bagus untuk mengantarnya ke rumah sakit jiwa!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan pangeran? Dia telah membunuh 3 anak kecil!"


………


*sang pangeran berpikir dengan sangat keras*


Hah, benar-benar bocah yang sangat merepotkan!.


Note: mengapa asisten megatakan bahwa Gera yang melakukan pembunuhannya? Itu karena si asisten memang harus menceritakannya, soalnya yang datang adalah anak dari sang raja jadi dia wajib menceritakannya! Saat bercerita, asisten tidak mengatakan jika dia telah membantu Gera, mengapa? Karena asisten masih memiliki tugas untuk mencari penerus keluarga Ursa, dan jika dia mengatakannya itu akan berisiko untuknya bisa-bisa dia dihukum mati!.


Note: saat sang pangeran sedang melihat-lihat Gera, Gera telah menggunakan kain yang entah darimana untuk mencegahnya dari kedinginan.


A-Note: halo para readers! Author hanya ingin mengatakan bahwa author akan melanjutkan proyek peta untuk fiksi ini! Author gak bisa janji kapan selesainya karena author sudah malas berjanji, author takut gak menepati janji lagi! Ya sudah hanya itu aja info singkat author di A-Note. Terima kasih sudah membaca episode terbaru New World New Body and High Dream, sampai jumpa di episode terbarunya!.