
Diriku sekarang sedang dalam tahap kebimbangan, aku tidak tahu harus memilih kemana jalan hidupku.
*Gera terbangun dari tidurnya*
Aaah, sekarang kepalaku mulai terasa enakan.
Saat aku melihat ke samping, aku melihat si asisten sedang mempersiapkan sesuatu di samping seorang pria berbadan besar.
"Apa yang kau lakukan, asisten?"
"Oh tidak ada, saya hanya menyiapkan beberapa peralatan saja."
*Gera melihat peralatan yang disiapkan oleh si asisten*
Sebuah gunting, pisau, kawat, dan pistol. Heh, aku benar-benar akan melakukan itu ya?.
*Gera berdiri lalu berjalan menuju 7 orang tersebut*
Sebelum aku memulai lebih baik, aku menanyakan kepada mereka satu persatu, bagaimana mereka membunuh Lisa.
"Silahkan tuan." Ucap asisten.
*Gera melihat mereka bertujuh*
"Baiklah…"
"Lepaskan diriku! Aku masih memiliki seorang adik dan orang tua!!" Ucap seorang perempuan di sana.
"Hentikan itu Marine kita hanya bisa pasrah dengan ini." Ucap Alesha.
Oh, jadi dia yang bernama Marine.
"Apa yang kamu katakan, Alesha? Hey, kita ini masih memiliki nyawa, bagaimana bisa kamu menyerahkan nyawa kamu kepada dia dengan suka rela?! Aku tidak ingin mati sekarang, aku belum mewujud mimpiku!" Ucap marine.
Cih.
*Gera mendekatkan wajahnya ke Marine*
"Apa yang kau katakan hey? Kau merebut nyawa adikku dengan sukarela, dan persetan dengan mimpimu, kau tahu?! Kau telah menghancurkan impian adikku! Kau tahu, ha?! Dasar kau ******!!" Bentak Gera.
*Marine seketika terdiam dan ketakutan mendengar bentakkan dari Gera*
"Hahahaha!" Ucap pria yang terikat disana.
"Mengapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Oh, tidak ada hanya saja aku masih tidak percaya ada seorang bocah berumur 10 tahun bisa membunuh seseorang, hahaha."
*Gera mendekatinya*
"Oh, terus bagaimana dengan Alesha? Apakah dia bukan seorang bocah bagimu?"
"Mm, diakan gak ngebunuh."
"Hahahaha…"
*Gera melihat wajah pria itu*
"... Bhahahaha."
*orang-orang pada kebingungan*
"Kau pasti Jori bukan?"
"I-iya?"
"Pft… hahahaha, sudah berumur 19 tahun tapi otakmu kenapa masih bodoh? Sepertinya aku akan memulainya dari dirimu terlebih dahulu."
"Apa? Kau akan memulai apa?"
"Santai saja, aku hanya bertanya kepada kamu."
*Gera melihat ke arah asisten*
"Asisten tolong ambilkan buku tulis di meja itu."
"Baiklah tuan Gera."
*asisten mengambil buku tulis di meja dan memberikannya kepada Gera*
"Jadi…, aku tanya kepada kamu, bagaimana cara kau menyiksa Lisa?"
"Heh, itu mah mudah."
Cih, enteng sekali dia berkata seperti itu.
"Aku tidak banyak melakukan apa-apa, aku hanya ditugaskan untuk membuang mayat adikmu ke sungai, hanya itu." Ucap Jori dengan remeh.
Hah, hanya itu?.
"Alesha." Panggil Gera.
"Iya Gera?"
"Apa yang dia katakan adalah benar?"
"Iya, Gera."
Pantesan dia tidak takut sama sekali….
*Jori tiba-tiba tertawa*
"Pft… hahahaha, ya enggak lah! Mana mungkin aku membuang kesempatan emas itu begitu saja? Hahahaha." Ucap Jori sambil tertawa terbahak-bahak.
Hah?.
"Kau tahu bocah? Sebelum aku membuang mayat adikmu, disitu aku diam untuk sementara sampai 5 orang ini pergi, dan saat mereka sudah tidak ada baru aku memulai aksi ku."
Apa yang dia katakan?.
"Aku menelanjangi mayat adikmu…"
"..."
"... Lalu aku melecehkan mayat adikmu, dan memperkosanya disitu, hahahaha!"
"Apa yang kau katakan?!" Ucap Alesha.
"Kau benar-benar melakukan itu?!" Ucap Marine.
"..."
"Apa yang kalian takutkan? Hei, dia hanya seorang bocah biasa saja, hahaha, tidak mungkin dia memiliki mental sekuat itu untuk membunuh kita! Apalagi dia ras Niksmi."
….
*Gera terdiam*
Apa yang dia katakan? Dengan bangga dia berkata seperti itu di depan kakak dari si korban?!.
"Hahaha! Walaupun adikmu sudah mati tapi punyanya tetaplah sempit…"
*Gera seketika mengambil pisau di sampingnya lalu…*
"Ak…"
*Gera menusuk perutnya, tidak sekali melainkan berkali-kali*
"Akh… ak… to-to-to-to…"
*Gera terus menusuknya hingga pria itu mati*
*semua orang hanya terkejut dan merasa tidak percaya apa yang mereka lihat*
*darah dari Jori menyebar kemana-mana*
"Hah… hah… aaaaaa!!" Teriak histeris dari Umira.
*teriakan histeris Umira memancing yang lain untuk berteriak*
*suasana disana menjadi sangat rusuh dan kacau*
*Gera berhenti menusuk pria itu*
"Diamlah!!!" Bentak Gera.
*tidak ada yang mendengarkan peringatan dari Gera, Gera pun mengambil pistol, lalu…*
Dor!.
*... menembak kepala Umira hingga mati, suara tembakan itu membuat orang terdiam, kecuali satu orang*
"U-u-umira? Hei, bangunlah, bangun umira, bangun!" Ucap Gob.
*dia mulai menangis*
"Tega sekali kau, tega sekali!! Mengapa kau membunuh adikku? Mengapa!"
"Diam kau sampah, terus bagaimana denganku? Kau ikut membunuh adikku kan? Jadi apa salahnya jika aku membunuh adikmu juga?" Ucap Gera dengan datar.
*Gera mengambil kawat di sampingnya*
"Apa kau juga ingin menyusul adik dan kawanmu juga?"
"Apa yang ingin kau lakukan? Hei, jangan mendekat!"
*Gob berusaha melawan dengan menggoyangkan kedua tangan dan kakinya agar bisa terlepas dari ikatan itu*
"Siapapun, tolong!! Ada yang ingin membunuhku! Siapapun!!"
"Kau bodoh ya? Bagaimana bisa kau berteriak di markas orang yang akan membunuhmu."
"Ha…"
*Gera membelakangi Gob dan mulai mengarahkan kawat itu di leher Gob tapi Gob terus melawan, itu membuat Gera geram kepadanya*
"Bisa tidak kau tenang!!!"
*dengan emosi yang memuncak, Gera memukul kepala Gob, pukulan itu membuat Gob lemas seketika*
*Gera pun mulai mengarahkan kawat itu ke leher Gob lalu menyilangkan tangannya dan menarik kawat itu sekuat tenaga, Gob berusaha melawan dengan menarik-narik kawat itu dari lehernya, tapi itu percuma*
Hahahaha, perasaan macam apa ini? Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini selama aku hidup, perasaan puas ini… hahahaha sangat menyenangkan!!.
"Ukh… uk… huk..."
*Gob mati, walaupun Gob mati Gera tetap menarik kawat itu dengan sekuat tenaga hingga tangannya mulai mengeluarkan darah, dan leher Gob mulai terputus*
"Hahahahahaha, aku sangat puas! Aku puas!!! Ah, perasaan ini, ini sangat menyenangkan!"
*yang lain hanya terdiam terkejut melihat kegilaan Gera*
[Bagus Gera, terus! Tarik kawat itu sampai kepalanya putus! Kau benar-benar menakjubkan Gera! Pasti adikmu akan senang melihatmu membalaskan dendamnya, Gera.]
Hahaha, kau benar, Lisa pasti senang kepadaku karena aku sudah membalaskan dendamnya.
[Hahahaha.]
"Hentikan, Gera!!!" ???
….
Suara ini!.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
Su-suara ini.
"Ini seperti bukan dirimu… nak."
…….
"Sadarlah nak! Lisa tidak ingin melihat kakaknya menjadi seperti ini."
"I-ibu…?"
*Gera mulai melepaskan kawat itu dari tangannya. Darah berjatuhan dari tangan Gera, Gera melihat telapak tangannya*
Apa yang kulakukan...? Mengapa aku bisa sampai melakukan ini...? Ya, agar Lisa senang…! Tapi ibu mengatakan bahwa Lisa tidak ingin melihatku menjadi seperti ini…… terus untuk apa aku melakukan ini? Apa hanya untuk sebuah kesenangan saja? Apa ini hanya kedokan dari diriku? Membunuh orang berkedok membalaskan kematian adiknya?.
*Gera mendengar tangisan dari Vima*
"Ibu… jangan menangis ibu… kumohon jangan jatuhkan air mata itu, jika kamu menjatuhkan air mata itu aku merasa bersalah, ibu."