
Bumi tahun 1984.
"Nak bangun, ini hari pertama kamu masuk TK jangan sampai telat!"
….
"Nak?"
*perempuan itu mengambil gelas yang berisikan air*
"Bangun atau mama siram dengan air dingin!"
"Mmm~ bentar lagi bu, aku masih ngantuk… umm, 5 menit lagi ibu."
"Ooo, gitu ya…"
*perempuan itu memasukkan tangannya ke dalam gelas itu lalu memercikkannya ke muka anak laki-laki itu*
"Bangun gak! Kalau gak bangun mama gak berhenti ini!"
"Cukup ibu! dingin, iya-iya aku bangun! Sudah hentikan itu!"
*anak laki-laki itu membuka matanya*
"Nah gitu, buruan kamu mandi nak sudah jam 6 pagi nanti telat, ini hari pertama kamu masuk sekolah masa iya kamu telat."
"Iya ibu."
"Ya sudah mama tinggal ya, mama mau buatin bekal untuk kamu dulu."
"Iyaaaa, iiiiibuuuu."
"Haha."
*perempuan itu pergi*
Hah, aku masih sangat ngantuk…… tidur lagi ah.
*anak laki-laki itu tertidur lagi*
*beberapa menit kemudian*
"Nak!"
Ibu? Mengapa dia berteriak?"
"Bangun nak sudah jam setengah 7! Kamu bisa telat!"
….
*anak laki-laki itu seketika terbangun*
"Eeeeh! Sudah jam setengah 7!"
"Hah, kamu ini ya, buruan mandi dan pakai seragammu!"
"Iya ibu…! Eeeee…"
"Ada apa nak?"
"Tidak ada, ibu."
"Ya sudah cepetan mandi!"
*anak itu berdiri dan pergi ke kamar mandi*
*di kamar mandi*
Mengapa sih sekolah harus pagi-pagi, itu mengganggu waktu tidurku! Aaa~ aku ingin tidur lagi.
"Ibu aku gak mau pergi sekolah!"
"Kamu harus pergi nak, itu adalah awal untuk masa depanmu!"
"Tapi aku bisa mati jika bangun pagi-pagi begini terus!"
"Nanti kamu terbiasa nak."
Hah, percuma aku berbicara dengan ibu.
*15 menit kemudian*
Aku sudah selesai memakai pakaianku, dan siap untuk pergi ke sekolah.
"Nak sini pakai sepatumu."
"Iya ibu"
*perempuan itu memakaikan sepatu untuk anak itu*
"Wah, sepatunya bagus!"
"Jelas! Mama cari sepatu ini sampai berkeliling satu pasar, dan mama senang kamu menyukainya."
"Masa? Ibu bohong ya?"
"Hehe."
*2 menit kemudian*
"Nak ayo kita pergi, mama akan antar kamu ke TK."
"Ayo ibu!"
12 menit berlalu.
Aku sampai di sekolah dengan ibu tepat waktu. Disitu aku melihat para orang tua sedang bersama dengan anak mereka, sedangkan ibuku sedang berbicara dengan seorang guru…. Oh, dia datang!.
"Nak kata ibu guru kamu pulangnya jam 10 pagi, mama bisa saja menunggumu disini sampai pulang tapi… mama ada pekerjaan nak…"
"Tidak apa-apa ibu, aku mengerti kok!"
"Sungguh?"
"Iya, ibu"
"Terima kasih nak sudah mau ngertiin mama!"
"Hahaha."
*perempuan itu mencium kening anak laki-laki itu*
"Mama akan datang jam 10 nak, mama janji!"
*perempuan itu pergi*
"Dadah nak."
"Dadah ibu."
*seorang guru menghampiri anak itu*
"Nama kamu siapa, nak?"
"Namaku XXXX!"
"Wah, nama yang bagus! Ayo XXXX kita masuk ke kelas. Hari pertama ini kita tidak akan belajar melainkan perkenalan saja."
Aku mengikuti guru itu ke kelas, di kelas aku melihat ada banyak murid-murid, ada yang sedang berbicara, duduk-duduk di kursi, dan berlari-lari dengan kawannya.
Waw, aku ingin bermain dengan mereka!
*anak itu mencoba untuk mendekati salah satu dari mereka*
"Hai, boleh tidak aku ikutan bermain dengan kalian?"
"Hah? Kamu siapa?"
"Aku murid di TK ini!"
"Pft, kalau itu kami semua tahu, aku bertanya kamu itu siapa kami?"
"Bukan siapa-siapa kalian, tapi jika kita mengobrol, bermain, dan lain-lain, kita pasti akan menjadi kawan!"
"Heh, siapa yang ingin berkawan denganmu? Maaf tapi aku tidak menerima orang sepertimu, pergilah!"
"..."
*anak itu pergi dari situ*
Apaan sih dia, aku kan cuma ingin berkawan saja.
"Anak-anak segera duduk berbaris! Kita akan mulai perkenalannya!" Ucap seorang guru disitu.
Aku melihat semua murid-murid berlari ke arah guru itu, lalu duduk dengan rapi, aku berada di barisan no 2 di sebelah kanan. Guru mulai berbicara, mereka memperkenalkan diri mereka, lalu menanyakan nama para murid, dan berbicara apa saja yang akan kita lakukan di TK ini.
Beberapa murid menanggapi perkataan guru dengan sungguh-sungguh termasuk aku, dan beberapa lagi tidak peduli dan asik berbicara dengan kawan mereka.
1 jam 30 menit berlalu.
"Untuk hari ini segeni saja terlebih dahulu anak-anak, sekarang kalian boleh pulang dan jika orang tua kalian belum datang, kami para guru tidak mengizinkan kalian untuk pergi dari area sekolah ini!"
"Baik bu!" Ucap semua para murid.
Aku pun keluar dari kelas dan pergi ke lapangan untuk melihat apakah ibu sudah datang.
*anak itu sampai di lapangan*
Di lapangan, aku melihat para orang tua, ayah dan ibu mereka sedang berbicara dengan anak mereka sambil tersenyum dan tertawa.
"Hari ini kamu ingin makan apa, nak?"
"Aku ingin makan daging mami!"
"Karena ini hari pertama kamu masuk sekolah, papa akan belikan kamu mainan yang super besar!"
"Wah!! Terima kasih papi!"
Woh, enaknya menjadi seperti dia! Bisa makan daging, dibeliin mainan yang besar! Apakah aku bisa seperti dirinya? Tapi aku tidak memiliki seorang ayah….
"Nak maafkan mama! Mama telat menjemputmu!"
Ibu dia berlari tergesa-gesa, demi menjemputku?.
"Kami baru saja keluar dari kelas ibu."
"Apakah iya nak? Hah… hah… hah."
"Ibu kenapa lari tergesa-gesa gitu? Jadinya capekkan?"
"Hehe, mama takut nak, mama takut jika mama telat menjemputmu di hari pertama kamu masuk sekolah."
*anak itu tersenyum*
"Sini biar mama gendong kamu."
"Aku sudah gede ibu!"
"Masa sih? Cepat sekali anak mama gedenya, mama aja baru ngerasa 2 tahun bersama kamu."
"2 tahun? Hahahaha, ibu gimana sih."
"Hahaha… ya sudah mana tangan kamu biar mama gandeng."
Aku pun bergandengan tangan dengan ibu menuju rumah, di perjalanan ibu bertanya padaku.
"Nak, hari ini kamu mau makan apa?"
"Mm, bubur nasi saja ibu."
"Kenapa? Gak, gak boleh!"
"Tumben, memang kenapa ibu?"
"Hm hm, mama hari ini gajian nak!"
"Um, ya… terus?"
"Terus…? Ya karena mama gajian, duit mama jadi banyak."
"Jadi?"
"Jadi kamu bisa makan enak deh."
"Wah, serius ibu!"
"Iya dong!"
"Hahaha."
"Jadi kamu mau makan apa hari ini?!"
"Da…"
Tunggu... apakah sebanyak itu duit ibu untuk bisa membeli daging?.
"Nak?"
"Aku mau makan nasi dengan sambal yang dicampur ikan saja ibu."
"Hanya itu? Kamu yakin?"
"Aku yakin ibu! Lagi pula hanya dengan itu perutku sudah kenyang!"
*perempuan itu tersenyum*
"Kamu benar-benar anak yang sangat mama sayang nak."
"Hahaha, karena aku adalah anak ibu satu-satunya."
*perempuan itu mengelus kepala anak itu*
"Yap, kamu betul hehe."
Kami pun sampai dirumah, dirumah ibu mengatakan kepadaku, "nak jaga rumah sebentar ibu mau ke pasar beli ikan dan cabai," aku menjawab, "baik bu!" Ibu mengunci pintu.
Hah, kamu bilang jaga rumah tapi malah ngunci pintu rumah.
*4 jam kemudian*
Ibu sudah selesai masak.
"Tada! Ini dia masakan dari seorang chef!"
"Woah!!"
"Ikan yang digoreng dengan bumbu yang enak dan gurih lalu dicampur dengan sambal merah yang sangat enak! Semua orang pasti tergoda dengan masakan mamamu ini nak!"
"Tanpa dicicipi pun bentuknya sudah bikin ketagihan ibu!"
"Tentu! Hahaha."
"Hahaha."
Kami pun makan bersama, aku memakan masakan ibu yang sangat enak dan menggoda itu!.
"Umm!! Ini sangat enak ibu! Aku tambah!"
"Terima kasih nak...! ini."
Aku memakan masakan ibu dengan sangat lahap.
"Nak…"
"Iya bu?"
"Kamu tetap ingin menggapai mimpimu kan?"
"Jelas ibu! Astronot adalah impian yang sangat tinggi! Aku sangat ingin menaklukan itu!"
"Hahahaha, semangat yang bagus nak."
"Tentu! Anak ibu ini pasti akan selalu semangat!"
"Bagus! Oya mama ada sesuatu untukmu."
"Apa itu ibu?"
*perempuan itu memberikan sebuah buku*
"Astronomi! Serius ibu?! Bukankah ini sangat mahal?"
"Mama serius nak, bukankah mama sudah bilang jika hari ini mama gajian?"
"Woh, Terima kasih ibu! Aku akan menjaga ini selalu dan merawatnya!"
Benar-benar hari yang sangat spesial bagiku saat itu, itu adalah kedua kalinya aku memakan ikan dengan ibuku, dan juga itu adalah hadiah pertamaku dari ibu. Di meja makan terkadang kami berbicara dan tertawa bersama, benar-benar hari yang indah… indah sekali….
Note: XXXX adalah tanda untuk bahasa yang tidak di ketahui atau sensor.
A-Note: chill episode dulu karena dari kemarin episodenya serius terus, jadi perlu ada yang chill gitu ☕🗿, lumayan bukan bisa dapat info dikit untuk karakter Gera? Gimana sifat ibunya ke Gera, dan ternyata di dunia lama Gera ada TK!.
A-Note: ini adalah flashback dari ingatan Gera, dan kenapa nama Gera di dunia lama ke sensor? itu karena Gera tidak ingin mengingat namanya lagi, karena rasa trauma.