
Bagian 1
Apa maksud dari perkataan Vima? Jika tidak ada luka, maka kenapa perbannya berdarah?.
"Apakah kamu yakin benar-benar tidak ada luka Vima?"
"Saya sangat yakin tuan, jika tuan masih tidak percaya akan saya sentuh bagian luka tuan."
"Baiklah Vima kamu boleh menyentuhnya."
Jika itu masih ada luka pasti rasanya sangat ngilu.
Tuch.
Hm, aku tidak merasakan sakit.
"Apakah sakit tuan atau ngilu?"
"Aku tidak merasakan apapun Vima, jadi benar ya tidak ada luka apapun di punggungku tapi kenapa? Vima yang memperban badanku siapa?"
"Saya tuan."
"Kamu melihat lukaku?"
"Saya melihatnya tapi…."
"Tapi apa Vima?"
"Anda seharusnya memang sudah mati tuan, tapi kenapa anda hidup kembali?"
"Aku tidak tahu Vima yang kuingat hanyalah tragedi bandit itu dan saat aku terbangun saja."
"Mama! Kan sudah kubilang kak Gera itu tidak mati! Dia masih hidup tahu, pria itu saja yang berbohong."
"Iya, iya, mama tahu kok Lisa, jadi maafin mama ya sudah tidak percayai Lisa."
"Iya mama aku maafin hihi."
"Ah Vima hari sudah hampir malam, karena aku baik-baik saja biarkan aku yang mengumpulkan ranting-rantingnya."
"Tapi anda baik-baik sajakan tuan?"
"Kamu sudah melihatnya kan bahkan sampai menyentuhnya, dan tidak terjadi apa-apa, jadi aku baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu tuan, saya yang akan menyiapkan makan malamnya dan juga tempat tidur."
"Ok Vima bagian itu akan aku serahkan kepadamu."
"Kak Gera aku boleh ikut tidak."
"Aku hanya mengumpulkan ranting kering saja Lisa, jadi aku sendiri saja bisa kok, kamu bantu saja mama kamu."
"Baiklah kak."
"Maaf ya Lisa."
"Tidak apa-apa kak."
Aku pun pergi untuk mencari ranting kering, bisa di bilang sih ini bukan mencari karena sudah banyak sekali ranting-ranting bertebaran di area ini, aku hanya perlu mengambilnya saja.
*20 menit kemudian*
Aku bolak balik mengambil ranting hingga penuh di tompangan tanganku lalu membawanya ke tempat Vima, sudah banyak ranting kering yang ku ambil hingga terkumpul banyak.
Vima pun membuat api unggun, dari batu dan baja, whoa! Apa sebelumnya Vima pernah camping? Sampai dia tahu cara membuat api, setelah api unggunnya terbuat Vima langsung mengambil 3 buah ikan yang sudah dibersihkan isi dalamnya lalu menusuknya dengan sebuah ranting dan membakarnya dengan api unggun.
Selama menunggu ikannya matang, kami saling berbicara satu sama lain di malam hari yang hanya diterangi oleh api unggun, kami tidak merasa kedinginan sama sekali akibat terkena panasnya api unggun.
*20 menit kemudian*
"Lisa, tuan, ikannya sudah matang bisa langsung dimakan, tapi pelan-pelan masih sangat panas."
"Iya mama."
"Baiklah Vima."
Kami memakan ikan tersebut.
Whoa! ikan macam apa ini! Rasanya sangatlah enak, tekstur dari ikan ini seperti tekstur ikan kakap, lembut dan gurihnya sangatlah enak saat aku mengunyahnya.
"Vima nama ikan ini, ikan apa?"
"Ini ikan undulatus tuan."
Nama yang aneh.
"Dimana kamu mendapatkannya Vima?"
"2 hari yang lalu saya membelinya di pasar tuan."
"Pasar? Aku belum pernah melihat sebuah pasar saat di perjalanan."
"Pasar yang saya kunjungi adalah pasar khusus untuk perjalanan desa menuju kota atau sebaliknya tuan."
"Apakah ada banyak orang-orang ras Bangsawan disitu Vima?"
"Sangat jarang tuan, biasanya orang-orang desa yang berbelanja disitu dan 100 persen orang-orang desalah yang berjualan di situ."
"Yaah, baiklah Vima."
Hah, padahal aku ingin melihat bentuk-bentuk ras Bangsawan yang lain selain Ursa, dan aku sudah sangat lama menahan rasa penasaranku tentang …... Gimana bentuk cewek-cewek di sana! Apakah badan mereka juga mantap! hehe.
"Wah, mama, kak Gera, lihat langitnya! Bintang-bintang mulai terlihat."
Whoa sangat banyak sekali bintang-bintang yang bertebaran di langit, bahkan aku bisa melihat sebuah nebula, itu membuat langit menjadi warna warni.
"Aku jadi ingin menggambarnya."
Oya, aku lupa buku gambarnyakan tertinggal di gerobak, hah, pada akhirnya aku memang harus berpisah dengan buku itu, maafkan aku ya Lisa.
Lisa menghampiri diriku.
"Kak, ini buku gambarmu."
Eh, dari mana dia mendapatkannya?.
"Selama kak Gera tidur aku selalu memegang 2 buku gambar ini, walaupun kamu tidak bisa mengajariku, aku akan selalu terus belajar kak, walaupun sendirian! Dan ada beberapa hal baru yang bisa aku gambar dari buku itu."
"Baguslah Lisa aku sangat menyukai semangat kamu itu, jangan pantang menyerah adalah jalannya!"
Aku membisikan sesuatu kepada Lisa.
"Apa yang kamu maksud dengan hal baru, Lisa!"
"Ada deh kak hihi."
"Hmmm, tapi terima kasih ya Lisa sudah menjaga buku ini dengan baik."
"Sama-sama kak."
Pada akhirnya kami menghabiskan makanan kami, setelah itu aku mulai menggambar langit-langit yang dipenuhi oleh taburan bintang-bintang dan juga nebula. "Mama aku ngantuk," Lisa dia sudah mau tidur saja.
1 jam berlalu.
"Tuan ini tempat tidur anda."
"Terima kasih Vima."
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya akan tidur terlebih dahulu."
"Baiklah Vima."
3 jam berlalu.
Aaakh, ini sudah sangat larut dan gambar aku juga sudah selesai, wah, aku sangat puas dengan hasilnya, aku harus memberi hadiah juga kepada diriku, yaitu dengan tidur.
Uuu, tidur di luar dengan suasana hangat begini memang sangatlah enak, dan juga adanya rasa puas, dan suara api unggun, mungkin aku akan tertidur dengan sangat pulas.
Aku seketika tertidur dengan pulas dan di temani oleh api unggun.
Bagian 2
Aku tersadar dari tidurku di malam hari.
Apa, kukira akan tertidur dengan pulas.
(hah, aku sangat kecewa).
Huuu, kok dingin ya, apa api unggun nya sudah mati? Pantesan aku terbangun.
"Tuan anda juga terbangun?"
Vima? Ternyata aku dengan Vima juga terbangun, … Fiuh, untunglah yang penting aku ada kawan, terbangun di tengah malam di luar sangatlah menakutkan.
"Apa yang sedang kamu lakukan Vima?"
"Saya sedang membuat api tuan, untuk menghidupkan api unggun ini lagi."
"Begitukah?"
Aku pun menghampiri Vima untuk berbincang lebih dekat dengannya.
"Aku dari tadi bertanya-tanya di benakku Vima, kamu belajar membuat api unggun dari siapa?"
"Sudah jelas bukan? Saya belajar dari ayah tuan."
"Hahaha, ternyata kalian suka berpetualang juga ya waktu kecil."
"Anda benar tuan, dan ini adalah tempat saya diajarkan oleh ayah tuan cara membuat api unggun, saat itu usia saya masih sekitaran 11 tahun, mengingat itu semua membuat saya nostalgia."
"Haha, aku terkadang juga beruntung menjadi anak kecil, kita bisa bebas melakukan apa saja, hanya ada sedikit beban di pikiran kita."
"Anda benar tuan, rasanya seperti kita itu ingin kembali kemasa lalu dan…."
Wajah Vima seketika murung, sudah ketebak denganku kenapa dia bisa murung.
"Hei Vima, maafkan diriku ini, gara-gara diriku kamu dan suami kamu jadi bertengkar."
"Jangan meminta maaf tuan, saya bukan yang membuat keputusannya, saya juga yang harus menanggung resikonya."
"Tapi Vima."
"Tuan, akan saya ceritakan semuanya kepada tuan."
"Tentang apa Vima?"
"Saya sudah mengetahui bahwa itu adalah suami saya sudah sejak 3 hari kita berangkat tuan, saya mengetahuinya pada saat tengah malam dia sedang tidak memakai topeng kulitnya, dan saat dia berbicara sangat familiar di telinga saya tuan."
"Saya pun memanggil namanya, dia tidak menoleh sedikitpun, tapi hanya berbicara, 'yah, sudah ketahuan' dari situ saya mengetahui bahwa pak kuda yang tuan maksud adalah suami saya."
"Kamu bercandakan Vima? Terus saat para bandit itu gimana? Kamu mendukungnya?"
"Tidak tuan, pada saat saya memanggil Lisa saya ingin langsung berlari untuk mengambil Lisa, tapi ditahan oleh suami saya, suami saya mengatakan, 'tenang Vima bandit ini hanyalah bandit yang dibuat-buat saja' saya pun hanya menuruti perkataannya saja, tapi pada saat tuan berlari ke arah Lisa dan tertusuk oleh pisau, disitu saya langsung berlari ke arah tuan dan Lisa."
"Dan para bandit itu ingin menikam saya, tapi dihentikan oleh suami saya dengan serangannya, di situ Lisa sangat terkejut dan ketakutan, dan saya langsung menanyakan kepada dia, 'kenapa kamu melakukan ini?! Ini adalah bandit beneran!' Dia hanya meminta maaf kepada saya, yang dia katakan adalah, 'Vima maafkan diriku, ku kira itu adalah bandit yang aku buat'."
"Saya pun bertanya kepadanya, kenapa dia sampai membuat bandit-bandit begini? Gunanya buat apa? Tapi dia hanya menjawab, 'untuk mengetes Gera, apakah dia layak untuk bertemu dengan keluarga Ursa' saya tahu itu hanyalah sebuah alasannya saja."
"Tapi pada saat dia mengecek urat nadi tuan, itu sudah tidak berdenyut lagi, dia mengatakan, 'Gera sudah mati' dia sangat panik karena misi dia adalah membawa tuan selamat ke tempat keluarga Ursa, tapi saya seketika menampar dia dengan sangat keras dan berkata, 'ini yang kamu maksud sayang? Mengetes apanya?!' Keadaan di sana sudah sangat tercampur aduk.
"Tapi saya adalah orang yang bodoh tuan, karena hanya dengan sebuah bujukan saja, bisa membuat hati saya luluh kembali kepadanya."
"4 hari berlalu pada saat itu saya sedang berbicara dengannya tentang perihal ini, karena sehari lagi kita akan sampai di kota, tiba-tiba Lisa memanggil saya dan mengatakan tuan Gera sudah bangun, awalnya saya tidak percaya, tapi pada saat saya sampai di gerobak dan melihat tuan, saya sangat terkejut dan juga senang, karena ini adalah sebuah keajaiban."
"Hingga saya disuruh keluar oleh dia, di luar saya hanya menanyakan kepada Lisa apa yang sebenarnya terjadi, Lisa pun menjelaskannya, setelah Lisa menjelaskannya, saya ingin siap-siap membuat hidangan untuk tuan, tapi pada saat saya ingin mengambil bahan-bahannya, saya mendengar percakapan tuan dengan dia."
"Maaf tuan cerita saya jadi kepanjangan."
"Tidak apa-apa Vima, wajar jika kamu sedih, kamu sudah sangat percaya dengannya tapi malah dihancurkan oleh orang terpercaya yang sudah menjadi hidup semati kamu ...... kenapa kamu tidak menangis Vima?"
"Saya cukup sedih saja tuan, tidak pantas orang sepertinya untuk di tangisi."
"Siapa bilang jika kamu menangis maka kamu akan menangisi dia? Kamu itu menangis untuk diri kamu sendiri, jangan pikirkan dia, menangis adalah hal yang wajar dalam membangun sesuatu yang baru, daripada menjadi beban terus kepada kamu."
"Anda benar tuan."
Vima dia mulai meneteskan air matanya, dia masih berusaha untuk menahan tangisannya, aku langsung menyentuh pundaknya, seketika dia menangis dengan tersedu-sedu.