New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Suami Vima



Ada sesuatu yang terdengar di telingaku dan itu terasa samar-samar, aku tidak mengetahui siapa yang berbicara dan apa yang dia katakan.


"Kenapa," suaranya masih samar.


Apa yang dia katakan …… akh, punggungku rasanya sangat sakit, seperti ada yang bergerak-gerak di bagian punggungku ini.


"Kak Gera maafkan aku, gara-gara aku yang egois ini malah kak Gera yang terkena batunya, maafkan aku kak, kumohon bangunlah kak jangan tinggalin aku," dia menangis.


Kakak? Apakah itu Lisa?!.


…… Sekarang aku mengingatnya, aku tertusuk oleh seorang bandit di bagian punggungku demi melindungi Lisa.


(Aku seperti merasa deja vu dengan kata-kata tadi).


Tapi syukurlah mereka ternyata baik-baik saja, oh, ada sesuatu yang menetes di tangan kiriku.


"Hiks, maafkan aku kak, maafkan aku, hiks."


Lisa kenapa dia menangis? Apa dia mengira aku sudah mati? Oiii terlalu dini bagi kakakmu ini untuk mati tahu!.


Hm, bagaimana jika aku mengerjainya, dia mengira bahwa diriku sudah mati kan? Jadi aku akan menggerakkan tangan kiriku dan mengelus kepalanya, pasti dia akan kaget dan mengira bahwa aku adalah hantu.


Hihi, memikirkannya saja sudah membuatku tertawa, baiklah akan aku lakukan!.


Aku mulai dengan menggerakkan jari-jari ku terlebih dahulu, hm, dia belum menyadarinya ya?. 


Lanjut aku mengangkat telapak tanganku.


Kok dia masih belum nyadar juga sih? Sesedih itukah dia? Sampai tidak menyadari sesuatu di sekitarnya?.


Aku mulai mengangkat tanganku, hehe, aku tidak tahu gimana ekspresi dia nanti, terkejut? Panik? Atau ketakutan? Tidak ada yang tahu.


Lalu aku meletakkan tanganku di atas kepalanya dan mengelus-ngelusnya.


"Jangan menangis Lisa."


Hm, hm, apakah kamu kaget Lisa? Atau mungkin ketakutan? Ayo keluarkan ekspresi kamu itu.


"Ka-kak."


Ya, ya ayo, kamu pasti sangat kaget hingga shock dan tak bisa berkata-kata ya kan, aku tahu itu, aku tahu.


"Kamu masih hidup kak?"


Iya dong aku masih hidup, tak mungkin kan seorang Gera bisa mati semudah itu.


"... hiks, hiks ka-kak~ kamu masih hidup ya?"


Eh, kenapa dia menangis lagi? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah hingga membuatnya menangis?.


Lisa dengan tiba-tiba memelukku.


"Ek, Lisa?"


"Aku khawatir, aku khawatir, aku sangat khawatir kepada kamu kak, hiks, aku khawatir kak, aku tidak ingin kamu pergi kak," dia berbicara seperti itu sambil menangis


Sepertinya ini bukan saatnya untuk yang namanya bercanda, hah, padahal umurku sebenarnya sudah 43 tahun, tapi diriku masih saja bertingkah seperti anak kecil.


"Hei, Lisa, tenangkan dirimu, jangan menangis ok."


"Bagaimana aku bisa tidak tenang dan menangis, kak? Aku sangat senang, aku sangat senang kak! Bahwa dirimu ternyata masih hidup aku sangat senang! Kamu sudah tidak bangun-bangun selama 4 hari dan dia mengatakan bahwa kamu sudah mati."


Ha, 4 hari? Aku mengira ini adalah keesokan paginya! Dan dia? Dia siapa? Aku merasa deja vu lagi.


Yaaa, sangat wajar jika dia menangis, apalagi aku ditusuk di depan mata dia.


"Lisa, kamu tahu, kamu itu sangat hebat loh."


"Emang kenapa kak?"


"Ya karena sangat jarang ada adik seperti kamu Lisa, kamu masih setia menunggu aku bangun padahal aku sudah dinyatakan mati oleh dia, tapi kamu masih setia menungguku."


"Itu karena aku yakin! Aku yakin kak Gera tidak akan mati semudah itu!"


"Hahaha, ya kamu betul! Aku tidak akan mati semudah itu!"


"Hihihi."


"Gimana kamu sudah senang kan?"


"Aku memang sudah senang sejak kak Gera mengelus kepalaku, sudah kubilang kan aku menangis bahagia tadi."


"Begitukah?"


Ya mungkin saat dia mengatakan itu kepadaku, pendengaranku masih agak samar-samar.


"Oya Lisa mama dan pak kuda ada dimana?"


"Mama diluar kak, dan ... hmp!!"


Ee, ada masalah apa dia sama pak kuda?.


Aku mencoba untuk duduk.


"Kak, luka kakak belum sembuh lo, istirahat saja biar aku yang memanggil mama dan dia hmp!!"


Eek, aku penasaran masalah dia dengan pak kuda apa sih?.


"Mama kak Gera sudah bangun!" Mengatakan itu sambil berteriak.


Aku tidak mendengar suara Vima, apa mungkin dia lagi jauh dari gerobak?.


"Aku tidak berbohong!!!"


Hmm Vima juga tidak percaya aku hidup? Jahat sekali orang misterius itu menyebarkan berita aku sudah mati.


"Kalo mama gak percaya maka lihatlah sendiri!!!!"


Lisa masuk ke dalam gerobak.


"Hmp!"


"E, Lisa kamu kenapa? Hehe"


"Aku benci mama! Sejak dia ada mama lebih menghabiskan waktunya kepada dia daripada aku!"


"Lisa aku penasaran dari tadi, memang dia itu siapa ya?"


"Dia? Aku sangat membencinya! Dia adalah…."


Sebelum Lisa menyelesaikan bicaranya tiba-tiba Vima datang dengan seorang pria.


Vima melihatku dengan tatapan yang kebingungan. 


"Tuan? Ini anda kan?" Vima terlihat sangat kebingungan.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepada kamu?!" Kata pria misterius itu.


"Mama sudah percaya kan, kak Gera itu sebenarnya tidak mati! Dan pria itu dia hanya berbohong!"


"Tidak Lisa! Tidak mungkin ada manusia yang masih bisa selamat dari tusukan itu, apalagi aku sudah mengecek nadinya dan itu benar sudah berhenti," ucap pria itu.


"Hei bukannya bagus aku masih hidup? Dan tunggu, Vima pria ini siapa? Dia ras Bangsawan kan, dari rambutnya sudah kelihatan bahwa dia ras Bangsawan."


"Tuan."


"Vima biar aku yang menjelaskannya kepada dia, kamu dan Lisa sebaiknya keluar." ucap pria itu.


"Baiklah kalau begitu, Lisa ayo kita bermain di luar."


"Aku mau disini mama, aku mau ngawani kak Gera."


Hah.


"Lisa kumohon dengarkan perkataan mama kamu."


"Tapi kak … Baiklah kak."


Mereka keluar dari gerobak, dan sekarang tinggal diriku dengan pria tersebut.


"Baiklah kalau begitu saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu."


"Um, silahkan."


"Nama saya adalah Harold Majoris Ursa dan saya adalah ayah dari Lisa Majoris Ursa beserta suami dari Vima Majoris Ursa."


Keluarga Ursa bagian Majoris toh … Eeeeh! Suami Vima!!.


"Kamu suaminya Vima!"


"Iya, memang ada masalah?"


"Tidak-tidak, tidak ada kok."


Jadi seperti ini bentuk suami Vima, tak heran sih Vima mau dengannya, badannya saja lumayan kekar begitu dan juga wajahnya sangatlah tampan, tapi Vima jadi masuk ke keluarga Majoris toh?.


"Kalau begitu akan saya lanjutkan, saya berumur 30, dan saya bekerja menjadi tentara pribadi keluarga Ursa bagian Borealis."


Eeh! Tentara! Sudah tidak diragukan lagi sih.


"Apakah hanya itu saja?"


"Iya."


Sekarang giliranku ya, yang memperkenalkan diri.


"Aku Gera Ursa, apakah wajib memakai nama keluarga?"


"Itu jika kamu berbicara kepada keluarga Ursa lainnya, maka menyebutkan nama keluarga itu wajib."


Aku baru mengetahuinya.


"Baiklah akan aku ulangi, ahem, aku adalah Gera Borealis Ursa anak dari Edward Borealis Ursa dan Skaila Borealis Ursa, dan aku berusia 9 tahun," aku mengatakan itu dengan nada yang tegas.


Hebat bukan aku memperkenalkan diriku, dulu aku sangat sering menonton anime action loh, jadi aku banyak menyaksikan adegan orang memperkenalkan dirinya dengan, gagah, hehe.


"Kamu sangat hebat."


Tentu saja kekuatan anime ini loh.


"Kamu baru 4 hari tertusuk benda tajam hingga menembus jantungmu, tapi kamu masih bisa berbicara dengan santai begitu, bahkan hidup dengan keadaan seperti itu sudah sangat mustahil."


…… eh, apa maksudnya? jantungku tertusuk? Eh …... eeee!!!! Jadi aku benar-benar sudah mati!!!.