
Bagian 1
Aku berjalan menuju gerbang, disitu aku melihat 1 pengawas sedang berdiri tegak di depan gerbang.
"Anda ingin pergi kemana tuan?"
Sial, aku tidak memikirkan jika ada pengawas disini.
"Eh, aku dan ibu ingin per…"
*Vima memotong perkataan Gera*
"Kami ingin pergi ke taman dekat rumah, pengawas." Ucap Vima.
"Oh, begitu ya nyonya, baiklah saya akan menemani nyonya dan tuan."
"Tidak perlu repot-repot pengawas."
"Kenapa nyonya? Tuan Dux memerintah saya untuk menemani nyonya atau tuan jika ingin pergi kemana-mana."
"Tapi ini perintah dari ayah saya sendiri, dia berkata 'berbicaralah dengan Gera di suatu tempat, jika begini terus hubungan kalian akan renggang' begitu katanya, lagi pula ini belum sangat malam pengawas, jadi masih banyak orang yang berkeliaran di Eridanus."
"Begitu ternyata! Baiklah, silahkan lewat nyonya dan tuan, maafkan saya jika mengganggu waktu kalian."
"Tidak apa-apa pengawas."
*Vima dan Gera keluar dari area keluarga Borealis*
Hah? Semudah itu? Tunggu…. Ibu memang hebat ya, dengan mudahnya dia bisa membuat pengawas itu membukakan gerbangnya.
*mereka terus berjalan hingga lumayan jauh dari area keluarga Borealis*
"Nak memang tujuan kita kemana?"
"Aku tidak tahu ibu… tapi aku tidak akan meninggalkan Eridanus terlebih dahulu, aku saja belum berpamitan dengan Lisa, ibu juga kan?"
"Iya nak kamu benar, kita harus berpamitan dengan Lisa terlebih dahulu."
"Bagaimana jika besok ibu?!"
"Besok? Boleh."
"Baiklah besok kita akan mulai berpamitan dengan Lisa!"
*Vima melihat Gera, dia merasa ada yang aneh dengan Gera*
"Nak…"
"Um? Apa ibu?"
"Kenapa kamu bersikap biasa-biasa saja setelah membunuh manusia?"
*Gera berpikir, lalu bertanya kembali*
"Kenapa ibu masih menganggap mereka manusia?"
"Maksud kamu nak?"
"Biar aku jelaskan kepada kamu ibu, dia adalah hewan. Dia seperti hewan buas yang memakan hewan ternak lalu pergi begitu saja, dan saat pemilik peternakan melihat ternak mereka mati pasti yang disalahkan adalah hewan buas yang lain bukan?"
"Bentar nak, ibu tidak mengerti maksud kamu."
"Ya sudah ibu jangan debatkan orang yang sudah mati, biarkan saja mereka menikmati neraka mereka sendiri."
"Ibu bukan memperdebatkan itu nak, tapi ibu cemas dengan sifatmu!"
"Ibu…"
"Apa nak?"
"Kamu tidak perlu mencemaskan aku, aku baik-baik saja kok, aku masih bisa tertawa hehe, lihatkan?"
*Vima memegang pipi Gera*
"Tidak nak, ketawa yang ibu kenal bukan seperti itu."
"Maaf ibu… aku tidak bisa tertawa seperti dulu… sudah banyak yang hilang dari diriku."
"Ibu mengerti nak, ibu mengerti."
*Vima tertawa*
"Ya sudah ayo kita lanjutkan perjalanan kita nak."
Ibu, aku sangat senang menjadi anakmu, hanya kamulah yang menjadi pelindungku saat ini, aku akan selalu menjagamu dan membuat kamu senang ibu… entah apa yang akan terjadi jika kamu tidak pernah datang dalam hidupku.
Bagian 2
*3 jam kemudian*
"Ibu apa kamu capek? Kita sudah berjalan cukup lama loh."
"..."
"Ibu?"
"Apa nak?"
"Ibu capek ya?"
"Hehe, maafkan ibu nak."
*Gera melihat sebuah jembatan*
"Ibu bagaimana jika kita beristirahat malam ini di bawah jembatan itu?"
"Boleh saja nak."
"Wah, disini sangatlah nyaman ibu, walaupun alasnya adalah sebuah beton."
"Kamu betul nak, ini sangatlah nyaman."
*Gera melihat wajah Vima*
"Ibu, kamu benar-benar tidak keberatan kan? Aku jadi merasa bersalah."
"Hah...? Bukan begitu nak, tapi ibu sangat merindukan ini."
"Apa itu ibu?"
"Ibu sangat sering bermain dengan…. Ibu bingung manggil ayah kamu apa nak, ibu saja memanggil kamu anak sebaliknya dengan kamu."
"Bukankah sudah waktunya untuk memanggil ayahku dengan sebutan abang atau kakak, ibu?"
"Iya memang sudah waktunya nak.... Ibu sangat sering bermain dengan kak Edward di bawah jembatan seperti ini, kita biasanya bermain petak umpet disini…"
Ibu terus bercerita tentang masa lalunya kepadaku, dia bercerita seberapa jahilnya ayah waktu masih remaja, ibu juga bercerita jika ibu dulu adalah seorang anak kecil yang sangat cengeng, terkadang ayah mau berantem dengan orang lain gara-gara ulah ibu.
"Ibu dulu memang suka cari masalah dengan orang dan kak Edward lah yang sering kena batunya nak." Ucap Vima.
Aku hanya tersenyum mendengar kisah tersebut. Kisah ibu dan ayah sangatlah mirip dengan aku dan Lisa, tapi yang menjadi pembeda adalah sikap Lisa yang pemberani sejak kecil sedangkan ibu adalah seorang yang cengeng waktu kecil.
"Oya nak, ibu dulu sangatlah manja dengan ka Edward."
"..."
*mata Gera seketika berkunang-kunang*
"Woah, itu sangat mirip dengan Lisa, ibu!"
"Iya kamu benar nak."
….
*Gera mulai mengeluarkan air matanya*
"Maafkan mama nak, cerita mama terlalu berlebihan."
*Vima mengelap air mati Gera*
"Tidak apa-apa ibu, aku hanya berpikir dan berimajinasi dengan otakku, bagaimana jika Lisa bisa tumbuh hingga dewasa nanti? Aku penasaran dengan perkembangannya, apakah dia bisa mewujudkan mimpinya? Apakah dia akan menjadi wanita yang sangat cantik dan menawan? Dengan siapa dia akan menikah? Dan apakah aku akan menjadi seorang paman? Maafkan aku ibu, aku berimajinasi sejauh itu."
"Tidak apa-apa nak ... nak ada yang ingin ibu katakan, kamu boleh saja marah kepada ibu tapi ibu harus mengatakan ini, ibu tidak ingin dihantui oleh perkataan ini terus."
"Apa itu ibu?"
"Lisa… Lisa sebenarnya sangat mencintaimu nak."
"Iya, aku tahu itu ibu."
"Bukan cinta seorang adik kepada kakaknya, melainkan…"
?.
"Lisa mencintaimu lebih dari kata itu nak…"
Apa yang ibu katakan? Lisa mencintaiku lebih dari sekedar hubungan kakak dan adik...? Hey, "ibu tidak bohong kan?" Terus selama ini Lisa memendamnya? "Mengapa ibu tidak memberitahuku?!" Bukankah kasihan Lisa? Hingga dia mati dia tidak bisa mengatakan perasaan itu kepadaku? "Kasihan Lisa bu! Dia tidak dapat mengatakan perasaannya kepadaku…!!" Bentak Gera di akhir.
"Ibu tahu pasti kamu akan marah kepada ibu nak, maafkan ibu karena tidak memberitahumu lebih cepat."
"Mengapa?"
"Lisa lah yang menyuruhnya nak, saat kamu sudah sangat akrab dengan Alesha, disitu Lisa merasa sangat iri dengannya. Ibu menyadari tingkah Lisa yang mulai berubah, dari dia yang mulai jarang makan, tidurnya mulai telat, dan masih banyak lagi. Ibu bertanya pada Lisa, dan Lisa menjawab, 'mama aku takut jika kak Gera menjauhi diriku karena dia, aku sangat takut jika kak Gera tidak ingin mengajariku menggambar lagi, aku merasa jika kak Gera mulai menjauh dariku mama' Lisa menangis saat itu, ibu berusaha membujuknya dan ibu mengatakan, 'Lisa ungkapkan saja perasaanmu kepada kak Gera, dia pasti menerimanya kok percaya saja dengan mama' tapi Lisa tidak mau karena dia takut jika kamu akan menjauhinya, 'aku gak mau ma, aku takut jika aku mengatakan itu kepada kakak, dia akan merasa tidak nyaman dan menjauhi diriku, mama juga jangan mengatakannya kepada kak Gera…'."
"Ibu mengatakan kepada Lisa, 'jadi apa yang akan kamu lakukan Lisa?' Lisa menjawab, 'akulah yang akan membuat kakak mendekat kepadaku! Apapun caranya mama!' Ibu menjawab perkataan Lisa, 'tapi Lisa, jika kamu memaksanya tubuh dan batin kamu yang bisa rusak! Ibu tidak mau kamu jadi seperti itu' Lisa menjawab, 'aku baik-baik saja mama, biar mama gak khawatir lagi aku akan mulai rajin lagi makan dan menjaga waktu tidurku lagi!'."
"…"
……….
"Jadi… ini semua salahku ya?"
*Vima seketika memeluk Gera*
"Tidak nak, ini semua bukan salahmu! Ibulah yang salah, andai saat itu ibu bisa lebih keras kepada Lisa!"
"Tapi jika aku tidak ada maka ini semua tidak akan terjadi kan, ibu? Apakah aku dilahirkan hanya sebagai pengganggu saja?"
*Gera terpikirkan masa lalunya bersama Lisa*
Oh ya ini semua memang salahku, andai aku bisa lebih peka terhadap Lisa.
"Aku juga bodoh ibu, bisa-bisanya aku tidak peka terhadap tingkah Lisa yang seperti itu, aku benar-benar serangga pengganggu di kehidupan orang…"
*sesuatu terjatuh di pipi Gera*
Apa ini? Air?.
!.
"Ibu…?!"
"Jangan nak! Jangan tinggalkan ibu lagi! Ibu sudah tidak memiliki apa-apa lagi nak! Jangan tinggalkan ibu sendirian Gera~! Hanya kamu sendiri hal paling berharga yang ibu miliki! Ibu mohon…!"
*Vima menangis*
"Ibu mohon Gera jangan tinggalkan ibu! Ibu sangat takut dengan kesepian…"
"Ibu…"
Hah, bodohnya aku, aku merasa seperti orang yang paling tersakiti dan kesepian di dunia padahal masih ada yang lebih dari diriku, bodoh ya, sangat bodoh! Aku adalah contoh orang yang tidak pernah peka akan hal ini! Padahal aku sudah tahu jika ibu yang paling merasa kehilangan tapi aku malah seenaknya mengambil posisi itu, dasar diriku yang sangat bodoh! Tidak peka! Aneh!.
*Gera menangis di pelukan Vima*