New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Ayah yang buruk



Bagian 1


"Jadi maksud kamu aku sudah mati?"


"Ya begitulah, bahkan saya sudah mengecek denyutan nadi kamu."


Tunggu dulu jadi dia yang menyelamatkan Vima dan Lisa dari para bandit itu? Dan … pak kuda! Tunggu aku tidak melihat pak kuda dari tadi, jangan-jangan.


"Hei, kamu pak kuda bukan?"


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu kepada saya?"


"Hanya untuk memastikan saja."


Jika dia adalah pak kuda….


"Hm, insting kamu sangat hebat, ya saya adalah pak kuda yang kamu maksud, saya memakai topeng kulit untuk menyembunyikan muka asli saya, dan tanda N di punggung tangan kiri saya itu hanya sebuah tato."


Kamu benar-benar membuatku geram paman.


"Sekali lagi aku tanyakan padamu, apakah kamu benar-benar pak kuda?"


"Sudah saya jelaskan tadi bukan? Saya benar-benar pak kuda, apakah kamu tuli?"


"Saya saya saya! Cih, aku sudah muak dengan logat bicara kamu itu, apakah semua tentara bangsawan begitu semua ha?!"


"Apa maksud kamu?"


"Kamu mengaku sebagai tentara pribadi kan dan kamu adalah ayah bagi Lisa, tapi kenapa kamu tidak menolongnya? Kenapa harus menunggu aku tertusuk baru kamu melawan para bandit itu!!"


"Tenangkan saja dirimu terlebih dahulu kamu baru saja bangkit dari mati suri kan? Lagi pula ini semua terjadi akibat anak itu, andai saja dia tidak merasa sok hebat kepada para bandit itu…."


Apa yang dia katakan? Maksud dia Lisa?.


"Heh, hanya demi sebuah buku gambar sangat konyol bukan?"


"Jaga ucapan kamu!!! Lisa melakukan itu karena memiliki alasan!"


"Kenapa kamu marah? Benar bukan perkataanku tadi."


"Sudah kukatakan jaga ucapan kamu! Ayah macam apa kamu ini? Anaknya dalam bahaya kamu malah diam saja disana?! Memang benar apa yang ayahku ceritakan kepadaku, rata-rata ras bangsawan isinya hanyalah orang-orang biadab yang bertahta." 


"Kamu jangan marah, lagi pula saya diberi misi oleh petinggi Borealis untuk membawamu ke tempat keluarga Ursa dengan selamat, jadi pada saat bandit itu menyerang Lisa bukanlah urusanku untuk menyelamatkan dia, tapi kamu dengan bodohnya malah menyelamatkan dia dan tertusuk di situ, hei jika saya gagal dalam misi ini maka semua pangkat saya akan diambil tahu, tapi sekarang saya sudah tenang karena itu semua tidak akan terjadi…."


Pow!! Gedebruk!.


Aku spontan berdiri dan memukul bagian dagunya.


"Biadab kau!! Kau lebih mementingkan pangkat dari pada nyawa anakmu!! Ayah macam apa kau ini?!"


"Akh, aw."


Baru sekali ini aku melihat sosok ayah yang sangat buruk, saat di dunia lama aku tidak pernah melihat sosok asli dari ayahku dan di dunia ini aku mendapatkan seorang ayah yang sangat baik kepada keluarganya, tapi kenapa sekarang aku dihadapkan kepada ayah dari adikku sendiri yang sangatlah buruk begini.


"Sialan kamu dasar anak darah na… cih."


"Apa yang ingin kau katakan tadi?! Kau ingin mengatakan aku anak darah apa?"


"Jika saja kamu bukanlah bagian penting dari misiku maka aku akan membunuhmu dari tadi, kamu tahu itu!"


"Oh, cobalah dari sekarang untuk membunuhku."


"Sialan!!!!"


Dia langsung segera berdiri dan meluncurkan tinjunya ke arahku.


"Rasakan ini dasar ras biadab!!!"


"Hentikan sayang!"


Dia seketika menghentikan tinjunya akibat teriakan dari Vima.


"Eh Vima, apa yang kamu lakukan bukannya kamu sedang bermain dengan Lisa?" ucap Harold dengan sangat panik.


"Aku sudah mendengarkan semuanya, kamu berbohong kepadaku?! Dan tega sekali dirimu mengatakan itu semua! Hanya demi pangkat saja?!" Vima mengatakan itu dengan marah dan kecewa.


"Vi-vi-Vima aku hanya bercanda kok, aku tadi hanya bermain-main saja dengan Gera hahaha, ha, ha."


Aku dengan wajah serius mengatakan kepada Harold.


"Kau benar-benar tidak memiliki otak dan rasa malu sebagai laki-laki ya Harold, apakah itu yang kau anggap sebagai bercanda ha!!!"


"Hei mana sopan santun kamu kepada yang lebih tua? Liat Vima dia sangat tidak sopan kepada yang lebih tua dia bahkan mengatakan diriku sebagai orang biadab lo."


"Sopan santun? Heh, buat apa aku berperilaku seperti itu kepadamu, yang memiliki sifat busuk seperti sampah."


"Sampah katamu? Diam kau dasar bocah!!!"


"Tuan kumohon diam!!" Bentak Vima dengan sangat marah.


Baru sekali ini aku melihat Vima sangat marah kepadaku.


"Vima apakah kamu mendukungku? He, he? Hahahaha, kamu lihat itu Gera orang seperti kamu tidak akan ada yang pernah membela dirimu, hahahaha, apalagi Vima sangat tergila-gila oleh diriku"


"Vima?"


Vima dengan diam naik ke gerobak dan menghampiri Harold.


"Vima ayo kita antarkan Gera ke tempat keluarga Ursa, lalu kita akan bermesraan lagi seperti biasanya."


Plak!


Vima menampar Harold dengan sangat keras.


"Eeh Vima?" Ucap Harold dengan terkejut.


Vima seketika mengambil barang-barangnya lalu pergi, aku melihat ekspresinya Vima, dia sangat sedih dan kecewa.


"Tuan ayo kita keluar, dari sekarang kita akan berjalan kaki menuju kota."


Itu sangatlah tiba-tiba bagiku, Vima membentakku lalu menampar Harold dan mengambil barang-barangnya.


Aku hanya mengangguk saja, lalu aku mengambil bajuku dan pergi mengikuti Vima.


"Ka-kalian mau kemana, hei jangan tinggalin aku! Kumohon hei! Vima, Gera …… awas saja kalian! Kalian akan merasakan akibatnya karena sudah mempermalukan diriku!" ucap Harold dengan sangat marah.


Kami keluar dari gerobak dan menghampiri Lisa.


"Lisa mulai sekarang kita akan berjalan kaki menuju kota, kamu mau ikut sama mama?"


"Um, iya aku akan ikut mama."


(Hm, cepat sekali respon dari Lisa?).


"Terima Kasih ya Lisa udah ngertiin mama."


"Iya mama hehe."


Ternyata mereka memiliki otak yang satu frekuensi toh, pantesan cepat nyambungnya Lisa.


"Tuan mari kita segera berangkat."


"Baiklah Vima."


Aku memakai baju dan berangkat menuju kota dengan berjalan kaki, kalau tidak salah ini 4 hari sesudah kejadian bandit itu ya jadi tinggal sehari lagi kita akan sampai ke kota! Tapi kan kita berjalan kaki mungkin saja waktunya bertambah menjadi lama, aku tidak tahu kapan kita akan sampai.


Kami berjalan melewati kuda, aku tidak melihat Harold disitu apa dia masih stres atau terkejut dengan tamparan dan keputusan Vima? Hah, orang seperti dia memang pantas mendapatkan itu.


Tapi aku merasa kasihan juga kepada Vima dia menahan rasa kecewanya dan sakit hatinya sendirian, dia adalah perempuan yang sangat kuat, nanti aku akan meminta maaf kepadanya jika suasana sudah mulai agak tenang.


Bagian 2


4 jam berlalu.


Hari sudah sore dan kami sekarang berada ditempat yang lumayan kering, banyak ranting-ranting kering juga disini.


"Tuan kita akan beristirahat malam ini disini, untuk penghangatan saya akan mengumpulkan ranting-ranting ini untuk membuat api."


Dengan apa yang telah dia lalui, pasti Vima sangat kelelahan.


"Vima biar aku saja yang mengumpulkan ranting-ranting ini, kamu beristirahat saja."


"Tapi tuan luka anda bagaimana? Malahan tuan yang harus beristirahat."


Oya aku tidak menyadari lukaku, aku hanya merasa kesakitan pada saat aku awal-awal tersadar, habis itu aku seperti sehat-sehat saja.


"Luka ya?"


Aku membuka bajuku.


"Kak Gera kenapa kamu membuka baju?"


"Aku hanya penasaran Lisa."


Setelah aku membuka bajuku, aku menghadap kebelakang.


"Vima bagaimana, apakah lukaku tambah parah?"


"Ini berdarah tuan, kita harus mengganti perbannya, tapi tuan tidak merasa sakit sama sekali?"


"Tidak Vima, aku tidak merasa sakit."


"Baiklah kalau begitu saya akan mengganti perbannya tuan."


"Mohon bantuannya Vima."


Aku menunggu Vima, dia sedang mencari perban di dalam sebuah tas …… tapi kenapa?.


"Lisa? Kenapa kamu melihat diriku dengan tatapan seperti itu?"


Dia melihatku dengan tatapan yang tergoda begitu apa maksudnya oi!?.


"Eh, tidak ada kak, hehe," mengatakan itu dengan ekspresi panik.


"Hehe, apa maksud kamu Lisa?"


"Eeee, gimana ya kak…."


"Hm?"


".... Tubuh kamu sangat bagus kak!" Lisa mengatakan itu dengan wajah yang memerah.


"..."


Aku kaget dengan perkataan Lisa, dan terfikir di benakku, bagaimana jika dia tahu bahwa diriku yang sebelumnya adalah om-om gemuk dengan berat 130 kg?.


"Oya Lisa, emang sebagus apa tubuhku ini?"


"Sangat cocok dengan dirimu kak! Berambut hitam dan badan kamu berisi tidak terlalu gemuk dan kurus, sangat sempurna bagiku."


Sudah kebayang juga di benakku, jika tubuhku masih sama dengan tubuhku di dunia sebelumnya, tapi apa maksudnya dengan sempurna baginya?!.


"Hm? Sempurna bagi kamu?"


"Eh."


Kenapa wajahnya tambah memerah?.


"Tuan saya sudah menemukan perbannya."


"Begitukah Vima, kalau begitu aku serahkan kepada kamu untuk mengganti perbanku Vima."


"Baiklah tuan."


Vima membuka perban yang ada di tubuhku dengan pelan-pelan, selesainya dibuka Vima seketika berhenti.


"Hm? Vima kenapa kamu berhenti?"


"Tuan," Vima memanggilku dengan ketakutan.


"Ya ada apa Vima?"


kenapa Vima takut? Emang ada apa dengan punggungku?! Jangan bilang lukanya tambah parah, akibat aku terlalu banyak gerak.


"Vima lukanya tambah parah ya?"


"Bukan itu tuan."


"Jadi kenapa?!"


"Tidak ada luka sama sekali di punggung anda tuan."


Eh? Apa maksudnya?!.