New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Glenn



"Maaf Vima! Gara-gara diriku perjalanan kita jadi terhambat."


"Untuk apa meminta maaf tuan? Apakah anda melakukan sebuah kesalahan?"


"Tapi Vima…"


*Vima tersenyum*


"Tuan yang anda lakukan itu adalah perbuatan yang baik, tidak apa-apa jika kita membuang 1 jam kita hanya untuk menolong orang kan? Itu adalah kata-kata ayah tuan kepada saya dulu."


"Kamu benar Vima, terima kasih sudah mengerti diriku Vima, hehe."


"Oya tuan jika saya boleh tahu, siapa nama anak itu?"


"Aelfric Carina, dia berumur 10 tahun Vima."


"..."


Eh, kenapa wajah Vima terkejut seperti itu?.


"Vima? Kamu baik-baik saja?"


"Tidak tuan, saya baik-baik saja… ya sudah mari kita lanjutkan perjalanan kita tuan."


"Baguslah kalau begitu Vima, ayo kita lanjutkan perjalanan kita."


Kami melanjutkan perjalanan kami.


Hmm… aku merasa seperti melupakan sesuatu, tapi apa itu? Um…… hm, apa ya? Oya!.


"Vima kamu masih ingat dengan perkataan si asisten?"


"Oh, tentang itu tuan!"


"Ya itu!"


"Maaf tuan saya tidak bisa menjelaskannya."


"Kenapa Vima?"


"Um, maaf tuan saya tidak bisa menjelaskannya."


Hah padahalkan mereka kawan masa kecil, aku jadi ingin tahu kisah mereka dan kenapa dia sampai tidak punya nama…, "Oya jangan lupa menanyakannya ke nyonya Vima ya, jika dia tidak mau paksa saja dia," hehe baiklah kalau begitu.


"Kamu yakin tidak ingin menyakiti hatinya lagi Vima?"


"..."


"Sudah ratusan kalinya lo, kamu menyakiti hatinya."


"..."


Yosh, jika dilihat dari raut wajahnya dia merasa tak enakan sekarang, hehe.


"Vima bayangkan jika dia tahu bahwa kamu tidak memberitahukan aku tentang dia, mungkin hatinya tidak sakit lagi, melainkan… sudah patah."


"Baiklah, baiklah! Akan saya kasih tahu kisah kami waktu kecil."


Yes akhirnya, aku berhasil juga memaksa Vima membuka mulut.


"Yang anda harus ketahui tuan…."


Ya, ya apa itu Vima?.


"Saya menganggap dia sebagai mayat hidup."


Eh?.


"Hei tunggu, aku bertanya kepada kamu supaya isi kepalaku lega kenapa kamu malah menambah beban pikiran di kepalaku Vima?"


"Sabar tuan saya belum menjelaskannya dengarkan saja dulu tuan."


"Baiklah akan aku dengarkan."


"Kami dulu bertemu pertama kali saat saya berumur 4 tahun dan dia berumur 5 tahun, kami bertemu di rumah keluarga Borealis saat itu."


"Saat, saya menatap matanya, itu terasa sangat kosong seperti ada yang menutup pandangannya, ya dulu saya adalah seorang anak kecil yang periang dan polos jadi secara tiba-tiba saya menghampirinya dan menyapa dia, saya mengatakan, 'hei, kamu sedang apa mayat hidup!' Respon dia saat itu hanya diam dan tak peduli, saya dulu semakin percaya bahwa dia adalah mayat hidup."


Jadi seperti itu kenapa Vima sampai menganggap dia mayat hidup.


"Tapi sekarang kamu tidak menganggap dia mayat hidup lagi kan? Bisa kita lihat dia yang sekarang adalah orang yang ceria."


"Anda salah tuan saya masih menganggap dia sebagai mayat hidup."


"Kenapa?"


"Singkat cerita saya selalu mengajak dia bermain dan menjadi kawan, saat saya berumur 5 tahun saya bertanya kepada dia, 'oya, nama kamu siapa? Aku bosan memanggil kamu mayat hidup terus' dia menjawab, 'Vima memang aku siapa? Sampai berhak memiliki sebuah nama? Aku merasa bahwa diriku ini tidak pernah ada di dunia ini'."


Bagian 2


Kita akan pergi ke flashback Vima dan memakai POV dari Vima.


"Begitukah? Tapi kata ayahku semua orang yang hidup di dunia ini memiliki sebuah nama, karena nama itu sangatlah penting untuk identitas mereka."


"Ya tapi aku ini hanyalah seorang mayat hidup Vima, persis seperti yang kamu katakan."


*sebuah burung terbang melewati mereka*


"Woh kamu lihat itu! Kamu tahu nama burung itu?"


"Memang namanya apa Vima?"


"Alagoas Foliage-gleaner."


"Nama yang bagus."


Hmm, aku punya ide!.


"Akan aku kasih kamu nama, nama kamu adalah Glenn, kamu suka?"


"Kan sudah aku bilang Vima untuk apa kamu kasih aku nama? Memang aku siapa?"


"Heh hewan saja punya nama masa kamu tidak? Masa mau kalah dengan hewan? Haha."


"Kamu sangat keras kepala Vima."


"Ya begitulah kami, ayahku pernah berkata kepadaku bahwa keluarga Ursa memang keras kepala semua! Jadi tidak ada celah untukmu menolak nama ini!"


"Maaf Vima aku harus menolak itu."


Eh kenapa dia menolaknya? Aku sudah susah payah lo memikirkan nama untuknya.


*saya pun menangis dengan kencang disitu*


"Hei, hei hentikan tangismu nanti ada yang melihat kita!."


"Huaa!! Glenn jahat, dia, dia, dia tak mau menerima nama yang aku buat dengan susah payah, huaa!!"


"Baiklah! Akan aku terima nama itu, tapi berhentilah menangis!"


…….


"Hump... hiks, kamu mau menerima nama ini?"


"Iya, iya aku terima!."


"Kamu harus janji padaku, kamu memang bangga memakai nama ini tanpa ada rasa paksaan!"


"Iyaa Viimaa."


*bertahun-tahun saya berkawan dengan Glenn, hingga saat saya berumur 14 tahun Glenn mengajak saya ke suatu tempat*


"Kenapa kamu mengajakku kesini Glenn?"


"Ada yang ingin aku katakan kepadamu."


"Mm, apa itu?"


"Oya sebelum itu, aku ingin bertanya kepadamu."


"Tentang apa Glenn?"


"Kamu benar tidak ingin masuk akademi?"


"Iya memang kenapa sih, Glenn?"


"Baguslah kalau begitu, ahem, yang ingin aku katakan dari tadi adalah di umur 19 tahun kamu, aku berjanji akan melamar dirimu."


*saya sangat kaget mendengar perkataannya, tapi saya langsung pergi saat itu, karena saat itu saya sudah berpacaran dengan Harold tanpa sepengetahuan Glenn, tapi Glenn masih tak menyerah juga*


"Aku akan menunggumu 5 tahun lagi ingat itu, Vima!"


*hingga saat itu saya tidak pernah melihat Glenn. 5 tahun kemudian, Glenn menepati janjinya dia menemui saya*


"Hei Vima, apakah kamu masih ingat dengan janjiku 5 tahun yang lalu?"


"Aku masih mengingatnya Glenn."


"Sekarang aku sudah menjadi asisten pribadi ayahmu dan siap melamar dirimu, Vima."


"Glenn...."


"Iya Vima ada apa?"


"Maafkan diriku."


"Hah, apa maksudmu Vima?! Aku sudah sangat siap melamarmu, aku sudah menjadi asisten pribadi ayahmu, Vima apapun yang kamu mau akan aku penuhi! Kumohon terimalah lamaranku."


"Tapi…."


"Tapi apa? Apa yang kurang dari diriku Vima? Aku sudah sangat matang melamarmu jadi apa yang kurang dari diriku Vima?!"


"Glenn!!"


"..."


"Aku sudah dilamar oleh Harold dan beberapa tahun lagi kami akan menikah."


"..."


*disitu, Glenn sangat terpukul oleh kata-kata saya dia sangat sedih dan seperti tak percaya akan perkataan saya*


"Kenapa, kenapa kamu menerima lamaran dari Harold? Kenapa Vima! Padahal akulah yang pertama mengatakan itu kepadamu saat 5 tahun yang lalu, tapi kenapa?"


"Kamu salah Glenn aku sudah berpacaran dengan Harold saat aku berusia 13 tahun!"


"..."


"..."


"Glenn…."


"Begitukah."


"Glenn?"


"Maaf nyonya, saya tidak mengenal seseorang yang bernama Glenn."


"Apa maksudmu Glenn? Hei jangan bercanda!"


"Glenn? Oh sepertinya nyonya salah orang."


"Glenn itu kamu! Glenn kumohon jangan bercanda."


"Saya Glenn? Haha jangan bercanda nyonya, saya hanya sebuah mayat hidup di dunia."


"Glenn."


"Berhenti memanggil saya Glenn!! Saya hanya sebuah mayat yang entah kenapa bisa hidup di dunia ini dan diberi kesenangan hidup lalu di hancurkan begitu saja... dan ingat nyonya saya tidak pernah mempunyai sebuah nama!.


Balik ke masa sekarang.


"Begitulah tuan ceritanya."


...... sial, kenapa sih rasa penasaranku terus membawa diriku kepada cerita seperti ini? Apa yang harus aku lakukan? Membuka mulut saja aku tak bisa.


"Jika tuan ingin melihat sifat saya waktu kecil, lihatlah Glenn dia adalah diri saya waktu kecil."


Aduh aku harus bilang apa otakku seketika buntu.


"Tuan?"


"Ah ya, apa Vima?"


"Anda tidak menyimaknya?"


"Bukan begitu Vima, hanya saja aku tak tahu harus berkata apa."


"Tidak apa-apa tuan, saya tahu kok apa yang tuan pikirkan, tuan pasti berpikiran jika saya bodoh kan? Lebih memilih Harold daripada Glenn."


"Aku tidak berpikir begitu Vima! Tapi sekarang otakku sedang buntu aku tidak tahu harus berkata apa."


"Begitu ya tuan."


Sudah mendapatkan jati dirinya tapi seketika hilang begitu saja, aku merasa sangat kasihan kepada Glenn, tapi disisi lain aku tak bisa menyalahkan Vima.


Hah, ayo otakku berpikirlah! Aku tidak suka dengan suasana canggung seperti ini.


Pada akhirnya suasana canggung begini tetap bertahan hingga….


Bagian 3


"Maafkan saya nyonya dan tuan sekalian telah mengganggu kalian, tapi kita sudah sampai di tujuan."


Tak terasa sudah sampai ini terasa sangat cepat bagiku. Vima dia sedang membangunkan Lisa.


"Lisa ayo bangun kita sudah sampai."


"Iya mama."


"Tuan mari kita segera turun."


"I-i-iya Vima."


"Jangan seperti itu tuan."


Hah? Apa maksud Vima.


"Tuan saya sudah menganggap anda sebagai anak saya, rasanya sakit jika tuan berbicara dengan cara seperti itu."


"Maafkan aku Vima!"


"Tidak apa-apa tuan."


*Vima tersenyum*


Kami pun turun dari gerobak dan saat berbalik ke belakang… ek, ini yang kalian maksud sebagai rumah?! Ini namanya bukan rumah! Tapi… mansion!.