New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Bertemu kembali untuk terakhir kalinya



Bagian 1


"XX--XXX," hah suara itu lagi memang, kamu siapa sih sebenarnya? Mengapa kamu selalu ada di bawah alam sadarku?.


"XXXXX-XX."


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, pakailah bahasa yang aku mengerti, aku juga ingin berinteraksi denganmu."


Aku sudah mulai bisa tenang saat bertemu dengannya, aku takut jika dia pergi lagi dari diriku….


… tunggu kenapa aku takut jika dia pergi lagi? Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya selain di alam bawah sadarku?.


"XXXX-sudah … ya."


Tunggu aku bisa mengerti sedikit dari kosakatanya dan ini terasa familiar bagiku… tapi dimana aku pernah mendengar kosakata ini?.


Aku mencoba untuk berpikir tentang kosakata yang kudengar tadi.


Dimana ya, aku pernah mendengarnya? Di desa? Hmm….


Saat, aku sedang berpikir dengan keras tiba-tiba ada suatu cahaya yang menghampiri diriku.


"Tu-tunggu, sebuah cahaya? Hei, jangan mendekat!"


Dia tetap menghampiri diriku, "berhenti! Mengapa kamu mendekati aku?!" Dia seperti tidak peduli dengan perkataanku dan tetap berjalan menuju arahku.


Dia sudah semakin dekat dengan diriku saat sudah di depan mataku… dia tiba-tiba memelukku.


"Eh?"


"XX-XXXX."


"Kamu sebenarnya siapa? Mengapa kamu memelukku?"


"X-XXXX."


Pelukan ini sangatlah hangat, aku seperti pernah dipeluk seperti ini… pelukan ini… seperti pelukan… dari… ibuku….


"Ibu apakah itu kamu?"


Sekarang, aku tahu kenapa aku tidak mengenali bahasanya, itu karena diriku sudah melupakan bahasa dari dunia lamaku.


"XX-XX."


"Ibu aku sangat ingin berbicara denganmu, tapi, tapi…."


"Ibu juga nak, ibu juga ingin berbicara denganmu seperti dulu."


"Iya bu… eh? Kenapa aku bisa mengerti bahasa yang ibu gunakan?"


"Apa iya nak?"


"Iya bu! Kenapa aku bisa mengerti."


"Nak bagus bukan jika kamu sudah mengerti, jadi kita bisa berbicara dengan puas."


"Tapi bu…."


"Jangan dipikirkan nak, lebih baik kita memakai waktu kita untuk berbicarakan?"


"Iya, kamu benar bu."


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi betul apa yang ibu katakan karena ini adalah kesempatan yang langka untuk berbicara dengannya lagi.


"Ibu aku sangat kangen kepadamu, aku sering berpikir jika aku sangat ingin bertemu denganmu lagi."


"Sekarang kamu sudah bertemu dengan ibu kan? Ibu jadi teringat sesuatu kepadamu."


"Hm, apa itu ibu?"


"Saat, kamu kecil kamu biasanya meminta ibu untuk meletakkan tangan ibu di pipi kamu, kamu mengatakan, 'ibu tangan ibu' terkadang saat kamu seperti itu, ibu melihat kamu seperti anak kucing sedang ingin dimanja oleh induknya."


"Haha, aku masih ingat itu ibu, terkadang saat ibu sedang bekerja aku meminta tangan ibu untuk di taruh di pipiku."


"Mengapa kamu sangat menyukai tangan ini nak?"


"Karena saat tangan ibu menyentuh pipiku, itu terasa sangat hangat, aku merasa seperti dilindungi oleh semua bahaya."


"Begitu ya nak, ibu sangat ingin meletakkan tangan ibu di pipimu seperti dulu… tapi ibu tidak dalam wujud asli ibu."


"Walaupun ibu tidak dalam wujud ibu yang sebenarnya, rasa hangat yang ibu pancarkan tetap sama dengan dulu."


"Terima kasih nak, kamu memang selalu membuat ibu senang."


"Hehe sama-sama ibu."


Aku terus berbincang dengan ibu, kami membahas tentang apa yang terjadi pada saat kami masih hidup di dunia sebelumnya.


Terkadang ibu membahas tentang diriku dari aku kecil hingga dewasa, sama seperti diriku aku juga membahas tentang ibu saat dia masih hidup dan terkadang aku menanyakan tentang ayahku kepada ibu.


"Nak…."


"Kamu sudah berubah ya."


"Iya bu…, hahaha, aku juga bisakan mengabulkan permintaan ibu, ibu kira hanya ibu sendiri yang bisa mengabulkan permintaan?"


Saat aku berkata seperti itu, ibu seketika memelukku lagi.


"Terima kasih nak, terima kasih sudah mengabulkan permintaan ibu yang paling ibu inginkan! Walaupun ibu tidak bisa melihatnya saat ibu masih hidup, tapi ibu bisa melihatnya sekarang, terima kasih nak."


"I… bu…, sama-sama bu."


Ibu terus memelukku untuk beberapa saat.


Saat, ibu melepaskan pelukannya ibu mulai berdiri.


"Ibu mau kemana?"


"Sudah saatnya, ibu pergi nak waktu ibu sudah habis, sebenarnya ibu hanya ingin mengatakan satu kata ini nak."


"Apa itu, bu?"


"Selamat tinggal."


Aku seketika tertusuk oleh kata-kata ibuku, aku seperti ingin menangis tapi aku berusaha untuk menahannya, karena aku tahu ini adalah terakhir kalinya kami bertemu dan aku tidak ingin ibu pergi dengan melihatku menangis.


"Iya bu selamat tinggal ju-ju-juga!."


"Kamu memang anak kebanggaan ibu nak… yasudah kalau begitu ibu pergi dulu ya nak."


"Iya i-i-b-bu se-se-semoga ka-kamu t-te-tenang di sa-sana! Dan te-te-terima ka-kasih… "


Mengapa aku berkata seperti itu? Itu sama saja membuat ibu sedih, sial diriku memang sangat bodoh!.


Aku pun menenangkan diriku dan mengulangi kembali perkataanku.


"Iya ibu semoga kamu tenang disana dan terima kasih sudah datang kepadaku, aku sangat mencintaimu ibu."


Ibu mulai menghilang dengan perlahan dan dengan sekilas dia berkata kepadaku, "ibu juga mencintaimu nak," aku sudah tak tahan menahan tangisku ini dan saat aku melihat ibu yang mulai menghilang, aku sekilas melihat wujud ibu yang asli dengan senyumannya.


*dia sudah menghilang*


Bagian 2


Aku seketika terbangun dan terduduk di kasurku.


"Ibu…."


Aku seketika menangis dengan tersedu-sedu, aku merasa diriku ini bagaikan seekor anak ayam yang baru menetas dari cangkangnya dan tidak melihat induknya sama sekali.


Aku menangis dengan sangat lama entah berapa lama.


*25 menit kemudian*


Aku harus berhenti menangis! Ibu sudah tenang disana aku tidak mau membuatnya merasa sedih akibat diriku yang menangis tak henti-henti.


Aku pun berusaha menenangkan diri, aku mencoba untuk mengecek keluar lewat jendela.


Serius ini masih malam? Aku kira ini sudah pagi, aku ingin tidur lagi tapi aku sudah tidak ngantuk… oya, aku belum mengecek apa saja yang ada di kamar ini.


Aku pun mengecek-ngecek apa saja yang ada di dalam kamar ini.


Um ada lemari, cermin, meja dan kursi, meja kecil disamping tempat tidurku, dan… whoa!! Ada rak buku yang sangat besar!.


Aku pun menghampiri rak buku itu.


Ada banyak buku disini kira-kira apa ya yang bisa membuatku ngantuk?.


Aku pun mengecek buku-buku yang ada di rak buku itu.


*30 menit kemudian*


Ada 20 buku menarik disini dan ada beberapa yang paling aku sukai! Yaitu, Astronomi, Astrofisika, Kosmologi, dan Geologi.


Tentu, aku akan memprioritaskan mereka berempat untuk aku baca! Hahaha tak kusangka di dunia ini ada 4 buku kesukaanku, wajar sih karena disini kalau gak salah ada astronot kan?.


Aku jadi semakin bersemangat untuk menggapai impianku yang hancur!.


Aku pun menatap ke atas dan mengangkat tanganku tinggi-tinggi dan berkata, "luar angkasa, aku akan menghampirimu."


Buku yang pertama aku baca adalah Astronomi, aku membacanya dengan sangat teliti.


Waw, jadi begini bentuk bumi di dunia ini, walaupun hanya memiliki 3 benua saja tapi ini sangat super besar! Disini dituliskan jika foto ini diambil pada tahun 500 M yang lalu, hei itu sangatlah lama! Jadi astronot sudah ada sejak tahun segitu?!.


Hmm, ini sebuah fotokan? Dan lagi foto ini bukan foto berwarna, jadi di dunia ini ada sebuah kamera ya.


Entah kenapa saat, aku membaca buku ini ada rasa kegirangan di diriku, aku jadi seperti ingin terbang ke luar angkasa, itu ucap tubuhku.


Pada akhirnya aku tertidur kembali, dengan pipiku yang menempel dengan buku Astronomi itu.