New World New Body And High Dream

New World New Body And High Dream
Apakah ini akhir?



Bagaian 1


Sudah cukup lama aku berendam di sini, sudah waktunya untuk keluar.


"Lisa, aku sudah selesai berendamnya dan aku akan memakai pakaianku awas saja jika kamu mengintip!"


"Iya kak Gera!!"


Aku keluar dari danau kecil itu, mengambil pakaianku dan memakainya, setelah itu aku pun menghampiri Lisa.


"Lisa aku sudah selesai, ayo kita balik ke tempat mama kamu."


"Ayo kak."


Kami pun balik ke tempat Vima, sesampainya di situ, Vima sudah menunggu kami.


"Mama!" Saut Lisa dengan keras.


"Ah, Lisa kamu dari mana saja dengan tuan Gera? Dan kenapa rambut kamu basah?"


"Kami berenang di danau kecil di sana Vima."


"Begitukah tuan, baguslah kalau begitu"


Vima langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Lisa, dan mengatakan sesuatu (apa yang Vima katakan sih?) Lalu Lisa menggelengkan kepalanya.


Emang apa yang Vima bisikan kepada Lisa?.


Tak lama kemudian, pak kuda menghampiri kita, "wah kamu sudah bangun pak," ucap Lisa


"Sudah dari tadi sih, saya kan sarapan dulu tadi."


"Begitu ya," ucap Lisa lagi.


Dia berbicara dengan santai, tapi pandangan dia hanya ke arah boing-boing Vima, ooii, bukannya tidak boleh ya? Ras Niksmi seperti itu kepada ras Bangsawan?.


Lisa tidak mengetahuinya karena dia memakai topi yang bisa menutup wajahnya sebagian jika dia melihat ke arah bawah mau itu sedikit.


Aku menyadarinya karena hawa mesumnya, heh, sepertinya aku masih lebih senior dari dirinya. Aku pun mengatakan kepada Vima.


"Vima kapan kita melanjutkan perjalanan kita, ini sudah mau siang lo."


Eee, sepertinya pak kuda dia mulai panik.


"Anu, ahem, baiklah kita akan melanjutkan perjalanan kita!" Mengatakan itu sambil menunjukkan jari telunjuk kirinya ke arah kuda.


Dia pun menaiki kudanya dan kami masuk kedalam gerobak. Kami pun melanjutkan perjalanan kami.


Di perjalanan aku menunjukkan gambar yang sudah aku buat tadi pagi kepada Lisa.


"Lisa masih ingat dengan gambar yang aku buat tadi pagi?"


"Masih kak, oya kalau tidak salah kakak mau memperlihatkannya kan kalo udah selesai."


"Betul sekali Lisa."


Aku memperlihatkan gambar yang aku buat kepada Lisa.


"Seriusan ini kak?!!"


Hm? Kenapa Lisa kaget? Apakah gambarku sudah semakin bagus Lisa, hehe.


"Mama, coba mama lihat gambar kak Gera ini!"


Lisa memperlihatkan gambar itu kepada Vima.


"Tuan ini seriusan?!"


"Hei, hei kenapa kalian sangat kaget, bukannya memang seperti itu gambarku?"


"Berapa lama tuan membuat ini?"


"2 jam saja."


"Jangan bohong tuan!!"


"Kenapa kamu marah Vima? Itu betulan 2 jam lo, dari tadi pagi aku membuatnya sampai kamu selesai menyiapkan sarapan."


Mereka kenapa sih? Tiba-tiba menjadi aneh begini?


"Maafkan saya tuan, maafkan saya," Vima mengatakan itu sambil sujud.


"Vima!!!"


"..."


"Kak?"


"Kamu boleh memanggil aku tuan! Tapi jangan pernah merendahkan diri kamu seperti itu, aku lebih muda daripada kamu tidak sepantasnya kamu untuk sujud meminta maaf seperti itu!!!"


"Kak Gera…."


Aku menyuruh Vima untuk duduk ke tempatnya lagi.


"Vima berdirikan kepala kamu, harga diri tertinggi manusia adalah kepalanya, dan segeralah duduk di tempat kamu."


Vima pun duduk ke tempatnya.


Seketika suasana di dalam gerobak itu sangatlah sunyi dan canggung, tak ada yang berani berbicara sedikitpun, tentu saja aku sangat tidak menyukai suasana seperti ini.


"Jadi, emang ada apa di gambarku ini, Vima?"


Aku harus mendinginkan kepalaku terlebih dahulu, berbicara dengan lembut.


"Gambar ini sudah di luar nalar tuan, sangat tidak mungkin seorang anak kecil seperti tuan bisa menggambar ini, apalagi ini hanya dibuat selama 2 jam saja, seniman pro membuat gambar yang seperti ini saja membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan ada yang berminggu-minggu."


"Itu mungkin saja Vima, jika suasananya pas dengan hati kamu dan ada keinginan kuat untuk menggambar, itu bisa saja terjadi, lalu kenapa kamu meminta maaf seperti itu tadi, tidak seperti dirimu saja."


"Karena saya telah mencurigai karya tuan, jadi maafkan saya tuan."


"Jika kamu bilang begitu, ya, wajar mungkin kamu mencurigaiku karena aku masih berumur 9 tahun sudah bisa menggambar itu, dari karena itu, Vima aku juga minta maaf kepada kamu! Ini akibat aku tidak bisa membaca situasinya," aku mengatakan itu sambil menutup mataku.


"Hehe terimakasih Vima, oya Lisa aku juga meminta maaf kepada kamu, karena sudah membentak ibu kamu di depan kamu."


"Eh, anu, iya kak aku maafin."


"Pak, kami juga meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan disini."


"Haha, tidak apa-apa nak Gera."


Hah, akhirnya masalahnya bisa kelar juga. Kami pun melanjutkan perjalanan walaupun masih ada rasa canggung sedikit, tapi semua itu masih bisa di atasi jika kita saling ngobrol.


Bagian 2


*11 jam kemudian*


"Kak Gera ajari aku menggambar lagi, aku mau membuat gambar seperti kakak yang itu."


"Boleh saja kok Lisa, tapi aku tidak mahir dalam mewarnai."


"Tidak apa-apa kak, gambar seperti itu memang tidak perlu diwarnai pun sudah sangat bagus."


"Baiklah kalo begitu, yosh, mari kita belajar Lisa!"


"Iya, mari kak!"


Aku mengajari Lisa cara membuat gambar seperti itu, dari kesabarannya dan juga detail yang mungkin bisa menambahkan kesan dari gambar itu.


Tak lama aku mengajari Lisa menggambar, tiba-tiba kuda berhenti.


"Pak? Kenapa kudanya berhenti?"


"Kita sedang ditahan oleh bandit malam nak Gera."


"Apa maksud kamu pak!!"


"Bandit, mereka akan menjarah barang-barang kita, jika kita tidak memberikannya kepada mereka, mereka akan membunuh kita."


"Jadi apa yang harus kita lakukan?!"


"Memberikan barang-barang yang ada disini, hanya itu yang bisa kita lakukan nak Gera."


"Kak Gera aku takut."


"Tidak usah takut Lisa, ada aku disini."


"Oi! Yang ada di dalam keluar semua!!"


"Vima ayo kita keluar."


"Baiklah tuan."


Aku, Lisa, dan Vima keluar dari gerobak dan juga pak kuda, aku melihat ada 15 bandit memakai topeng yang menunggu di luar, kami pun menunggu di luar dan dengan pasrah melihat mereka mengambil barang-barang kami.


Aku melihat ada satu bandit yang mengambil buku gambarku, aku sudah pasrah saja di situ, walaupun di lubuk hati terdalamku aku sangat tidak rela jika itu diambil, karena sudah banyak kenangan di situ.


Tapi disaat aku merasa tidak rela, aku melihat Lisa berlari ke arah bandit yang mengambil buku gambarku itu.


"Lisa!"


Eh, apa yang kamu lakukan Lisa? Itu hanya sebuah buku gambar, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu, aku masih bisa menggambar ulang itu kok.


"Kembalikan itu, itu punya kakakku! Kamu tidak berhak merampas itu dasar bandit jahat!"


Lisa berusaha untuk merampas buku itu dari tangan bandit tersebut, cukup Lisa tidak ada gunanya kamu mempertahankan buku itu, aku masih bisa membuat ulang semua gambar-gambar yang ada di buku itu, kamu harus mementingkan nyawa kamu terlebih dahulu Lisa.


"Awas kamu anak kecil, cih dasar ras biadab!"


"Kembalikan! Kembalikan buku gambar itu, di buku itu sudah banyak sekali kenanganku dengan kakakku!"


Hei, aku ini seorang kakak bukan? Kenapa aku sangat takut menggerakkan kakiku? Bukannya ini pernah terjadi sebelumnya, waktu aku di dunia lama, tapi aku bisa menggerakkan kaki ku untuk menyelamatkan wanita itu, walaupun nyawaku taruhannya.


"Berikan! Berikan! Berikan itu!!"


"Lisa sudah cukup, pentingkan nyawa kamu!"


"Tidak mama, buku ini sangatlah penting bagiku, bahkan lebih penting dari nyawaku!"


"Dasar anak kecil brengsek!!!"


Bandit itu mengeluarkan pisau dari sakunya, aku sontak berlari ke arah Lisa untuk melindunginya, lalu bandit itu mengayunkan pisau itu, dan….


Swish, jleb.


Aku berhasil sampai ke tempat Lisa, tapi sayangnya, aku tertusuk oleh benda tajam itu.


"K-k-ka-kak."


"Jangan khawatir Lisa, aku ada disini, hehe."


Kejadian seperti ini terjadi lagi ya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku mati, bereinkarnasi kah atau aku sudah tidak bisa hidup lagi.


Ha-ha-hak-huk, bahkan tertawa saja aku sudah tidak bisa.


Maafkan aku Lisa, maafkan aku, mungkin aku tidak bisa melihat kamu menjadi seniman yang hebat, maafkan aku.


Aku melihat wajah Lisa, mungkin ini terakhir kalinya aku melihat wajahnya, sebagai tanda perpisahan kita, aku akan mengelus kepalanya dan tersenyum.


Aku mengelus kepala Lisa dengan tersenyum dan berkata kepadanya.


"Kamu pasti bisa Lisa, kamu pasti bisa mencapai mimpi kamu yang tinggi itu, aku sangat bangga menjadi kakakmu Lisa, hak-hak-hak."


Sial aku sudah tidak sanggup untuk berbicara, apakah ini akhir? Apakah aku masih bisa bereinkarnasi lagi? Sepertinya aku sudah tidak perlu untuk bereinkarnasi lagi, aku sudah bahagia di dunia ini, walaupun hanya 9 tahun, tapi itu sudah sangat berarti bagiku, aku sudah bisa berbicara lancar dengan orang lain, aku memiliki seorang adik dan....


...Ayah, ibu, maafkan aku, aku tidak bisa menemukan kalian, maafkan aku.


*hiks, hiks*


Mataku sudah berat, ini lah akhirnya, selamat tinggal Vima, pak kuda, heh andaikan aku mengetahui namamu, dan juga selamat tingga Lisa.