
Prang !
Brukk!
Suara pecahan barang terdengar begitu gaduh di telinga para maid yang kini berdiri di depan kamar wanita.seorang Wanita yang sedang meradang setelah membaca isi amplop berwarna gold yang di tujukan untuk sang Ayah Albert.
Beberapa menit sebelumnya.Maid yang menerima amplop itu hendak memberikan amplop pada Albert,namun beliau sedang berada di dalam ruang kerjanya.Ia sedang melaksanakan meeting di ruang kerjanya yang ada di mansion nya.
Sang maid yang hendak menemui albert berpapasan dengan Sofia.
Sofia meminta amplopnya."apa itu,berikan padaku.aku ingin melihatnya.! "Seru Sofia
"Nona,tapi itu untuk Tuan Besar."Ucap sang maid menundukkan kepala dengan takut
"Akan Aku pastikan Ayah menerima dan membacanya, sekarang kau pergilah.!"Saut Sofia.Maid itu mengangguk dan berlalu pergi.
Sofia berhenti di depan pintu ruang kerja Ayahnya. tanpa babibu dia langsung memasuki ruang kerja ayahnya.
"Dad ada kiriman untuk mu,boleh aku membacanya."baru kali ini sofia sangat penasaran dengan sesuatu padahal biasanya Ia acuh dan enggan merecoki pekerjaan sang Ayah.apalagi masalah dokumen atau kiriman apapun yang ditujukan untuk ayahnya.namun,kali amplop coklat itu sangat menarik rasa penasarannya.
"Baiklah,aku akhiri rapat ini sampai disini dulu.Kalian boleh pergi.Aku ingin berbincang dengan putriku."Albert membubarkan meeting nya yang memang sudah selesai.
"Kau bisa membukanya tanpa ijin Daddy sayang "Timpalnya Kemudian.
Sofia membuka amplop itu dan mulai membaca isinya,dia tertegun.matanya melebar darahnya mendidih,guratan di dahinya tercetak jelas.aura menyeramkan mencuat ke seluruh ruangan,Albert yang memperhatikan dan mengamati perubahan raut wajah Putrinya dibuat bingung.Ia melengkungkan alisnya.
"Ada apa sayang.?
Sofia sayang,apa isi amplop itu?"Ucap Albert.
Sofia melemparkan kertas tebal itu ke sembarang arah,dia keluar dan memasuki kamarnya dengan aura membunuh menguar dari dalam tubuhnya.
Albert meraih kertas tebal yang dilempar Sofia ternyata Undangan Pernikahan.Kini dia mengerti dengan semua Kekesalan Putrinya.
Undangan Pernikahan Seorang Aarav osmond & Nayla Almira claudio. Albert membaca Undangan yang akan dihadirinya nanti.
Albert menyerah,dia tak ingin merusak momen bahagia Aarav.Ia hanya pernah ingin menjodohkan Putrinya bukan memaksa Aarav untuk memilih dan bersama Putrinya.Albert mengingat Ucapan mendiang Istrinya Jenny.
"jika rasa Cinta dalam sebuah hubungan sangatlah penting".
Ibarat sebuah pondasi dalam sebuah bangunan, jika pondasi kuat maka bangunan akan berdiri kokoh. namun jika pondasinya saja tidak ada maka tidak ada Jaminan di dalam bangunan itu akan bertahan lama.
Sofia mengamuk sejadinya dia melemparkan semua benda yang ada di sekitarnya.meraihnya dan melemparnya ke sembarang arah,lampu di meja nakas di raihnya dan dilemparkan tepat pada pintu Kamarnya.dia tidak terima jika lelaki idamannya, menikah dengan gadis lain dan bukan dirinya.
"Aarav tidak akan menikah selain denganku, tidak akan.Aku tidak akan membiarkan ini terjadi." Racau Sofia,dia meraih handphone nya dan melangsungkan panggilan dengan Seseorang dan tersenyum misterius,menyeringai senyum yang penuh arti.
Albert menghembuskan nafasnya,dia membuka pintu kamarnya sendiri dan hendak istirahat karena dia tak juga mampu merayu Putrinya untuk berhenti terobsesi dengan Aarav,karena sebentar lagi dia akan menikah. namun,Sofia tetaplah Sofia Putrinya yang angkuh, keras kepala dan susah untuk di kendalikan.
Albert hanya mampu menasehatinya dan dia berharap jika Putrinya tidak akan mengacaukan Kebahagiaan sekaligus acara penting rekan bisnisnya itu.
Seseorang mengenakan Kacamata hitam dan memakai jaket serta Penutup Kepala memasuki Kawasan Boutique elit kalangan mewah kelas atas milik desainer ternama Kanada.Penampilannya benar benar tertutup,Suasana Boutique yang selalu ramai itu tidak terlalu memperhatikan kedatangannya.
Dia berjalan ke arah ruang penyimpanan gaun gaun yang dibuat khusus dan sudah tertulis nama pemiliknya,dia memasuki ruangan itu dan meraih satu gaun yang tertera nama Seseorang.tanpa permisi Seseorang itu merusaknya di bagian tertentu, merobeknya dengan pisau kecil yang dibawanya lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.dia menyelinap Keluar Boutique lewat pintu belakang dan menelpon Seseorang.
"Aku sudah selesai melaksanakan tugasku,Tolong tepati janjimu untuk mentransfer Uang ke rekeningku!"Ujarnya.
"good job chase,Aku sudah mengirimkannya.Kau bisa kembali ke tempat mu.!"titahnya.
Nathan menghempaskan tubuhnya ke sofa,dia sedang berada di dalam ruangan Aarav.
"Aar Semuanya hampir selesai,tinggal menunggu hari H nya saja.Kau harusnya sudah cuti,Kenapa Kau malah sering lembur akhir akhir ini.Kau harus menjaga Kesehatanmu,untuk hari Pernikahanmu nanti bos."
"Aku akan cuti nanti setelah menikah,jadi Aku mengurus sebagian pekerjaan.nanti sisanya,Aku Serahkan padamu Nath. " Ucap Aarav.Aarav sedikit terharu dengan Nathan yang notabene sahabat juga asistennya,namun dia sanggup menyelesaikan semua tugas yang diberikan Aarav.hampir selama sepekan ini dia sibuk kesana-kemari,menyiapkan semua yang menyangkut urusan pernikahan dirinya dan Nayla .
Aarav bahkan hanya menerima laporan jika semua sudah selesai,Nathan memang paling bisa diandalkannya.Nathan seolah merangkap menjadi orang tua,yang sibuk mengurus acara penting putranya.
Aarav bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sofa yang diduduki Nathan.Aarav menepuk bahu Nathan. "Thanks Dude untuk semuanya,Kau telah mengurusnya dengan sangat baik."Ucap Aarav.
Nathan berdiri dan mereka berpelukan.Nathan menepuk pundak Aarav."Selamat Dude,Kau akan mendapat gelar suami sebentar lagi.aku turut berbahagia dengan Pernikahanmu ini.mereka hanyut dalam rasa persahabatan yang telah terbangun sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar, walau sempat berpisah dan berbeda sekolah di masa SMA.namun,di masa kuliah mereka bertemu lagi dan Nathan melamar pekerjaan di tempat Aarav yang kini sebagai sahabat bos nya itu.
Pelukan pun terlepas,mereka berdua mengusap air bening yang bertengger di sudut mata masing masing.
"Apa ada yang mengupas bawang disini?".
Suara cempreng mengalihkan Aarav dan Nathan yang tadi sedang terharu dengan memory ingatan mereka di masa lalu.
Shilla masuk ke ruangan Aarav,membawa makan siang dari Nayla untuk Aarav dan Nathan."Kalian baik baik saja kan?" Tanya Shilla,dia sedikit risih karena Aarav dan Nathan melihatnya seolah Kehadirannya mengganggu momen haru tadi.
"Kau tidak menemani Nayla Shill?"Ucap Aarav.
Kenapa Kau kemari Macan garang! " timpal Nathan.
Shilla melotot kan Matanya pada Nathan."Diam Kau, Jangan mulai.Aku sedang tidak ingin berdebat, suasana hatiku sedang baik jangan merusaknya!"Seru Shilla.
"Aku hanya diminta Kak Nayla mengantarkan makan siang untukmu dan-
Shilla menggantung kalimatnya.
"Dan apa? "tanya Aarav bingung.
"Dan makan Siang Pria gila itu Kak.Kak Nayla juga menyiapkan nya untuk asisten mu itu Kak."Shilla menunjuk Nathan dengan bibirnya yang di manyun kan.
"Hei,bibirmu tak perlu Kau gunakan untuk menunjuk ke arahku Macan garang.Kau tahu,Mulutmu seperti Ikan Arwana saja! "Nathan tertawa keras.
Shilla semakin geram dengan Nathan."Awas saja Kau,Pria gila! ".
Shilla melepas flat shoes nya dan melemparkannya pada Nathan dan lemparannya ternyata mengenai sasaran yang jauh dari perkiraannya.
Nathan memegangi juniornya yang terkena lemparan Shilla.
Ahh!" pekik Nathan.
"Dasar Macan garang.Kau merusak Masa depanku!"Umpatnya.
Shilla tergelak dan mengangkat bahunya acuh dan mendekati Nathan,mengambil sepatu yang tadi ia lemparkan.
"Rasakan itu Pria gila! "Shilla berlalu dari ruangan sambil berteriak kepada Aarav.
"Kakak aku pulang,makanlah makanannya! " .
Aarav menahan tawanya .
....