Mysterious Husband

Mysterious Husband
PILIHAN MEMBINGUNGKAN 2



Sorotan bercak indah dari sang Surya, mulai terlihat samar dari ujung timur, pertanda benda bulat nan besar itu, hendak menunaikan tugas mulia, untuk menyebar secara adil sumber cahaya kehidupannya, hingga ke seluruh makhluk vulgar sekalipun, selagi mereka tinggal di bumi ini.


Meninggalkan para makhluk tolol terbungkus sedikit sopan dengan kata Vulgar itu.


Saat ini bersamaan dengan hendak terbitnya matahari pagi, Reygan sendiri telah terduduk manis, di bangku belakang sebuah mobil BMW hitam, yang tengah melaju ‘stabil, di jalanan raya kota Evershead.


Mengenai mobil hingga driver itu sendiri, adalah ulah tangan serta lisan Reygan, melalui gadget canggih miliknya semalam, yang mengkonfirmasikan posisi keberadaannya kepada Palmer ‘kakeknya.


Untuk sebelum kepergian Reygan saat ini, diketahui dirinya tak berpamitan terlebih dahulu, baik kepada sang pemilik rumah, terlebih hingga ke Jennifer, dan hal itu dilakukannya, karena ulah di perasaannya, yang entah kenapa menjadi kalut,bingung,serta cemas, sebab pikirannya semalam.


Beberapa puluh menit berselang, kini keempat roda mahal milik BMW itu telah terhenti rapi, di atas batu marmer hitam, sebuah halaman rumah putih yang maha megah.


Jeglek!


‘’selamat datang tuan muda’’,seru salah seorang, pria bersenjata glock 17, sembari memberi penghormatan.


Menanggapi sapaan itu, Reygan hanya, menganggukkan perlahan kepalanya, lalu segera menjatuhkan kedua kakinya ke tanah secara bergantian, dan berlalu pergi guna menjauh.


Akan tetapi karena kekesalannya, sejenak Reygan menghentikan langkahnya, hingga mengarahkan punggung kepada lawan bicaranya,‘’Tolong kau siapkan laras panjang L-1154 serta peredam dan peluru satu klip full di magazine nya, lalu hantarkan ke ruangan kamarku nanti. Satu lagi, tambahkan sebuah belati, lalu taruh semua benda itu di koper senjata, dan nanti aku akan merakitnya sendiri’’.


Sifat pelenyap di masa lalu, yang seharusnya telah tersimpan rapi di peti makam, kini mulai Reygan bongkar kembali, ketika otaknya mengingat kembali ‘sebab, mengapa kepergiannya secara mendadak, dari kediaman keluarga Lewis tadi.


Sesaat setelah mendengar perintah itu, pria kekar tadi segera mendekat dan berbicara tegas di balik punggung Reygan.‘’tuan muda, jika Anda hendak melenyapkan nyawa seseorang, biarkan tugas ini kami ambil alih saja, hingga Anda tak perlu mengotori tangan Anda. Bahkan jika perlu, saya akan membawa kepala orang itu kehadapan Anda tuan, untuk sebagai bukti kepatuhan serta keberhasilan tugas kami’’.


‘’tak perlu repot-repot, lakukan saja perintahku’’,seru Reygan lalu melanjutkan perjalanannya.


Kemudian setelah di rungan kamar megahnya, perlahan Reygan membuka seluruh busananya, hingga tak terkecuali lilitan perban di perutnya, setelahnya mengarahkan kaki menuju shower di bathroom, guna membilas tubuh kekarnya.


Tok! Tok! Tok!


Bersamaan dengan terselesaikan kegiatannya barusan, kini segera langkahnya terpacu ke arah pintu, setelah terdengar suara ‘khas, ketukan pintu, ulah orang di luar sana.


Jeglek!


Suara pintu terbuka, ulah tangan Reygan.


Terlihat di hadapan Reygan saat ini, telah berdiri seorang pria kekar


mengenakan jas rapi, dengan dasi merah serta Earpeace dan kacamata hitamnya, tengah menenteng sebuah koper berukuran sedang, berwarna silver redup.


Sesaat setelah pintu terbuka,‘’Tuan muda, sesuai permintaan Anda’’, seru pria kekar itu, sembari memberikan bawaannya.


Sembari menerima koper,‘’kau boleh pergi sekarang’’,sahut singkat Reygan.


Saat ini koper berisikan senjata itu telah terbuka lebar, ulah kegiatan tangan Reygan. ‘kaliber 6 inc ini mungkin akan mampu menghancurkan isi di kepalamu nanti’,gumamnya, sembari tersenyum kecil.


Hingga setelah gumamnya, perlahan tangan kekar itu menjamah setiap detail potongan puzzle tubuh L-1154, guna mengecek kelengkapan, lalu menutupnya kembali.


Sembari menunggu target, mengunjungi Zona merah pemakamannya sendiri, Reygan mengisi waktu luang itu, dengan sejenak tertidur, lalu sedikit berbincang kepada kakeknya, hingga mengisi sumber tenaga hariannya.


Setelan Jas mewah berwarna hitam pekat, serta jam Rolex silver bertahtakan butiran berlian mahal di setiap angka ‘romawi,-nya, berpadu dengan aroma parfum cilive cristian, kini telah melekat di setiap lekuk tubuh kekar yang Reygan miliki.


Mengarahkan pandangan mata di depan cermin, sembari memekik keras,‘’persetan dengan mu Tuhan!, bahkan kau tak bisa melindungi nyawa, yang sangat aku sayangi!’’.


Setelah pekikannya, Reygan segera menyahut koper senjata itu, lalu berjalan keluar menuju mobil kesayangannya.


Mengabaikan sapaan hingga penghormatan dari ratusan pria bersenjata glock 17, di halaman itu, Reygan segera menekan gas di kendali kemudi, hingga Monster itu melejit kencang, dengan memuntahkan 100km/second, horse powernya, tepat sesaat setelah mengeluari pintu gerbang.


Kemudian, hanya menempuh puluhan menit saja, kini Buggati La Voiture itu, telah terparkir gahar di sebuah basemen apartemen lain, berjarak kurang lebih 1 mil dari Grand Aloysius.


Hingga setelah sepenurunannya dari mobi, dengan menyahut koper berisi keperluan berburunya, kini kedua kaki kekar itu segera terkayuh cepat ke arah lift, sembari menggunakan nama besar Adolf, hingga semua akses di gedung itu dapat dirinya jangkau.


Saat ini tubuh Reygan telah menempati ruangan outdoor, paling atas di gedung itu, lalu perlahan menurunkan bawaan, sembari mengalihkan pandangan matanya, hingga memutari seluruh penjuru bangunan.


Setelah menentukan posisi yang tepat, kini kedua tangan kekar itu, perlahan membuka koper, lalu dengan cepat segera merakit beberapa potongan bagian terpisah.


Tak butuh waktu yang lama, bagi seorang Reygan hitler, Kini L-1154 telah terbenahi sempurna, termodif dengan plat besi segitiga penyangga, serta teleskop bender berkemampuan 10 kali zoom, dan peredam senyap berukuran 12 inc melekat pada ujung laras-nya.


Setelah benda mematikan itu terbenahi, Reygan segera memposisikan tubuhnya sedikit merunduk, sembari mengarahkan pandangan mata, ke arah lensa tele, dan sesekali ke jam rolex di pergelangan tangannya.


‘’kalian akan mati hari ini, meski Tuhan berkata tidak’’,seru lirih Reygan sembari tersenyum miring.


Ujung laras L-1154, telah menghadap ke arah sebuah kaca bening, di salah satu unit, apartemen Grand Aloysius.


17.00, langit sedikit menua, dengan sinar yang perlahan mulai meredup.


Ceklek!


Suara tarikan tuas, kokangan senjata.


Satu dari lima butir peluru berukuran 6 inc itu, telah terangkat naik, hingga menempati ruang pelontarnya.


‘’Huuuhhh!’’, hembusan nafas panjang , sembari mengatur titik koordinat pada teleskop.


Terlihat jelas di pandangan Reygan melalui tele senjata laras panjangnya, kini seorang pria ber-setelan jas ‘rapi, tengah berjalan, mengarahkan badan menuju rooftop untuk merokok. Dan tiga orang pria lainnya serta 2 wanita muda, tengah terduduk di dalam ruangan utama.


Cuuuss! Dep! Ceklek!


Suaran muntahan peluru, lalu menarik tuas kokang senjata.


Ulah tangan Reygan, kini satu domba tewas tergeletak, tanpa sepengetahuan kawanannya.


Beberapa menit berselang, kini dua domba di ruang utama, tengah berjalan menyusul rekannya menuju rooftop.


Dengan tarikan nafas stabil, perlahan Reygan menekan pelatuk itu, lalu menarik tuas, hingga kembali memuntahkan peluru selanjutnya, tepat sebelum domba ketiga menyadari kematian rekan di belakangnya.