
Di bandar udara Brakamtom City.
Beberapa puluh menit berlalu, kini Reygan telah menapakkan kedua kakinya ‘di sekitar, area kedatangan, perlahan dirinya ‘mulai, menyahut benda tipis di saku celananya, guna menghubungi Jennifer, namun karena dewi fortuna sedang murka, hingga nasib buruk menimpa gadget serta dirinya.
Reygan segera mendengus kesal sembari mentalak pinggangnya.‘’sialan kenapa lagi ini, kenapa aku lupa mengisi daya baterai phoneselku, lantas jika seperti ini, apa aku harus membuang waktuku, untuk memilah ‘satu persatu, dari sekian ribu orang di sini’’.
Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Reygan melakukan perintah di pikirannya tadi, hingga berjalan kesana-kemari 'dengan arah yang tak menentu, sembari menajamkan matanya.
Akan tetapi, beberapa menit berlalu, kegiatan pencarian serta langkah kakinya segera terhenti ‘ketika, dari arah belakang, tangan halus ‘melingkari tubuhnya,’’Rey kemana saja kamu, dan kenapa gadgetmu tak bisa ‘aku hubungi’’,seru manja Jennifer.
Merasa tak asing dengan tangan dan suara manja itu, perlahan Reygan membalikkan tubuhnya, sembari mengarahkan senyum, lalu membalas pelukan wanita di hadapannya,’’maafkan aku Jennifer, gadgetku kehabisan dayanya, serta keterlambatan ku, sebab kemacetan di jalanan kota ini. aku mohon agar dirimu tak marah denganku’’.
‘’sudah tak mengapa sayang, yang terpenting saat ini ‘adalah, aku dapat memeluk tubuhmu kembali. Sebab aku merindukan dirimu Reygan. Jadi tak mengapa bukan jika aku menemui mu di kota ini, tanpa mengabari mu sebelumnya?’’, sahut Jennifer sembari menjatuhkan kepala, di dada bidang Reygan.
Setelah terdengar ‘penjelasan, yang menurutnya begitu manis, dengan segera Reygan mengeratkan pelukannya, sembari mengusap lembut rambut Jennifer, ’’ Aku sangat mencintaimu Jennifer’’.
Hingga beberapa detik ‘setelahnya, pelukan itu segera terhenti, ketika dengan perlahan Reygan, menjauhkan tubuhnya, lalu menyahut tangan Jennifer, dan memandu perjalanan ’meninggalkan tempat ini.
Kemudian ‘tak lama berselang, Kini terlihat sepasang kekasih ‘yang tengah di mabuk kasmaran itu, tengah menaiki mobil taxi pesanannya, lalu mengarahkan drivernya, untuk mengantar perjalanan ‘ke pusat perbelanjaan terdekat, guna mengisi kebutuhan harian. Dan setelahnya ‘mereka menyempatkan, sejenak waktunya, untuk berkeliling di tempat itu, hingga membeli beberapa keperluan dapur, berupa makanan kemasan siap saji, serta belasan wine mahal kesukaan Reygan.
Karena troli belanjaan ‘telah terisi penuh, terlebih rasa penat telah di rasakan Jennifer ‘akhirnya mereka bersepakat, untuk mengakhiri kegiatan melelahkan ini, lalu Reygan segera menuntaskan administrasi, dan memandu tangan Jennifer, agar mengikuti maksud tujuan berikutnya.
Saat ini mereka telah terduduk kembali ‘di mobil taxi lain. Namun dengan sengaja, Reygan mengarahkan tujuan akhirnya ‘bukan ke apartemant Alfredstone, melainkan apartemant mewah, yang telah disediakan kakeknya ‘di awal kedatangannya, ke Brackhamtom city ‘hari kemarin, bersama David.
Puluhan menit, setelah kedatangan mereka di Apartemant itu.
Kini tubuh sepasang kekasih itu ‘berada di balkon, berbaring santai di atas satu kursi lengkung, yang panjang, berteman sebotol wine ‘di masing-masing sisi. Reygan sendiri nampak romantis, karena membiarkan lengan kekarnya, sebagai bantalan ‘kepala, kekasihnya.
Reygan perlahan menoleh, sembari membelai lembut ‘rambut wanita, di sampingnya,‘’Jen, petang nanti, aku ada sedikit urusan, jadi.....’’,sahut Reygan.
Akan tetapi dengan cepat, Jennifer mengarahkan telapak tangannya ke arah mulut Reygan, ‘’ sayang, apa kamu setega itu kepadaku, hingga ingin meninggalkan aku sendiri di tempat ini’’, lalu mengerucutkan bibirnya.
Hingga setelah perkataannya, Jennifer segera mengangkat tubuhnya, lalu menjatuhkan dudukan ‘pantat bulatnya, ke perut sixpeack itu, sembari mengelus dada bidang pria ‘di bawahnya.’’Sayang aku hanya ingin, menghabiskan semua malam ku ‘di kota ini, bersama dengan dirimu seorang, dan apakah kamu tak ingin menemaniku Rey’’.
‘’Jennifer sayang ‘aku berjanji, setelah keperluanku terselesaikan, aku akan mengabulkan permintaanmu barusan ’’,sahut Reygan.
Mendengar janji manis itu, jennifer segera menjatuhkan seluruh tubuhnya ‘di atas Reygan, lalu perlahan mendekatkan wajah ke arah lawan bicaranya,’’aku tak ingin kehilangan dirimu Reygan’’.
Emmmhhhh! Emmmhh!
Mereka saling menikmati kegiatan itu, sembari melakukan aktifitas tangan ‘dari masing-masing , guna menunjang sifat liarnya.
Ciuman kerinduan itu seakan terlihat begitu liar, hingga setelah beberapa menit melakukan overplay, kini bersenggama lah mereka di balkon apartemant itu, dengan view terbuka, berlatarkan matahari senja.
Akan tetapi kepuasan itu tidaklah lama, karena keterbatasan ‘waktu, dari salah seorang pasangan. Reygan perlahan menghentikan, hingga menyudahi kesenangannya, walau pasangannya masih ingin melakukannya.
Hal itu dikarenakan permintaan, yang tak mungkin diabaikannya, mengingat Byron adalah keluarga penolongnya di masa lampau. Terlebih juga rasa penasaran di dalam hatinya, yang ingin segera mendapat jawaban, mengenai menghilangnya ‘semua anggota keluarga Byron, secara misterius ‘di waktu itu.
Saat ini, pakaian khas informal keseharian Reygan dulu ‘dimasa suramnya, telah melekat ketat di tubuhnya kembali, hingga kaos itu sedikit banyak, melihatkan lekuk tubuh nan perfect, di semua susunan rapi ototnya.
Busana itu, terlihat begitu simple, dan tak sama sekali mencerminkan ‘sifat orang kaya, yang kini telah tersandang jelas ‘di kehidupan barunya, namun apa mau dikata, bila cara berpakaian ‘seperti ini, lebih di gemari Reygan.
Sesaat setelah Reygan di depan pintu utama unitnya, guna melanjutkan niatnya menemui keluarga Byron,‘’sayang, aku pergi dulu’’,seru Reygan, sembari memutar daun pintu.
Akan tetapi, langkah dan niat Reygan sejenak terhenti, ketika wanita itu berlari mendekat, lalu membalik paksa tubuhnya,’’sayang tunggu!’’,seru Jennifer.
Dengan cepat Jennifer mendekap tubuh pria di hadapannya, lalu dengan nafas ‘tak beraturan, Jennifer mulai menggambar seluruh bagian Leher Reygan, menggunakan bibir mungilnya. Hingga setelahnya, karena gejolak api asmara atau semacamnya, kini kedua pasang bibir itu, kembali beradu dengan hebatnya.
Beberapa menit setelah kegiatan liar itu sedikit tersalurkan, kini Jennifer harus kuat ‘menahan kebutuhannya, untuk beberapa jam kedepan, karena lawan mainnya telah benar-benar pergi.
Reygan sendiri, sembari berjalan menuju lantai dasar, dirinya mulai menyalin sederet angka, ke dalam phonselnya, lalu melakukan panggilan, guna menanyakan lokasi tujuan yang dimaksud.
Saat ini pelepasan Reygan telah menempel ‘nyaman, di sebuah bangku duduk taxi pesanannya, sembari bersantai dan menunggu, dirinya juga sesekali mengarahkan mata ke arah map di gadgetnya, lalu memandu sang Driver, agar tak salah jalan.
Selang beberapa puluh menit berlalu, lokasi akhir dari map arahan Callista tadi, memandu penglihatannya, kearah Rumah dua lantai berwarna krem terang, dengan gerbang yang sangat tinggi ‘namun terbuka, dan tanpa keamanan ‘di depannya.
Setelah kepergian mobil tumpangannya, Reygan segera menghubungi Callista guna memastikan kebenaran informasi. Akan tetapi ‘beberapa kali panggilan itu, hanya terjawab oleh suara mesin ‘operator, hingga karena tak putus asa, Reygan terus mengulang kegiatannya, namun semua usahanya tak payah membuahkan hasil.
Karena penasaran, tanpa berpikir panjang lagi, dengan segera kedua kaki Reygan mulai melangkah ke depan, guna memasuki halaman rumah itu. Perjalanan Reygan kini tengah melewati beberapa mobil, dan sejenak langkahnya terhenti, ketika berada di sebelah mobil BMW hitam, yang dirinya ketahui sebelumnya ‘adalah milik Callista.
Setelah melihat itu, kini perasaan yakin mulai dirinya dapati, lalu dengan segera, Reygan melanjutkan langkahnya kembali, untuk masuk lebih jauh lagi, hingga menerobos pintu rumah, yang memang sedari tadi ‘terbuka lebar.
Didalam rumah sendiri, suara pekikan sumbang mulai menggangu pendengaran Reygan, dan karena di dorong oleh rasa keingintahuan 'yang kuat, dirinya segera menghampiri kegaduhan itu.