Mysterious Husband

Mysterious Husband
KEKOSONGAN TERULANG



Jeglek!


Suara hampa pintu terdengar, sesaat setelah Reygan kembali ke apartemant mewahnya.


‘’sayang!, Jenniffer maafkan perlakuanku tadi pagi!, sayang!’’,seru Reygan sembari berjalan menjelajah ruangan luas itu.


Akan tetapi terlihat sunyi seluruh sudut ruangan itu, dan kini sudah tak terdengar lagi suara sahutan manis menjawab seruannya seperti hari lalu.


Terlebih penyambutan ataupun perhatian jennifer akan dirinya lagi di tempat ini, tak seperti tadi malam, dan hal itu menandakan Jennifer benar-benar menepati perkataannya untuk pergi menjauh dari Reygan.


Mengetahui kepergian kekasihnya benar adanya.


kemudian Reygan berjalan tak semangat ke arah lemari pendingin, membuka dan menyahut sebotol wine lalu menenggaknya.


Pikiran Reygan kini sangat kacau terlebih hatinya yang juga di penuhi kekosongan, membuat dirinya meminum dan terus meminum tanpa mengeluarkan perkataan sama sekali, hanya bunyi tegukan mengalirnya air di tenggorokan, menyela kesedihannya di sore ini.


Disela kegiatan Reygan, Gadgetnya tiba-tiba bergetar, menandakan ada pesan untuk di baca, tangannya kini merogoh pelan tak bertenaga, ke arah saku celananya mengambil dan membaca pesan itu.


‘Rey maafkan aku, kini aku berada di Evershead, aku rasa semuanya sudah berakhir, dan jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, aku harap hanya seperti kita tak pernah saling bertemu sebelumnya’.


Setelah membaca pesan itu Reygan hanya tersenyum miring,


‘’Hahahaha!, Hahahaha!’’tawa Reygan, seraya menitihkan deras air matanya.


Sembari mengarahkan matanya ke arah layar,‘’wanita ini datang dan pergi begitu saja,hahahaha!, aku mencintaimu Jennifer!, maafkan, aku memang bodoh!,’’ serangkaian perkataan Reygan disela tangisnya sembari menepak kencang kelapanya sendiri berulang kali.


Kemudian Reygan melanjutkan kembali menuang ujung botol wine itu ke mulutnya kembali, sembari menyandarkan tubuh kekarnya di lemari pendingin itu.’’aku tak mengangka dirinya bisa setega ini, hingga benar-benar pergi’’.


Beberapa jam berlalu, sinar mentari yang telah menghilang, berganti rembulan yang utuh dan indah, kini mulai terpantul di pulupuk mata Reygan.


Sejenak melupakan masalah itu, Reygan menyudahi kegiatannya barusan, dengan melangkahkan kaki, berjalan ke arah bathroom guna membilas seluruh tubuhnya, lalu mengganti semua pakaiannya.


Dan sesudah itu, kini Reygan seorang diri, tengah berada di balkon apartemant mewahnya, berdiri tegak sembari menengadahkan kepalanya kearah bulan.


Disela kegiatannya, sedikit terbesit’ wajah cantik Jennifer di sana, hingga dirinya tak mengalihkan pandangannya beberapa menit ke depan.


Setelah nya, Reygan memasukan kedua tangannya di saku celana, lalu memekik dengan keras tanpa mengalihkan pandangan awalnya‘’Aku akan melupakanmu jennifer!,dan aku benar-benar’ sudah tak memperdulikan mu lagi!, pergilah!, pergilah sesukamu!’’, dengan mata yang berkaca, kini dirinya tersungkur perlahan ke tanah.


Beberapa menit berlalu, Reygan mulai membangunkan tubuhnya perlahan dan sejenak menyudahi penyesalannya, lalu mengubah haluan di pikirannya.


Kini kesedihannya berganti, hingga mengubah alur hatinya, untuk segera membalaskan kematian saudaranya, ’’wylie iya dia,maafkan aku wylie sedikit melupakan janjiku untukmu’’, menyeka air matanya.


Kemudian ingatan Reygan tadi, menuntun paksa langkah kakinya, untuk berjalan mendekat ke arah benda mematikan pemberian Palmer kakeknya, yang sebenarnya tak akan pernah di gunakan olehnya, pikirnya waktu itu.


Sesampainya di kamar utama apartemant, Reygan menyegerakan mengarahkan ke dua tangannya, untuk mengambil kotak hitam di dalam tas ranselnya, lalu perlahan membuka isi kotak itu,’’Wylie saudaraku, hari ini akan ada darah terbuang di kota ini, kematian dirimu adalah hutang nyawa yang harus di bayar’’, Matanya kini memandangi pistol’ gold eagle milik kakeknya dulu, yang kini telah beralih ke pangkuannya.


Perlahan tangan penuh otot itu mulai memegang dan menjamah pelan’ senjata semi otomatis berkaliber besar itu, ibu jarinya sendiri’ menekan tombol kecil di bagian samping’ gagang pegangannya, satu per satu dengan perlahan Reygan, memasukan’ sembilan butir peluru magnum 10 inchi ke dalam wadah itu,setelahnya’ dengan cepat mengokang dan membelakangkan kail pengunci, lalu menyelipkan benda mematikan itu, di sela-sela pinggangnya.


Dengan segera Reygan berjalan keluar meninggalkan Apartemant nya, bertujuan menemui Allen, hendak meminta penjelasan mengenai kejadian pagi tadi, tentang kronologi kematian saudaranya Wylie.


Disela perjalanannya yang saat ini tengah terduduk di bangku belakang taxi, dering gadgetnya terdengar nyaring, hingga sontak saja Reygan menyahut sumber suara itu dan menerima panggilannya,’’hallo Callista, kenapa?’’


‘’aku di rumah tengah terbaring lemas di ranjang ku, oh maaf aku meninggalkan keluargamu selepas acara begitu saja, aku tak ingin merepotkan kalian, karena badanku sedikit tidak sehat tadi’’.


‘’Tak usah, aku hanya perlu beristirahat sejenak, jadi sampai jumpa lagi Callista’’,mematika sumber suara.


Serangkaian perkataan dusta Reygan, karena tak ingin memberi tahu, jika maksud langkah kaki dan tujuannya kini adalah bergerak, guna membalas dendam kematian adik Callista.


Selang beberapa puluh menit berlalu, setibanya Reygan di rumah sakit, sejenak pandangan matanya teralihkan, mengarahkan ke beberapa pria berdasi.


Di pelupuk mata Reygan, terlihat empat pria kekar mengenakan stelan jas rapi tengah berbaris rapi, berdiri tegak mengarahkan matanya ke pintu lobi, tanpa bercakap satu sama lain, layaknya patung di tengah keramaian.


Di sela pandangan Reygan, ‘ aneh sekali sikap mereka, seperti tengah menunggu seseorang?,namun sepertinya wajah itu nampak tak asing untukku?, ah sudahlah tujuanmu sekarang adalah balas dendam Reygan!’,gumam Reygan lalu menuruni taxi dan meneruskan tujuannya kembali.


Reygan mempercepat langkah jalan kakinya hendak memasuki rumah sakit itu, dengan mengabaikan sekerumunan pria berdasi yang terlihat juga tak memperhatikan berlalunya, dirinya terus saja berjalan tergesa sembari menanyakan ruangan Allen ackerley kepada pegawai yang dirinya temui.


Setelah mendapat info ruangan keberadaan Allen,kini Reygan semakin memacu kencang langkahnya, bermaksud tak sabar hati untuk menemui wanita itu dan meminta kejelasan mendetail nya.


Akan tetapi setibanya di ujung lorong utama, sebelum menuju pintu itu, terlihat jelas dimatanya kini, beberapa orang tengah berada di kursi tunggu luar dan Callista mengisi jumlah mereka. ’kenapa Tuhan selalu mendahului rencana ku,aiss sialan!’, gumam kesal Reygan lalu membalikan badan, bergegas mengembalikan tubuhnya keluar dari rumah sakit ini.


‘ah sial, jadi bagaimana ini, apa aku harus menunggu sampai semua orang itu pergi, Tuhan kenapa kau tidak berpihak kepadaku’, gumam Reygan di sela perjalanannya keluar.


Disela itu sejenak pandangan Callista yang mengarah ujung lorong sepintas melihat punggung pria yang tak begitu asing menurutnya.’apa itu Reygan,kenapa dia disini,bukanya dirinya tengah demam di rumahnya’ menghapus gumamnya lalu berlari pelan menuju pria yang dilihatnya tadi.