Mysterious Husband

Mysterious Husband
HANCUR DI HATINYA



Disela lamunan Callista, Reygan segera mendongak ke wajah wanita di sampingnya, serta mengakhiri kegiatan menyantap makan itu, sesaat setelah tetesan air jatuh tepat di atas meja di sampingnya,’’Callista, ada apa denganmu kenapa kamu menangis”, lalu menyeka lembut pipi tirus Callista.


Callista perlahan menyahut lembut, kedua tangan Reygan’ di sela kegiatan Reygan menyeka air matanya,’’Rey, sebenarnya aku.....’’.


Akan tetapi kegiatan mesra itu tersela bahkan terhenti segera, ketika Byron berlari kecil, lalu mulai muncul dari balik tabir penyekat, sembari memekik,’’Callista!, Reygan!’’. Sembari terengah-engah, ketika berhenti di depan mata mereka.


Callista sendiri segera dengan cepat’ sejenak memalingkan wajahnya, sembari menyeka wajahnya guna menutupi kesedihannya di mata Byron, serta menunda pengungkapan perasaannya kembali’ terhadap Reygan.’’Ada apa kakek, hingga aku lihat kakek begitu tergesa mendatangi kami?’’.


Terlihat juga Reygan, sejenak menyudahi pertanyaannya tadi, lalu mengarahkan pandangan heran ke arah Byron, sembari menyatukan kedua alisnya.


‘’mari ikuti aku cepat, kalian harus lihat berita di TV sekarang juga, ayo mari cepat’’,sahut Byron, lalu menggandeng Callista dan Reygan,hingga keruangan yang di maksudnya.


Kemudian setelah di ruangan itu, ketika mata mereka semua’ melihat siaran lokal’ pembantaian besar terhadap klan Black bear.’aku harus sesegera mungkin, meninggalkan kota ini sejenak,hingga David berhasil memutus berita ini’,gumam Reygan sembari sejenak menundukkan kepalanya.


‘’apa mungkin?, klan ini pelaku kejadian sedih Wylie dan Allen di malam itu, namun siapa orang yang telah berani melakukan pembantaian keji seperti ini?’’,seru Byron.


‘’kakek ,jika memang benar klan itu, pelakunya, aku akan sangat berterimakasih jika bertemu seseorang penolong keluarga kita. Benar kan Reygan?’’,sahut Callista, lalu mengarahkan wajahnya ke arah Reygan.


Setelah pertanyaan otodidak Callista ke arahnya,Reygan segera mengalihkan wajahnya ke lawan bicaranya,’’o...oh, benar sekali Callista, bahkan aku akan mencium kakinya jika di perlukan’’.


Beberapa puluh menit mereka membicarakan masalah serius ini, kini mereka terlihat’ telah menyudahi tanda tanya besar di hati mereka itu, dan telah kembali terduduk di bangku dapur, guna melanjutkan’ menyantap hidangan tadi, bersama Byron di dalamnya, namun tanda tanya itu tidaklah mengisi hati Reygan, pasalnya dalang di balik pembantaian kejam itu, tidak lain adalah dirinya sendiri.


Sesaat setelah kegiatan itu terselesaikan dan beberapa menit mengisinya dengan perbincangan hangat, kini Reygan hendak melanjutkan keinginannya tadi, guna secepat mungkin meninggalkan Brackhamtom, agar kekejaman dirinya’ tidak tercium di Keluarga Byron,’’tuan Byron,Callista, terimakasih telah menyambut hangat kedatanganku ini, dan Callista’ makananmu sangat enak sekali, baiknya kapan waktu kamu membuat kembali untuk ku, bisa bukan,hahaha’’, seru Reygan sembari mengangkat pelepasannya.


Byron mengikuti mengangkat pelepasannya dan terlihat cucu perempuannya,mengikuti kegiatannya, lalu mendekat kearah Reygan,’’Rey, bahkan jika kau tak keberatan, aku memaksa agar dirimu tinggal bersama keluarga kami’’,sahut Byron


‘’Benar Rey’’,timpal Callista.


‘’tuan Byron, bahkan aku telah meng anggap anda sebagai kakekku sendiri, karena aku kini telah tak memiliki keluarga lain selain kalian, namun keperluan lain memaksa’ untukku segera menyelesaikan masalah itu. Mungkin lain kali aku akan tinggal dan menetap bersama keluarga ini seperti dulu lagi’’,seru penjelasan Reygan.


Setelah penjelasan Reygan, Byron segera merangkul tubuh kekar di depannya,’’Rey, seseringlah mungkin’ mengunjungi kami, bahkan aku kini kesepian setelah Wylie tak bisa lagi menghibur keluarga kecil kami lagi’’,sembari terlarut dalam air matanya.


Disela pelukan kesedihan itu, dengan segera Callista, mengikuti kegiatan kakeknya’ memeluk tubuh Reygan.


Disela kegiatannya mengemudi, kini Callista ingin mengungkapkan perasaannya kembali,’’Reygan, jika aku berkata sesuatu’ yang aneh bila terdengar, aku harap kamu tidak tidak tertawa, apakah kamu bisa berjanji akan itu?’’,sembari tersenyu di hatinya.


‘’Kamu ini aneh' gadis manja, sebentar tertawa, sebentar bersedih, dari kecil hingga gadismu kini aku bahkan tak paham mengenai kebenarannya, hahaha’’,sahut canda Reygan guna menyamarkan.


Sebenarnya Reygan tahu maksud perkataan wanita di sampingnya ini, namun masih seperti awal’ dirinya hingga kini, belum bisa melupakan wajah cantik Jennifer di ingatannya’ yang masih terasa hangat itu, sejak kepergiannya’ di hari lalu.


Bersamaan ketika tawa candaan Reygan, sejenak Callista’sedikit memelankan laju kendaraannya,’’Rey, sebenarnya aku telah menaruh hati kepadamu sedari dulu hingga sekarang, maafkan aku’’, tersenyum manis di sela kegiatannya tanpa menoleh.


Perkataan yang sedari tadi, Reygan takutkan, kini benar terucap’ di bibir tipis itu,hingga Reygan hanya terdiam, lalu menundukkan kepalanya.


Mendengar tak ada sahutan pasti, Callista’ sesekali mengarahkan pandangan ke arah Reygan,lalu kembali menimpali perkataanya,‘’Rey mengapa kau hanya terdiam, apa kau tidak menyukaiku sama sekali’’.


‘’Callista biar aku jelaskan, sebenarnya kisah hidupku selama kepergian kalian sangat lah pelik dan berliku, di sisi lain aku bersedih namun sedikit rasa senang terselip di dalamnya...’’.


Callista segera memotong penjelasan bertele-tele’pria di sampingnya,‘’Rey aku tak butuh penjelasan mu, apa kamu tidak menyukaiku sama sekali!?’’, seru tegas Callista.


Reygan menundukkan dalam’ kepalanya,‘’maafkan aku, namun aku sudah menikah Callista’’.


Reygan berkata seperti itu, agar terhindar dari perkataan tambahan lagi dari Callista, namun perkataannya itu segera menyayat sedih hati Callista seketika itu juga.


Callista mendengar jelas, perkataan pria yang sangat dirinya kagumi’ selama bertahun-tahun itu, segera saja meneteskan air matanya, di sela kegiatannya.


Pasalnya pria itu’ bukan hanya menolak, namun bahkan seolah menegaskan jika kini tidak ada celah bagi hati kecilnya’ untuk sekedar masuk dalam kehidupannya lagi.


Disela pikiran kalutnya, Callista segera menekan gas kendali’ di kakinya, hingga BMW itu memacu kecepatannya di atas sewajarnya’di tengah ramainya lalulintas di siang hari. ‘’Callista hentikan, kita bisa celaka jika kau melakukan hal seperti ini’’.seru Reygan guna menenangkan.


Callista yang tak perduli lagi akan hidupnya’ disela tangisan kesedihannya, dirinya bahkan tak melirik lagi, terlebih mendengar perkataan Reygan, fokusnya kali ini hanya ingin terus memacu mobil ini tanpa tujuan,berharap Reygan menarik perkataannya kembali.


Akan tetapi, belum kering, mulut peringatan Reygan tadi, kini Callista mulai menginjak kuat Rem menggunakan kaki kirinya, ketika sebuah mobil rolls royce hitam, perlahan melintas’ sedikit jauh di depannya. namun naas, cakram di mobilnya itu, tak seperti Rem pesawat jet saat melakukan emergensi mendarat.