
Saat ini Keluarga besar Byron serta Reygan di dalamnya, telah menempati bangku duduknya masing-masing, sembari menghadapkan wajah, ke arah meja ‘oval besar, yang di penuhi oleh aneka hidangan lezat di atasnya .
Karena terbuai oleh suasana suka cita ‘di acara ini, hingga Reygan, sejenak melupakan ‘maksud, serta tujuan hatinya, datang kemari.
Perbincangan seru, serta canda tawa ‘terdengar, sepanjang acara berlangsung, namun ruangan itu perlahan mulai menjadi hening, ketika Haiden ‘ayah Callista, menanyakan statusnya.
‘’Hey anak muda, apakah kamu masih lajang sekarang!?’’.
Reygan yang saat itu, tengah menyantap hidangan di atas lopaknya, segera menepuk dadanya sendiri beberapakali, ‘karena tersedak, lalu dengan cepat meminum sedikit air mineral di cawan,’’Tuan Haiden apa maksud dari perkataan Anda barusan?’’.
‘’sudah jawab saja Reygan. Kamu tahukan, jika putriku Callista sangat cantik?’’, seru goda Haiden.
Sedari awal perkataan Haiden terlontar, masing-masing anggota keluarga itu, telah menyingkirkan sejenak hidangan didepannya, dan kini tengah menyilang kan kedua tangan mereka di meja, sembari menyiapkan pendengaran jawaban ‘dari Reygan.
Lain halnya dengan Callista, dirinya sendiri sedari tadi memang terus memandangi wajah Reygan, namun ketika perkataan ayahnya terlontar, dirinya segera tersenyum manis, hingga napak merona merah di pipi tirusnya.
Akan tetapi dengan tak sengaja, Reygan mengalihkan pandangan ke arah Callista, hingga memergoki senyuman serta raut wajah bahagian nya,‘’Hey!, putri manja, kenapa kamu menatapku seperti itu?’’.
Karena terkejut, akan perkataan Reygan barusan, Callista segera mengalihkan wajahnya ke samping,‘’aku hanya, tak mengapa, tak usah di bahas Reygan tak penting’’,sahut Callista, berbahasa rancu ‘tak beraturan.
Semua mata yang melihat kejadian itu segera tertawa lucu
Hahaha hahaha,
‘’ayolah Callista, bicara apa kamu ini?’’.
‘’bukankah Reygan terlihat tampan?’’.
Byron salah seorang, yang menyaksikan serta mendengar, kejadian lucu itu, kini ikut menimpali sahutan keluarganya, ‘’Kalian sangat serasi, mungkin Reygan akan resmi menjadi cucuku sebentar lagi?,hahahaha’’,seru tawa menggoda Byron sembari berharap di hatinya.
Saat itu Byron serta keluarga besarnya memanglah belum mengetahui, mengenai status Reygan, terlebih meninggalnya Nixon ‘ayah Reygan. Hingga gelak tawan mereka berkumandang guna menggoda sepasang muda mudi itu.
Bersamaan dengan tawan goda itu, Reygan dan Calista menjadi salah tingkah, hingga masing-masing dari mereka memalingkan wajah bertolakan, sembari menahan senyum bahagia.
Sembari tertawa, Haidan berulangkali mengarahkan wajah bahagianya ke arah Reygan dan putrinya, lalu setelahnya meredam sejenak menyudahi kegiatannya,‘’Rey, kapan waktu, ajak ayahmu untuk datang kemari, karena aku ingin Nixon mendapati kejadian lucu ini, hahaha’’.
‘’Kalian memang serasi, pasti akan lebih baik, jika kalian segera melakukan upacara pernikahan esok lusa’’,sahut timpal Byron, guna melengkapi godaan itu.
hingga setelah itu, nampak sorak sorai 'bersahutan meriah, memenuhi ruangan, dengan iringan tawa, guna menggoda sepasang muda mudi tersebut.
Saat ini warna merah muda di pipi Callista ‘semakin nampak jelas terlihat, dan hal itu menandakan, jika hatinya tengah merasakan gejolak kebahagiaan yang teramat besar.
Sebenarnya, bersamaan dengan godaan keluarganya yang berlangsung hingga saat ini. Callista sendiri berkeinginan, untuk mengutarakan perasaan cintanya terhadap pria idamannya sedari dulu yaitu ‘Reygan, namun karena perasaan ragu serta malu, hingga dirinya mengabaikan ajakan hatinya, dan lebih memilih ‘mengunci mulutnya rapat-rapat.
Sahutan,tawa serta godaan itu perlahan terhenti, dan seakan kompak, semua anggota keluarga itu, mengarahkan pandangannya ke arah Reygan.
Reygan sendiri terlihat mengarahkan pandangannya ‘tertunduk kebawah, sedari pembahasan mengenai ayahnya.
‘’Reygan, ada apa denganmu, apa ada yang salah dengan perkataan kami barusan, hingga kamu terlihat semurung ini?’’,seru Haidan.
Perlahan Reygan mengarahkan wajahnya ke sumber suara, sembari membenahi sikap duduknya,’’ tuan Haidan, maaf karena mungkin wajah murung ku menggangu kegiatan acara Anda malam ini, dan mengenai ayahku Nixon’’.
Sejenak Reygan menundukkan kepalanya lagi, lalu menimpali perkataannya,’’ dua tahun ‘setelah kepergian kalian, beliau telah pergi jauh, hingga meninggalkan dunia ini ‘selama-lamanya’’.
’’apa maksud dari perkataan mu Reygan!’’, teriak Haidan.
Sebenarnya Haidan menangkap paham arti perkataan dari pria di depannya, namun dirinya seakan tak percaya, dan belum siap menerima berita duka ini.
Setelah teriakannya, perlahan Haidan menurunkan pandangan serta wajahnya,’’kenapa,apa yang sudah aku lakukan.maafkan sahabatmu ini 'Nixon, hingga tak mengetahui kabar berita ini’’.
Kesedihan Haidan, kini mulai terikuti oleh keluarga besarnya, karena mereka ‘juga telah, dengan tulus, menganggap Nixon serta Reygan ‘selayaknya, satu kesatuan keluarga yang utuh. hingga berita meninggalnya Nixon, menjadi tamparan keras 'menambah kesedihan di dalam hati masing-masing.
Callista sendiri juga meng'kesampingkan perasaan cintanya terhadap Reygan tadi, dan kini dirinya menundukkan kepalanya dalam, sembari mengikuti kesedihan itu.
Beberapa menit setelah kesunyian di ruangan itu, perlahan Tuan Byron mulai keluar dari kursi duduknya, lalu berjalan mendekat ‘ke arah bangku Reygan.
‘’Reygan, maafkan kami. Aku mewakili semua orang disini ikut ‘turut berduka, atas kepergian ayahmu. Secara pribadi, bahkan aku telah menganggap ayahmu sebagai anakku sendiri, dengan tak pernah membedakan, baik Haiden ataupun Nixon.
Kemudian kini Byron mulai menjelaskan ’kenapa serta mengapa, keluarganya pergi begitu saja dari Brackhamtom city, hingga terkesan seperti mengabaikan Reygan dan juga Nixon.
Sebenarnya, Kepergian keluarga besar ini, disebabkan, oleh adanya masalah ekonomi pelik, karena tumpukan hutang yang terus membengkak ‘di City bank. Hal itu terjadi karena kebodohan Byron, hingga terbuai, oleh janji manis serta keuntungan yang dijanjikan ‘dari rekan bisnisnya.
Karena Byron tanpa ‘berpikir, ataupun memperhitungkan, sistematis cara kerja, dirinya segera menjaminkan segala aset ‘di setiap perusahaan, termasuk rumah serta fasilitas mewah ‘di dalamnya, guna mengambil uang sejumlah miliaran dolar ‘dari city bank. Setelah mengambil uang itu, pikirannya hanyalah ‘agar sayap di bisnisnya, dapat mengepak tinggi.
Akan tetapi, investasi besar ke relasi bisnisnya itu ‘adalah awal, dari kehancuran keluarganya. Pasalnya keuntungan yang dijanjikan, hanya bertahan beberapa bulan saja, dan setelah itu ‘relasi bisnis, yang sangat dirinya percayai, tiba-tiba saja menghilang, bersama perusahaannya.
Tahun demi tahun berlalu, karena semua jaminan itu tak mampu menutupi bunga pinjaman, hingga dengan sangat terpaksa, Byron secara diam-diam, memandu keluarganya agar meninggalkan Nixon,Reygan serta Brackhamtom city, menuju ke teluk Algonquin. Dipikiran Byron saat itu, hanya tak ingin ‘Nixon dan juga Reygan, merasakan kepedihan keluarga ini.
Dan demi bertahan hidup di teluk itu, keluarga Byron memaksakan diri, menjadi seorang nelayan, dengan membuat perahu rakit ‘desain mereka, dari sisa kayu seadanya ‘disana.
Lalu kembalinya mereka ke kota ini, karena terdengarnya informasi penting, jika perusahaan besar di Brackhamtom city, tengah mengadakan kontrak kerja sama ’bernilai fantastis, hingga mereka mencoba memberanikan diri, untuk berpartisipasi ‘di dalamnya. Dilain untuk peruntungan, sebenarnya juga memang tepat, karena basic dasar keluarga Byron ‘adalah kontraktor.
Akan tetapi Perjuangan mereka belum berakhir, karena tak ada modal awal, untuk mendirikan perusahaan kecil, hingga Byron ‘berbelas kasih, menghinakan diri, guna meminjam ‘sedikit dana, dari keluarga arkerley ‘istri wylie. Dan karena modal itu, hingga mereka membeli sebuah perusahaan failed, beserta rumah tak terpakai, guna melanjutkan niat awalnya ‘datang ke Brackhamtom city, kembali.
Setelah penjelasan panjangnya, kini Byron segera merangkul pria di hadapannya,‘’Maafkan kami Rey, hingga dirimu harus mendengar cerita kesedihan ini’’.
Sebab penjelasan Byron, yang mengukil kilas balik ‘seluruh kepedihan mereka, kini terlihat di pandangan Reygan 'seluruh mata di ruangan itu, tengah meneteskan air asinnya.
‘’kejadian yang sudah berlalu, biarlah menghilang bersama dengan waktu, yang akan mampu menghapusnya’’, sahut Reygan.
Reygan terus saja mengucapkan serangkaian kata bijak, guna memberikan motivasi, hingga karena perkataan itu, kini secara perlahan ‘acara pesta, kembali seperti apa yang di harapkan.
Berbeda dengan ‘perasaan hati semua orang, yang kini mungkin tengah bergembira kembali, Reygan sendiri hanya berpura-pura memasang wajah cerah.
Sebenarnya Reygan tak akan pernah bisa, untuk mengikuti’ semua perkataan bijaknya tadi, karena memang musibah tabrak lari, yang menewaskan ayahnya itu, menjadi pukulan keras bagi hidupnya.
Pesta kebahagiaan itu, kini akhirnya telah berujung, karena waktu yang tak mungkin, untuk mereka tahan.
Reygan yang sudah berjanji kepada Jennifer, untuk tak pulang larut malam, kini segera berpamitan guna mengakhiri kunjungannya, namun niat serta langkah kakinya sejenak tertahan, ketika tangan tanggung, memegang kedua bahu kekarnya.
‘’Reygan, kau adalah satu-satunya pria tangguh melebihi aku di keluarga ini, jadi aku mohon agar dirimu selalu menjaga ‘mereka. Berkunjunglah ke tempat ini sesering mungkin Reygan’’,sahut Wylie, lalu memeluk Reygan.
Sejenak Reygan membalas pelukan persahabatan itu, sembari tersenyum,‘’dengar saudaraku, aku berjanji akan berkunjung lain waktu, dan aku pria sejati, jadi kau bisa pegang perkataan ku’’.
Puluhan pasang mata kini menatap haru ke arah Wylie dan Reygan.
Bersamaan dengan arah pandangan harunya,‘andai saja pernikahan Reygan dengan Callista benar adanya, mungkin keluarga ini akan terlihat lebih sempurna lagi’,gumamnya.
Saat ini Reygan benar-benar telah pergi dari kediaman itu, menggunakan jasa taxi, guna mengantar kepergiannya, karena menolak hantaran serta ajakan menginap ‘dari keluarga Byron.
Puluhan menit berlalu, kini mobil kuning ‘berisi Reygan didalamnya, tengah menaruh tubuhnya di depan pintu loby ‘apartemant mewah.
Perlahan Reygan menapakkan kakinya ketanah secara bergantian, lalu berjalan pelan ke arah muka loby Apartemant nya, namun ditengah perjalanannya, dirinya segera menengok kebelakang, ketika mendengar jelas, suara dentuman alas kaki mendekatinya.
Pandangan matanya kini ‘melihat jelas, sebuah benda tajam, tengah mengarah ke tengkuk lehernya.