Mysterious Husband

Mysterious Husband
PILIHAN MEMBINGUNGKAN 1



Kemudian selepas cerita itu berakhir, kini tangan halus milik Olivia, perlahan mulai mengarahkan sendok logam berisi bubur gandum ke arah mulut Reygan, sembari berkata manja di iringi gesture menggoda,’’tuan muda, maafkan aku jika perbuatan ku ini mungkin terlihat tidak sopan di mata Anda, namun semua ini aku lakukan karena aku hanya seorang wanita normal, yang tengah terpikat hati, oleh seorang pria berparas tampan’’, lalu tersenyum manis.


Mengalihkan wajah hingga berdiri memunggungi lawan bicaranya,‘’Olivia, aku sangat berterimakasih, atas semua kebaikanmu sedari tadi dan bahkan hingga kini terhadapku, namun untuk menjawab pembicaraanmu barusan. Maafkan aku, jika yang kau maksud ketertarikan itu terhadap diriku, mungkin lebih baik urungkan saja niatmu, lalu segera cari pria lain’’, sahut Reygan.


Olivia yang mengerti akan maksud penjelasan, dari pria di depannya itu, kini perasaan di hatinya segera hancur lebur, hingga telah pupus sudah di setiap harapan terhadap Reygan.


Akan tetapi, karena sebuah gengsi atau semacamnya, kini guna untuk menyamarkan rasa sakit di hatinya, Olivia segera menormalkan raut wajahnya ‘kembali, menjadi seperti biasa, lalu berdiri, dan berjalan sedikit memutar, hingga menghadapkan ‘muka, ke arah lawan bicaranya, sembari tersenyum lucu,’’ tuan, maafkan juga sebelumnya, mungkin anda salah menangkap menenai maksud perkatan ku tadi. Sebenarnya perkataan tadi bermaksud aku hendak meminta pendapat Anda saja, mengenai perasaan hatiku terhadap seseorang pria tampan di luar sana’’.


‘’kalau begitu maafkanlah aku Olivia, jika mungkin aku terlalu percaya diri, hingga berpikiran seperti itu’’.


Hahahah! Hahaha!


Tawa ‘palsu, dari masing-masing makhluk di ruangan itu, terdengar samar, mengisi seluruh sudut ruangan.


‘kau pikir aku bodoh’,gumam Reygan di sela gelak tawa.


Suara tawa itu perlahan memelan hingga terselesaikan, ketika pintu ‘kamar, terbuka cepat, ulah seseorang wanita yang sangat mereka kenal.


Jeglek! Ngik!


Suara pintu, hingga terbuka Lebar.


Terlihat seorang wanita muda berkaki jenjang, tengah berdiri di mulut pintu, sembari menyeka rambut coklat redup miliknya, hingga mengarahkan pandangan kedua mata sembabnya seusai menangis, lurus ke depan, memandangi sesosok pria di hadapannya.


Sejenak Reygan melihat pemandangan itu, lalu perlahan menurunkan dagunya,’raut wajah itu, kenapa hatiku mengikuti arus kesedihannya’,gumamnya.


Sebenarnya, Jennifer sengaja menginap di kediaman Lewis ini, dengan menjadikan larut malam sebagai alasan kepada rekannya, dan hal itu dikarenakan dirinya telah mengetahui, jika kepergian Reygan sewaktu tadi batal dilakukan. Kemudian Jennifer sendiri berusaha keras, menahan rekannya, untuk terus berada di ruangan kamar tadi, dengan mengajaknya bercengkrama ria, membahas mengenai pria-pria kaya serta tampan selain Reygan di Evershead.


Diketahui maksud tujuan Jennifer melakukan pembahasan itu, adalah tidak lain dan tidak bukan, hanya agar Olivia segera melupakan keberadaan Reygan.


Bersama dengan gumaman pria di hadapannya, kini Olivia segera menyerongkan tubuhnya, lalu berjalan mendatangi wanita di mulut pintu itu,’’Jennifer, kamu kenapa, hingga kulihat matamu sembab seperti itu?’’.


Mengingat beberapa memori manis di otaknya mengenai kisah manis hubungan pertemanannya terhadap Olivia, hingga Jennifer sejenak mengabaikan Reygan, dengan mengalihkan pandangannya tadi, ke arah rekannya, lalu berlari kecil, dan merangkul erat tubuh rekannya,’’Olivia maafkan aku, karena aku memang bukan sahabat yang baik untukmu’’, sembari menitihkan beberapa tetes air dari matanya.


‘’kenapa, apa maksud dari perkataan mu Jennifer, aku sama sekali tak mengerti, lalu apa hal hingga membuat kau menangis seperti ini?’’, sahut Olivia seraya mengelus-elus ‘pelan, tubuh rekan di sela pelukan.


Puluhan detik berlalu, dan tak terdengar adanya sahutan selain suara tangis tersendan dari mulut rekannya, kini Olivia sejenak menyudahi rangkulan itu, lalu sejenak menoleh ke arah samping,’’tuan maafkan kejadian ini, maaf juga jika telah mengganggu waktu istirahat Anda’’.


Selepas perkataannya, Olivia segera berjalan ke arah meja, guna meletakkan mangkuk tadi, lalu kembali mendatangi Jennifer,’’sudahlah, setelah ini aku akan mendengar semua ceritamu, dan sekarang ayo Jenn, kita lekas kembali ke kamar’’, lalu menyahut lembut bahu rekannya, guna memandu perjalanan.


Saat ini terlihat Reygan telah memposisikan tubuhnya, menjadi berbaring di atas ranjang kembali, sembari terjaga dan mengarahkan pandangan ke arah langit-langit.


Beberapa menit di sela kegiatannya itu, kini Reygan mulai tersenyum-senyum sendiri, sembari berulang kali menyeka wajahnya, ketika tingkah lucu, hingga semua perhatian Jennifer dulu terhadapnya, mulai mengisi penuh otaknya.


Bersama dengan pikirannya itu, Reygan segera menarik nafas dalam, lalu menghebuskannya secara perlahan,’’haaaaahh’’.


’dasar kau jennifer, aku tahu jika semua tingkah anehmu sedari tadi, adalah hanya karena ulah kecemburuan. Bahkan aku tetap akan mengetahui, jika kamu masih menyukaiku, meski kamu sempat memakiku tadi. Dan sebenarnya aku juga......’,gumam Reygan sembari tersenyum.


Akan tetapi senyuman hingga gumaman kekagumannya tehadap Jennifer, segera tersela, hingga tak terselesaikan, ketika wanita lain bernamakan Calista, ikut terlintas juga di pikiran Reygan.


Hingga karena ulah pikirannya barusan, Reygan segera memposisikan tubuhnya terduduk, lalu menyahut ransel di sampingnya, guna mengambil benda tipis miliknya di dalam sana.


Kemudian setelah terdapati benda yang di cari,


Saat ini kedua bola mata Reygan segera menatap kejut, ke arah layar, ketika puluhan panggilan tak terjawab, yang kebanyakan beratas namakan Callista, berbaris rapi hingga bawah.


‘’aisshhh sialan!. Maafkan aku Callista, hingga mungkin kamu mendatangi apartemen ku tadi, sedang aku tak berada di sana’’.


Dirasa tak mungkin menghubungi kekasihnya, selarut malam seperti ini, hingga Reygan segera memandu beberapa jarinya, guna mengetik sederetan ungkapan kata-kata manis, untuk mendapatkan permintaan maaf, dari seorang wanita tujuan pesan di kegiatannya.


Dan setelahnya, Reygan juga mengirim pesan, hingga melakukan panggilan balasan, kepada nama-nama, yang terlebih dulu menghubungi dirinya tadi.


Hingga puluhan menit berlalu, bersama dengan Reygan yang masih tetap terjaga, kini dirinya mulai berjalan mengeluari pintu kamar, karena ulah rasa haus, yang tak mungkin dirinya hilangkan, dengan meminum wine di atas meja samping ranjangnya.


Akan tetapi langkah perjalanannya, sempat terhenti untuk beberapa detik, lalu dengan cepat Reygan mengabaikan rasa hausnya, dengan memutar haluan menuju sumber suara.


Reygan yang kini tengah berdiri di balik pintu kamar Olivia, dengan sengaja mendengarkan seluruh pembahasan serius, hingga canda tawa mereka.


Suara pembahasan itu sendiri, terdengar sedikit samar, namun cukup jelas untuk Reygan pahami maksud serta artinya.


Hingga karena telah cukup terkantongi semua segala informasi yang di butuhkan, Reygan segera menjauhkan tubuh dari pintu, sembari mengepalkan kedua tangannya, dengan mata merah sedikit berkaca, 'aku akan membalas!, aku akan membalas semuanya',gumam kekesalan Reygan.


Pembahasan itu, telah mengukil kisah manis serta sejarah kebencian di hati Reygan, yang dulu sempat dirinya lupakan, hingga Reygan pernah berpikir untuk menutup rapat-rapat, demi mematuhi wasiat ayahnya, sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Akan tetapi karena ulah kedua kaum hawa itu, yang telah banyak membahas mengenai kilas balik mengenai kesedihan kehidupan Reygan di masa lalunya dulu, hingga kini sifat binatang, yang pernah Reygan miliki dulu, dengan terpaksa harus kembali dirinya bongkar.