
Suara mesin halus mobil BMW 320i itu, terdengar jelas hingga ke dalam rumah.
Ellena yang sudah berada di depan pintu,
Sebenarnya Elena, tak sanggup untuk menemui suaminya saat ini, teringat bayangan kejadian memalukan tadi, masih segar di pikiran nya kini, namun segera saja, seakan tak perduli lagi, dipikirannya kini, akan ‘entah apa perlakuan Reygan terhadapnya nanti.
Dengan segera, Ellena membuka pintu rumah,
Ceklek!
‘’Reygan maafkan aku!, aku menyesal!’’,seru Ellena seraya air mata tulus membasahi pipinya.
Akan tetapi, jauh dari pikirannya tadi, bahkan nampak Reygan menyambutnya dengan hangat, sembari meyeru lembut memanggilnya.
‘’Ellena, kemarilah! aku membelikan cake untukmu dan juga telah menyiapkan beberapa hidangan lezat di makan’’,lalu menggaruk kepalanya sembari menimpali perkataannya, ’’aku berpikir akan merayakan sendirian acara ini’’, senyum dan sesekali memalingkan pandangan.
Kemudian sejenak Reygan terdiam, sembari menatap fokus ke arah Ellena, yang dilihatnya hanya terdiam membisu, seraya memandang ke arahnya, dengan tatapan mata sendunya, terlebih nampak wanita di depannya itu sesekali membasuh air di matanya, mengenakan kedua tangannya.
Hati Reygan sendiri sebenarnya telah hancur malam ini, namun beberapa menit melihat kondisi Ellena saat itu, dirinya tak kuasa dan segera menyambung perkataannya kembali dengan lembut,‘’Ellena, bukankah hari ini’ adalah anniversary pertemuan pertama kita’ di danau itu, mari silahkan, ikuti aku, guna duduk di sana, dan aku telah selesai memasak makanan untukmu’’,lalu mengarahkan tangannya guna menyambut.
Tanpa berkata, tepat setelah perkataan lembut Reygan terdengar di telinganya, Ellena segera saja berlari menuju Reygan, lalu memeluknya dengan sangat erat, dan kini air matanya telah terseka, hingga membasahi dada bidang pria dalam rangkulan kesedihannya.
Akan tetapi di sela pelukan itu, Reygan sendiri, dengan sengaja membiarkan kegiatan Ellena, tanpa membalasnya.
Beberapa menit setelah suasana hening itu, Elena perlahan mengarahkan wajah dan mata sembabnya, dengan mendongak perlahan, di sela tangis ke arah suaminya,‘’sa..sayang, kamu masih mengingat kenangan di danau itu, lalu mengapa dirimu begitu baik kepadaku’’,mengeratkat pelukannya,’’apa kamu masih mencintaiku Reygan ?’’.
Kemudian Reygan membelai pelan rambut Ellena ke belakang,‘’ Ellena, tentu saja aku ingat dan akan selalu mengingat kenangan kita’’, lalu perlahan melepaskan pelukan Ellena, dan menimpali kembali perkataannya, ’’ sekarang mari sebaiknya segera ikuti aku, sebelum hidangan itu dingin’’,tersenyum sembari menyahut lembut tangan Ellena, guna menuntun, mengarahkan ke tempat yang di maksud.
Reygan seakan enggan, sehingga mengalihkan tanya Ellena, serta tak ingin menjelaskan penantiannya di danau, jika sejak enam bulan terakhir, dirinya lebih sering menghabiskan waktu di sana, setiap sore harinya, guna menunggu janji gadis manjanya itu, karena kesedihan yang tengah dirinya rasakan kini.
Kemudian setelah berada di ruangan dapur, dimana hidangan telah rapi tertata, di atas meja.
Pandangan mata Ellena kini menjadi sayu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lelaki di sampingnya,‘’Aku mencintaimu Reygan’’, memeluk kembali tubuh suaminya,’’sayang, aku mohon maafkan semua kesalahanku’’,tangisnya pecah.
Romantisme seperti dua tahun lalu, saat ini terulang kembali, namun Reygan tak membalas kembali, semua perkataan Ellena.
Reygan segera mengalihkan pembicaraan,‘’sudah jangan menangis lagi Ellena, kau membuatku bersedih mendengar tangis cengeng mu’’, perlahan mencoba melepaskan pelukan istri nya kembali.
Disela kegiatan Reygan,‘’sayang benarkah ini dirimu?, benarkah tadi juga kamu sewaktu di......’’.
Reygan segera menyela perkataan Ellena, dengan mengarahkan jari telunjuknya, hingga menempel di bibir mungil istrinya,‘’sssstttt! sudahlah, jangan bahas masalah itu, ini hari spesial untuk kita’’.
Kemudian Reygan memegang tangan Ellena, lalu mengarahkannya, untuk segera menaruh pelepasan ke bangku di depan mereka.
Beberapa puluh menit acara itu telah terlewati, dan kini hati Ellena mulai bercampur aduk, rasa penyesalan hebat telah menyelimuti hatinya, terlebih sedari tadi hingga kini, perlakuan pria di depannya itu, terus saja bersikap ramah dan lembut kepadanya.
Ellena menikmati hidangan di di depan matanya, di iringi Reygan yang tampak romantis dan selalu perhatian penuh terhadapnya, perasaan berbunga-bunga di penuhi cinta, kini hatinya untuk pria di depannya.
Waktu kian cepat berlalu, dan acara itu terkalahkan olehnya.
Ellena segera berkata lembut, sesaat setelah Reygan hendak membereskan semua perkakas kotor di meja itu,‘’Sayang!, biar aku saja, ini akan menjadi tugasku sebagi seorang istri’’,seru Ellena sembari merebut benda kotor itu dari tangan Regan.
Reygan terdiam sejenak, sembari mengarahkan pandangan heran di sela kegiatan Ellena, karena peristiwa yang tak pernah terjadi di pernikahannya selama ini, dan malam ini telah terjadi begitu saja.
Kemudian Reygan segera tersadar dari keterkejutannya, lalu berjalan mendekat ke arah wastafel, sembari membersihkan perkakas kotor di tangannya ‘’sudah sampai sini saja Ellena, sebaiknya kamu istirahat, aku takut tangan halus mulus mu, akan kasar jika melakukan ini’’, tersenyum.
Tanpa menggubris perkataan itu, setelah Ellena selesai mengangkuti semua benda kotor itu dari meja, dengan cepat tangan mulus Ellena segera mengambil piring kotor di tangan Reygan, lalu menggeser posisi suaminya, hingga ke belakang punggungnya.
Ellena sejenak menengok kebelakang,‘’Aku istrimu Reygan, dan akan tetap menjadi istrimu,dan jangan cemaskan tanganku mulai saat ini, kegiatan ini bukan untuk dirimu lagi’’,tersenyum manis ke arah Reygan lalu melanjutkan kegiatannya.
Reygan memandangi punggung Ellena di sela kegiatannya, ‘Ellena, maafkan aku, mungkin malam ini akan menjadi sebuah kenangan terakhir kita’ ,gumam Reygan dalam hati, sembari tersenyum.
Karena Enam bulan terakhir ini, Reygan tidur di kamar tamu, dan hanya ke kamar utama guna mengambil baju salin nya saja, dirinya juga tak pernah menjamah tubuh indah istrinya selama itu.
Akan tetapi saat ini ,tiba-tiba saja Ellena membalik tubuhnya, lalu mengarahkan wajah cantiknya, sembari berjalan maju sangat dekat ke arah Reygan, hingga kedua hidung kini saling bersentuhan dengan tangan yang telah melingkar di tubuh pria di depannya,
Kemudian dengan pelan Ellena mengarahkan bibir tipisnya, untuk beradu mesra, seraya menekan tengkuk Reygan, guna memperdalam kegiatannya.
Emmhhhhhh! Emmmh!
Ellena mencium suaminya dan merasakan kenyamanan dari semua kegiatan ini, namun merasakan pembawaan Reygan yang begitu tenang, hingga kini air mata mulai menetes di sela kegiatannya, dan perlahan jatuh mebasahi pipinya.
Segera Reygan tersadar dan menghentikan kegiatan itu,‘’Ellena, ini sudah hampir pagi, sebaiknya kita segera beristirahat saja’’, sembari mengusap air mata Ellena lalu membalikkan badan, berjalan mengarah ke kamar nya.
Di saat kepergian Reygan, yang seakan tak memperdulikan dirinya lagi, Ellena segera memekik keras,‘’Reygan!, apa kamu tidak menginginkan tubuh ku lagi!?’’, lalu tersungkur lemas dalam tangisnya.
Reygan yang kini telah sampai di depan kamarnya,‘’maafkan perilaku burukku ini Ellena’’,gumam pelan Reygan, sembari menutup pintu kamarnya.
Suara tangis Ellena, serta air matanya, kini mulai mendalam setelah berlalunya Reygan, lalu sedikit ingatan memorinya mulai mengukil kembali, kilas balik kenangan di sebuah danau, ketika pandangan matanya mengarah dinding , mengarah ke sederet kata, yang dengan sengaja Reygan menyusun menggunakan balon menjadi kata ,’Happy anniversary 2 thn danau kenangan kita’.
Hingga setelah terbaca beberapa kata itu, kini air asin Ellena seakan tak terbendung lagi untuk keluar dari sumbernya, sembari mendalamkan tunduk penyesalannya.
Kemudian Setelah berlarut dalam kesedihannya itu, kini Ellena berjalan terhuyung lemas tak bertenaga’ menaiki belasan anak tangga mengarah kamar utama,’Reygan aku pantas, mendapatkan ini semua, namun semoga saja keadaan akan berubah esok paginya, dan dirimu akan memaafkan kesalahanku, lalu aku akan berjanji untuk mengubah semua prilakuku. Aku tak ingin kehilangan dirimu Reygan’, gumam harap Ellena di sela tangisnya.
Disela terbaring nya Reygan di ranjang tidur, Pikiran nya kini terjebak di moments indah bersama Ellena, akan tetapi iblis dengan cepat mengalihkan, sehingga memaksanya untuk mengingat kejadian pahit pandangannya, di kamar hotel itu,‘’Maafkan aku Ellena, mungkin aku akan belajar hidup tanpamu selamanya‘’, sedikit tetesan air mata sebelum tertidur nya.
Beberapa bulan ini memang hubungan mereka sedikit tidak harmonis,terlebih kejadian di silver hotel itu, yang tak akan pernah terlupa di ingatan Reygan, terlebih Esseley’ ibu mertuanya, adalah makhluk penggila harta, dan selalu saja membandingkan, dirinya dengan pria kaya diluar sana, yang katanya lebih layak untuk mendapatkan hati putri cantiknya.
Akan tetapi, suatu saat nanti, Esseley akan membalik opininya sendiri, jikalau pria diluar sana, tidak akan pernah sebanding dan tak akan mampu bersaing dengan Reygan Adolf hitler.