
Sejenak Reygan memegang kedua pipi tirus itu, lalu menggerakkan ibu jarinya, guna menyeka sedikit tetesan air di sana,‘’gadis manja, kita masih di depan pintu, bagaimana jika kita sambung perbincangan ini di dalam’’.
Akan tetapi Callista sedikit melupakan kesedihan di hatinya, ketika kedua tangan kekar itu, segera mengangkat tubuh langsingnya,’’Rey, kamu bilang tubuhku terlalu berat’’.
‘’sudah diamlah, jika bukan karena sakit di lutut mu, aku tak ingin melakukan kegiatan melelahkan seperti ini,hahaha’’,sahut Reygan.
Reygan memasuki unitnya, lalu menutup pintu menggunakan sebelah kakinya, karena tengah membawa beban ‘di kedua tangannya, kemudian berjalan santai hingga menuju sofa di ruangan utama, dan perlahan menaruh tubuh Callista di situ. ’’kenapa sedari tadi, dirimu terus saja memandangku, sembari mengarahkan senyum anehmu Calista’’.
’’tak mengapa, aku hanya senang melihatmu kelelahan seperti ini’’, sahut Callista sembari bersedekap dan membuang muka guna menutupi rona merah di pipinya.
Mendengar gesture serta penjelasan lucu itu, dengan segera Reygan mengarahkan kedua tangannya ke depan, lalu menggelitik tubuh wanita di depannya,’’ohhh, jadi kau senang jika aku menderita, sekarang akan kubalas perbuatanmu barusan’’.
Bersamaan dengan kegiatan candaan mereka, Callista sendiri, terus saja memaku kan pandangan ke arah wajah ‘pria di hadapannya, hingga karena itu, kini sejenak kesedihan di hatinya ‘kembali muncul, ’Rey sebenarnya aku tahu jika kamu tengah menyembunyikan banyak hal terhadapku, namun entah mengapa, kini aku seperti tak mempunyai nyali, untuk sekedar menanyakannya langsung ‘setelah melihat senyuman tulus di wajahmu seperti ini. Dan andai sekarang kamu tahu perasaan ku Reygan, jika hatiku semakin tak bisa jauh darimu’,gumam Callista.
Beberapa menit kegiatan itu berlangsung, kini segera terhenti ketika tanpa sengaja, Callista menarik kedua tangan pria di hadapannya, hingga tubuh kekar itu menimpa tubuh langsingnya.
Seper sekian detik, karena ulah Callista, kini seluruh ruangan itu menjadi hening, namun setelahnya Reygan segera tersadar dan membuat posisi tubuhnya menjadi berdiri tegak, dan dirinya perlahan mengalihkan pandangannya ‘ke segala arah, sembari membenahi baju, guna menyamarkan debaran aneh di jantungnya,’’emm aku lupa Callista, meja ini terlalu sunyi, jadi tunggu sebentar, aku segera kembali ‘bersama Camilan ringan di tanganku’’.
Callista yang belum sepenuhnya tersadar akan hal, yang terjadi karena tak ketersengajaan itu pun ‘tak menyahut perkataan, hingga berlalunya Reygan ‘dari hadapannya.
Perlakuan aneh Callista barusan, karena dirinya juga merasakan debaran serupa ‘seperti apa yang di alami Reygan tadi.
Tak butuh waktu lama ‘setelah ketersadaran penuh Callista, kini Reygan telah kembali ke tempat semula, sembari membawa beberapa camilan dan air mineral kemasan berbungkus,’’silahkan gadis manja, kamu bisa menghabiskannya jika mau, stockku sangat banyak di almari pendingin’’, lalu menaruh di atas meja.
Setelah meletakkan semua bawaannya, Reygan segera menimpali perkataannya kembali,’’Callista kamu tunggu saja di sini, dan beristirahatlah sejenak, aku akan memanaskan sedikit air, untuk mengkompres lukamu setelah ini’’.
Karena canggung, Callista segera merapatkan posisi duduknya, sembari menurunkan pandangan dan membelai pelan rambutnya, ke arah samping,‘’Terimakasih Rey’’.
Sebelum Reygan pergi ke dapur, dirinya menyempatkan diri mengarahkan kaki, mendekat ke kotak P3K, lalu menuju wastafel, guna menyahut perlengkapan, untuk mengganti perban luka di perutnya ‘secara cepat.
Kemudian saat ini terlihat di dapur, Reygan yang sudah mengenakan celemek khas pelayan, tengah menekan tombol, guna menyalakan kedua sumber api, di tungku itu, lalu perlahan mempersiapkan kedua wadah alumunium berbeda, untuk menampung.
Hingga beberapa menit berlalu, kini semua kegiatan Reygan di dapur telah terselesaikan, dan perlahan dirinya menuang air hangat itu ‘ke dalam wadah, lalu menyiapkan handuk kecil, guna persiapan kegiatan selanjutnya.
Setelahnya Reygan di ruang utama, terlihat di pandangan Reygan sofa itu sudah tak berpenghuni, bahkan tampak tak ada tanda kehidupan di ruangan itu.
Melihat itu sejenak Reygan mematung kan badan, sembari mengarahkan pandangan ke sekitar ruangan yang nampak berbeda dari awal kedatangannya tadi, kini terlihat lebih bersih dan tertata rapi semua barang yang berserakan, hingga dirinya berpikiran, mungkin orang yang di carinya ‘tengah berada di ruangan lain, guna membersihkannya.
Perlahan Reygan menaruh wadah air, yang di bawanya tadi di samping sofa, lalu berjalan menyisir sekat demi sekat ‘ruang sempit unitnya,’’Callista, sudah aku bisa membersihkan unit apartemant ini sendiri’’.
Akan tetapi semua pencarian dan seruan Reygan nihil ‘tak ada hasil, namun ketika Reygan memasuki ruangan kamarnya, dengan tak sengaja pandangannya terfokus ke arah benda kotak putih berukuran sedang ‘tergeletak di atas ranjangnya.
Perlahan Reygan mendekat dan menyahut benda itu,’’ kenapa tas makeup ini di atas ranjang ku?’’.
Beberapa detik berlalu, kini ingatan Reygan segera menangkap paham, mengenai mengapa menghilangnya Callista secara mendadak. ’’aiss, sialan!, Callista!’’.
Pada waktu itu, karena terburu-buru terlebih gejolak kesedihan yang memuncak, hingga dengan tak sengaja Jennifer melupakan, hingga meninggalkan tas makeup mahal ‘miliknya.
Dan karena hal itu, dengan sengaja Reygan menyimpan benda penting milik kekasihnya, hingga membawanya ke tempat ini. Karena Reygan mempunyai pikiran ‘hendak menggunakan tas itu, sebagai sebuah alasan jitu, agar dirinya dapat menjumpai Jennifer kembali, dan bermaksud ingin memperbaiki hubungannya kembali.
Setelah perkataan itu, Regan segera membuang benda di tangannya, lalu berlari ke arah luar, untuk mengejar kepergian Callista, namun setelah membuka pintu utama, dan mengarahkan pandangan ke arah lorong, hingga batas kaca, guna melihat ke arah bawah, sekali lagi pencarian itu, kembali mendapat nihil yang lebih besar.
Akan tetapi, semakin berlalunya wakti, kini Reygan segera tersadar, akan kegiatan ‘yang terlihat konyol menurutnya, ’’Reygan, apa yang kamu lakukan, ada hubungan apa kamu dengan Callista, hingga harus mencemaskan hatinya’’.
Setelah berdialog dengan dirinya sendiri, Reygan segera membalik tubuh, lalu menyandarkannya di dinding, hingga perlahan turun dan terduduk di bawah, sembari menyeka wajahnya.
’Callista kamu adalah salah seorang wanita berhati bersih, yang aku kenal selama perjalanan hidupku. Maafkan aku telah meninggalkan luka besar di hatimu, namun aku yakin banyak pria di luar sana, yang akan jauh lebih pantas, untuk menjadi pasangan hidupmu kelak’,gumam Reygan, sembari menunduk.
Beberapa menit setelahnya, Entah iblis atau dewi Afrodit, yang berbisik di telinganya, yang jelas pemikirannya mengenai Callista segera berubah kembali. Hingga kini Reygan segera menyalahkan gumamnya tadi, dan mulai memaksa otaknya, untuk memutar ulang moment, di saat wajah lugu Callista, berubah menjadi tangis sebab ulah dari perkataannya.
Setelah pikiran itu terbesit, kini Reygan segera berdiri tegak, lalu mengayuh kedua langkahnya dengan kencang, guna mengejar kepergian Callista tadi, namun sesampainya di depan pintu Lift, niatnya sedikit terhambat, ketika dirinya harus menunggu beda lamban 'berukuran 2 kali almari pakaian ini, bergerak, mengandalkan tarikan tuas katrol.