
Sebenarnya, tepat setelah kepergian ke dua wanita itu, Reygan segera, mengangkat tubuhnya, lalu berjalan, guna menyusul ketertinggalan, namun langkahnya 'sejenak, terhenti, hingga terdiam di balik tabir pembatas, ketika lontaran kata, bersajak merendahkan, yang di tunjukkan kepada dirinya, keluar begitu saja, dari mulut 'jennifer. Akan tetapi, alih-alih menghentikan perdebatan, atau semacamnya, Reygan justru terlarut, hingga menikmati alur pembahasan itu.
Dan untuk, Jennifer sendiri, sebenarnya dirinya masih bisa di bilang, kekasih Reygan. Pasalnya 'berita, perpisahan mereka di waktu itu, belumlah jelas, serta kepergiannya dulu, adalah ulah luapan 'emosi, kekesalannya, dan bukan murni, karena ingin mengakhiri hubungan.
•••••••••
"Baiklah tuan. Tunggulah sebentar, aku akan mengambilnya untuk anda", seru Olivia.
Selepas perkataannya, Olivia segera, berlalu, guna mengambil benda milik Reygan, yang sengaja dirinya taruh di kamar 'David, ayahnya.
Akan tetapi sebelum kepergiannya, Olivia, dengan sengaja menyahut 'pergelangan, tangan rekannya 'Jennifer."Ayo cepat ikut aku",seru lirih Olivia.
Jennifer yang kini, tengah merasakan kalut di dalam hatinya, segera saja menuruti, hingga mengikuti ajakan itu, guna memperpanjang waktu berpikirnya, agar dapat membuat alasan tepat, di tujukan teruntuk Reygan nantinya, jika di tanyakan.
Hingga sepanjang perjalanan, Olivia bersama Jennifer, ke arah kamar David, Saat ini, perbincangan 'mereka, mengenai Reygan, mulai berlanjut kembali, sesaat setelah, melewati 'puluhan, anak tangga berbentuk lingkaran.
Akan tetapi, kali ini jumlah kosakata Olivia lebih unggul dari pada rekannya 'jennifer.
Pasalnya Olivia berkata marah, hingga sedikit menakut-nakuti Jennifer, karena menceritakan 'ulang, segala kebengisan keluarga Adolf, dan dirinya juga menambahi 'sedikit, cerita seram, mengenai jika tuan muda 'sampai, mendengar perkataan 'mereka, tadi, lalu tersinggung atau semacamnya, maka pelayan-nya, 'David lewis, tidak akan ragu, ataupun sungkan, bahkan, jika harus membunuh putrinya sendiri, ulah kepatuhan.
Dan sebenarnya, bersama dengan perjalanan serta sederet perkataan Olivia, Jennifer sendiri, hanya menunduk, sembari menyimpan rasa takut di hatinya. Akan tetapi ketakutan Jennifer, bukan di jalur pembahasan itu, Melainkan di perasaannya, yang kini tengah hancur, ulah kecerobohannya dalam berucap 'tadi. Bahkan Jennifer sempat berpikir, hendak melakukan berbagai cara 'apapun, untuk agar mendapat simpatik, dari hati Reygan kembali, meskipun jika niatnya itu, akan menyakiti perasaan 'rekannya, Olivia.
Beberapa menit berlalu, saat ini perbincangan mereka mengenai kebengisan keluarga Adolf telah terhenti, ketika kedua pasang kaki jenjang itu, mulai memijak 'kembali, anak tangga, guna menuruninya.
Dan di pandangan Reygan saat ini, terlihat ke dua wanita, bertubuh langsing 'berisi, tengah menuruni anak tangga, sembari saling bahu-membahu, guna menopang benda bawaan, menggunakan kedua tangan mungil 'mereka, masing-masing.
Karena ulah pandangannya itu, Reygan segera, mengayuh kakinya, guna mendekati 'kedua, wanita di depan, lalu setelahnya 'perlahan, mengambil benda miliknya, sembari tersenyum, ke arah mereka,"Maafkan aku, karena telah banyak merepotkan kalian".
Akan tetapi, selepas perkataan Reygan, Olivia, sejenak mengingat pesan himbauan dari dokter pribadinya 'tadi, mengenai kondisi kesehatan Reygan, hingga karena itu, dengan segera Olivia menyahut tangan kekar di depannya, "Tuan, saran ku, sebaiknya anda beristirahatlah dahulu ditempat ini, lalu esok, pagi-pagi sekali, driver ku, atau jika anda berkenan, aku sendiri, yang akan mengantar kepulangan anda",seru Olivia.
Olivia sendiri, menahan niat kepergian, pria di depannya, hingga berkata seperti itu, karena dirinya sangat mengetahui, mengenai kondisi kesehatan Reygan, yang saat ini, tengah kurang begitu baik.
Arah himbauan itu, di dapatnya dari mulut sang dokter 'pribadi,-nya, sewaktu sore tadi, karena sang dokter telah banyak menjelaskan, sebab kenapa, dan mengapa, hingga Reygan tiba-tiba saja, menjadi pusing, lemas, lalu tersungkur, tak sadarkan diri.
Akan tetapi, melihat pemandangan, yang lagi-lagi, teramat sangat menyebalkan, Jennifer segera menepak tangan rekannya, guna menghentikan kegiatan, lalu menyela pembicaraan, sembari menggeser 'sedikit, tubuhnya, hingga menjadikan diri, sebagai sebuah tabir hidup, guna membatasi 'posisi, berdiri Reygan dengan Olivia.
"Sebaiknya, kau segera pulang saja pria aneh, karena kami bukan pengasuh mu", seru Jennifer, lalu mendengus, sembari bersedekap, dan memalingkan wajahnya.
"Jennifer!, sebaiknya, kau jaga ucapan mu!, apa perkataan.....",seru Olivia, sembari menggeser 'tubuh, rekannya.
"Olivia sudahlah, benar perkataan rekanmu", sahut 'potong, Reygan, lalu tersenyum ke arah mereka.
Dan dengan tanpa ingin, berbasa-basi lagi, selepas senyumannya, Reygan segera membalik tubuhnya, lalu perlahan berjalan, menuruni tangga, guna menjauh, sembari merekatkan ransel di balik punggung kekarnya.
Melihat kepergian Reygan, yang benar adanya, sejenak Olivia mengarahkan tatapan kecut, ke arah 'wajah, rekannya, sembari mendengus kesal, lalu tanpa berucap sepatah kata apapun, dirinya segera berlalu, guna menyusul ketertinggalan langkah, bermaksud ingin mengikuti Reygan.
Jennifer sendiri, mengabaikan, hingga tak begitu menanggapi, kekesalan rekannya 'barusan. Karena untuk saat ini, jennifer tengah menyesali perbuatannya 'kembali, sesaat setelah, berucap kasar kepada Reygan.
Hingga karena penyesalan, serta pikiran kalutnya, Jennifer hanya mampu tertunduk, mematungkan tubuh, sembari 'sesekali, menaikan arah pandangan mata 'sendu, ke arah 'perjalanan, Reygan.
'Maafkan aku Reygan, sebenarnya aku tak bermaksud, untuk berkata kasar kepadamu, terlebih hingga ingin melukai perasaanmu seperti tadi. Jika saja kamu tahu, semua itu aku lakukan, karena aku tak mampu membohongi perasaanku terhadapmu. Aku terlalu mencintaimu Reygan, dan selain diriku, tak boleh ada lagi, wanita di hatimu', sederetan gumam Jennifer.
Jennifer sendiri, begitu terobsesi kepada Reygan, hingga dirinya akan melakukan apapun, agar tercapai, tujuan keinginannya tersebut.
Beberapa menit berselang, meninggalkan Jennifer yang sampai saat ini, masih menyesali perbuatanya terhadap Reygan, Olivia sendiri kini segera, menyahut bahu, lalu menopang tubuh Reygan, tepat sesaat di depan pintu utama, ketika melihat tubuh Reygan 'sedikit, terhuyung, sembari memegangi kepala dan juga perutnya.
"Tuan, sebaiknya anda tahan sejenak, niat kepergian anda, lalu menginaplah di tempat ini",seru Olivia, di sela kegiatannya.
"Terimakasih, namun sepertinya tak perlu",sahut Reygan, sembari melepaskan 'perlahan, kegiatan wanita di sampingnya.
Hingga karena kekhawatiran Olivia, dirinya segera kembali, menyahut tubuh kekar itu, sembari menoleh, guna mengarahkan pandangan 'sendu, ke arah wajah 'tampan, pria di sampingnya,"Tuan, jika anda bersikeras untuk mempertahankan niat kepergian anda. Silahkan, namun aku sangat memaksa, agar anda tak menolak, hantaran mobil saya kali ini".
Entah pikiran Reygan seperti apa sebelumnya, yang jelas kini sepasang kaki kekar itu, telah terkayuh kembali, ke dalam rumah, bersamaan dengan topangan bahu, hingga rangkulan Olivia, guna membantu, serta menemani 'di setiap, perjalanan.