
"Seingatku, aku hendak keluar dari apartment itu, lalu kenapa sekarang aku terdampar di kamar wanita seperti ini",seru Reygan, sembari menunduk.
Dan setelah, perkataannya, bersamaan dengan sikap menunduk, Reygan segera tersadar, hingga terkejut, ketika matanya tertuju, ke arah perban, yang kini dapat dirinya lihat 'dengan jelas, tanpa ada batasan 'kain, pemisah lagi, seperti sebelumnya.
"Dimana bajuku",seru Reygan, lalu melanjutkan kegiatan bola matanya, guna mencari baju, yang di maksud.
Akan tetapi, hingga beberapa detik berselang, kegiatan sepasang matanya, seakan percuma, karena benda tipis berbahan kain, yang dirinya cari 'sedari tadi, tak di dapatinya.
Hingga karena itu, perlahan Reygan mengayuh 'kedua, tangannya, guna membimbing tubuhnya, hingga menduduki 'tepian, ranjang.
Kruuukkkk!
Bunyi suara perut Reygan."Sialan, aku sangat lapar sekali".
Sebenarnya Reygan, hendak memposisikan tubuhnya untuk berdiri, guna menjemput sang penolongnya itu, namun niatnya segera terhenti 'sejenak, ketika sepasang bola matanya, dengan cara ketidaksengajaan nya, melihat, hingga terpaku, ke arah sebuah benda kotak berbingkai 'indah, berlukiskan wajahnya.
"Sebentar, bukankah ini wajahku?, kenapa terpajang di kamar ini?", seru Reygan sembari menyahut benda kotak itu, guna memastikan lebih jelas.
Akan tetapi, kegiatan mata Reygan segera teralihkan, ke arah pintu 'utama, kamar, ketika gendang telinganya, menangkap dengan samar, suara alunan langkah kaki, serta pembahasan canda 'khas, wanita, mendekat.
Hingga karena 'ulah, suara itu, Reygan segera menaruh kembali, bingkai foto 'di tangannya, ke tempat 'pajangan, semula.
Ceklek! Ngikk!
Suara pintu terbuka,ulah tangan halus Olivia.
"Tuan muda, syukurlah anda sudah tersadar?",seru Olivia, sembari tersenyum manis.
Akan tetapi 'raut wajah, terlihat sangat berbeda, terpancar dari rekan Olivia, yang kini tengah, sama-sama berdiri, sembari mengarahkan pandangan ke arah Reygan.
Reygan sendiri, tak menjawab sapaan Olivia, disela tatapan mata itu, karena terkejut, ulah pandangannya saat ini. 'Jennifer',gumamnya.
Sejenak Olivia tersenyum, sembari mengarahkan mulut menuju, daun telinga Jennifer, guna berbisik pelan,''Jen, ini pria tampan yang aku maksud, bagai mana menurutmu?".
Olivia sendiri, sengaja mengundang rekan dekatnya 'Jennifer, untuk berkunjung ke rumahnya, karena dirinya bermaksud, hendak menanyakan, nilai kecocokan sebuah hubungan, dengan pria barunya ini. Olivia juga sengaja menutupi sosok pria tampan yang diceritakannya tadi, dan itu semua karena perasaan malu, di hati nya. Pasalnya perkataan Olivia 'di waktu lampau, mengenai sangat membenci Reygan, kini perasaan itu telah berubah, hingga berbalik menjadi sangat mengagumi, bahkan mungkin mencintai Reygan.
Menyamarkan sifat kecemburuannya, Jennifer segera membalas senyuman itu, lalu meniru kegiatan rekannya, guna berbisik,"bukannya dia, adalah pria lusuh, yang sangat kau benci itu".
Jennifer berkata seperti itu, karena memang yang dirinya tahu, jika selepas kejadian memalukan pria 'Reygan, di pusat kota itu, hingga beberapa hari, Olivia terus saja membahas, bahkan menjadikan 'Reygan, sebagai bahan lelucon, ketika berkumpul dengan semua rekannya. Dan Jennifer yang di ketahui, telah menaruh hati kepada Reygan, hingga dirinya perlahan menjauhi Olivia, dan semua temannya, karena dirinya tak ingin mengikuti pembahasan guna merendahkan kekasihnya.
Tanpa membalas bisik sahut rekannya, sejenak Olivia mencubit 'manja, kedua pipi tirus milik Jennifer, lalu berjalan pelan, ke arah Reygan, sembari tersenyum manis.
Hingga bersamaan dengan pemberhentian langkah wanita 'di hadapannya. Sejenak Reygan memandang jam, di dinding, lalu mengembalikan, ke arah lawan bicaranya kembali,"Olivia, aku tak tahu, apa yang telah kau lakukan terhadapku, yang jelas aku sangat berterimakasih kepadamu. Dan sekarang aku harus segera pulang, dikarenakan sedari pagi kedatanganku, di bandara, bahkan aku belum menemui kakekku, hingga malam seperti ini".
"Tuan muda, Sebenarnya aku telah memasak untuk anda, namun jika anda berkeinginan kuat untuk pulang, mungkin aku akan menghabiskannya sendirian",sahut penjelasan Olivia, sembari menunduk 'dalam.
Olivia sendiri, sebenarnya, teramat sangat kecewa, karena keterbatasan waktu yang 'selalu, terasa singkat, ketika bertemu dengan Reygan.
Kesedihan mendalam yang kini tengah di rasakan Olivia adalah sebuah hal yang wajar. Pasalnya setelah, sentuhan tangan, serta senyuman Reygan, sesaat sebelum, Reygan 'hendak, menaiki taxi, di waktu lampau itu. Olivia sendiri selalu meluangkan banyak waktunya, dengan hanya untuk belajar memasak, dan berharap, suatu hari nanti, dapat memberikan hingga memamerkan hasil usahanya, kepada 'pria, yang dimaksud.
"Aku sangat terburu-buru, dan aku sangat menyesal, hingga mengabaikan tawaranmu itu, namun maaf, perutku telah banyak menampung makanan berminyak hari ini. Jadi mungkin lain waktu saja", sahut Reygan.
Akan tetapi, sebelum Reygan, hendak menimpali perkataannya kembali, guna menanyakan ranselnya.
Kruukkk!
Suara perut lapar Reygan, mendahului, niatnya.
Saat ini dewi Afroid, tengah memihak Olivia, pasalnya dirinya mendengar jelas, suara bunyi 'khas, perut kosong, dari arah 'pria, di hadapannya.
Hingga setelah bunyi suara itu, Olivia segera mengangkat dagunya, guna menyetarakan pandangan, sembari menahan senyum,"Tuan muda, aku mohon, sebelum ada pergi, sebaiknya cicipilah terlebih dahulu, beberapa masakan saya", lalu menimpali perkataannya kembali, sembari menyahut 'lembut, pergelangan tangan Reygan,"mari saya antar tuan".
Tepat bersamaan dengan kegiatan tangan Olivia,
Pyarrr!
Bunyi suara pecahan kaca, terdengar nyaring, hingga ke seluruh ruangan kamar.
Gerakan refleks 'ulah, tangan Olivia itu, segera terhenti, lalu dengan cepat Olivia menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata botol Parfum mewah miliknya, jatuh, hingga berserakan di lantai.
"Maafkan aku Olivia, aku benar-benar tak sengaja", seru Jennifer, sembari berjongkok guna memungut pecahan kaca.
"Jennifer, jangan, sudah hentikan, itu tak mengapa, sini biar aku saja",sahut Olivia, sembari berjalan ke arah rekannya.
Lalu setelah Olivia mendekat, dirinya segera mengikuti kegiatan rekanya guna ikut memungut, pecahan kaca itu.
Jennifer sendiri, segera menyahut beberapa 'lembar, tissue, dari dalam tas miliknya,"Olivia, maafkan aku, tadi aku hanya ingin, mengambil boneka lucu itu, namun karena kecerobohanku, hingga parfum mahal milikmu tersenggol, dan terjatuh, hingga pecah seperti ini. Aku sungguh menyesal, namun aku akan, membeli serupa, untuk menggantinya setelah ini".
Sejenak Olivia menghentikan kegiatannya, lalu mengarahkan wajah 'ceria, ke arah rekannya, sembari tersenyum, "Jennifer, sudahlah tak perlu merasa bersalah seperti itu, bahkan kamu tak perlu menggantinya, karena aku masih banyak stok parfum seperti ini di almariku". Lalu perlahan menyahut tissue di tangan Jennifer, "Jenn, Kita sudah berteman sedari awal kuliah dulu, dan aku tak ingin, hanya gara-gara hal sepele seperti ini, hingga merenggangkan pertemanan kita, jadi aku mohon jangan di bahas lagi ya".
Jennifer mendengar sederet perkataan itu, namun dirinya tak menyahut, dan hanya sejenak mengarahkan pandangannya, ke arah rekannya, sembari melontarkan senyum, lalu 'kembali, membantu kegiatan.