Mysterious Husband

Mysterious Husband
MENOPANG PIKIRAN KALUT



Saat ini, langkah perjalanan mereka, adalah hendak menuju kamar tamu, di kediaman leweis.


Akan tetapi, karena sifat dingin Reygan, terasa sangat kuat melekat, dan terbawa di kepribadiannya, bahkan sepanjang perjalanan itu, Reygan tak sama sekali berucap sepatah katapun, terlebih hingga mau menyusun sebuah kalimat panjang, hanya untuk sekedar berbasa-basi ke wanita di sampingnya.


Jeglek! Ngik!,


Suara pintu ulah kegiatan Olivia sembari "masih, menopang beban tubuh Reygan.


"Tuan silahkan, mari masuk", seru lirih Olivia.


"Terimakasih Olivia",sahut singkat Reygan.


Reygan sendiri, bersikap dingin kepada Olivia, karena sebenarnya dirinya tengah menjaga perasaan masing-masing hati, serta hubungan persahabatan, kedua makhluk indah keturunan hawa itu, antara Jennifer dengan Olivia, agar tak saling merenggang.


Pasalnya, setelah sebelumnya melihat, serta sedikit bantuan, dari naluri pria normalnya, Reygan telah banyak membuat kesimpulan di dalam benaknya, mengenai ketidak harmonisan, hubungan pertemanan mereka saat ini, adalah ulah keberadaan dirinya.


Sesaat setelah Olivia, merapikan ranjang, perlahan dirinya mendekat lalu menyahut tubuh kekar itu, sembari tersenyum 'palsu, diiringi dengan gesture manja khas wanita,"Tuan, mari saya bantu, dan setelah ini aku akan membawakan semangkuk bubur gandum hangat untuk anda. Karena aku yakin, anda belum sempat menyantap hidangan tadi bukan?".


Lalu dengan mengabaikan semua penolakan Reygan, Olivia segera memandu, hingga berhasil menjatuhkan secara pelan tubuh kekar itu, di atas ranjang, yang telah rapi ulah kegiatan tangannya tadi.


Mengenai senyum palsu Olivia sendiri, adalah hasil 'ulah, sikap dingin Reygan sebelumnya.


Pasalnya Olivia sempat berharap, jika selama perjalanan tadi, dirinya hendak menggunakan momen kebersamaan itu, untuk 'sedikit, mengungkapkan maksud di perasaannya tersebut, namun karena kejadiannya, jauh terbalik, hingga di luar prediksinya, akhirnya Olivia segera menahan, dan akan melanjutkan niatnya setelah ini.


Teng....!, teng....! Teng...!


Bunyi dentuman lonceng, dari sebuah jam besar, bertepatan dengan pukul 01.00 dini hari, Evershead city.


Olivia segera menarik 'pinggul, pria di hadapannya, hingga merekat erat di tubuhnya, lalu menempelkan 'sebelah, telapak tangannya ke tengkuk lawan,"Reygan, aku sangat mencintaimu, bahkan lebih dari nyawaku", seru Olivia, dengan hembusan nafas tak teratur.


Selepas perkataannya itu, dengan cepat, sebelah telapak tangan itu, segera menekan 'lembut, tengkuk milik Reygan,


Emhhh! Emhhh!


Suara kegiatan, ulah bibir tipis Olivia.


Dengan penuh hasrat, serta dorongan libido yang membara, bersamaan dengan kegiatan kecupan itu, perlahan sebelah tangan 'lain, milik Olivia, mulai meremas, hingga perlahan menekan 'dalam, pelepasan Reygan, lalu menggesek-gesekkan celana, berisikan tongkat tumpul, ke arah benda menggemaskan miliknya.


Bersamaan dengan sederet kegiatan menyenangkan itu, kini suara desah rintih Olivia, mulai terdengar samar memenuhi ruangan, ketika tangan kekar itu, perlahan menyeka perutnya, lalu terbenam masuk ke dalam segitiga pengaman miliknya, hingga menjamah liang menggemaskan itu secara lembut dengan tempo teratur.


Bersamaan dengan tangan itu hendak terbenam,"Ahh...!",seru lirih Olivia, sembari menggigit bibir bawah, lalu sejenak memejamkan mata.


Hingga ratusan detik berlalu, kini alunan desah itu, semakin terpacu cepat dengan tempo irama tak menentu, ketika kegiatan tangan Reygan, menambah akselerasi kecepatannya.


"Rey, hentikan, sudah",seru Olivia sembari memegang erat tangan kekar Reygan, bermaksud hendak melepaskan, guna menyudahi kegiatan itu.


Sejenak Reygan memandangi paras cantik wanita di hadapannya, lalu karena ulah pandangannya serta beberapa bisikan iblis jantan, Reygan segera mengabaikan permintaan wanita itu 'tadi, hingga dengan cepat memacu kegiatan 'jari, tangannya, sembari melingkarkan sebelah 'lain, tangan satunya, kearah pinggul langsing Olivia, bermaksud mendekap erat.


*******,rintihan, hingga teriakan,serta kecupan bergairah dari bibir Olivia, tengah mengiringi kegiatan 'jari, Reygan.


Dengan hembusan nafas terengah-engah tak stabil, sembari tersungkur ke bawah,"Kau gila Rey, namun aku sangat menyukai aksi liar mu ini",seru Olivia.


Dan setelah perkataannya, dengan mengabaikan rasa lemas, serta denyut bawah, yang hingga kini semakin terasa, perlahan Olivia, mengarahkan tangan, guna menggapai kepala ikat pinggang di hadapannya, lalu membuka, hingga menurunkan semua kain penutup itu.


Dan terlihat di pandangan mata olivia, kini sebuah tiang berwarna sedikit coklat, tengah berdiri tegak, dan mengacung ke arah mukanya.


Hingga karena gairah, serta dorongan kuat dari naaffssuu liarnya, dengan segera olivia melahap........


Akan tetapi, kelanjutan bunga tidur itu, segera terputus, bahkan terhenti, ketika Jennifer segera memposisikan tubuhnya, menjadi terduduk di atas ranjang, sembari memekik keras,"ah....!,sialan kau Olivia!".


Selepas, pekikan tadi, Jennifer sejenak, mengarahkan pandangan matanya, ke kanan kiri, guna memastikan keadaan.


Akan tetapi karena tak mendapati hasil dari maksud itu, kini dengan cepat Jennifer mengeluarkan tubuh dari ranjang, hingga berlari 'kecil, menuju pintu, guna mencari keberadaan seseorang. yang diketahui, jika sebelum keterlelapan Jennifer tadi, orang itu, sempat berbaring di samping tubuh nya.


Bersaman waktu, 01.00 dini hari Evershead city, masih dengan terlelapnya, seorang gadis muda bernama Jennifer


Jeglek! Ngik! Ceklek!


Suara pintu terbuka, lalu tertutup rapat kembali, ulah tangan Olivia.


Dengan lopak besar, berisikan hidangan, serta sebum-bung wine hitam, di atas telapak tangannya, kini Olivia telah memasukan tubuh indahnya, kembali ke dalam ruangan kamar tamu,


"Tuan, bangunlah sebentar, maaf jika mungkin, membuat anda terlalu lama menunggu",seru lirih Olivia sembari, meletakkan bawaan, di meja samping ranjang.


Mendengar, alunan suara lembut itu, perlahan Reygan membuka matanya, lalu mengarahkan pandangan ke arah sumber suara,' suasana ini, mungkin akan membunuhku',gumamnya.


Terlihat sekilas, di pandangan Reygan barusan, wanita cantik bernama Olivia itu, kini telah membiarkan rambut ikal hitamnya terurai, hingga jatuh lembut di sebelah bahu, dengan balutan busana tidur berwarna hitam redup, melekat 'kontras, pada tubuh putih mulusnya.


Sejenak Reygan mengalihkan pandangan, sembari menyudahi posisi berbaringnya, lalu menggeser tubuhnya, hingga menempatkan pelepasannya, terduduk ditepian ranjang.


Bersama dengan gerak kegiatan Reygan barusan, Olivia segera ikut juga, menjatuhkan pelepasannya, tepat di samping Reygan,"Tuan, bolehkah saya membantu kegiatan makan anda".


"Maaf..maaf. apa maksud dari perkataanmu barusan?",sahut Reygan.


Selepas sahutan itu, sejenak Olivia tersenyum manis, lalu memunggungi lawan bicara, guna mengambil mangkuk berisikan bubur gandum, dan membalik tubuhnya kembali,"tuan muda, aku khawatir dengan keadaan anda, namun aku senang, karena ternyata, kita bergolongan darah yang sama".


"Olivia, tak perlu berputar-putar seperti ini. Sebenarnya apa yang kau inginkan",sahut Reygan.


Sembari menaruh mangkuk, di atas paha mulusnya, Olivia segera memulai niat rencana awalnya, dengan bercerita, mengenai pembahasan dokter pribadinya tadi sore, yang banyak, memberikan himbauan 'khusus, seputar kondisi terkini kesehatan Reygan.


Lalu dirinya juga menjelaskan, mengenai kelangkaan golongan darah yang Reygan miliki, namun disela penjelasan itu, Oliva menambahi perkataan 'khusus, guna melancarkan sederet aksi niat ke duanya, agar menarik simpatik lawan bicara.


Perkataan khusus itu, adalah curahan perasaannya, Pasalnya Olivia menjabarkan seluruh cerita, mengenai jika kelangkaan darah milik Reygan itu, justru membuat perasaan hati Olivia tersenyum, ketika abjad yang sama pada golongan darah Reygan, tercatat sama persis, serupa dengan milik dirinya. Dan karena kecocokan itu, Olivia bersukarela, mendonorkan cairan berhaga miliknya, untuk mengaliri setiap organ, hingga seluruh tubuh Reygan. Bahkan jika salah satu ginjal milik Olivia, hendak di minta Reygan, untuk kesembuhannya, Olivia akan dengan senang hati memberikannya.


Entah itu ungkapan tulus dari perasaan hati seorang wanita, atau hanya semacam trik khusus, rayuan buaya betina, yang jelas, kini Reygan sedikit tersentuh ketika mendengar lengkap seluruh kejadian cerita itu.