
Sebenarnya di saat itu, bahkan Jennifer 'sendiri, mengabaikan pertemanan mereka, dan lebih mengutamakan rasa Cintanya kepada Reygan. Hingga tragedi botol parfum 'barusan, adalah 'sengaja, hasil tangannya, hal itu dilakukannya, karena ungkapan 'perasaan, emosional kekesalan di dalam hatinya, ketika melihat kejadian , di depan matanya, mengenai Kegiatan tangan Olivia 'tadi, terhadap Reygan.
Walaupun rasa cintanya, hingga kini nampak begitu besar terhadap Reygan, namun Jennifer masih enggan membuka mulutnya untuk menyampaikan hal tersebut kepada pria itu. Pasalnya Jennifer sendiri tengah menjaga image-nya sebagai wanita cantik, terlebih dirinya juga mengingat pesan, yang sempat dirinya kirim 'ulah perasaan kalutnya, kepada Reygan, dimasa lampau itu, yang mengatakan, jika sampai mereka dipertemukan kembali, maka dirinya meminta, agar akan seperti tak pernah berjumpa sebelumnya.
•••••••••••
Ratusan detik berlalu, dengan Reygan yang telah mengenakan, busana 'atas, milik David, sepemberian Olivia.
Saat ini ketiga manusia tadi, tangah melakukan perjalanan, menuju ruang dapur utama, ter bimbing arah, serta gandengan tangan, dari sang tuan rumah 'Olivia.
Setelah ketersampaian mereka, saat ini, kedua tangan Olivia, segera melepas kegiatan, lalu mengarahkan, agar para tamu menduduki 'bangku, tempat yang telah tersedia.
Roti gandum, skirt steak, pasta, hingga foie gras, serta sebumbung wine 'telah tertuang, di masing-masing cawan, tertata 'apik, di atas meja bulat sempurna.
Setelah keterdudukan.
"Tuan muda, maaf aku terlupa akan suatu hal. Perkenalkan ini teman dekatku Jennifer. Dan Jennifer pria ini tuan adolf",seru Olivia, sembari mengarahkan tangan, guna mendukung niatnya.
Menyamarkan perasaannya, guna mengikuti alur, Reygan segera tersenyum kecil 'ke arah Jennifer, sesaat setelah mendengar perkataan Olivia 'barusan,"senang mengenalmu nona Jennifer, aku Reygan adolf", seru Reygan.
Mendengar nama, serta melihat wajah yang 'teramat, sangat dirinya kenali, sebenarnya Reygan, seakan menjadi keledai bodoh, ketika memperkenalkan namanya kembali, ke arah wanita itu, namun karena menghormati sang tuan rumah, terlebih menuruti pesan permintaan Jennifer dulu, hingga dirinya terpaksa melakukannya.
Mengarahkan senyum kecil, ke arah lawan bicara, "Senang juga, dapat mengenalmu tuan" sahut Jennifer, lalu menimpali dengan gumamnya,'kenapa pertemuan ini begitu menyebalkan'.
"Sekarang, mari silahkan, dan jangan sungkan tuan, aku bahkan membuat, hingga menyiapkannya, seorang diri", lalu 'sejenak, mengalihkan pandangan ke arah rekannya," kamu juga Jenn, ayo", seru Olivia.
"Olivia, Apa kau tidak berlebihan, hingga menyiapkan semua hidangan ini?", seru Reygan.
Melontarkan senyum termanisnya,"Maaf tuan muda, hanya ini, yang mampu kedua tanganku lakukan untukmu sekarang",sahut Olivia lalu mengalihkan muka, sembari tersenyum, guna menutupi rona merah muda 'di pipinya.
"Terserahlah nona, yang jelas aku sangat berterimakasih, dan setelah ini aku ingin mendengar ceritamu, hingga kenapa aku berada, di kediaman lewis saat ini",seru Reygan.
Mendengar percakapan, hingga melihat pemandangan menyebalkan di depan matanya saat ini, Jennifer sendiri, tak bisa menahan luapan emosional 'kecemburuan, di hatinya. Dan karena itu, ***** makannya segera hilang, bahkan dirinya tak menyentuh sajian, dan lebih memilih menyahut cawan berisi wine, menenggaknya 'cepat, hingga kosong, lalu menuang 'penuh, kembali.
Merasa gesture, tak biasa, kini tengah, ternampak pada rekannya, Olivia perlahan menghentikan 'sejenak, kegiatannya, lalu mengalihkan pandangan, ke arah rekannya,"Jennifer, aku pikir sikapmu sedari tadi begitu aneh?. Jangan bilang Edward penyebabnya?. Kenapa?, apa pria itu mengganggumu lagi?".
"Edward, pria tampan, serta mapan. Jika iya kenapa?, lalu apa kamu cemburu?", menjauhkan pelepasannya, bermaksud berdiri, lalu menimpali perkataannya," Olivia, mungkin hari ini aku begitu lelah. Jadi mungkin aku akan pergi sekarang, agar acara kalian tak terganggu",sahut Jennifer, bergegas pergi.
Karena terpacunya, perasaan emosional 'di hati, Jennifer semakin tersulut, hingga dirinya mengabaikan, semua perkataan rekannya, dengan tetap melenggang pergi. Meski kini sederet pertanyaan 'heran, terus terlontar, dari balik punggungnya, bersamaan dengan langkah 'tegas, berjalan, menjauhi ruangan.
Melewati beberapa sekat, ruangan besar, akhirnya langkah Jennifer segera terhenti, ketika rekannya, menyahut, dan menarik lengannya, lalu menghadapkan 'muka,
"Jenn, ada apa ini sebenarnya?, kenapa tiba-tiba saja, sikapmu berubah menjadi menyebalkan seperti ini?. Kenapa!?,apa yang terjadi!?",seru Olivia.
"Aku hanya tak 'merasa, nyaman, jika harus duduk 'semeja, dengan pria lusuh itu, terlebih untuk terus berlama-lama. cuiihh!, aku tak sudi", dengus 'palsu, Jennifer, lalu menimpali perkataannya kembali, sembari bersedekap 'silang, "Dan seingat ku, pria itu adalah manusia lusuh, yang kita temui tempo silam, di pusat kota itu bukan?".
"Jennifer, Apa yang tengah kamu bicarakan, dan kamu perlu tahu, jika dia bukan pria, seperti apa yang aku tuduhkan dahulu. Bahkan kini aku sangat menyesal, karena pernah menjatuhkan harga dirinya di waktu itu, dan satu lagi, pria itu bernama Reygan, cucu dari tuan Palmer Adolf hitler. Jadi jaga ucapan mu!",seru Olivia.
Menyetarakan dagu, dengan 'mata, lawan bicaranya, sembari tak melepas kegiatan tanganya,"Menurutku, selera mu kini terlalu rendah Olivia, karena menjatuhkan pilihan, kepadanya. Dan bukannya kamu sangat membenci pria itu, hingga aku masih ingat ucapan mu, mengenai jika pria itu sebaiknya mati saja, agar tidak menjadi sampah di kemudian hari",sahut Jennifer.
"Jennifer sudahlah!, terserah apa katamu, yang jelas, sekarang aku tak butuh pendapatmu lagi, mengenai perasaan hatiku terhadap pria itu",seru Olivia.
Akan tetapi, belum sempat, Jennifer menyahut, guna menimpali, kini selepas perkataan Olivia, ke dua pasang mata sipit itu, segera membulat 'penuh, lalu mengarahkan 'tujuan, ke tempat yang sama, ketika suara pria menyela perdebatan, hingga mendatangkan wujud 'seorang, pelakunya mendekat.
"Nona nona, maaf menggangu waktu kalian",seru Reygan, sembari berjalan mendekat, memandangi 'ke dua, wajah wanita di hadapannya.
Setelahnya, Reygan mengalihkan pandangan, ke salah satu 'wanita, di antara mereka,"Olivia, terimakasih untuk pertolongan, serta jamuan tadi. Namun sekarang, sepertinya aku harus pergi, dan aku menginginkan, ransel milikku, untuk segera di kembalikan".
"Tuu..tuan muda, kenapa terburu-buru seperti ini",sahut Olivia, sembari membenahi sikap.
Perkataan Olivia sedikit terbata, karena keterkejutannya, mengenai kehadiran Reygan, yang dengan begitu saja, muncul dari balik tabir.
Dan keterkejutan Olivia, juga tengah di alami rekannya 'Jennifer. Akan tetapi, bukan cuma terkejut saja, bahkan kini perasaan cemas, juga turut andil, menambah beban 'berat, di hati serta pikiran Jennifer.
'Apakah Reygan mendengar semua pembahasan tadi?, lalu jika iya, aku harus bagaimana?. Aku bodoh, Apa yang telah aku perbuat tadi, hingga tak memikirkan resiko sebesar ini, nantinya. Mungkin aku akan kehilangan Reygan, untuk selamanya, dan aku tak menginginkan hal semacam itu terjadi',sederet gumam kegelisahan 'di hati Jennifer, disela renungan, dalam tunduk penyesalannya.
Sebenarnya Jennifer memberikan sebuah gagasan opini, mengenai keburukan Reygan 'tadi, hanyalah 'semata, untuk memprovokasi 'kebencian, Olivia, terhadap Reygan semakin besar, hingga berharap, rekannya 'Olivia, itu mengubah rasa ketertarikannya, menjadi benci, terhadap Reygan.
Karena maksud 'lain, dibalik hati Jennifer adalah, tak ingin tersaingi, apalagi sampai kehilangan sosok pria 'tampan, idaman hatinya itu.
Dan Reygan sendiri, memanglah mendengar semua pembahasan 'buruk, mengenai dirinya itu dengan jelas 'dari balik tabir. Akan tetapi dirinya, kini berupaya menahan 'diri, hingga berpura-pura tak mengetahui apapun, perihal pembahasan 'mereka, tadi.
"Tak mengapa, mungkin pertemuan ini, dapat kita sambung kembali, di lain waktu", seru Reygan.