
Saat ini terlihat di pandangan Reygan, puluhan,ratusan,bahkan mungkin ribuan orang tengah berlarian ke arah parkiran 'baik halaman maupun basement.
''Ada apa ini sebenarnya?",seru lirih Reygan, sembari membenahi posisi Gold Eagle 'di selempitan pinggang, tertutup oleh kaosnya.
Reygan sendiri, memutuskan untuk kembali ke Restaurant, karena dipikiranya sedari 'kecupan, tadi hanya penuh dengan 'bayangan, senyum, dan tawa Ellena 'dimasa lampau.
Hingga karena itu, terbesit perkataan Ellena 'tadi, jika dia disini sendirian, sebatangkara, meninggalkan semua kesenangan dunianya bersama Darold, hanya demi, agar Reygan tak membencinya lagi.
terlebih pemecatan Ellena tadi, kini seakan menjadi kabar duka bagi hati kecil Reygan. Dan karena itu, Reygan segera membalik haluan kakinya, guna kembali ke Restauran, untuk menemui sang manager 'Jacob.
Maksud dari kembalinya Reygan adalah karena dia menginginkan, agar Ellena dapat bekerja di Restoran itu lagi, walau jika harus sembilan peluru di Gold Eagle nya, mengosongkan tempat magazine, guna mengancam atau membunuh.
Setelah perkataannya, Reygan segera berlari, menerobos ratusan manusia, yang berlawanan arus dengannya.
Akan tetapi, langkah Reygan segera terhenti, ketika hendak memasuki pintu utama, karena adanya dua pria kekar, bersenjatakan laras panjang, memotong jalannya.
"Tuan muda",seru ke dua pria itu, sembari 'sejenak, menyondongkan sedikit tubuhnya.
Sejenak Reygan mengamati ke dua pria di hadapannya,'Ini pasti ulah kakek, gumamnya, lalu melanjutkan dengan perkataan,"apa yang kakekku lakukan kepada tempat ini?".
Sebelum sahut penjelasan terlontar dari pria seram itu,
Pyarr!, Aaaaaa....!!, bug!
Suara kaca pecah dari lantai paling atas di iringi dengan suara 'melengking, kesedihan.
Karena bunyi menyeramkan itu, hingga sejenak Reygan memutar kepalannya, guna mengarahkan pandangan ke benda jatuh 'barusan.
Dan terlihat jelas di pandangan Reygan, sekujur wanita berpakaian formal 'kerja, tergeletak tak bernyawa lagi, dengan cairan merah 'tercecer, di sekitar bangkai 'baru, itu.
Mengarahkan tatapan kebencian ke arah 'dua, pria kekar di hadapannya,
Bug!!.
Reygan memukul keras 'wajah, salah seorang lawan bicaranya, sembari memekik keras,"Bajingan!!, apa yang kalian lakukan!".
Hingga setelah kemarahannya, Reygan segera memacu langkahnya, ke arah Lift, guna menemui pelaku, tindak menyeramkan tadi 'di lantai paling atas.
Ding!
Setelah pintu Almari besar terbuka 'secara horizontal.
Terlihat di pandangan Reygan, sekerumunan manusia 'berbeda kubu, tengah memposisikan tubuh, di sudut ruangan. Dan salah satu kubu di antara mereka, tengah menaruh lututnya masing-masing, sebagai alas pengganti kaki, sembari tertunduk 'takut, ke arah lawan.
Sebelum hendak memulai langkahnya kembali, sejenak Reygan tertegun, hingga merasa lemas di sekujur tubuhnya. Ketika sepasang bola matanya, menangkap, dan merekam 'jelas, kegiatan menyeramkan tadi, kini tengah di ulangi, untuk ke dua kalinya.
Hingga keterlambatan langkah Reygan barusan, telah mengakibatkan kedua pegawai 'wanita, itu, kini telah menjadi sebuah bangkai, ulah kebengisan prajurit Adolf.
Dan Sebenarnya, di waktu yang hampir bersamaan. Pria-pria 'bersenjata, lainnya, yang sedari tadi telah menempatkan tubuh, di setiap susunan lantai 'restauran, mereka masih dan tetap membantai 'sadis, para pelayan lain. Akan tetapi, karena terdapat peredam di ujung 'laras, senjata mereka masing-masing, hingga kegiatan mengerikan itu, tak terdengar di gendang telinga Reygan.
"Hentikan!", seru Reygan, sembari berjalan ke arah kerumunan.
Beberapa detik perjalanannya, kini langkah Reygan telah terhenti, tepat di hadapan 'belasan, robot pembunuh.
"Tuan muda", seru kompak mereka, sembari memberi penghormatan.
"Tuan muda, senang melihat kehadiran anda di tempat ini", seru timpal salah seorang pria bersenjata.
Sejenak Reygan memakukan pandangannya, ke arah puluhan pegawai Restauran, yang kini masih saja, terlarut dalam tangisan 'lirih, disela posisi tertunduknya,"Apa aroma dapur dari tubuh pegawai ini, terlihat mengancam nyawa kalian", lalu mengarahkan sebelah tangannya ke atas, guna memegang bahu, salah seorang 'pria bersenjata,"jika tidak, Lantas kenapa kau membunuhnya!?", timpal pekik Reygan.
"Tuan muda, saya mohon tenangkan diri anda, maafkan kami sehingga membuat anda murka seperti ini. Namun sekali lagi maaf tuan, karena kami hanya melakukan perintah dari tuan Palmer",sahut salah seorang pria kekar, sembari menjatuhkan pandangannya.
"Bajingan!, aku tak perduli jika kakek mempunyai urusan bisnis dengan pemilik Restauran ini, namun yang aku ingin tanyakan, kenapa kalian membunuh pegawai di tempat ini!?.Dasar bodoh!", seru Reygan.
Karena telah terpojok, terlebih takut setelah mendengar nada meninggi dari tuan mudanya, akhirnya 'dengan terpaksa, Pria kekar itu, segera menjelaskan misi pembantaian, hingga alat penyadap, yang kini masih terpasang di ransel milik Reygan, 'disela posisi turtunduknya.
Setelah mendengar semua penjelasan tersebut, Reygan segera membalik ransel di punggungnya, untuk menyahut benda 'kecil, berbentuk persegi itu, lalu membanting ke arah bawah, hingga menginjaknya.
Pletak!
"Bajingan!, jadi karena alat bodoh ini, hingga kalian membunuh kedua orang, tak bersalah tadi, haaa!. Dengarkan aku!, selain manager itu aku tak ingin ada pembunuhan lagi di tempat ini".
Setelah kegiatannya, sejenak Reygan 'kembali, mengarahkan pandangannya ke arah pegawai,"kalian boleh pergi sekarang, aku akan menjamin nyawa kalian, hingga meninggalkan tempat ini".
Mendengar perkataan dari Reygan 'barusan, perlahan 'satu per satu, wajah-wajah sedih itu, menjauhkan lututnya dari lantai pijakan, lalu berjalan pelan ke arah Reygan.
"Tuan, kami hanyalah seorang pendatang, dan sungguh kami tidak mengetahui keberadaan tuan Jacob saat ini. Jadi apakah benar kami semua diperbolehkan pergi tuan?", seru lirih, salah seorang 'wanita, pegawai, sembari membungkukkan 'sedikit, tubuhnya.
Tanpa memandang ke arah sumber suara, Reygan segera menganggukkan kepalnya 'sekali, bermaksud menegaskan kebenaran di argumennya tadi.
"Terimakasih tuan muda".
Suara lirih, 'bergantian, terlontar lembut dari 'mulut, masing-masing pegawai wanita, sebelum kepergian.
Di ketahui jika para pegawai Restauran itu, tidaklah berasal dari Evershead, mereka hanyalah para pendatang, yang sengaja mengadu nasib di kota super mewah ini.
Bersamaan dengan, langkah kepergian semua pegawai itu, kini salah seorang pria bersenjata, perlahan memisahkan diri dari barisan, dengan berjalan mendekat ke arah Reygan," tuan muda, saya mendapat informasi, jika beberapa rekan kami, telah melumpuhkan seorang pria matang, di danau halaman belakang Restauran ini".
Mendengar informasi itu, Reygan segera memimpin langkah pria bersenjata 'di setiap lantai, hingga mendahului kepergian pegawai 'tadi, guna menemui hewan buruan.
Beberapa menit, berselang, karena arahan 'jalan, dari pria kekar di belakangnya, kini perjumpaan Reygan dengan Jacob kembali terjadi, namun di tempat serta keadaan mental yang sangat jauh berbeda.
Pasalnya, Di tepian danau fasilitas Restauran, saat ini busana Jacob terlihat berantakan 'tak seperti di awal tadi, bahkan jas mahal miliknya, kini tak terlihat menutupi kemeja putihnya lagi. Terlebih cairan 'darah, segar, tengah mengalir 'sedikit, deras di kedua betis 'ulah SS-3 V4.
Sebenarnya, sebelum belasan pria seram itu, memuntahkan 'puluhan, timah panas senjatanya ke arah lensa-lensa kamera pengawas, Jacob terlebih dahulu, telah memantau pergerakan mereka, sedari awal kedatangan.
Dan karena Jacob telah mengetahui, jika 'belasan, pria itu, terlihat tak asing di memori 'menyeramkan, otaknya, terlebih dirinya juga, mempunyai prasangka buruk di balik maksud kedatangan mereka. Hingga Jacob, segera memasukan tubuhnya ke dalam brangkas besar 'palsu, di ruangannya, guna menyelamatkan diri, dari bahaya pemburu.
Akan tetapi sialnya Jalur 'kapsul, rahasia itu hanya mengarah ke area belakang Restauran, dan bukan ke luar dari permukaan bumi, hingga upaya penyelamatan dirinya, mudah saja terpantau melalui tele SS-1 dan SS-3 V4.