My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 8 Jonathan



Pikiran Daniella pun kalut, menerka apa yang terjadi pada Jonathan. Mengapa hilang begitu saja. Sampailah pada kamar ketiga, Daniella membuka pintu, tidak ada orang di dalamnya, hanya ada ranjang, lemari dan ... pandangan Daniella tertuju pada pojok ruangan.


Sebuah kardus besar, entah bekas kardus mesin cuci ataukah AC, kardus yang sudah lapuk, tidak ada gambar di kardus itu yang menjelaskan bekas barang apa kardus tersebut. Yang jelas, cukup besar untuk dua anak kecil bermain di dalamnya. Namun, yang membuat Daniella penasaran, kardus tersebut sedikit bergerak, Daniella yakin ada pergerakan meskipun samar.


Daniella melangkah lebih mendekat pada kardus tersebut, mengumpulkan keberanian untuk mendekat, hingga sampai ke depan kardus, seketika Daniella menutup mulutnya, lalu berteriak, "Jonathan!"


Tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Jonathan, dia meringkuk di dalam kardus. Jonathan yang mendengar teriakan Daniella ikut terkesikap, dia bangkit dari tidurnya. Namun, masih di dalam kardus itu, duduk meringkuk dengan membenamkan kepalanya diantara lutut dan tangannya, lalu berteriak histeris. "Jangan ... jangan, aku patuh, aku patuh."


Daniella yang melihat Jonathan seperti itu, menjadi iba, dia tidak menganggap Jonathan aneh. Daniella merobek kardus tersebut yang memang sudah lapuk dan mendekatkan diri pada Jonathan. "Jonathan, tenanglah!" Daniella mengusap kepala Jonathan.


"Jangan pergi! Jangan pergi!" sorak kesedihan keluar dari mulut Jonathan, dia mencoba mendongakkan kepalanya.


Daniella melihat tatapan kosong Jonathan. Seketika hatinya iba. "Aku tidak pergi, aku ada di sini."


Jonathan perlahan menatap Daniella, dengan tergesa dia memeluk Daniella, membenamkan kepalanya ke dada Daniella.


Tubuh Jonathan bergetar, Daniella mencoba menenangkannya, dia usap punggung Jonathan. Menyalurkan ketenangan pada Jonathan. "Tenanglah, ada aku di sini."


Entah mengapa ada rasa berbeda yang Daniella rasakan. Dirinya merasa kasihan terhadap Jonathan, meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.


Jonathan semakin erat memeluk Daniella, seakan takut akan kehilangan. Cukup lama mereka saling berpelukan, hingga akhirnya Prisil kembali dari mengambil koper.


Prisil masuk ke dalam rumah. Namun, dia tidak melihat seorangpun di ruang tamu, dirinya melihat sekeliling, mencari keberadaan dua orang yang telah resmi berstatus suami istri.


"Daniella!" teriak Prisil. "Kemana mereka?" gumam Prisil.


Prisil ingin mencari keberadaan Daniella tetapi, entah mengapa kaki-nya seperti terpaku, tidak bisa digerakkan namun tidak bisa dijelaskan mengapa hal itu terjadi.


Sesaat kemudian, Daniella turun dari lantai dua dengan Jonathan mengekor di belakangnya dan memegang pinggiran kemeja yang dikenakan Daniella. Prisil melihat sepasang suami istri tersebut, matanya menatap Jonathan yang berjalan tertunduk.


“Kalian dari mana?” tanya Prisil.


“Oh, habis lihat lantai dua,” jawab Daniella.


“Apa kau siap dengan konferensi pers besok?” tanya Prisil.


“Besok? Bukankah terlalu cepat?” sergah Daniella.


“Lebih cepat lebih baik. Gossip mu sudah tersebar luas.”


“Baiklah.” Pasrah Daniella.


“Kalau begitu, aku atur sekarang. Kau tidak apa jika sementara tinggal di sini?” tanya Prisil.


“Aku baik-baik saja, rumah ini nyaman,” jelas Daniella.


“Kalau begitu aku pergi,” pamit Prisil menatap Daniella lalu beralih ke Jonathan yang masih terdiam.


"Tunggu."


"Apa?"


*


Prisil pergi dari rumah itu, banyak pertanyaan yang ada di otaknya. Namun, tidak berani menanyakannya. Bagaimana mungkin seorang Daniella yang sangat mencintai Evan, kini bisa beralih ke Jonathan. Tidak! Bukan cinta, bukan tatapan cinta yang Daniella tunjukan, ada sesuatu yang lain.


Hening! Suasana ruang tamu menjadi hening setelah kepergian Prisil. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Daniella pada Jonathan.


"Ya," jawab Jonathan datar.


"Emm, untuk sementara kita akan tinggal di sini dan besok kita akan konferensi pers!"


"Aku tahu!" Jonathan berdiri menyerong. "Aku akan bersihkan kamar untuk kau tempati." Setelah berkata, Jonathan meninggalkan Daniella sendiri.


Daniella hanya menatap Jonathan yang naik lagi ke lantai atas, dia tidak habis pikir dengan perubahan karakter Jonathan. Entah kedepannya dia harus bersikap seperti apa terhadap Jonathan. Kenapa seperti memiliki beberapa kepribadian. Baru saja bersikap seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya dan kini kenapa sikapnya begitu dingin .


Jonathan benar-benar membersihkan sebuah kamar di samping kamarnya. Kendatinya, tidak ada debu berlebih, rumah yang jauh dari jalan dan dikelilingi oleh banyak pohon membuat rumah tidak terlalu berdebu, ditambah lagi semua barang-barang yang ada di rumah tersebut tertutup oleh kain putih. Hanya tinggal menyingkirkan kain-kain putih tersebut dan sedikit membersihkan debu yang menempel.


Daniella melihat kamarnya, rumah sederhana tetapi besar. Daniella bukan dari kalangan atas sehingga tidak masalah bagi Daniella tinggal di rumah tersebut. Daniella mencoba membaringkan dirinya di ranjang yang tersedia, cukup empuk.


Daniella tidur miring, menggenggam ponselnya, menimbang untuk membukanya atau tidak. Dia tidak ingin melihat hinaan dari para netizen saat membuka ponselnya. Belum memutuskan untuk membuka ponselnya, pintu kamarnya sudah di ketuk. Daniella bangkit dan membuka pintu, ada Jonathan di luar pintu.


“Ada apa?”


“Aku lapar,” ucap Jonathan datar.


“Oh, sebentar ya,” ujar Daniella.


Entah mengapa dia tidak bisa menolak Jonathan. Daniella bangkit dari tidurnya untuk menuju ke dapur, baru beberapa langkah, dia menghentikan langkahnya. “Bukannya tidak ada makanan di rumah ini?” ujar Daniella.


“Tapi aku lapar!” ujar Jonathan lagi.


“Kita pesan makanan saja, ya?” bujuk Daniella.


“Ya,” jawab Jonathan singkat.


“Kita tunggu di bawah saja,” Daniella mengajak Jonathan untuk menunggu di ruang tamu. Dia masih belum percaya sepenuhnya pada Jonathan. Setidaknya, jika mereka di lantai bawah dan terjadi sesuatu, masih ada harapan untuk Daniella kabur.


Mereka menunggu di ruang tamu, Daniella membuka ponselnya langsung ke aplikasi pemesanan makanan tanpa berkeinginan melihat media sosial miliknya. “Kamu mau pesan apa?” tanya Daniella sembari menggulir layar ponselnya.


“Fried chicken, cola dan kentang goreng,” jawab Jonathan datar.


Daniella melirik Jonathan sepintas, tidak habis pikir mengapa Jonathan memilih makanan layaknya anak kecil. “Baiklah,” jawab Daniella tanpa bantahan.


Mereka duduk di sofa ruang tamu dalam diam. Namun, tatapan Jonathan tertuju pada Daniella. Daniella yang ditatap seperti itu merasa risih, dia mencoba untuk tidak mempedulikan Jonathan. Media sosial yang ingin dia hindari, terpaksa harus membukanya untuk menghindari tatapan dari Jonathan.


Dia mencoba membaca komentar pedas yang tertuju pada dirinya. Meskipun membaca betapa kejamnya para netizen menghinanya, tetapi tidak membuat Daniella merasa kesal seperti sebelumnya, mungkin semua itu karena mata tajam Jonathan yang tidak ada hentinya menatapnya. Daniella bahkan berpikir kelopak mata Jonathan tidak berkedip sekalipun.


Terintimidasi! Itu yang dirasakan Daniella. Penguntit! Itu juga yang dia rasakan, penguntit yang terang-terangan menguntit langsung di depan matanya. Tanpa sadar, jarinya terus menggulir layar ponselnya namun pikirannya melayang berpusat pada Jonathan. Tidak tahan ditatap seperti itu akhirnya dia bersuara. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” geram Daniella.