
Dug ... dug ... dug ...
Suara bising terdengar di telinga Daniella, yang sukses membangunkan tidurnya. Daniella mulai mengerjapkan matanya. Perlahan membuka matanya, dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan. Namun, cahaya matahari belum juga masuk ke dalam kamarnya.
Dirinya mulai mengumpulkan tenaga. Semalam dirinya diterkam berkali-kali oleh Jonathan yang membuatnya setengah sadar.
Daniella melebarkan matanya saat melihat jendela yang tertutup rapat. Bukan tertutup secara alami melainkan ada papan yang menutupi jendela tersebut. Papan yang sangat rapat, terpaku di setiap sisinya.
Suara bising seperti tukang bangunan sudah tak terdengar. Berganti menjadi suara derap langkah yang semakin mendekat.
Daniella mencoba bangkit dari tidurnya, saat dia akan menggerakkan kakinya, terasa ada yang berbeda. Daniella langsung menyibakkan selimut yang digunakannya.
"Argh!" teriak Daniella. Matanya sudah tak tertahan lagi, air mata lolos dari mata indahnya. Terdapat gelang di kaki kirinya. Gelang kaki yang terbuat dari besi berantai yang menyambung pada besi tempat tidur. Tubuh polosnya sudah tidak dipedulikan, tatapannya hanya tertuju pada rantai yang menjuntai di kakinya.
"Kakak sudah bangun?" tanya Jonathan yang baru masuk ke dalam kamar. Tangannya memegang palu, dirinya baru selesai menutup semua jendela dengan papan.
Daniella menatap nanar Jonathan. "Kenapa kakiku dirantai?" tanya Daniella dengan wajah pias.
Jonathan berjalan semakin mendekat pada Daniella. "Biar Kakak tidak kabur. Kakak pasti ingin pergi 'kan? Kakak mau meninggalkan aku bukan?" Jonathan menggeleng keras. Menurunkan pandangannya ke lantai. "Aku tidak akan membiarkannya. Tidak akan membiarkan kita terpisah lagi. Tidak akan!"
"J, kumohon padamu, hentikan semua ini!" bujuk Daniella.
Jonathan berhenti menggeleng, dia mengangkat kepalanya dan menatap Daniella dalam hening. "Lalu, kau akan pergi meninggalkanku?" tanya Jonathan datar dan dengan wajah yang dingin.
Daniella menelisik wajah Jonathan. Dia bisa melihat perbedaan ekspresi pria itu. Panggilannya pun berbeda, sudah tidak ada kata 'Kakak'. Baru dia sadari bahwa Jonathan memiliki ekspresi yang berbeda, seolah bukan orang yang sama. Namun, memiliki satu misi.
"Aku tidak bilang aku akan meninggalkanmu. Aku hanya tidak ingin dirantai," kilah Daniella.
Dia hanya perlu bersabar. Tidak mungkin kelakukan Jonathan tidak akan terbongkar. Terlebih lagi, dia memiliki pekerjaan yang memungkinan Prisil akan curiga jika dirinya tiba-tiba tidak ada kabar. Begitu pula dengan Brandon, pria itu pasti akan datang ke rumah ini.
"Kau tenang saja, rantai itu tidak akan lama menghiasi kakimu. Besok akan dilepas," ucap Jonathan seraya duduk di ranjang Daniella. "Kita akan pergi dari sini."
"Ke mana?" tanya Daniella dengan rasa yang campur aduk.
"Tempat yang hanya ada kita berdua."
Daniella hanya bisa menelan paksa salivanya sendiri. Tidak mau panik, mencoba untuk bersikap tenang agar tidak menimbulkan kegaduhan.
"Tapi, aku tidak mungkin seharian seperti ini. Aku harus ke kamar mandi dan melakukan hal lainnya."
"Kau tinggal bilang padaku dan aku akan mengantarmu. Apa kau mau mandi sekarang?"
Daniella mengangguk, setidaknya dia harus melepaskan dulu rantai yang ada di kakinya.
Jonathan membuka rantai, dia langsung menggendong Daniella untuk ke kamar mandi.
"Aku bisa jalan sendiri," protes Daniella.
"Tidak apa, biar kau tak lelah," ucap Jonathan datar dan terus berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia mendudukkan Daniella di meja wastafel.
"J, aku mau mandi. Kau keluarlah."
"Aku akan memandikanmu."
Daniella hanya bisa pasrah, Jonathan mulai membantunya menyikat gigi lalu ke aktivitas mandi lainnya. Sama seperti sebelumnya, sentuhan yang lembut seolah takut menyakiti.
Daniella di bawa keluar kamar mandi, dipakaikan dress selutut berwarna hitam, sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Jangan dipasang lagi," ujar Daniella saat Jonathan mengambil rantai. "Aku tidak akan kabur, bukankah kau akan selalu di sampingku?"
"Baiklah."
"Aku lapar."
"Aku sudah buatkan makanan untukmu. Mau makan sekarang?"
"Ya."
Mereka berjalan beriringan. Tangan Jonathan bersandar di pinggang istrinya.
"Makanlah."
"Ya." Daniella mengambil satu suap makanan, sedikit mengunyah dan langsung menelannya. Bukan karena masakan Jonathan yang tidak enak melainkan karena dirinya tidak ada selera untuk makan. Dia hanya butuh asupan makanan untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Apa enak?"
"Ya, aku sampai terburu-buru memakannya," ujar Daniella mencoba tersenyum. "Jadi, selama aku belum bangun, kau memasak?"
"Ya."
Daniella mengambil satu potong daging. Tak sengaja matanya melirik piring yang ada di dapur, piring bekas yang sudah mengering bekas sisa makanan.
"Apa kau belum makan?" tanya Daniella yang melihat Jonathan ikut makan.
"Belum."
"Lalu, piring siapa itu?" tunjuk Daniella pada piring bekas di meja dapur dekat wastafel itu.
"Bekas makan hewan peliharaan di gudang belakang."
Kunyahan makanan di mulut Daniella terhenti saat mendengar Jonathan menyebut hewan peliharaan. Dia tahu pasti, siapa yang dimaksud hewan peliharaan.
Setelah makan mereka menghabiskan waktu dengan menonton tv. Jonathan memeluk Daniella erat selama menonton. Lelaki yang begitu posesif. Sesekali dia akan menarik dagu sang istri, memberikan ciuman sayang.
Kegiatan mereka hanya sebatas makan, menonton tv dan menggambar. Ya, Jonathan pandai menggambar. Dia membuat sketsa wanita yang dicintainya. Daniella hanya tersenyum melihat sketsa dirinya yang begitu indah. Sebuah hasil karya dari tangan seorang psikopat.
Hingga malam menjelang. Mereka beranjak untuk tidur. Sebelumya, mereka melakukan percintaan terlebih dahulu. Jonathan masuk ke dalam dekapan Daniella usai percintaan mereka. Membenamkan wajahnya ke dada sang istri.
Daniella terlalu lelah setelah melayani suaminya. Hingga, dia pun terlelap dengan mengusap lembut rambut suaminya.
Di tengah malam, Daniella terbangun. Di sisinya sudah tidak ada suaminya. Terdengar samar suara tangisan, suara yang sangat dikenalnya.
Daniella turun dari ranjang, membuka pintu kamarnya perlahan. Lampu sudah padam. Namun, ada cahaya dari satu kamar. Dia menaikan alisnya sebelah karena cahaya tersebut berasal bukan dari kamar Jonathan. Melainkan dari kamar yang selama ini tertutup rapat.
Memberanikan diri untuk melangkah dan pada akhirnya, melihat Jonathan yang duduk meringkuk di bawah ranjang dengan membenamkan kepalanya diantara lutut dan tangannya. Pria itu menangis teramat sedih.
Daniella melangkahkan kaki semakin dekat dan berlutut di depan Jonathan. "J, ada apa?" tanyanya dengan mengusap lengan suaminya.
Jonathan mendongak, dia langsung memeluk Daniella, masih dengan tangisnya. "Jangan pergi. Aku mohon. Aku akan patuh, aku patuh."
Ada rasa sakit di hati Daniella melihat Jonathan seperti itu. Bukan pertama kali melihat Jonathan menangis. Dia pernah melihat suaminya menangis di dalam kardus bekas.
Daniella mencoba menenangkan suaminya. Memeluknya erat seraya menatap ruang kamar itu. Kamar tidur yang lebih besar dari dua kamar sebelumnya. Ya, itu adalah kamar utama.
Dia yakin, Jonathan memiliki trauma. Kemungkinan, ada sesuatu di kamar itu. Daniella mencoba menenangkan tangis Jonathan. Dia mengusap lembut punggung suaminya. Namun, pikirannya tak tinggal diam dan terus bekerja. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.