My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 48 Menyamar



Daniella menghempaskan tubuhnya ke kursi, dia memijat keningnya. Dia dan Prisil berhasil ditendang dari kediaman Tuan Gu. Mereka kembali ke rumah Daniella.


"Terlihat Jonathan sangat sedih," lirih Daniella.


"Mau bagaimana lagi? Kita sudah berusaha. Aku yakin, sebentar lagi Jonathan akan di bawa ke luar negri. Mereka pasti akan kembali ke tempat asal mereka," tutur Prisil.


"Apa kau punya cara agar aku bisa kembali ke mansion itu lagi?" tanya Daniella.


"Mana aku tahu!" ketus Prisil.


Daniella terdiam, otaknya masih penuh dengan Jonathan. Lelaki yang sangat dirindukannya.


"Istirahatlah, sudah cukup melelahkan hari ni," ujar Prisil.


Daniella dan Prisil tidur di ranjang yang sama. Prisil masih belum bisa meninggalkan Daniella.


Dua hari berlalu, selama itu pula Daniella murung. Prisil datang dengan terburu-buru. "Daniella!" panggil Prisil.


"Ada apa?" tanya Daniella.


"Apa kau serius ingin bertemu dengan Jonathan?"


"Tentu," jawab Daniella pasti.


Prisil menarik napasnya pelan. "Kediaman Jonathan membutuhkan tambahan pelayan untuk dapur."


"Lalu?"


"Kau 'kan pandai memasak. Kepala koki di sana adalah kenalan dari temannya dari temannya temanku," jelas Prisil.


Daniella menyeringitkan dahinya, mencoba mencerna perkataan sahabatnya. "Maksudmu memintaku untuk melamar? Kita sudah ke sana, tidak mungkin tidak mengenali diriku! Lagipula, belum tentu aku bisa masuk ke dalam rumah itu."


"Pasti diterima. Temanku bisa membantu. Namun, yang jadi masalah adalah dirimu yang sudah dikenali."


"Itu dia maksudku!" seru Daniella.


Prisil melirik Daniella. "Tapi, kau bisa masuk dengan mengubah penampilanmu," timpal Prisil.


"Maksudmu menyamar?" tanya Daniella dan mendapat anggukkan dari Prisil.


...***...


"Apa kau sudah siap?" tanya Prisil.


"Tentu," jawab Daniella pasti.


Daniella sudah merubah tampilannya. Dia rela memotong rambut panjangnya hingga tidak menyentuh bahunya. Pengalaman menjadi model membuatnya tahu bagaimana merias wajah agar tampak berbeda dari sebelumnya.


Daniella mengubah total penampilannya. Mulai dari rambut, mengubah cara bicaranya agar mengeluarkan suara yang berbeda. Membuat wajahnya tampak lebih terlihat berisi dengan kemampuan makeup-nya, menggunakan plastik khusus yang sangat tipis dan elastis di wajahnya agar penampilannya berbeda dari sebelumnya. Setelah itu, baru menggunakan make up untuk menyempurnakan tampilannya. Daniella bahkan rela mencabut gigi gingsul milikinya agar senyumnya tampak berbeda.


"Nanti akan ada Nancy yang mengantarmu langsung menemui kepala koki," jelas Prisil.


"Baik."


"Santailah, jangan sampai dicurigai."


Daniella menghembuskan napasnya pelan. "Tentu."


Semua yang dikatakan oleh Prisil benar adanya. Sudah ada Nancy yang membawa Daniella ke area dapur.


"Jadi, kau pelayan baru?" tanya sang koki bernama Clif.


"Ya, Chef," jawab Daniella.


"Meskipun bukan tanggungjawab utama memasak. Namun, setidaknya kau tahu dasar memasak. Jadi, kau masih bisa membantu di dapur. Aku tes dulu kemampuanmu," terang Clif.


"Baik Chef."


Clif sangat suka dengan keteguhan Daniella. Seorang yang mudah diajari. Daniella menjalankan tugasnya dengan baik. Menjadi asisten di dapur. Memotong sayur, daging dan sebagainya.


Sudah tiga hari Daniella bergabung dengan tim dapur. Namun, belum ada kesempatan baginya untuk bertemu dengan Jonathan.


Semua pelayan menjalankan tugasnya masing-masing , yang tidak berkepentingan tidak bisa sembarang berkeliling mansion itu.


Tidak ada keakraban pula diantara para pelayan. Semua serba ada pemisahan pekerjaan. Pemisahan tanggungjawab dan juga minim komunikasi. Ya, mereka dilarang mengobrol satu sama lain. Dirinya mulai frustasi, belum menemukan cara untuk bertemu dengan Jonathan.


"Kau yang antar saja ke Tuan muda," pinta seorang pelayan pada temannya.


"Ini giliran mu yang mengantar makanan. Aku tidak mau!" tolak rekannya.


"Hush, jangan bicara sembarangan. Kita tahan saja. Paling tinggal beberapa hari lagi Tuan Besar dan Tuan Muda pergi meninggalkan mansion. Kalau hari itu tiba, kita bisa santai seperti sebelumnya."


Percakapan dua orang pelayan yang bertugas mengantar makanan didengar oleh Daniella. Ada rasa sakit di dada Daniella saat suaminya dibilang gila oleh orang lain.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kalian mengumpat tentang Tuan Muda dan Tuan Besar?" tanya Daniella sukses membuat dua orang pelayan itu bergedik mendengar suara Daniella.


"Tidak ada!" ujar salah satu pelayan. "Lanjutkan saja pekerjaanmu!" lanjutnya.


Daniella menyeringai. "Apa kalian pikir aku bodoh. Jelas sekali kalian bilang 'kirim ke rumah sakit jiwa!' Kalian sedang mengolok Tuan Muda?" tanya Ainsley mengangkat bahunya.


"Kau jangan bicara sembarangan. Kami tidak bicara seperti itu."


"Benarkah?" Daniella mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara di ponselnya. Terdengar suara dua orang pelayan tersebut. "Jadi, ini bukan suara kalian?" tanya Daniella tersenyum smirk.


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku tidak ingin melapor. Tapi, sebagai gantinya ceritakan apa yang kalian tahu tentang Tuan Muda dan Tuan Besar," tutur Daniella.


"Kami tidak tahu apa-apa!"


"Baiklah kalau tak mau bicara. Akan aku kirim rekaman ini pada kepala pelayan. Aku rasa, kalian tahu akibatnya," tukas Daniella.


"Sungguh kami tidak mengetahui apa pun! Kau tahu sendiri bahwa di sini tidak bisa saling mengobrol. Semua hanya menjalankan tugas sesuai dengan pekerjaannya," jelas sang pelayan.


"Lalu, kenapa kau bilang Tuan Muda gila?"


Sang pelayan menggigit bibir dalamnya. Dia khawatir Daniella melaporkan mereka. "Aku tidak bilang begitu!" sangkalnya.


"Baiklah jika kalian masih ingin menyangkal. Aku akan laporkan pada kepala pelayan." Daniella bersiap untuk meninggalkan kedua pelayan.


"Tunggu," ujar sang pelayan.


Daniella menghentikan langkahnya. "Katakan apa yang kalian tahu."


"Sebenernya kami pun tak tahu apapun. Mansion ini kosong selama bertahun-tahun dan hanya dihuni para pelayan yang selalu rutin membersihkannya. Tuan Besar baru datang tidak lama dan membawa cucunya ke sini. Kabar yang beredar Tuan Muda mengalami gangguan jiwa."


"Lalu, apa maksudmu dengan mereka akan pergi?"


"Yang kami tahu, Tuan Besar akan membawa Tuan Muda ke luar negri untuk menjalankan pengobatan lagi."


Daniella hanya bisa termenung, jika dia tidak bisa membawa Jonathan, kemungkinan dia tidak akan bertemu lagi dengan suaminya.


"Aku mohon padamu untuk tidak melaporkan kami," terang salah satu pelayan. Dirinya bersiap mengantar makanan pada Jonathan.


"Kau mau ke mana?" tanya Daniella.


"Kami sudah menceritakan apa yang kami tahu. Jadi, sekarang waktunya bekerja kembali."


"Apa kau mau mengantar makanan ke Jo ... Tuan Muda?"


"Ya."


"Biar aku yang antar," pinta Daniella.


"Kau serius? Tidak mudah mengantar makan pada Tuan Muda. Emosinya tidak stabil. Dia akan langsung melempar barang ke arahmu."


"Biar aku yang lakukan," jawab Daniella pasti.


Sang pelayan melipat dahinya bingung. "Kenapa kau ingin mengantar makanan pada Tuan Muda?"


"Tidak apa, aku hanya ingin tahu seperti apa rupa Tuan Muda," terang Daniella.


"Baiklah, jika ada yang bertanya. Kaulah yang harus bilang bahwa kau bersikeras untuk mengantarnya."


"Ya, tentu. Aku jamin tidak akan menyulitkan kalian."


Sang pelayan memberikan troli pada Daniella yang sudah terisi penuh makanan di atasnya. "Gunakan lift pelayan. Ada di sebelah kanan. Kamar Tuan Muda berada di lantai tiga nomor dua," jelas sang pelayan.


"Oke, terima kasih."


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


...Terima kasih telah mengikuti kisah Jonathan dan Daniella πŸ™πŸ₯°πŸ₯°...


...Mohon maaf dengan jadwal up yang tidak beraturan πŸ™πŸ™πŸ™...


...Terima kasih sekali lagi.. Kawal hingga akhir yach.. Jangan lupa πŸ‘πŸ’—πŸŒΉn vote πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜...