My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 35 Penginapan



Daniella dan Jonathan menuju ke lokasi yang diberikan oleh Prisil. Sebuah desa yang masih sangat sedikit penduduk yang bermukim.


Jonathan hanya mengikuti setiap permintaan Daniella meskipun dirinya tidak percaya akan hantu karena dia sangat tahu, suara yang didengar Daniella bukanlah suara hantu.


Namun, dia masih mengikuti keinginan Daniella yang mengikuti saran dari Prisil untuk menjemput langsung sang ahli supranatural.


Jonathan tidak yakin sepenuhnya perkataan yang keluar dari mulut Prisil adalah sebuah kebenaran. Dia hanya akan mendampingi wanitanya. Berdiri di sampingnya untuk selalu menjaganya.


“Apa ini desanya?” tanya Daniella.


Jonathan melihat kertas pemberian Prisil. “Sesuai dengan yang tertera di kertas ini,” terang Jonathan.


“Ayo kita jalan,” ajak Daniella.


“Di sini tidak dijelaskan alamatnya. Hanya nama desa dan ciri-ciri rumah itu. Kita harus melewati lembah dan rumahnya terdapat pohon merpati di depan rumahnya,” tutur Jonathan.


Daniella menoleh pada Jonathan. “Berikan padaku?” pintanya dengan menengadahkan tangannya.


Jonathan memberikan selembar kertas pada Daniella. Sang wanita menelisik tulisan tangan yang tertera di kertas itu. Semua yang dikatakan oleh Jonathan sesuai dengan isi


kertas tersebut.


Daniella hanya menghela napasnya panjang, dia sangat ingin bertemu dengan paranormal itu. Dia sangat yakin pendengarannya tidak salah, bahwa ada hantu di gudang halaman belakang.


Mereka jalan beriringan, masuk ke dalam desa yang terletak di daerah pegunungan. Entah berapa lama mereka berjalan, belum juga menemukan sebuah lembah di desa itu.


“Kita mau berjalan sampai kapan? Ini belum menemukan lokasinya!” keluh Daniella.


“Apa kita mau pulang saja?” tawar Jonathan.


“Lebih baik seperti itu. Tapi, jika kita kembali, bukankah sama saja kita akan sampai larut malam.”


“Ya.”


“Lalu bagaimana?”


“Apa mau cari penginapan saja?”


“Mana ada penginapan di sini,” sergah Daniella.


Jonathan tak menjawab sergahan Daniella, karena dia pun tak tahu lokasi yang mereka datangi ada atau tidaknya penginapan.


Mereka terus menyusuri jalan, langkah kaki Daniella terhenti melihat sebuah penginapan besar di depannya. “Di dalam desa terpencil ada penginapan sebagus ini?” gumam Daniella melihat sebuah penginapan berlantai satu terlihat begitu elegan.


Dekorasi berwarna cokelat, identik dengan bangunan yang terbuat dari kayu. Terlihat bersih dan nampak asri. Daniella dan Jonathan saling tatap. Heran dengan penginapan di dalam sebuah desa. Namun, tidak ada yang bersuara. Mereka mendekati penginapan itu dengan plang besar bertulis ‘Amore Verdadero’ yang berarti cinta sejati.


Jonathan sedikit mengangkat alisnya. Jelas sekali tempat tersebut adalah penginapan untuk tujuan pariwisata. Lama tinggal di luar negeri membuat Jonathan tidak mengetahui tempat pariwisata di pedalaman desa itu. Begitu pula dengan Daniella yang baru tahu akan tempat itu.


Semua adalah ulah Prisil, semua kegiatan Daniella, dia yang mengaturnya dan dia sangat mengenal sahabatnya itu. Hingga, dia yakin Daniella tidak akan pernah mengetahui tempat itu.


“Kami ingin memesan dua kamar,” ujar Daniella pada sang resepsionis.


Jonathan hanya melirik sepintas pada Daniella saat sang istri memesan dua kamar.


“Maaf Nona, sisa kamar hanya tinggal ada satu,” jawab sang resepsionis.


“Anda bahkan belum melihat layar komputer di depan Anda. Bagaimana tahu kamarnya tersisa satu jika Anda belum mengeceknya?”


“Sebelum Anda datang sudah ada pengunjung sebelumnya yang datang terlebih dahulu. Jadi, saya sudah mengecek beberapa saat lalu,” tutur sang resepsionis.


Daniella hanya bisa menghembuskan napasnya pelan, terpaksa dia tak membantah ucapan Jonathan. Hari yang mulai gelap membuat Daniella menyetujuinya.


Daniella dan Jonathan diantar menuju kamar mereka. “Silakan Tuan, Nyonya. Ini kamar kalian,” tutur sang pelayan penginapan.


Daniella terlihat takjub melihat keindahan kamar tersebut. Sebuah kamar bergaya klasik, masih dengan tema kayu.


Sebuah kamar yang luas dengan ranjang ukuran king bed, nuansa putih bercampur ornamen kayu berwarna cokelat.


Ada sebuah pintu dari bambu sebagai pembatas kamar, Daniella membuka pintu bambu itu, terpampang sebuah kolam pemandian di dalam kamar itu, dengan diselingi tumbuhan di pinggir kolam dan tentunya dengan atap yang terbuka. Menambah kesan eksotis tempat itu.


Kolam pemandian yang cukup besar dengan nuansa alam yang kental, menggunakan banyak batu alam yang terlihat estetik yang nampak sejuk.


Gemericik suara air terjun kecil buatan menjadi irama yang menenangkan. Jejeran tamanan yang sengaja di tata rapi menambah keindahan kolam, yang tampak bagai sungai kecil di dalam hutan. Terdapat kepulan asap bagai sebuah kabut yang menghiasi kolam tersebut. Sangat indah dipandang mata, tempat buatan manusia yang tampak begitu alami.


Daniella menghirup udara segar dalam-dalam, udara yang dingin membuat Daniella memeluk tubuhnya sendiri.


Melihat Daniella yang memeluk tubuhnya sendiri membuat Jonathan mendekat dan memeluk Daniella dari belakang.


"Apa mau berendam?" tawar Jonathan.


Jonathan begitu intens memeluknya, membuat Daniella sedikit gugup. Sudah dua hari ini Jonathan bertindak seperti seorang laki-laki dewasa yang memperlakukan penuh sayang kekasihnya.


"Tidak, hawanya terlalu dingin, aku mandi air hangat di kamar mandi saja," ujar Daniella.


Jonathan semakin mengeratkan pelukannya. Menghembuskan napasnya di telinga sang istri. Perlahan menyentuhkan bibirnya pada telinga Daniella.


Menyusuri dari telinga hingga ke leher jenjang sang model. Menarik dagu Daniella agar kepalanya miring ke samping. Hingga akhirnya, Jonathan bisa merengkuh bibir manis istrinya.


Jonathan membalik tubuh Daniella agar memperdalam ciuman mereka. Tangan Jonathan tak tinggal diam, terus berusaha membuka apa yang melekat pada tubuh mereka.


Byur!


Jonathan memeluk Daniella dan menceburkan diri mereka ke dalam kolam.


"Ah!" Daniella mencoba mengambil napas karena sempat tenggelam beberapa saat.


Jonathan langsung menarik pinggang Daniella yang tak tertutup apapun. Ya, Jonathan berhasil membuat diri mereka dalam keadaan polos.


"Tidak dingin bukan? tanya Jonathan.


"Ya, tidak kusangka ini kolam air hangat."


Jonathan memberikan senyum manisnya. Daniella membalaskan dengan tersenyum canggung, dia masih gugup berhadapan dengan Jonathan, meskipun dia tahu bahwa Jonathan membawa kenyamanan tersendiri.


Berendam di dalam kolam air hangat, menikmati setiap sentuhan air yang menenangkan. Berdiri berdampingan seraya sesekali melempar senyum tanpa kata. Cahaya bulan menyinari atap yang terbuka, mereka menatap keindahan bulan.


Malam kian larut, hawa panas di kolam pemandian air panas berlanjut ke dalam kamar. Niat hati untuk menemukan paranormal agar dibawa ke rumah. Mereka malah bertemu dengan sebuah penginapan yang membuat mereka lebih dekat lagi.


Udara dingin seolah kalah telak, hawa dingin seolah pulang karena malu tidak bisa menjalankan tugasnya. Dua orang di atas ranjang mengeluarkan peluh keringat yang menandakan panasnya, apa yang telah mereka perbuat.


Tersengal, Daniella mencoba mengatur napasnya karena sudah tak sanggup dengan perbuatan intim suaminya. Di saat dia memejamkan matanya. Daniella mendengar gumaman Jonathan.


"Aku menyukaimu, Kak. Aku mencintaimu."


Daniella langsung melebarkan matanya, ditariknya wajah sang suami. Dia menatap lekat mata sang lelaki, menatap tak percaya. "J," lirihnya.