My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 52 Silsilah



β€œApa yang dialami oleh Jonathan, bukanlah disebabkan oleh trauma masa lalu. Namun, semua yang terjadi adalah penyakit turunan." Janson menghela napasnya pelan. Berat baginya untuk menceritakan kisah kelam keluarganya.


"Istriku, memiliki penyakit keturunan itu. Berapa banyak upayaku untuk menghentikannya." Janson menghentikan ucapannya sejenak. "dia membunuh para pelayan di rumah kami. Hingga, pada suatu malam, dia mencoba membunuhku karena cemburu. Namun, sebelumnya dia membunuh wanita yang dia kira adalah selingkuhanku. Sakit bagiku melihat wanita yang kucintai terkurung dalam rumah sakit jiwa. Tetapi hal itu harus kulakukan, terlebih lagi ada da Joshua diantara kami. Aku harus menjaga anakku tanpa seorang istri dan juga harus tetap memperhatikan istriku demi kesembuhannya. Namun naas, istriku kalah dengan penyakitnya. Dia naik ke lantai atas rumah sakit dan melompat dari sana. Bukan karena bunuh diri, tetapi karena halusinasinya," jelas Janson.


Daniella mendengarkan cerita Janson dengan tatapan sulit percaya. Janson melihat Daniella yang seperti itu melanjutkan ceritanya.


"Aku membesarkan Joshua sendiri dengan ketegasan. Aku pikir tidak ada masalah dengannya. Bayangan istriku mulai kulupakan. Hingga akhirnya Janson bertemu dengan Nathalie, seorang imigran yang tidak memiliki identitas. Dia jatuh cinta pada wanita itu. Aku menentang hubungan mereka. Bukan karena aku tidak setuju, tetapi aku merasa ada yang berbeda dengan anakku. Aku menemukan banyaknya kumpulan gigi hewan di kamarnya. Dugaanku adalah gigi anjing yang dikumpulkan dalam sebuah kotak kado, baru aku akan memeriksakan dirinya. Namun, Joshua terlebih dahulu kabur dariku. Empat tahun kemudian, aku menemukannya. Tetapi, Joshua tidak mau kembali ke padaku. Aku menghormati keputusannya. Aku melihatnya bahagia dengan istri dan anaknya. Jadi, aku pikir tidak masalah jika kubiarkan mereka bahagia. Namun, ternyata hal tak terduga terjadi. Joshua memasung Nathalie karena cemburu dan Jonathan yang akhirnya membunuh ayahnya sendiri," tutur Janson dengan suara bergetar.


Jika mengingat hal itu, hatinya yang paling sakit. Cucunya membunuh ayah kandungnya sendiri. Entah dosa apa yang pernah ia perbuat hingga menghadapi cobaan hidup seperti ini. Janson tidak ingin terulang kembali. Bukan ingin memutuskan keturunan istrinya dengan memisahkan Jonathan dan Daniella. Namun, dia pun tak ingin ada bibit-bibit psycho lagi. Ya, selagi Jonathan tidak memiliki keturunan. Setidaknya, Janson tak ingin sebuah tragedi kelam terulang lagi.


"Aku tahu cerita itu," sela Daniella. "Itu dilakukan olehnya karena tidak tega melihat ibunya disakiti," belanya. Dia menatap tanpa keraguan pada pria tua yang masih terlihat gagah itu.


Janson hanya tersenyum kecut. "Apa kau pikir aku tidak melakukan penyelidikan? Setelah mendapatkan kabar tragedi itu. Aku memutuskan mencari tahu kebenarannya. Semua perlakuan posesif Joshua terhadap Nathalie diketahui Jonathan. Mereka menyayangi satu wanita yang sama. Mereka sayang dengan Nathalie. Namun, kekecewaan Joshua membuat Nathalie harus terenggut nyawanya. Jadi, bukan seperti apa yang Jonathan katakan. Dirinya tahu sejak awal bahwa ibunya dipasung oleh ayahnya sendiri dan dia membenarkan tindakan ayahnya. Jika, memang miliknya, dia akan mempertahankan orang itu bagaimanapun caranya tanpa memikirkan perasaan orang itu."


Janson berhenti sejenak baru melanjutkan bicaranya. "Bukan karena dia tidak tega dengan ibunya lalu menghabisi nyawa ayahnya. Namun, semua itu dilakukan Jonathan karena bersaing dengan ayahnya sendiri. Jonathan naif, tidak ingin perhatian ibunya terbagi. Disaat Joshua hilang kendali karena cemburu. Di situ Jonathan mengambil kesempatan agar orang lain tidak mengambil ibunya, termasuk dari ayahnya sendiri."


Janson hanya bisa memijat keningnya apakah ini sebuah kutukan? Mengapa istri, anak dan cucunya mengalami penyakit turunan yang mengerikan itu. Tidak tahu silsilah keluarga istrinya sebelumnya. Janson tidak menyelidiki sampai rantai teratas. Cukup baginya disibukan dengan keluarganya.


Daniella hanya bisa memegang dadanya sendiri. Benar-benar ingin menyangkal apa yang telah ia dengar. Siapa yang harus dia percaya? Yang dikatakan oleh Janson sulit dipercaya oleh otaknya. Namun, Jonathan sendiri pernah mengikatnya di ranjang. Meskipun, pada saat itu tidak dalam durasi yang lam. Di tengah kebingungannya. Suara Janson memekik di telinganya.


"Sebelum terlambat, lebih baik kita hentikan ini semua. Aku terlambat menangani istri dan anakku, dan aku tidak ingin terlambat menangani Jonathan, karena sebelumnya, Jonathan menunjukan hasil yang cukup baik." Janson menghela napasnya pela. "Katakan padaku di mana dia?"


"Aku tidak tahu," jawab Daniella dengan suara pelan. Dia masih belum bisa menerima kenyataan.


"Jika kau mencintainya. Jangan ditutup-tutupi keberadaannya. Dia harus ditangani, dia tidak akan membiarkan orang lain lain sedikit saja menyinggungmu. Jika terjadi, kau tahu apa yang akan Jonathan lakukan," tegas Janson.


Daniella menggeleng lemah. "Sungguh aku tidak tahu. Dia hanya bilang akan mengakhiri yang telah terjadi," lirih Daniella.


"Mengakhiri yang telah terjadi," gumam Janson. "Apa kau memiliki kekasih selain Evan? Atau ada pria lain yang berhubungan denganmu?"


"Tidak mungkin! Mereka berteman sangat baik. Mengapa Jonathan menuduh Brandon." Janson menatap Daniella. "Apa kau ada hubungan dengan Brandon?"


"Tidak!" jawab Daniella pasti. Dirinya tidak pernah terlibat dengan Brandon. "Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Interaksiku dengannya hanya sebas meminta bantuannya untuk membantu Evan. Itu saja, tidak lebih."


"Pikiranmu seperti itu. Namun, tidak bagi Jonathan." Janson langsung berdiri dari duduknya.


"Tuan, apa maksud Anda ...." tatapan mata Daniella tidak fokus, di otaknya sudah ada pikiran Jonathan akan menghabisi Brandon. Namun, hatinya menyangkal akan hal itu.


"Aku harus menemukan mereka," ujar Janson tegas. Para pengawal dibelakangnya, dengan sigap menemani Tuan mereka keluar dari rumah kayu itu.


Janson keluar dari rumah kayu itu. Daniella ikut berdiri dan mengejar Janson. Daniella memegang pintu mobil Janson yang akan tertutup. "Tuan, biarkan aku ikut bersamamu," pinta Daniella tanpa ragu.


Dia percaya suaminya tidak akan bertindak gegabah apalagi sampai menghabisi nyawanya Brandon. Daniella yakin Jonathan berbeda dengan ayah ataupun neneknya.


Janson menoleh, melihat kesungguhan Daniella. "Masuklah."


Janson dan Daniella masuk ke dalam mobil yang sama. Tangan Daniella mengerat pada ujung pakaiannya. Masih ada ruang di hati Daniella bahwa Jonathan tidak seperti apa yang dikatakan oleh Janson.


Dia yakin, Jonathan bisa hidup normal seperti manusia lainnya. Daniella sudah mematri hatinya untuk hanya mencintai Jonathan. Bagaimanapun keadaan Jonathan, dia tidak akan pernah lari atau pun menjauh dari prianya. Dia akan selalu ada di samping Jonathan.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


...Terima kasih telah mengikuti kisah Jonathan dan Daniella πŸ™πŸ₯°πŸ₯°...


...Mohon maaf dengan jadwal up yang tidak beraturan πŸ™πŸ™πŸ™...


...Terima kasih sekali lagi.. Kawal hingga akhir yach.. Sebentar lagi mau end 🀭 Jangan lupa πŸ‘πŸ’—πŸŒΉn vote πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜...