
Flashback
Taman yang asri, banyak pohon rimbun yang menyejukkan. Banyak pasien yang sedang menjalani aktivitas. Berkumpul bersama, bernyanyi saling menyahut. Namun, tidak bagi Jonathan. Dia duduk di bawah pohon dengan tatapan kosong. Bukan hilang akal, dia hanya tidak suka berinteraksi dengan orang lain. Hanya ada satu nama yang ada di otaknya. Daniella Tan, selalu terpatri di hatinya.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Jonathan tanpa menoleh Brandon. Dia menyadari ada orang yang datang dan duduk di sampingnya.
“Tentu bukan untuk meminta maaf. Aku hanya datang untuk melihatmu. Aku hanya memastikan apa kau akan mendekam di sini selamanya."
"Itu bukan urusanmu."
"Tentu akan menjadi urusanku. Karena aku berniat menikahinya dan menjadi ayah sambung anaknya," terang Brandon.
Jonathan menoleh, dia menatap tajam Brandon. Kata anak begitu mengejutkannya. "Apa maksudmu?"
"Apa kurang jelas? Daniella memiliki seorang anak. Dia membesarkan anaknya sendiri selama ini. Aku tidak akan membiarkan wanita secantik itu kesepian tanpa suami."
Grep!
Jonathan menarik jaket kulit Brandon. "Jangan pernah berharap bisa menyentuhnya. Seandainya pun aku mendekam di sini selamanya. Aku pastikan Daniella tidak akan pernah mau bersama mu!"
Jonathan melepas cengkraman tangannya pada jaket Brandon. Dia bisa mengontrol emosinya. Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Brandon sendiri di bawah pohon.
Brandon hanya tersenyum miris melihat kepergian Jonathan. Dirinya lebih dulu dinyatakan sembuh. Disempatkan untuk melihat keadaan sahabatnya, meskipun hubungan mereka tidak akan bisa seperti dulu.
Dia merogoh kantung jaketnya. Mengeluarkan botol minuman beling berbentuk kotak pipih berwarna hitam. Membuka tutupnya dan menegak minuman tersebut.
Mengusap sisa minuman yang ada di sudut bibirnya dengan ibu jarinya. Menatap ibu jari yang terkena sisa minuman berwarna merah.
...***********************...
Tak menyangka, doa yang terlontar dari mulut Joella terkabulkan. Jonathan hadir di usia Joella yang ke lima. Penuh haru dan tangis bahagia dari dua orang yang saling mencintai.
Mereka menghabiskan liburan di taman bermain. Begitu banyak wahana yang mereka mainkan.
“Daddy sudah sembuh?” tanya Joella.
“Tentu,” jawab Jonathan.
“Daddy akan tinggal dengan kami selamanya?”
“Ya. Kita akan selalu bersama.”
“Yeah!” seru Joella.
Jonathan memandangi wajah putrinya yang terlelap karena kelelahan. Daniella menghampiri Jonathan yang sedari tadi duduk di samping tempat tidur putri mereka. Dia mengusap pundak suaminya.
Jonathan menoleh ke arah Daniella. “Pasti sangat sulit membesarkan anak seorang diri … maafkan aku yang telah membuatmu menunggu terlalu lama.”
Daniella duduk di samping suaminya. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi sang suami. “Ya, sangat sulit. Maka dari itu, jangan pernah meninggalkan aku lagi.”
Jonathan hanya mengangguk pelan. Ya, tidak akan pernah mau meninggalkan Daniella lagi. Dia yakin dirinya sudah pantas bersanding di samping Daniella.
Daniella memeluk erat suaminya, seolah tak ingin lepas sedetikpun. “Aku merindukanmu,” ucapnya.
“Aku pun merindukanmu.” Jonathan semakin erat memeluk Daniella.
Jonathan mengendurkan pelukan mereka, dia menatap lekat sang istri. Setiap inci wajah Daniella tak luput diamati oleh Jonathan.
Perlahan wajah Jonathan mendekat pada wajah Daniella. Menempelkan bibirnya pada bibir milik sang istri. Rasa yang sudah bertahun-tahun tak dirasakan keduanya.
Ciuman lembut berubah menjadi cuman panas. Lidah Jonathan mengabsen setiap isi di rongga mulut Daniella. Melepasnya sejenak ciuman itu, turun ke dagu dan sekitar rahang lalu berakhir kembali ke bibir candu istrinya.
Jonathan meraih pinggang sang istri, mengangkat Daniella dan menggendongnya tanpa melepas ciuman ke arah kamar mereka. Merebahkan istrinya di atas ranjang. Bersitatap sejenak dan mulai kembali saling memberikan sentuhan sensasional.
Melepas kerinduan dengan cara yang manis, melepas semua yang selama ini tertahan. Menikmati malam berdua seperti pengantin baru.
Lima bulan berlalu, di perut Daniella terdapat buah cintanya yang kedua bersama Jonathan. Usia kandungan yang baru dua bulan belum begitu terlihat di tubuh Daniella.
Jonathan mengambil alih perusahaan agar Daniella bisa beristirahat. Setiap weekend, keluarga kecil itu akan menghabiskan waktu bersama untuk staycation. Jonathan ingin menebus masa-masa mereka yang terpisah. Melimpahkan kasih sayang pada keluarga kecilnya.
Sempat tak ingin memiliki anak lagi, Jonathan memiliki kekhawatiran tersendiri. Meskipun Joella tumbuh ceria dan sangat berbeda dengan masa kecilnya. Namun, masih ada rasa takut akan penyakit turunan keluarganya menurun ke salah satu anaknya.
Namun, Daniella berhasil meyakinkan Jonathan bahwa mereka akan membesarkan anak-anak mereka dengan benar dan penuh kasih sayang. Tidak mungkin Daniella untuk menggugurkan kandungannya. Bagaimanapun anak adalah anugerah yang harus dijaga.
Daniella sendiri sedang berada di restoran, mengambil beberapa cemilan untuk Joella dan Jonathan.
"Daniella," panggil Raska, seorang teman lama yang berkecimpung di dunia model.
"Raska."
Raska mendekat pada Daniella, tanpa basa basi dia langsung memberikan pelukan hangat pada Daniella. Suatu hal yang sangat lumrah dilakukan oleh para model jika saling bertemu. Tidak memandang gender, semua akan seperti itu. Namun, tidak bagi Jonathan.
"Tidak menyangka bertemumu di sini. Sudah sangat lama tak mendengar kabarmu. Sekarang sibuk apa?" tanya Raska.
Jonathan hanya melihat dari kejauhan. Dia sudah mendengar dari saat Raska memanggil nama istrinya. Dia hanya mengedipkan matanya, menatap kembali pria yang sedang berbicara dengan istrinya.
"Daddy ke Mommy sebentar. Joella di sini dulu," ujar Jonathan pada Joella.
"Oke, Daddy. Bawa Mommy ke sini. Di sana banyak pengganggu," ujar Joella dengan senyum yang mengembang.
Jonathan hanya menyunggingkan senyum, dia berjalan ke arah istrinya. Perlahan tatapannya berubah, dari tatapan hangat menjadi tatapan tajam.
"Aku seorang ibu rumah tangga. Sedang liburan dengan keluarga kecilku. Oh ya, aku sedang mengandung anak kedua," tutur Daniella penuh senyum menjawab pertanyaan Raska.
Daniella tahu, Raska sempat mendekatinya. Tidak ada salahnya dia menjelaskan pada orang lain bahwa dirinya sangat bahagia dengan keluarganya. Tidak memberikan jawaban ambigu. Semua dijawab secara gamblang oleh Daniella untuk tidak memberi celah pada orang lain untuk masuk ke dalam hubungannya dengan Jonathan.
"Oh, kamu sudah menikah?" tanya Raska sedikit kecewa.
"Bukankah kau sudah tahu bahwa aku sudah menikah?"
"Aku hanya tahu pernikahan yang kau lakukan hanya untuk menutupi skandalmu dengan ...."
"Pernikahanku bukan mainan. Aku hanya menikah sekali dan hingga kini, aku bahagia dengan suamiku," terang Daniella.
Langkah kaki Jonathan terhenti sejenak saat mendengar penuturan Daniella. Hatinya menghangat, istrinya menjaga dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu diragukan. Daniella begitu tulus mencintainya.
Daniella melihat Jonathan yang berdiri tidak jauh darinya. Dia langsung menghampiri dan menarik lengan Jonathan. "Raska, ini suamiku," ujarnya pada Raska.
Raska menjabat tangan Jonathan. Mereka saling berkenalan. Hanya percakapan singkat, Raska pamit meninggalkan Daniella dan Jonathan.
Jonathan menarik pinggang sang istri. "Banyak pengganggu yang mendekatimu," bisik Jonathan di telinga Daniella.
"Bukan pengganggu. Namun, kita hidup bermasyarakat. Tidak akan pernah lepas dari orang lain. Bagaimana cara kita menjaga diri dan saling menghargai saja," ujar Daniella seraya mengusap bahu suaminya.
"Kau hanya boleh menatapku tanpa harus berbuat apapun selama aku tidak dalam bahaya," lanjut Daniella, dia yakin Jonathan tahu pasti makna tersirat dari ucapannya.
Jonathan tersenyum lalu mengecup bibir Daniella sekilas. Dirinya berhasil menahan emosinya saat jelas-jelas seorang pria mendekati istrinya. Tidak ada keinginan untuk menghabisi pria itu.
Senyum Daniella menyadarkannya. Selama mereka menjaga cinta mereka. Selama tidak ada tindakan berlebihan dari orang lain. Selama itu pula Jonathan tidak akan bertindak.
"Kenapa kau menciummu di depan umum?" tanya Daniella dengan nada protes.
"Karena aku mau."
Cup! Daniella mengecup sekilas Jonathan.
"Aku tidak mau punya hutang," ujar Daniella. "Ayo kita temui Joella."
"Ya."
Jonathan meraih tangan Daniella. Digenggamnya erat tangan sang istri. Tidak ada ambisi, tidak ada cemburu berlebihan, tidak ada saling mencurigai. Semua dilakukan bersama. Hampir 24 jam selalu bersama. Namun, tidak ada pernah ada rasa bosan di antara mereka.
~End~
...💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞...
...Terima kasih telah mengikuti kisah Jonathan dan Daniella hingga akhir 🙏🥰🥰...
...Kisah Jonathan dan Daniella berakhir di sini, yach. Mohon maaf jika ada salah kata 🙏🙏🙏...
...Terima kasih sekali lagi.. Lope Lope sekebon untuk para reader yang setia dengan novel ini. 😘😘😘🥰🥰🥰 ...
... Novel dengan kata jauh dari sempurna. Namun, semua novel aku buat dengan sungguh-sungguh 🥰 Jangan lupa 👍💗🌹n vote 🥰🥰😊😊😍😘😘😘 ...
...Sampai jumpa di novel Age selanjutnya 😊...