
Senyum Daniella mengembang saat melihat mesin pemotong rumput. Dia bergegas mengambil mesin itu.
Berat mesin pemotong yang memiliki berat sekitar 15 kg, membat Daniella perlu mengeluarkan tenaga ektra untuk membawa mesin itu keluar.
Sulit untuk di angkat, Daniella mencoba menggeser secara perlahan. “Huft, berat juga,” keluh Daniella pelan. Dia terus menggeser sedikit demi sedikit. Hingga dia berhenti untuk menarik napas.
Tek ... Tek ... Tek ...
Seketika Daniella menoleh, mencari sumber suara. Tiba-tiba dia merasa merinding. Daniella mencoba mempercepat langkah kakinya. Namun, kemudian terdengar suara tangis seorang wanita.
Hiks ... Hiks ...
Daniella semakin melebarkan matanya, kakinya seketika membeku, sulit sekali untuk melangkah. Berdiri bulu kuduknya, suara tangis itu samar. Namun, cukup jelas terdengar di telinga Daniella.
Kaki yang tidak bisa diajak bekerjasama membuat Daniella diam di tempat. Dia mencoba mengatur napasnya. “Inhale, exhale,” gumamnya dalam hati.
Hiks … Hiks … Hiks …
Suara tangis itu terdengar kembali. Dia memejamkan matanya, menggigit bibirnya dan menutup telinganya, berharap suara mistis itu tak terdengar lagi. Setelah beberapa saat, Daniella melepas tangannya yang menutup telinganya.
Hiks … Hiks …
Suara tangis masih terdengar untuk yang ketiga kalinya, Daniella semakin menggigit bibir dalamnya. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba berlari dari dalam gudang. Pikirannya berkelana, dia tidak mau diikuti arwah penasaran.
Mungkin, jika dia keluar dari gudang itu. Pengalamannya mendengar suara hantu akan dia publikasikan ke media sebagai materi wawancara.
Daniella berlari keluar dari gudang sekuat tenaga, dia melupakan alat pemotong rumput yang ada di sana. Dia berlari melewati tanaman merambat. “Auw!” Daniella terjatuh karena kakinya tersangkut tanaman liar. Hidungnya menyentuh tanah, wangi dari tanaman Rosemary menusuk hidungnya.
Dia mencoba untuk bangkit, dia berlari lagi menuju rumahnya. Namun, berasa sangat jauh . Meskipun sebenarnya, jarak yang tidak bisa dikatakan jauh dan tidak juga dikatakan dekat. Rumah dengan luas tanah yang besar. Namun, luas bangunan yang sedang, tidak sebanding dengan luas tanahnya. Dia terus berlari hingga dia menabrak seseorang.
Bruk!
Daniella terhuyung dan hampir terjatuh. Namun, beruntung Jonathan meraih pinggangnya. “Jo,”
“Kenapa berlari?”
“Ayo cepat pergi, rumah ini berhantu!” seru Daniella menarik tangan Jonathan dengan wajah panik.
“Hantu?”
“Ya, ayo cepat pergi. Kita cerita di dalam,” ajak Daniella.
Tatapan Jonathan turun ke bawah, dia melihat kaki Daniella yang terluka. Tanpa aba-aba, dia langsung menggendong wanitanya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Daniella panik saat dirinya terangkat.
“Kakimu terluka,” jawab Jonathan dengan mengerutkan dahinya.
Daniella melihat wajah khawatir Jonathan. Dia diam dalam gendongan suami kontraknya. Jonathan melangkah dengan pandangan ke depan. Langkahnya stabil meskipun dia tidak melihat ke bawah, tidak memastikan ada atau tidaknya tanaman yang menghalangi jalannya.
Jonathan berbalik, membuka pintu dapur dengan mendorong menggunakan punggungnya. Dia melangkah hingga sampai ke ruang TV, dengan perlahan meletakan Daniella di sofa dengan hati-hati.
“Tunggu di sini,” ujar Jonathan, lalu pergi meninggalkan Daniella.
Dia beralih ke dapur, mencuci tangannya dengan bersih, lalu mengambil kotak obat yang terletak tidak jauh dari kulkas. Beralih ke kamar mandi di lantai satu dan mengeluarkan ember kecil.
Daniella hanya melihat tingkah Jonathan dari ruang TV, rumah tanpa sekat membuat pandangan Daniella tak terhalang tembok pemisah.
Jonathan bersimpuh di kaki Daniella. Dia mengangkat kaki sang istri yang terluka, dengan hati-hati membersihkan luka tersebut dengan sabun berbahan lembut dan air selama lima menit. Jonathan mengelap kaki Daniella dengan haduk kecil lalu mengoleskan petroleum jelly untuk menjaga luka agar tetap lembab. Terakhir, Jonathan menutup luka itu dengan kasa steril.
Semua dilakukan oleh Jonathan dengan cekatan, mengobati dengan sangat tulus. Daniella baru pertama kali melihat raut wajah Jonathan yang sekarang. Tampak seorang pria normal. Seorang pria yang sangat mencintai kekasihnya.
“Kau pasti lapar, biar aku buatkan makanan untukmu,” ujar Jonathan seraya bangkit dari duduknya.
“Kau mau masak?” tanya Daniella ragu.
“Ya,” jawab Jonathan.
Daniella mengingat saat Jonathan makan mie instan tanpa dimasak, dia sangat meragukan kemampuan Jonathan memasak. “Tidak perlu, Jo. Biar aku yang memasak saja,” tawar Daniella.
“Biar aku yang lakukan. Kau istirahat saja.”
“Tapi ....”
Jonathan tidak mengindahkan protes Daniella, dia langsung menuju dapur. Sebelum memasak dia mengambil karet dapur dan menguncir rambut ikalnya ke atas. Lagi-lagi, Daniella mencuri pandang terhadap Jonathan yang sedang sibuk di dapur.
Daniella melebarkan matanya saat melihat Jonathan yang sangat lihai memotong daun bawang, mengupas udang dengan cekatan dan cepat. Tampak bagai chef profesional yang tampan.
Sekilas dia terpesona pada Jonathan yang saat ini berdiri di depan kompor. Tidak lepas pandangan Daniella pada Jonathan. Hingga akhirnya Jonathan selesai memasak.
Jonathan membawa nampan berisi hasil masakan yang ia buat dan mengantarkan pada Daniella.
“Kau bisa memasak?” tanya Daniella menatap hasil masakan Jonathan, tampak sangat menggugah selera.
“Apapun bisa dilakukan jika kita dalam posisi terpaksa,” ujar Jonathan. “termasuk membunuh!” lanjutnya dalam hati.
“Waktu itu, kenapa kau memakan mie instan tanpa dimasak? Kau juga suka merengek padaku untuk dibuatkan makanan!” keluh Daniella.
Jonathan tersenyum melihat Daniella yang lahap menghabiskan makanannya. Dia tidak menjawab pertanyaan istrinya.
Daniella mendongak dan bertepatan dengan Jonathan yang menatapnya dengan lembut. Dia salah tingkah dengan tatapan Jonathan yang seperti itu.
“Apa kau tidak makan?” tanya Daniella memecah kecanggungan.
“Tidak kebagian,” jawab Jonathan.
Daniella melirik mangkuk nasinya dan benar saja, semua makanan buatan Jonathan habis dilahapnya. “Maaf, di dapur tidak ada sisa?” tanya Daniella menggigit bibirnya.
Jonathan hanya tersenyum. “Aku sengaja hanya membuat satu porsi. Tadi, aku sudah makan di kantor,” jawabnya.
“Emm.”
“Apa sudah selesai?”
“Ya.” Daniella mencoba bangkit dari duduknya, berencana membawa piring kotornya ke dapur. Dia cukup tahu diri. Jika dirinya memasak, dia akan meminta Jonathan mencuci piring dan sekarang Jonathan memasak untuknya. Maka, dia yang akan mencuci piring.
“Biar aku saja.” Jonathan langsung mengambil piring kotor dari tangan Daniella.
Daniella hanya pasrah dengan kemauan Jonathan. Setelah mencuci piring, Jonathan kembali ke ruang tv.
“Apa kau mau beristirahat?” tanya Jonathan.
“Ya, hari ini cukup melelahkan,” keluh Daniella.
Jonathan membungkuk dan mengangkat Daniella. “Apa kau akan menggendongku lagi?” tanya Daniella tak enak hati jika terus merepotkan Jonathan.
“Kakimu sakit, biar aku antar ke kamar.”
“Aku bisa sendiri, Jo ….”
“Diamlah.”
Daniella hanya bisa pasrah. Kepala Daniella tidak sengaja berbentur dengan dada Jonathan. Wangi rosemarry menusuk hidungnya. Tampak tak asing dengan wangi itu, seakan telah lama Daniella mencium bau tersebut.
Wangi yang enak membuat Daniella tanpa sadar mengendus di dada Jonathan. Perbuatannya itu membuat Jonathan menelan ludahnya sendiri. Jakunnya mulai bergerak pelan. Pikirannya mulai kacau.
Mereka telah sampai ke kamar Daniella. Jonathan yang tidak sigap, tidak menyadari ada botol lotion tergeletak di lantai. Hingga, dirinya tersandung botol plastik lotion itu dan mereka terjatuh di atas ranjang dengan posisi Jonathan menindih Daniella.
“Auw,” keluh Daniella dengan suara pelan.
Jonathan mengangkat kepalanya. “Apa ada yang sakit?” tanyanya khawatir.
“Tidak ada.”
“Baguslah,” ujar Jonathan menghembuskan napas tepat di depan wajah Daniella.
“Apa kau terluka?” tanya Daniella.
“Tidak,” jawab Jonathan menatap Daniella.
Mereka saling bersitatap. Jonathan masuk ke dalam tatapan Daniella. Seketika tidak ada pergerakan di antara mereka. Tatapan Jonathan turun ke bawah, menatap bibir yang pernah mengecupnya saat mereka pertama bertemu di hotel.
Perlahan Jonathan mendekatkan bibir mereka lalu menyatukan bibir mereka berdua. Ciuman kedua mereka, tidak akan disia-siakan oleh Jonathan.
Ya, ciuman kedua mereka. J hanya merasakan ciuman singkat Daniella saat di hotel. Ciuman singkat lainnya dan ciuman intens mereka di halte adalah perbuatan Jojo dan Nathan.
Kini, Jonathan hanya ingin menikmatinya sendiri, tanpa adanya Jojo atau pun Nathan.
Daniella hanya melebarkan matanya, ciuman yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ciuman singkat sebelumnya yang menandakan kasih sayang. Ciuman intens di halte yang penuh gairah, dan kini, ciuman lembut yang Daniella rasakan. Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan. Semua berjalan secara natural.
“Aku menginginkanmu, Kak,” bisik Jonathan disela ciuman mereka.
...💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞...
...Terimakasih masih setia dengan kisah Jonathan dan Daniella 🥰🥰😘😘...
...Jangan lupa like, love, vote n komentarnya yah 🙏...
...Jangan sungkan memberikan saran dan kritik. Age masih butuh banyak belajar dan tentunya ingin terus memperbaiki diri dalam menulis 😁...
...Btw, yang belum baca karya Age yang lain, bisa cek di profil ya, ada 3 karya Tamat yang bisa dibaca selagi menunggu up My Pet Husband 😊🥰🥰...
...Terima kasih sekali lagi 🙏🙏🙏...
...Love u all sekebon Cherry 💗💗💗💗...
...Salam Age Nairie 🥰...
...Salam Sehat Semua 🥰🥰...