
Daniella hanya membeku mendengar permohonan Joella. Kali ini, gadis kecilnya meminta Jonathan bisa hadir di tengah mereka. Sudah bertahun-tahun suaminya belum juga dinyatakan sembuh.
Beruntung ada Joella yang hadir menemani Daniella. Jika tidak, mungkin Daniella akan hilang harapan untuk hidup. Besar cinta Jonathan padanya menular padanya. Ya, Daniella sangat mencintai Jonathan.
Daniella tidak pernah menutupi pada Joella bahwa Jonathan adalah ayahnya. Yang Daniella katakan pada Joella. Jonathan sedang menjalakan pengobatan di luar negri. Benar, Daniella tidak berbohong. Jonathan memang di rawat di luar negri. Namun, Daniella tidak bilang yang diidap oleh Jonathan adalah penyakit mental.
Setiap bulan, Daniella hanya mendapat laporan perkembangan kesehatan Jonathan. Dirinya tidak dapat izin untuk bertemu dengan Jonathan. Faktor penyebab kegilaan Jonathan adalah Daniella. Setiap orang yang mendekati atau pun mengganggu Daniella. Maka, Jonathan seperti berkewajiban untuk menyingkirkan orang-orang itu.
Satu fakta lagi yang Daniella tahu. Matt Forse, setelah kejadian kebakaran di acara ulang tahunnya. Dirinya mengalami kebangkrutan dan semua itu adalah ulah Jonathan.
Daniella hanya bisa memijat keningnya sendiri saat mengetahui kabar itu setahun yang lalu. Matt Forse memang jelas menampakan ketertarikannya pada Daniella. Namun, dirinya tidak berbuat apapun. Tetapi, tetap saja mendapat imbas dari Jonathan.
Beruntung Daniella bisa membantu kembali perusahaan Matt Forse sebagai ganti rugi meskipun dirinya tidak mengatakan alasannya membantu Matt Forse.
Satu penyesalan di hati Daniella adalah kematian mantan kekasihnya. Evan, meskipun Evan pernah memanfaatkannya. Mengambil masa mudanya hanya untuk angan kosong darinya. Namun, Evan tidak sampai mencelakainya atau mungkin belum atau bahkan sudah gagal saat Evan memberinya obat.
Daniella hanya berpikir, apakah kematian pantas didapat oleh Evan? Ataukah seharusnya Brandon yang mendapatkan balasan kematian? Ya, Brandon dibalik ini semua. Seharusnya, Jonathan sudah lama sembuh.
Seandainya Brandon tidak memberikan racun pada Jonathan, apakah dia dan suaminya akan bahagia saat ini?
Daniella hanya bisa tersenyum saat melihat Joella yang selalu ceria. Wajah cantik itu menurun dari Jonathan. Rambut ikal panjang bergelombang sangat pas di wajah Joella yang imut. Putih bersih dengan senyum yang sangat manis. Entah menurun darimana sifat ceria Joella.
Anak perempuannya selalu murah senyum. Tidak akan ada yang tega jika melihatnya menangis. Sabtu pagi, waktunya menghabiskan waktu dengan putrinya.
“Mom sudah siap?” tanya Joella.
“Tentu. Mau ke mana kita hari ini?” tanya Daniella.
“Em, kita ke festival pasar pagi. Setelah itu, kita ke taman bermain.”
"Boleh."
“Oke. Let's go Mam.”
Mereka pergi ke pasar pagi, sedang ada bazar di sana. Berbagai macam makanan daerah disajikan. “Mom, aku mau itu,” tunjuk Joella pada satu stand makanan.
“Kau mau kue bulan?”
“Ya.”
“Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana. Mommy akan antri dulu.”
“Baik, Mom.”
Daniella pergi meninggalkan Joella. Terlalu banyak orang yang mengantri untuk membeli kue bulan. Sehingga membuat Daniella meninggalkan Joella.
Joella menunggu Daniella sembari menikmati ice cream di tangannya. Dia duduk di atas pot besar yang menampung pohon mangga.
Entah mengapa sang punya pohon tidak memindahkan pohon tersebut ke lahan yang lebih luas dan lebih memilih tumbuh di dalam pot yang lumayan cukup besar. Namun, tak membuat pohon mangga tumbuh besar.
Joella menggerakan kakinya yang tidak sampai ke tanah. Bersenandung menyanyikan lagu anak-anak dengan sesekali menjilat ice cream di tangannya.
“Apa enak ice creamnya?” tanya seorang pria.
Joella menoleh menatap sang pria dewasa. “Ya. Om mau?” tawar Joella tetapi dirinya tidak menyodorkan ice creamnya.
“Tentu, aku mau,” ujar sang pria dengan mengadahkan tangannya berharap Joella memberikan ice cream padanya.
“Kalau Om mau, Om bisa membelinya di sana,” tunjuk Joella pada kedai ice cream.
Pria itu tertawa mendengar ocehan Joella. “Bukankah kau tadi menawarkan? Kenapa aku jadi harus membeli?”
“Aku tidak menawarkan. Aku hanya bertanya pada Om. Apakah Om mau. Kalau mau, Om bisa beli sendiri. Aku yakin Om punya uang,” jelas Joella dengan nada khas anak kecil.
Sang pria duduk disamping Joella, dia sangat terhibur dengan celoteh gadis berusia lima tahun itu.
Daniella berhasil mendapatkan kue bulan keinginan Joella. Dia bergegas menghampiri anaknya. Langkah kakinya terhenti saat melihat orang yang berada di samping Joella.
“Brandon,” panggil Daniella.
Brandon menoleh menatap Daniella. “Hai.”
...***...
“Bagaimana kabarmu?” tanya Daniella.
Terdapat area bermain kecil di pasar raya tersebut. Daniella membiarkan Joella bermain bom-bom car agar dirinya bisa berbicara dengan Brandon.
“Seperti yang kau lihat. Sekarang aku baik. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri. Koma selama setahun dan mendapatkan perawatan yang tepat membuat diriku menjadi lebih baik. Dokter menyatakan diriku sembuh dari penyakit mentalku,” terang Brandon.
“Syukurlah. Aku minta maaf atas tindakan Jonathan padamu.”
Brandon tersenyum. “Aku yang seharusnya minta maaf padamu.” Brandon menatap Daniella. “Sekarang aku tahu mengapa Jonathan sangat mencintaimu. Kau benar-benar tulus Daniella, kau hanya menggunakan hatimu dalam menilai orang lain. Jonathan beruntung mendapatkanmu.”
“Aku beruntung mendapatkan Jonathan,” timpal Daniella.
Brandon bangkit dari duduknya. “Baiklah, aku harus pergi.”
“Ya, hati-hati.”
Brandon menoleh menatap Daniella. “Aku mengunjungi Jonathan.”
Daniella mendongak, menatap Brandon. Seolah menunggu pria itu untuk mengeluarkan perkataan lagi. Brandon dan Jonathan dirawat di rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama itu pula, tidak ada pertemuan diantara mereka.
“Aku rasa dia akan segera keluar,” lanjut Brandon.
Daniella hanya tersenyum, berharap apa yang dikatakan oleh Brandon benar-benar terwujud.
Brandon pergi meninggalkan Daniella. Joella mengahampiri ibunya.
“Mom, Om yang tadi kemana?”
“Itu om Brandon, dia masih ada urusan.”
“Oh. Kita jadi ‘kan ke taman bermain?” tanya Joella antusias.
“Tentu. Ayo kita pergi.” Daniella melihat jam di tangannya. “Mommy rasa, kita akan sampai tepat waktu.”
“Yeah ... ayo!” seru Joella.
Benar apa yang dikatakan Daniella. Taman bermain di alam terbuka sudah menerima pembelian tiket. Daniella dan Joella mengantri untuk mendapatkan tiket. Beruntung mereka tiba di awal hingga tak perlu mengantri lama.
Wahana pertama yang mereka naiki adalah kuda-kudaan. Tawa riang dari keduanya, bermain dengan bebas menikmati wahana. Daniella dan Joella turun dari wahana tersebut dan bersiap untuk mencoba wahana lainnya.
Langkah kaki keduanya berhenti, dibawah pohon terdapat seorang pria yang sedang menatap mereka. Tangan pria itu memegang boneka kelinci. Tatapan penuh kerinduaan jelas terlihat di wajah Jonathan.
“Daddy,” lirih Joella. Meskipun tidak pernah bertemu dengan Jonathan. Daniella tidak pernah menyembunyikan photo Jonathan. Dia bahkan memberitahu photo-photo Jonathan sejak kecil pada Joella.
Daniella langsung berlari menghapiri Jonathan, dia takut penglihatannya salah. Dia berdiri tepat di depan suaminya. Memastikan benar yang ada di depannya adalah cintanya.
Jonathan membentangkan tangannya, Daniella langsung masuk ke dalam pelukan suaminya. Jonathan memeluk erat istrinya. Bahkan kaki Daniella sampai terangkat karena pelukan erat sang suami.
Joella berjalan menuju orang tuannya, dia ikut memeluk kedua orang tuanya. Jonathan mengendurkan pelukannya. Dia tersenyum pada Joella, mengangkat anak perempuannya dan memeluknya. Lalu, dengan tangan yang terbebas menarik kembali Daniella untuk bergabung. Tiga orang yang saling merindukan saling berpelukan erat.
...💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞...
...Terima kasih telah mengikuti kisah Jonathan dan Daniella 🙏🥰🥰...
...Mohon maaf dengan jadwal up yang tidak beraturan 🙏🙏🙏...
...Terima kasih sekali lagi.. Kawal hingga akhir yach, tinggal satu part lagi 🤭 Jangan lupa 👍💗🌹n vote 🥰🥰😊😊😍😘😘😘...