
"Apa aku sudah cantik?" tanya Daniella pada Prisil.
Daniella memakai dress silver dengan ekor yang menjuntai hingga menyapu lantai, wajahnya dilengkapi dengan topeng masquerade hitam bermotif kupu-kupu yang hanya menutupi sekitar matanya.
"Sempurna," puji Prisil dengan mengangkat tangannya membentuk huruf O.
"Kenapa kau tidak ikut sekalian?" tanya Daniella sembari duduk di meja rias, dia membenarkan tali di pundaknya.
"Hanya tamu undangan yang bisa masuk. Kau tahu sendiri bagaimana Matt Forse itu orang yang seperti apa, dia tidak akan membiarkan tamu tak diundang berada di pestanya. Aku akan ke cafe di sekitar saja untuk menunggumu."
"Kau bisa masuk bersamaku, anggap saja kau pasanganku," usul Daniella.
"Ish, kalau begitu kau bawa saja Jonathan. Dia itu suamimu, kalau kamu membawaku, nanti banyak yang akan mempertanyakan pernikahanmu." Prisil menatap Daniella yang termenung. "Kau kenapa? Masih memikirkan Evan?"
Daniella tersadar. "Ah, tidak."
"Jangan bohong padaku. Tidak ada yang bisa kau tutupi dariku. Baru selesai menangis karena pria itu. Biarkan saja dia dengan permasalahannya," dengus Prisil.
Daniella termenung bukan karena Evan. Dirinya memang habis mencurahkan hatinya, dia menceritakan segalanya pada Prisil tentang perjanjian pertemuannya dengan Evan, hingga akhirnya Evan tidak datang karena tersandung masalah. Namun, bukan Evan penyebab dirinya termenung, melainkan perkataan Prisil yang memintanya membawa Jonathan. Pria itu mengingatkan Daniella kejadian di Halte.
Jika, Jonathan yang itu, mungkin Daniella akan senang hati membawanya. Namun, jika Jonathan yang semalam bermanja dengannya, tentu dia enggan mengajak Jonathan.
"Siapa yang memikirkan Evan!" elak Daniella.
"Ya sudah, ayo kita berangkat," ajak Prisil.
"Kau sudah menyiapkan kado agar kubawa?"
"Tentu saja! Aku belikan cerutu untuknya, aku dengar dia menyukai cerutu klasik."
"Wah, kau memang the best," puji Daniella.
Mereka menuruni tangga, di lantai satu ada Jonathan yang sedang menonton TV.
"Jo, aku pergi dulu," ujar Daniella.
Jonathan bangkit dari duduknya. "Baik."
Daniella melihat berdirinya Jonathan, dia mengerti maksud dari tindakan pria itu. "Aku hanya pergi dengan Prisil. Kau tunggu di rumah,” tegas Daniella.
Jonathan tidak berkata apa pun, dia hanya menatap memelas pada Daniella, sedangkan Prisil, hanya bisa menatap iba pada Jonathan.
Daniella dan Prisil pergi meninggalkan Jonathan yang melihat kepergian mereka dengan wajah sendu di ambang pintu.
“Apa tidak kau biarkan saja dia ikut?” tanya Prisil. Tangannya sudah menggenggam stir. Namun, dirinya belum menjalankan mobilnya.
“Sudah, jalanlah.”
“Oke.”
Prisil melajukan mobilnya ke tempat pesta topeng. Daniella berjalan memasuki gedung seorang diri. Sudah banyak tamu undangan yang hadir. Sesekali Daniella disapa oleh para rekan sesama model dan juga artis. Ada yang memberinya pelukan hangat dan memberikan semangat. Namun, ada juga yang menatapnya dengan tatapan sinis dan juga merendahkan. Ya, isu perselingkuhannya dengan Evan sudah terdengar di telinga para model dan juga para artis.
Meskipun berita tentang pernikahan Daniella telah dikonformasi oleh media. Namun, rekan-rekan kerja Daniella lebih percaya tentang isu perselingkuhannya dengan Evan dibanding dengan pernikahannya. Semua rekan artis dan model lebih percaya Daniella menjalin hubungan gelap dengan Evan dan menikah hanya untuk menutupi skandal perselingkuhannya.
Pesta topeng yang digelar di sebuah hotel bintang lima. Di dinding terdapat papan LED besar yang menampilkan profil sang pemilik pesta. Mulai dari perjalanan hidup hingga karirnya.
Seorang pria berumur awal empat puluh tahun menghampiri Daniella dengan topeng berwarna cokelat, topeng seperti milik Daniella yang tidak menutupi seluruh wajah.
Pria itu langsung memberikan pelukan hangat pada Daniella. “Terima kasih telah hadir ke pestaku,” ujar Matt Forse.
Daniella menyambut pelukan hangat dari Matt Forse. “Suatu kehormatan untukku bisa diundang di acara ulang tahunmu.”
“Ah, aku tersanjung,” ujar Matt Forse.
“Kenapa kau repot-repot. Kau hanya perlu datang ke pestaku.” Matt menerima kotak dari Daniella. “Tapi, aku hargai pemberianmu. Terima kasih banyak.”
“Jangan sungkan,” ujar Daniella.
“Apa kau datang sendiri?” tanya Matt Forse.
“Ya.”
“Em, Daniella. Aku dengar kau sudah menikah. Apa itu benar?” tanya Matt sedikit ragu. Meskipun dia sudah melihat konferensi pers Daniella, dia tetap menanyakan sebagai konfirmasi. Dia sempat menaruh hati pada Daniella. Namun, tidak pernah ada kesempatan untuk mendekatinya. Hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja. Daniella pernah menjadi bintang tamu spesial di film keluaran MF Entertainment.
Daniella menunduk. “Ya, berita itu benar.”
“Di mana suamimu? Kenapa tidak mengajaknya?” cecar Matt Forse.
“Em, kebetulan dia masih bekerja,” terang Daniella.
Matt melangkah mendekat pada Daniella. “Datanglah padaku jika kau merasa kesulitan. Setidaknya, kau harus mencari pria hebat untuk membungkam orang-orang yang mengumpatmu,” bisik Matt.
Daniella melebarkan matanya.
Apa aku dan Jonathan sangat terlihat tidak saling mencintai?
Tidak ada yang bisa Daniella tutupi, beberapa rekan kerjanya sudah pernah memergokinya video call dengan Evan sebelumnya.
Pernikahan kontraknya hanya bisa menutupi isu di depan publik. Namun, tidak bisa ditutupi dari para model dan juga rekan artis.
“Terima kasih tawaranmu. Tapi, aku bisa menyelesaikan masalahku,” jelas Daniella.
Matt tersenyum. “Aku tahu pernikahanmu hanya settingan. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu, datanglah kapan pun kau mau,” ujar Matt masih berbisik di telinga Daniella.
Matt menarik tubuhnya ke belakang, dia memberikan senyum yang Daniella pun tak mengerti maksud dari senyumannya.
“Nikmatilah pestanya, aku akan menjamu tamu lainnya," lanjut Matt.
Belum Matt pergi meninggalkan Daniella. Sudah ada Cysara yang datang menghampiri mereka. “Tuan Matt, selamat ulang tahun,” ujar Cysara seraya memeluk Matt.
Cysara menggunakan topeng yang menutupi separuh wajahnya, sehingga luka di pipinya tertutup oleh topeng. Matt langsung menarik tubuhnya agar terlepas dari pelukan wanita itu.
“Terima kasih. Enjoy the party, aku pamit dulu untuk menjamu tamu lainnya.” Matt langsung pergi meninggalkan Cysara dan Daniella.
“Matt … Matt … ish!” Cysara menghentakan kakinya karena Matt pergi begitu saja.
Daniella hanya menahan tawa melihat Cysara yang diabaikan oleh Matt.
“Kau menertawakanku?” tanya Cysara dengan emosi.
“Tidak!” Daniella melihat Cysara dari atas hingga bawah. “Sepertinya lukamu tidak parah, kau sudah bisa datang ke sebuah pesta,” sambungnya.
“Kau mengharapkan aku luka parah?”
“Untuk apa aku mengharapkan dirimu cedera! Kau sehat saja tidak bisa menyaingiku!” dengus Daniella.
“Jangan terlalu sombong! Sebentar lagi, karirmulah yang akan hancur!”
“Kau terlalu percaya diri!” ejek Daniella dengan tersenyum meremehkan.
Cysara mendekati Daniella dan berbisik, “Sama-sama menjadi simpanan, tidak usah saling mencela! Kekasihku masih berdiri di sampingku, sedangkan dirimu … kekasih gelapmu sedang berurusan dengan pihak berwajib. Mungkin sebentar lagi, dia akan mendekam di penjara, dan untukmu … aku bisa memastikan karirmu akan hancur!”
Tatapan penuh kehinaan terhadapnya, ujaran kebencian dari para netizen di media sosial membuat Daniella naik darah.
Dia mencekal tangan Cysara dengan sangat keras. “Aku beritahu satu hal padamu. Aku, bukanlah wanita bi*nal sepertimu! Aku bukan wanita simpanan!” hardiknya.