My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 24 Kecurigaan



Daniella membuka pintu kulkas, mengambil sekantong daging, dan juga beberapa sayuran.


Mulai memotong daging hingga menjadi kotak-kotak kecil, memberi bumbu racikan dan membiarkan bumbu meresap ke dalam daging sapi itu.


Dia beralih ke sayuran pokcoy, memotong sayur itu sembari mendengar berita di televisi. Gerakan tangannya tiba-tiba melambat dan akhirnya terhenti. Dia langsung berlari menuju ke depan televisi.


Daniella membekap mulutnya sendiri setelah melihat berita yang menyatakan Cysara tewas akibat kebakaran semalam. Sebuah informasi berita dari acara gosip selebritis.


Belum ditemukan jasad dari model cantik itu. Namun, kemungkinan besar Cysara tewas terpanggang hingga tak tersisa. Begitulah spekulasi dari berita yang disiarkan oleh acara gosip.


Spekulasi menyebar, tragedi kebakaran hotel diduga sebuah kesengajaan. Seluruh kamera CCTV mati begitupula dengan matinya arus listrik. Beruntung tidak ada korban jiwa, para korban mengalami luka ringan dan berat. Kecuali kabar hilangnya Cysara yang kemungkinan telah tewas.


Pihak berwajib masih melakukan penyelidikan. Namun, belum menemukan titik terang. Benar akan hilangnya Cysara. Namun, tidak ada pihak yang berwenang mengatakan model itu masih hidup atau sudah mati.


"Ada apa?" tanya Jonathan memecah lamunan Daniella.


Daniella menoleh ke arah suami kontraknya. "Cysara hilang, kemungkinan meninggal dalam kobaran api."


"Oh," jawab Jonathan datar.


"Jo, ini tentang hidup dan mati seseorang," ujar Daniella. Bagaimana mungkin Jonathan bisa begitu datar mendengar respon kematian seseorang. Terlebih pernah berinteraksi dengan orang itu.


"Ya, aku tahu," jawab Jonathan lagi. "Apa sarapan sudah siap?" tanya Jonathan mengalihkan pembicaraan.


Daniella hanya mengedipkan matanya. "Belum, baru aku marinasi."


Daniella beralih ke dapur sedangkan Jonathan duduk di depan tv, menatap datar siaran televisi itu.


Tidak ada pembicaraan saat mereka menikmati sarapan. Daniella memiliki pemikirannya sendiri sedangkan Jonathan begitu lahap menyantap sarapannya.


Daniella menatap sekilas Jonathan yang terlihat sangat menikmati makannya. "Jo, ada apa dengan tanganmu?" tanya Daniella yang melihat perban di tangan Jonathan.


"Oh, terluka."


"Luka apa?"


"Hanya luka goresan."


"Kapan kau mendapatkan luka itu?"


"Kemarin."


"Kemarin aku tidak melihatnya," cecar Daniella.


"Kemarin malam."


"Di mana kau terluka?"


"Dekat rumah. Ada anjing gila yang mengejarku. Aku berlari, masuk ke halaman orang lain. Secara tidak sengaja terkena paku yang menancap di pagar kayu."


Daniella hanya menyeringitkan dahinya. "Sudah diobati?"


"Ya."


"Siapa yang mengobati?" Daniella terus mencecar pertanyaan.


"Aku sendiri," jawab Jonathan seraya meminum susu putih di gelasnya.


"Oh, begitu." Daniella kembali menyantap sarapannya. Namun, otaknya mulai memikirkan sesuatu.


Jonathan yang selalu meminta bantuannya. Kini, membalut sendiri lukanya. Kadang Daniella tidak mengerti akan perubahan sikap dari Jonathan. Pria yang tidak pernah bisa diduga.


***


"Apa sudah mendapatkan informasi?" tanya Brandon pada detektif sewaannya.


"Belum tahu siapa pelakunya. Namun, dari hasil penyelidikanku. Aku yakin ini ulah seseorang." Sang detektif menunjukkan berkas pada Brandon.


Brandon menerima berkas laporan dari sang detektif. Dia membaca hasil laporannya. CCTV di rusak bukan dari tindakan kekerasan. Semua CCTV mati karena ulah seorang hacker. Begitu pula dengan padamnya listrik, seseorang telah menyelundup ke dalam sistem dan memporak-porandakan.


"Aku akan menyelidiki lebih lanjut," tawar sang detektif.


Sang detektif undur diri. Otaknya memikirkan perkataan Brandon. Mengapa dirinya diberhentikan sebelum kasus terselesaikan. Apakah dirinya yang lambat sehingga membuat Brandon menghentikan penyelidikannya atau karena Brandon sudah tidak peduli dengan kasus kebakaran itu.


Tidak ada yang tepat dari pikiran pengandaian sang detektif. Brandon menghentikan penyelidikan karena dia sudah mengetahui siapa pelaku sebenarnya.


Siapa lagi kalau bukan bos-nya sendiri. Siapa yang memiliki kemampuan peretas sehebat itu jika bukan Jonathan. Namun, yang belum diketahui Brandon adalah dengan cara apa Jonathan membakar aula itu.


Brandon memijat keningnya sendiri. Sesuatu yang dikhawatirkan mulai terjadi. Dia sedang berpikir apakah dia harus meminta bantuan dari kakeknya Jonathan.


***


"Kau mau kemana?" tanya Brandon yang melihat Daniella sudah berpakaian rapi.


"Oh, aku hanya ingin pergi mall dengan Prisil. Sebentar lagi dia akan sampai," terang Daniella. "Aku tunggu depan rumah saja agar Prisil tidak perlu parkir."


"Oh, aku ganti pakaian dulu," ujar Jonathan yang bersiap naik ke kamarnya.


"Ladies time. Sorry, Jo."


Jonathan hanya menatap lekat Daniella. "Aku akan berdiri jauh darimu."


"Kau mau mengikuti kemanapun aku pergi?" tanya Daniella penuh keheranan.


Jonathan hanya menganggukkan kepalanya. "Bagaimana jika hal buruk terjadi lagi? Aku bisa menjagamu," terang Jonathan.


"Terima kasih atas bantuanmu yang kemarin. Tapi, sekarang aku tidak sendiri, aku bersama dengan Prisil."


"Baiklah."


"Kau jangan menguntitku"! tegas Daniella.


"Ya," jawab Jonathan pasrah.


Daniella keluar dari rumah, dia berbohong pada Jonathan. Prisil tidak datang menemuinya. Hanya membuat alasan agar bisa keluar dari rumah itu. Dirinya merasa ada yang berbeda dengan Jonathan. Namun, Daniella sendiri tidak tahu apa itu.


Dia pergi ke supermarket terdekat. Membeli kebutuhan sehari-hari. Mulai dari makanan siap saji, hingga keperluan kamar mandi. Dari sikat gigi, sabun. Dia pun membeli pakaian ganti. Kaos, celana jeans dan juga jaket dan topi.


Semua yang dibeli Daniella bukanlah barang keperluan wanita, semua itu adalah keperluan seorang pria.


Menaiki bus dan menonaktifkan ponselnya. Mata Daniella mengedar, melihat pemandangan dari jendela bus.


Dirinya sendiri berpakaian tertutup, hoodie menutupi kepalanya, masker menutupi sebagian wajahnya. Hanya mata Daniella yang terlihat, itu pun selalu menundukkan kepalanya.


Bus berhenti di sebuah desa. Daniella berjalan menuju tempat tujuan dengan tas belanja di kedua tangannya.


Terus berjalan hingga sampai di sebuah gudang yang ada di satu perkebunan, dengan tenang Daniella membuka gudang tersebut dengan terlebih dahulu mengetuk tiga kali. Mengetuk tiga kali yang merupakan sebuah sandi.


Pintu gudang terbuka, Daniella langsung ditarik masuk ke dalam gudang. Dirinya langsung dipeluk oleh laki-laki yang berada di dalam gudang.


"Untunglah kau datang," ujar Evan.


Evan memeluk erat Daniella seperti tidak ingin melepasnya. Beruntung kekasihnya masih percaya padanya.


"Bukan aku tidak ingin datang malam itu. kau sekarang tahu bagaimana keadaanku. Sekarang aku seorang buronan," sambung Evan.


Daniella mengurai pelukan mereka, dia tidak tertarik lagi dengan Evan. Dia datang karena tertarik akan pesan email yang di kirimkan oleh Evan, "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ada orang yang menjebakku."


"Menjebakmu?" tanya Daniella heran. Bagaimana mungkin seorang CEO yang sedang berada di puncak kesuksesan ada yang berani mengganggunya. Harus seberapa kuat orang itu bisa sampai membuat Evan hancur.


"Ya, ini semua sudah direncanakan. Orang itu ingin menghancurkan aku dan juga Veronika."


"Siapa yang berani berbuat itu padamu?"


"Orang dari Galaxy High Corp. Perusahan itu yang menghancurkan bisnisku," terang Evan.


"Galaxy High Corp?" tanya Daniella membulatkan matanya.