My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 41 Bak Boneka



"Cy—sara," lirih Daniella tergagap.


Cysara hanya menatap lemah Daniella. Sedangkan yang ditatap tidak bisa berkata-kata lagi. Pemandangan miris ada di depan mata Daniella.


Meskipun tidak menyukai gadis itu. Namun, tidak sepantasnya Cysara diperlakukan seperti itu. Dengan langkah yang berat dia melangkahkan kakinya mendekati Cysara.


"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Daniella memastikan. Meskipun sebenarnya dia sudah menduga bahwa yang melakukan semuanya adalah Jonathan.


Cysara mencobanya untuk mengangkat tangannya, meskipun dengan gerakan lemah. Dia menunjuk ke arah Daniella.


Daniella tidak mengerti mengapa Cysara menunjuknya. Apa mungkin dirinya yang telah menyebabkan Cysara seperti itu? Menganggap Daniella sebagai dalang apa yang terjadi padanya. Namun, tiba-tiba Daniella merasakan hawa dingin di belakangnya.


Daniella perlahan menoleh, membalik tubuhnya sendiri. Dia melihat orang yang berada di belakangnya. Entah sejak kapan Jonathan ada di sana.


Bolehkah dia menghilang seketika dari bumi ini? Bolehkan dia meminta lorong waktu, ingin kembali ke masa lalu. Ingin mengabaikan perundungan di gang buntu yang melibatkan Jonathan. Ingin dirinya tidak pernah bertemu dengan pria yang kini telah menjadi cintanya.


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Daniella.


"Dia pantas mendapatkannya," ucap Jonathan datar.


Daniella menatap tak percaya pada Jonathan. "Tidak seperti ini, J!"


Jonathan berjalan mendekati Daniella, dia mengulurkan tangannya, berniat mengelus rambut indah Daniella. Namun, sang wanita memundurkan langkahnya ke belakang. Sehingga membuat tangan Jonathan melayang.


"Tindakan ini melanggar hukum, J?"


Daniella berjalan untuk keluar dari ruang bawah tanah itu.


"Mau ke mana?" tanya Jonathan.


Daniella menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh. "Apa masih ada alasan aku di sini?"


"Selangkah kau beranjak, aku pastikan wanita ini mati!"


"J ..." Daniella mulai merasa sesak.


Dia tidak bisa bersuara lagi. Dia tahu Jonathan serius dalam setiap ucapannya.


Jonathan mendekat pada Daniella, dia menangkup kedua tangannya di wajah Daniella. Menatap mata sang wanita yang mulai berembun.


Bibir bawah Daniella bergetar, dia takut apa yang akan dilakukan oleh Jonathan.


"Jangan menangis." Jonathan menghapus air mata Daniella. "Kau jangan menangisi orang lain. Kau pasti lapar. Aku buatkan makanan untukmu ya?"


Jonathan menggiring Daniella keluar dari ruang bawah tanah. Kaki Daniella bergetar, dia kesulitan melangkah.


Tiba-tiba tubuh Daniella terangkat. Jonathan menggendongnya ala bridal style. Terlihat romantis dari kejauhan. Namun, jika ditelisik lebih dekat. Maka, akan terlihat begitu bertolak belakang. Tidak ada kebahagiaan di wajah sang wanita.


Jonathan mendudukkan Daniella di kursi bar dapur. "Tunggu di sini, aku buatkan makan untukmu," ujarnya tersenyum.


Daniella melihat senyum Jonathan. Senyum yang dulu selalu membuat Daniella gemas untuk mencubit pipi itu. Kini, menjadi tampak begitu mengerikan.


Jonathan mulai mengambil beberapa bahan makanan di kulkas. Baru memotong sayuran. Ponsel Daniella berbunyi.


Daniella merogoh kantung bajunya dan mengambil ponsel. Melihat nama Prisil tertera di layar ponselnya.


"Katakan padanya bahwa kau tidak mau diganggu beberapa hari ini," ucap Jonathan sebelum Daniella mengangkat sambungan telepon Prisil.


Jonathan mengambil ponsel Daniella dan menyentuh icon jawab. Setelah itu menyentuh icon load speaker. Langsung terdengar suara Prisil menggema di ruangan. "Daniella, apa kau baik-baik saja?"


"Ya."


"Aku menghubungimu berulang kali, tapi tidak diangkat. Kau membuatku khawatir."


"Aku tidak apa-apa."


"Kau habis menangis? Jangan bilang padaku kau habis kepemakaman Evan?"


Daniella hanya terdiam tak menanggapi Prisil. Biarlah Prisil menganggap dirinya sedih karena kematian Evan.


Jonathan tertegun mendengar penuturan Prisil. Dia menatap Daniella yang menundukkan kepalanya.


"Prisil, aku tidak mau diganggu beberapa hari ini."


"Baiklah, akan aku atur ulang pekerjaanmu."


"Terima kasih."


"Jangan sungkan."


Daniella langsung menyentuh icon berwarna merah. Sambungan telepon terputus. Jonathan langsung mengambil dan membuka ponsel Daniella lalu mengeluarkan sim card. Mematahkan sim card tersebut dan membuangnya ke tong sampah beserta ponselnya.


Jonathan melanjutkan kembali aktivitas memasaknya. Dia mengiris daun kucai, gerakan tangannya melambat. Seolah dirinya sedang berpikir hal lain yang berdampak kerja otaknya untuk menginstruksikan memotong daun kucai terhenti.


Entah apa yang sedang dipikirkan Jonathan, dia mengerutkan dahinya lalu mengendurkan kembali. Setelah itu, dia melanjutkan acara memasaknya.


Dua hidangan terselesaikan. Jonathan menyuguhkan hasil masakannya di depan Daniella.


"Makanlah." Jonathan menyodorkan sendok yang sudah terisi makanan.


Daniella membuka mulutnya dan memakan suapan yang diberikan oleh Jonathan.


Mereka makan dalam diam, tidak ada celoteh cerewet Daniella. Hanya Jonathan yang sesekali berbicara. Itu pun hanya meminta Daniella membuka mulutnya.


Setelah makan malam. Jonathan menggiring Daniella ke kamar mandi. Dia melepas pakaian Daniella.


"Biar aku bantu Kakak mandi," ujar Jonathan.


Daniella bak boneka yang dimainkan oleh Jonathan sesuka hati. Melumuri tubuh Daniella dengan sabun, mencuci rambutnya dan membantu wanita itu menyikat gigi.


Bahkan, Jonathan mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Daniella, tidak lupa memakaikan piyama. Dia pun mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Daniella.


Setelah selesai, Jonathan membaringkan Daniella ke ranjang dan memeluknya, Seperti biasa, Jonathan menurunkan tubuhnya agar dia bisa bersembunyi di dada sang istri.


"J," panggil Daniella.


"Ya," jawab Jonathan.


"Apa kau akan melepas Cysara?"


"Tidak tahu, dia telah melukaimu."


"Bukankah kau lihat bahwa aku baik-baik saja."


Jonathan mendongak, menatap wajah Daniella dari sudut dagu sang wanita. Dia merangkak untuk mensejajarkan wajah mereka. Hingga, membuat mereka saling tatap.


"Kau cantik Kak. Sangat cantik," ujar Jonathan mengalihkan pembicaraan.


"J, aku mohon padamu. Lepaskanlah ...."


Jonathan membungkam bibir Daniella dengan bibirnya. Dia tidak suka mereka membicarakan orang lain saat berada di atas ranjang.


Ciuman Jonathan lembut. Namun, perlahan ciuman itu semakin menuntut. Dari hanya sekedar ciuman beralih ketahap selanjutnya. Jonathan membuka piyama yang digunakan Daniella. Melemparkan ke sisi ranjang.


Dia menatap tubuh polos Daniella, semua yang ada di tubuh gadis itu adalah sebuah keindahan yang tak bisa dibandingkan oleh apapun. Itulah yang ada dibenak Jonathan.


Jonathan memberikan sentuhan di setiap jengkal tubuh wanitanya. Mengecapnya, menyesap dan memberikan gigitan kecil. Daniella benar-benar sudah menjadi mainan Jonathan.


Tidak ada lagi kenikmatan yang dirasakan oleh Daniella, dia hanya merasakan kehambaran. Rasa takutnya menyebar keseluruhan jiwanya. Namun, dia tidak bisa berbuat apapun. Tatapan matanya kosong, seakan jiwanya tak berada di tubuhnya.


"Jangan pikirkan orang lain. Hanya boleh aku yang ada di otak dan hatimu. Begitupun dengan dirimu. Hanya ada kau dalam diriku," bisik Jonathan ditelinga Daniella.


Daniella hanya bisa memejamkan matanya. Hanya bisa mengikuti permainan suaminya. Dia takut Jonathan tiba-tiba membunuh Cysara.


Melihat apa yang terjadi pada Cysara, membuat Daniella yakin, kematian Evan masih ada sangkut pautnya dengan Jonathan.