My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 11 Kecelakaan



“Kalau aku hamil, kalian bisa melihat dalam beberapa bulan lagi, perutku membesar atau tidak!” tegas Ainsley. Kesal dengan mulut tidak bertanggung jawab reporter itu.


“Lalu, mengapa pernikahan Anda dilakukan secara mendadak?” tanya seorang reporter perempuan.


“Bukan mendadak, sudah direncanakan sebelumnya. Hanya saja, kami memang tidak berniat membesarkan pernikahan kami,” jawab Daniella.


Sesi wawanacara telah usai, Jonathan tidak sedikitpun bicara, hanya Daniella yang mengambil alih semua pembicaraan. Jelas, para wartawan tidak puas akan jawaban dari Daniella.


“Wawancara apa ini!” dengus salah satu reporter yang masih bisa didengar Daniella.


“Apa kalian saling mencintai?” tanya Jason sedikit berteriak, seorang reporter yang sedari tadi hanya merekam tanpa bertanya.


Daniella bersiap membuka mulutnya. Namun, terhenti karena mendengar suara dari orang yang duduk di sampingnya.


“Tentu, kami saling mencintai,” jawab Jonathan.


Daniella menoleh, dia hanya menatap Jonathan. Tidak disangka Jonathan membuka suaranya. Daniella tidak ingin memperpanjang urusan. Dia bangkit dari duduknya dan berniat berbalik meninggalkan tempat konferensi pers. Jonathan ikut berdiri, mengikuti sang istri.


Jawaban Jonathan tidak memberikan kepuasan pada Jason. Jason merupakan reporter yang pernah menjadikan Daniella idolanya. Namun, dia kecewa saat tahu Daniella menjadi simpanan seorang CEO.


Jason pernah mempergoki Evan dan Daniella yang sedang berpelukan. Tetapi, pada saat itu dia tidak membawa kamera sehingga tidak ada bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh Daniella dan juga Evan.


Rasa kecewa membuat Jason membenci Daniella, karena dia tahu Daniella mengkambinghitamkan pria yang menjadikan suaminya sebagai pengalihan publik atas perselingkuhannya dengan Evan.


Jason tanpa sadar melempar botol minuman kaleng ke arah Daniella sebagai pelampiasan kemarahannya.


Slap! Dengan lugas Jonathan menangkap botol minuman dingin tersebut. Matanya mengedar, menelisik siapa yang melempar botol itu. Tatapan tajam Jonathan menjadi perhatian para wartawan, tatapan kosong sebelumnya berubah menjadi tatapan mengerikan. Seketika para reporter membeku melihat tatapan tajam yang menghipnotis.


Daniella menoleh ke belakang, dia cukup terkejut, tangan Jonathan menggenggam erat botol minuman itu. Secara perlahan, minuman kaleng yang masih tersegel diremmas oleh Jonathan sehingga air di dalamnya keluar.


Kaleng tersebut langsung diambil Daniella, dia melihat tatapan tajam Jonathan. Jantungnya berdegup cepat, dia belum mengenal jauh Jonathan. Namun, dia selalu merasa ada yang salah pada Jonathan yang kini sudah berstatus suaminya.


Jason langsung diamankan oleh security setempat. Daniella dan Jonathan keluar dari ruang konferensi pers. Langkah Daniella terhenti saat merasa tidak ada Jonathan di belakangnya.


“Sedang apa kau di sana?” tanya Daniella melihat Jonathan yang diam di ambang pintu.


Jonathan berjalan menghampiri Daniella. “Kau pergilah, aku masih ada urusan,” ujarnya.


“Apa kau mulai bekerja hari ini?” tanya Daniella.


“Ya.”


“Baiklah, aku pulang dengan Prisil.”


Jonathan hanya mengangguk. Daniella pergi meninggalkan Jonathan dan berjalan menuju mobil Prisil. Setelah memastikan Daniella pergi, Jonathan pun pergi. Namun, dia tidak pergi dengan mobil yang diberikan oleh perusahaannya bekerja.


“Kau pergilah. Jemput aku di alun-alun kota dua jam lagi,” titah Jonathan pada sang sopir.


***


Konferensi pers yang berjalan secara langsung, menjadi perhatian Evan, dia menatap lekat wanita yang selama ini menjadi kekasihnya di layar kaca.


Tangan Evan mengepal keras, seharusnya dirinya yang menghabiskan malam panas bersama Daniella. Namun, pria asing yang mendapatkan malam pertama Daniella. Evan mengambil benda pipih di kantong celananya, dia langsung menghubungi Daniella.


Daniella mengerutkan dahinya saat tahu yang menelpon adalah kekasihnya. Daniella sedang menimbang, mengangkat panggilan tersebut atau membiarkannya.


Prisil menoleh pada Daniella. “Siapa yang menelpon? Mengapa tidak diangkat?”


“Evan,” jawab Daniella.


“Tidak perlu diangkat. Pria pengecut seperti itu tidak usah kau pedulikan,” geram Prisil.


“Bagaimana jika dia ingin menjelaskan sesuatu?”


“Kau ini bodoh ya? Jelas-jelas dia meninggalkanmu di hotel, masih mempedulikan dia. Jangan diangkat!” hardik Prisil. Tangan gembul Prisil meremat stir mobil.


Daniella memasukan ponselnya ke dalam tas, dia mematuhi perintah Prisil meskipun hatinya masih cemas. Masih ada cinta untuk Evan. Namun, Daniella tidak berani untuk membicarakannya pada Prisil. Baginya, Prisil bukan hanya managernya, wanita sedikit gembul itu sudah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.


***


Jarum pendek pada jam tangan Jonathan terus berdetak. Dia menatap arloji di tangannya, seperti sedang menunggu sesuatu. Mata Jonathan mendongak, menatap jalan raya yang tidak padat kendaraan.


Dalam waktu yang singkat, ada sebuah mobil berjalan dengan tak tentu arah. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi di jalan menurun. Sang sopir tidak mampu mengendalikan mobil tersebut.


Cit… Brak!


Mobil tersebut menabrak beton pembatas jalan hingga akhirnya terpelating dan terbalik. Sang pengemudi tak sadarkan diri, kepalanya penuh dengan darah, pintu mobil terbuka.


Para pengendara lain berhenti dan mengerubungi korban kecelakaan tunggal tersebut. Polisi mulai datang ke tempat kejadian. Ambulance pun sudah dihubungi.


Jonathan hanya menyaksikan peristiwa berdarah tersebut dengan wajah yang datar. Hingga akhirnya ambulance datang dan membawa korban kecelakaan tersebut.


Jason, korban kecelakaan tersebut langsung dinaikan ke tandu dan dimasukan ke dalam ambulance, sang perawat langsung memakaikan oksigen.


Seiring dengan perginya mobil ambulance tersebut, Jonathan melangkahkan kakinya menuju alun-alun kota. Sudah ada sang sopir yang menunggunya di sana. Jonathan masuk ke dalam mobil.


“Kita mau pergi ke mana, Tuan?” tanya sang sopir.


“Pulang,” jawab Jonathan.


“Baik.”


Mobil mewah tersebut membelah jalan menuju tempat Jonathan dan Daniella. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah Jonathan. Tidak ada rasa senang atau pun sedih. Namun, dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Daniella.


Jonathan masuk ke dalam rumah. Prisil sudah pergi, tinggallah Daniella sendiri. Daniella berlari saat mendengar pintu terbuka, dia langsung menghampiri Jonathan.


“Jo, reporter yang melempar minuman kaleng padaku mengalami kecelakaan!” seru Daniella menggebu.


“Benarkah?” tanya Jonathan.


“Aku tidak bohong, sebelum Prisil pergi, kita mendapatkan informasi dari rekan wartawan langsung,” jelas Daniella.


“Baguslah.”


“Apa?”


Jonathan mengedipkan matanya. “Mungkin, dia mendapatkan karma.”


Daniella hanya mengerutkan dahinya. “Karma?” gumam Daniella.


Apa mungkin karma bisa secepat itu?


“Aku lapar!” Suara Jonathan membuyarkan lamunan Daniella.


“Kalau begitu, kita pesan makan, ya?” tawar Daniella.


“Tidak mau, kemarin sudah makan junk food.”


“Jadi kau mau makan apa?”


“Mau makan masakan rumahan.”


“Kita tidak punya bahan makan.”


“Kalau begitu, kita beli saja.”


“Siapa yang masak?”


“Kamu.”


“Aku?”


Jonathan memandang Daniella dengan mata berbinar. Namun, di mata Daniella, wajah Jonathan tampak memelas. “Baiklah, aku akan memasak untukmu.”


Sekali lagi, Daniella tidak tega melihat wajah Jonathan yang memelas.