My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 18 Tidur Bersama



Daniella menghembuskan napasnya pelan. Jonathan sangat serius dengan perkataannya. Lelaki itu tidak pergi dari depan kamarnya sampai Daniella bersedia memasak untuknya.


"Jo, bangunlah." Daniella menepuk pundak Jonathan.


Jonathan masih terlelap, dia tidak bergerak oleh sentuhan Daniella. Berulang kali Daniella menepuk pundak Jonathan. Perlahan suaminya mendongak.


"Apa kau mau memasak untukku?" tanya Jonathan memelas.


"Pindahlah ke kamar, aku akan memasak untukmu. Akan aku bangunkan saat sudah jadi."


Setelah berucap, Daniella pergi meninggalkan Jonathan sendiri dan turun ke lantai satu, dia mulai membuka kulkas, mencari bahan makanan yang mudah dibuat.


Setelah disibukan dengan aktivitas memasak, Daniella tidak memanggil Jonathan untuk turun. Dirinya, menghidangkan makanan di atas baki, menaruh nasi, sup dan juga susu putih untuk suaminya.


Daniella menaiki tangga dengan baki ditangannya. Mengetuk pintu kamar Jonathan. Tidak ada sahutan dari ketukan pertama. "Jo, apa kau di dalam?" tanya Daniella dan masih tidak ada jawaban.


Daniella meletakan baki makanan di meja yang ada di depan pintu kamar Jonathan. Dia meraih handle pintu dan mendorongnya.


Langsung masuk ke dalam kamar, kamar standar tanpa banyak ornamen. Hanya ada ranjang, meja belajar dan juga lemari pakaian.


"Kemana dia?" gumam Daniella.


Daniella keluar dari kamar Jonathan, dia beralih ke kamarnya sendiri, tidak lupa membawa kembali baki makanannya. Dia menemukan Jonathan sedang meringkuk di atas ranjang. Daniella menghampirinya. "Jo, bangunlah! Aku sudah membuatkan makanan untukmu," tutur Daniella.


Daniella meletakan baki makannya di meja riasnya. Tidak ada sahutan dari Jonathan, dia membangunkan dengan menyentuh tubuh Jonathan.


Daniella mengulurkan tangannya, menyentuh dahi suaminya. "Panas sekali," lirih Daniella.


Tubuh Jonathan panas, giginya bergemeretak, kakinya ditekuk kedalam.


Daniella langsung turun ke bawah, membawa air hangat dalam baskom, mengompres dahi Jonathan dan mengelap beberapa titik panas di tubuh suaminya, dengan telaten merawat Jonathan bagaikan anak kecil.


"Makanlah sedikit, setelah itu istirahat lagi," ujar Daniella sembari membantu Jonathan untuk duduk.


Beruntung Daniella memasak sup, sehingga mudah untuk dimakan saat sakit. "Buka mulutmu," titahnya.


Jonathan patuh, dia membuka mulutnya, menyambut Daniella menyuapinya. Sesendok demi sesendok sup masuk ke dalam mulut Jonathan.


Setelah habis makan, Daniella mengambil obat penurun panas. "Minum obat dulu."


Jonathan hanya patuh, menelan tablet penurun panas, setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang Daniella.


"Jo, bisa kau pindah ke kamarmu?" tanya Daniella.


"Aku tidak sanggup berdiri," jawab Jonathan.


"Panasmu sudah sedikit menurun, pindahlah ke kamarmu," bujuk Daniella.


"Aku takut tiba-tiba demam lagi." Jonathan menarik selimut dan membenamkan kepalanya ke dalam selimut.


"Itu selimutku." Daniella menarik selimut yang menutupi wajah Jonathan. "Cepatlah pindah, aku tahu kau sudah baik-baik saja!"


"Tidak mau!" Jonathan menarik kembali selimutnya dan menutup kepalanya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku yang pergi!" Daniella berbalik badan untuk pergi meninggalkan Jonathan. Namun, tangannya dicekal dan ditarik oleh Jonathan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Daniella menjerit.


Daniella ambruk ke atas kasur. Jonathan langsung memeluk tubuh Daniella. "Kumohon jangan pergi," pinta Jonathan.


"Jo ...."


"Ku mohon," lirih Jonathan lagi. Dia mendusel di lengan Daniella.


Perlahan Jonathan menutup matanya, dia terlelap dengan memeluk Daniella. Hanya saja, yang dipeluk tidak bisa terlelap. Mata Daniella terus terjaga.


Pikirannya menerawang, beberapa jam lalu Jonathan membuat jantungnya berpacu cepat karena ciuman lantangnya. Namun kini, Jonathan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Hingga, akhirnya Daniella lelah dan ikut memejamkan matanya. Mereka tidur bersama di atas ranjang.


Matahari di ufuk memancarkan cahayanya, sepasang suami istri masih terlelap di atas ranjang. Daniella bangun terlebih dahulu, dia bangkit dari tidurnya. Menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Jonathan.


Setelah memastikan sudah tidak ada lagi demam, Daniella turun ke bawah. Dia langsung menuju ke dapur, menyiapkan sarapan untuk Jonathan.


Sudah hampir selesai memasak, Daniella tersadar sesuatu. "Kenapa aku jadi seperti istri sungguhan?" gumam Daniella.


***


“Bagaimana keadaanku?” tanya Cysara pada asistennya.


“Dokter bilang tidak ada luka serius, beruntung jatuhnya lampu tidak tepat di kepalamu,” jelas Gracia, asisten Cysara. Lelaki kemayu yang selalu menemani sang model.


Cysara menyentuh wajahnya. “Apanya yang tidak serius? Kalau tidak serius, kenapa banyak perban di wajah dan tubuhku!” hardik Cysara.


“Ish, benar-benar berlebihan! Kau pikir sedang dililit perban seperti mummy? Kau hanya terkena luka ringan. Pipi dan juga lenganmu memang terkena pecahan kaca, tapi tidak sampai harus dibalut perban seluruh tubuh! Lagi pula, tidak ada luka dalam, hari ini pun sudah bisa pulang kalau kau mau!” dengas Gracia.


“Aku harus meminta ganti rugi atas kelalaian kerja ini! Setidaknya, biarkan aku tinggal di rumah sakit untuk meyakinkan publik bahwa luka yang kualami serius. ”


“Itu harus! Aku sudah konsultasi pada pengacara agar kita bisa mengajukan tuntutan dan juga meminta ganti rugi besar atas kerugian yang kau alami.”


“Minta ganti rugi sebesar mungkin! Kalau sampai wajahku cacat, aku harus memberi perhitungan pada klien kita!”


“Ya. Setidaknya harus bisa membayar tagihan operasi plastikmu,” tutur Gracia. “Sekarang kau istirahatlah, dengan kejadian ini, kau bisa beristirahat sejenak dari penatnya pekerjaan.”


“Kau sudah membatalkan semua pekerjaanku?” tanya Cysara sedikit khawatir.


“Mau bagaimana lagi? Kau sedang terluka, mana mungkin aku terima semua pekerjaan yang masuk. Bahkan aku membatalkan kehadiranmu pada acara ulang tahun Matt Forse.”


“Apa? Acara Matt Forse? CEO MF Entertainment?”


“Ya.”


“Acara apa? Kenapa kau tidak memberitahu sebelumnya padaku?”


“Aku baru tahu sebelum kau kecelakaan. Matt Forse mengadakan acara ulang tahunnrya. Pesta yang mengusung pesta topeng,” jelas Gracia.


“Aku harus datang!” tegas Cysara.


“Kau mau datang dalam keadaan wajah seperti itu?”


“Ini kesempatan emas, aku harus datang! Siapa tahu dia bisa membuatku menjadi bintang film terkenal. Selain menjadi model, menjadi aktris juga sangat baik!”


“Kau sungguh berambisi, untuk masuk ke dalam MF Entertainment itu sangat sulit. Hanya orang-orang yang berbakat yang bisa masuk ke dalamnya. Memangnya kau tidak tahu artis-artis yang tergabung di sana?” jelas Gracia.


“Kau mau bilang aku tidak berbakat?”


“Bukannya iya, jika kau bukan simpanan Om Roy. Mana mungkin kau bisa bertahan dalam dunia model. Semua fotografer pun tahu kualitas dirimu itu seperti apa!”


Pluk! Cysara melempar bantal pada Gracia dan dengan sigap ditangkap oleh pria kemayu itu.


“Bukannya membelaku, kau malah meremehkanku! Kau lupa siapa yang menggajimu!” dengus Cysara.


“Lalu, kau mau pakai cara apa untuk masuk ke dalam dunia film?”


Cysara menyeringai. “Aku yakin Matt Forse tertarik padaku. Dia bisa membuatku terkenal di dunia film," ujar Cysara percaya diri.


“Dasar rubah!” dengus Gracia.