
Jonathan menatap Daniella, kini tatapannya berbeda, tidak ada tatapan kucing memelas seperti tadi. “Kau ingin jawaban seperti apa?” tanya Jonathan penuh penekanan.
Sekarang giliran Daniella yang tidak habis pikir, mengapa pria didepannya ini bisa mengubah ekspresinya. Menjadi sesuatu yang Daniella sendiri tidak tahu, ekspresi apa yang saat ini Jonathan tunjukkan. Dia hanya merasa sedikit terintimidasi.
“A—ku ingin kamu mengatakan secara detil, apa yang terjadi semalam,” terlontar sudah dari mulut Daniella, dia ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Rahang keras Jonathan perlahan melembut, tatapan matanya berubah, bibirnya mengembangkan simpul senyum. Jonathan mengangkat kedua tangannya dan menggerakkan jemarinya. “Aku membantumu dengan ini,” jawab Jonathan melengkungkan sudut matanya.
Daniella memiringkan kepalanya ke kiri, menerka apa maksud Jonathan menggerakkan jari-jarinya.
“Maksudmu?” tanya Daniella penuh keraguan, dia sudah mengira apa yang terjadi. Namun, mencoba menolak pikirannya.
“Kau ribut kepanasan, jadi aku melepas semua pakaianmu dan menyirammu dengan air shower kamar mandi tapi setelah itu kau masih gelisah,” terang Jonathan.
“Lalu?” tanya Daniella.
“Hanya memijat seluruh tubuhmu dengan ini.” Jonathan mengangkat kembali tangannya.
"Seluruh tubuh?"
"Ya, tanpa terkecuali."
Daniella menatap jemari Jonathan, rasa sakit pada seluruh tubuhnya itu merupakan ulah jari nakal Jonathan. Dia menangkup wajahnya sendiri. Bagaimana mungkin Jonathan bisa bercerita sangat polos seperti itu.
“Kau tidak apa?” tanya Jonatan datar.
“Aku baik-baik saja. Aku mau istirahat, tolong jangan ganggu aku!” Daniella bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Belum sampai kamarnya dia menoleh lagi pada Jonathan. “Hanya itu yang terjadi ‘kan?” tanya Daniella memastikan.
Jonathan mengangguk, sebelum Daniella menutup pintu kamar, Jonathan bersuara. “Apa aku bisa minta makan?”
Daniella terhenti berbalik lagi menghadap Jonathan. “Kau bisa makan apa saja yang ada di kulkas tetapi wilayahmu hanya di sekitar ruang tamu dan dapur. Apa kamu mengerti?” tanya Daniella memastikan.
Jonathan hanya mengangguk dan beralih ke dapur untuk mencari makanan, dia menemukan sebungkus mie instan. Jonathan meremasnya mie tersebut, membuka kemasan dan mengeluarkan bumbunya.
Setelah itu membuka bungkus bumbu dan memasukkan ke dalam mie instan tersebut tanpa proses perebusan mie. Jonathan naik ke kursi di ruang makan, dengan kedua kaki bertapak di atas kursi bukan di lantai. Memakan mie tersebut tanpa menggunakan alat makan seperti sendok atau mangkuk, dia hanya menggunakan bungkus mie sebagai wadah dan jemarinya untuk mengambil mie kering tersebut.
Daniella yang tasnya tertinggal di ruang tamu, keluar dari kamar untuk mengambil tasnya. Dia tidak melihat Jonathan di ruang tamu, Daniella beralih ke dapur dengan mengendap. Seketika matanya terbuka lebar saat melihat Jonathan sedang memakan mie instan langsung dari bungkusnya, mengadahkan kepala dan menuangkan langsung mie kering ke dalam mulut, dan yang membuat Daniella lebih terkejut, Jonathan tidak duduk di kursi melainkan berjongkok di atas kursi. “Apa yang sedang kamu lakukan?” hardik Daniella.
Jonathan menoleh, dengan tanpa bersalah berkata, “Makan.”
Daniella menghampiri Jonathan. “Tapi, kenapa makan seperti itu? Kau bisa duduk di kursi dan jangan makan mie seperti itu! Ini harus dimasak dulu,” oceh Daniella merampas mie di tangan Jonathan.
Jonathan mematuhi perintah Daniella, turun dari kursi dan duduk dengan manis di kursi tersebut. Jonathan hanya bisa pasrah saat mienya dirampas oleh Daniella.
“Biarpun ini mie instan, tetap membutuhkan proses pemasakan terlebih dulu!” terang Daniella.
Daniella membuang mie di tangannya dan mengambil kemasan mie yang baru, mengambil panci, mengisi air dan mendidihkannya diatas kompor dengan api besar.
Daniella tidak hanya memasak mie secara polos, dia memotong daun bawang dan tomat. Mengambil telur, bakso, kornet dan sosis dari dalam kulkas. Entah mengapa Daniella berkeinginan memasak mie secara lengkap.
Tidak hanya mengandalkan bumbu yang ada dalam kemasan, Daniella juga menambahkan bumbu yang ia racik. Pada dasarnya Daniella pandai memasak, karena tuntutan hidup yang memaksanya untuk memasak agar berhemat. Daniella merupakan anak yang tumbuh di dalam keluarga menengah kebawah, diusianya sembilan belas tahun, orang tuanya meninggal sehingga membuat Daniella bekerja keras untuk biaya hidupnya.
Hingga akhirnya mie selesai di masak, sebagai tahap akhir, Daniella menambahkan keju parut ke atas mie tersebut. “Sudah jadi, cobalah,” ujar Daniella.
Jonathan menatap Daniella, yang ditatap menjadi salah tingkah. Daniella tidak bisa mengartikan tatapan Jonathan tersebut.
“Jangan lihat aku seperti itu! Cepat makanlah, tidak aku racuni!” perintah Daniella.
Jonathan mengalihkan tatapannya ke mangkuk mie, mengambil sendok dan mulai memakannya tanpa ditiup. Mulai dari satu suapan hingga seterusnya, memakan mie tersebut dengan tatapan hanya berfokus pada mie dan juga sendoknya tanpa melihat Daniella disampingnya.
Daniella lah yang memfokuskan tatapannya pada Jonathan. Tahap akhir, Jonathan mengangkat mangkuk mie dan menyeruput sisa kuah mie langsung dari mangkuknya. “Sudah habis, aku mau dibuatkan ini setiap hari,” ucap Jonathan datar.
“Kamu pikir aku pembantumu!” protes Daniella, berniat beranjak pergi meninggalkan Jonathan sendiri di dapur. Namun, Jonathan mengikutinya di belakang, Daniella menoleh. “Kenapa kamu mengikutiku?”
“Aku mau tidur,” jawab Jonathan.
“Setelah makan, kamu mau tidur? Bukankah seharusnya kamu mencuci bekas makananmu dulu!” terang Daniella.
“Haruskah?” tanya Jonathan.
“Perlukah kamu bertanya padaku? Cepat cuci bekas makananmu!” hardik Daniella.
Jonathan hanya mematuhi perintah Daniella, dia mengambil mangkuk mie-nya dan membawanya ke wastafel dan mulai mencuci piring tersebut. Sedangkan Daniella sudah berada di dalam kamarnya, memijat keningnya sendiri, menelaah makhluk apa yang ada di rumahnya tersebut.
Jonathan tidur di ruang tamu, meringkuk di atas sofa, matanya terbuka lebar. Memikirkan sesuatu di otaknya. Begitupula dengan Daniella yang tidak bisa tidur di dalam kamarnya, masih tidak percaya hal yang baru saja terjadi.
Pagi menjelang, dua orang yang kesulitan tidur. Kini tertidur dikala matahari mulai menyinari belahan bumi dan tidur mereka terganggu karena kedatangan Prisil.
“Cepat bangun, para wartawan akan ke sini!" Prisil menepuk pundak Daniella. Dia bisa bebas masuk ke apartemen Daniella.
Daniella enggan membuka matanya. Namun, setelah mendengar para wartawan akan datang ke kediamannya, mata Daniella langsung terjaga. “Untuk apa mereka ke sini?” tanya Daniella dengan wajah bantalnya.
“Menurutmu? Tentu saja masih dengan kasus yang sama!” tutur Prisil.
“Mereka ‘kan sudah tahu bahwa aku dan Jonathan adalah tunangan!” sergah Daniella.
“Bukan itu! Hubunganmu dengan Jonathan dianggap gimik semata, ada yang merekammu dan Evan berbincang saat diacara ulang tahun pernikahan Evan. Tidak hanya itu saja, bahkan ada rekaman kamu masuk ke kamar hotel dan Evan menyusulmu ke dalam kamar tersebut.”
“Lalu?” tanya Daniella masih bingung.
“Para media menduga kejadian kamu menghabiskan malam panjang bersama Jonathan hanyalah sebuah drama untuk menutupi perselingkuhanmu dengan Evan!” tegas Prisil.
“Apa?” tanya Daniella tidak percaya.