
Mendapat ciuman tiba-tiba membuat Daniella linglung, dia tidak siap akan ciuman yang diberikan Jonathan. Namun, perlakuan Jonathan yang lembut membuat Daniella terhanyut.
Dari melebarkan matanya, hingga menutup mata untuk menikmati bibir lembut Jonathan. Ya, lembut bibir pria di depannya. Tidak hanya memiliki tipe wajah pria cantik, kulit Jonathan pun sangat lembut.
Entah perawatan apa yang dilakukan Jonathan. Namun, selama tinggal bersama Jonathan, dia tidak pernah melihat Jonathan melakukan perawatan dan pria itu lebih cenderung cuek akan penampilannya.
Ciuman Jonathan semakin menuntut, dia menginginkan lebih dari sekadar ciuman. “Aku menginginkanmu, Kak,” bisik Jonathan di sela ciuman mereka.
Daniella tak mendengar dengan jelas apa yang Jonathan ucapkan, dia terlalu terhayut dengan situasi dan kondisi yang mulai memanas. Dia tidak lagi segan membalas ciuman dari Jonathan.
Mendapat sambutan dari Daniella membuat Jonathan berani untuk ke tahap selanjutnya. Ciuman Jonathan turun ke bawah, memberikan kecupan basah di ceruk leher istrinya hingga ke tulang selangkanya.
Daniella hanya memejamkan mata, tangannya mer*mas rambut hitam milik suaminya. Begitu pula dengan tangan Jonathan yang mulai tak terkondisi. Menyelinap dibalik pakaian yang digunakan gadis pujaannya. Menyentuh sesuatu yang lembut di dalamnya. Suatu sensasi yang baru pertama kali mereka rasakan.
Bibir Jonathan masih dengan sangat aktif mencium bagian tubuh Daniella, sesekali Jonathan menatap sekilas pada wajah Daniella yang memejamkan mata. Bulu mata yang panjang bergetar, menandakan gadis itu gugup. Namun, tidak ada protes dari Daniella.
Di saat Daniella mulai mengharapkan lebih dari sekadar ciuman dan sentuhan. Jonathan menarik dirinya. Hawa dingin menusuk tubuh sang wanita, hanya tinggal sisa-sisa hawa panas yang tertinggal dari tubuh Jonathan.
Pikiran Daniella berkelana. Mengapa Jonathan menghentikan aksinya, apakah Jonathan menganggapnya sebagai wanita murahan yang mudah disentuh laki-laki, hingga Jonathan menghentikan aksinya dan pergi meninggalkannya.
Rendah, seketika Daniella merasa dirinya sangat rendah karena dengan mudahnya menerima setiap perlakuan romantis Jonathan. Daniella enggan membuka matanya, dia malu jika saat membuka mata, ada Jonathan yang menatapnya jijik.
Setelah merasa cukup lama memejamkan mata dan dia yakin Jonathan sudah pergi dari kamar. Perlahan Daniella membuka mata, berharap Jonathan sudah tidak ada di depan matanya. Namun, saat dia membuka mata ….
Klik!
Ruangan menjadi gelap dan tubuhnya di tindih kembali oleh seseorang. “Kita lanjutkan,” ujar Jonathan.
“Ha?”
Jonathan langsung membungkam bibir Daniella. Ya, dia sengaja mematikan lampu agar Daniella lebih santai, membungkam mulut gadis itu agar tidak sempat menolak. Membiarkan Daniella bebas mengekspresikan dirinya tanpa harus malu.
Tidak ada obrolan dan hanya ada aktivitas panas yang terus berjalan. ‘Sedikit Bicara Banyak Bekerja’ mungkin ini pribahasa yang tepat menggambarkan situasi Jonathan dan Daniella saat ini.
Entah siapa yang memulai melucuti pakaian mereka. Kini, dua orang berbeda jenis dalam keadaan polos. Melakukan hal baru yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
Semua berjalan dengan sangat alami, tidak ada paksaan, tidak ada bujukan seolah mereka suka rela melakukannya.
Cahaya bulan mengintip dari sela-sela pohon di samping kamar Daniella, menembus ke dalam kaca jendela. Membuat siluet indah yang menjadi penghias kegiatan romantis kedua insan.
Hingga malam semakin larut, napas tersengal di antara keduanya. Namun, tidak sedikitpun kulit mereka berjarak, masih tetap saling bersentuhan meskipun hanya ujung jari kelingking mereka yang bersentuhan.
Daniella dan Jonathan hanya bisa menatap atap kamar, masih bingung dengan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Ya, Daniella telah menjadi seorang wanita sesungguhnya. Wanita dengan status seorang istri.
“Jo,” ucap Daniella.
“Ya,” jawab Jonathan cepat.
Tidak ada yang bicara lagi setelah itu. Daniella tidak berkata lagi, Jonathan pun tidak bertanya lagi mengapa Daniella memanggilnya.
Cangung! Hanya perasaan itu yang hinggap di antara mereka. Tidak seperti sepasang kekasih yang saling berpelukan dan saling mengucapkan rasa cinta setelah bercinta. Tidak ada ucapan terima kasih dan pembayaran dari seorang pria terhadap wanita si kupu-kupu malam. Tidak ada pula obrolan tentang s*x seperti hubungan friend with benefit.
Jonathan tidak tahu harus berbuat apa, begitupula dengan Daniella. Mereka hanya berdiam diri dengan pemikiran masing-masing. Daniella masih menatap atap yang terkena cahaya bulan. Sebuah bayangan tampak di atap kamar yang berbelah dengan garis tembok. Tampak bayangan seperti seorang wanita dengan gaun yang menjuntai.
Tek! Tek!
Daniella bergidik, seketika dia memeluk Jonathan yang terdiam di sampingnya. Memeluk lengan Jonathan dengan erat dan memejamkan matanya.
“Ada apa?” tanya Jonathan menoleh pada Daniella.
“Tidak ada hantu,” imbuh Jonathan ikut berbisik.
“Ada.” Daniella mengeratkan pelukannya, kulit mereka saling melekat. Jonathan sangat menyukai aktivitas cuddling mereka. Bahkan dia merasakan gumpalan kembar lembut milik Daniella.
“Benar—kah?” tanya Jonathan sedikit gugup.
“Tidakkah kau mendengarnya?”
“Tidak ada suara apapun.”
“Lihat atas, seperti bayangan seorang wanita.”
Daniella enggan membuka matanya.
Jonathan melihat ke atas. Ya, terdapat bayangan. Namun, tidak seperti yang Daniella bayangkan. “Itu hanya banyangan dahan pohon,” terang Jonathan.
Daniella membuka matanya. “Benarkah?”
“Lihatlah sendiri.”
Perlahan Daniella menaikan tatapannya dan memandang kembali atap yang terkena pantulan cahaya bulan. Benar yang dikatakan Jonathan, setelah dilihat lebih teliti, itu hanya bayangan dahan pohon.
Tek! Tek!
“Jo, suara itu?” tanya Daniella khawatir.
“Biar aku cek.” Jonathan menyibakan selimut, dia mengambil handuk yang tersampir di kursi meja rias dan melilitkan di pinggangnya. Jonathan berjalan menuju jendela, membuka jendela yang memang terbuka seperempat.
Daniella hanya bisa menatap Jonathan dengan duduk di ranjangnya.
“Hush … hush .…” Jonathan sembari menggerakan tangannya dengan gerakan mengusir.
Miau!
“Hush … hush …” Memastikan kucing tersebut pergi, Jonathan kembali lagi keranjang. Namun, sebelumnya menutup rapat jendela. “Hanya seekor kucing,” jelasnya.
“Kenapa hanya suara tek, tek saja yang terdengar? Seharusnya dari tadi dia mengeong! Bikin takut saja!” keluh Daniella.
“Sepertinya dia mau mengambil makanan di dalam kaleng bekas tapi tidak bisa mengeluarkan makanan itu.”
Daniella hanya mendecak, tiba-tiba dia teringat akan kejadian di gudang halaman belakang. Suara tangis seorang wanita yang terdengar sangat jelas.
“Jo, apa kau tidak pernah mengalami hal mistis selama tinggal di rumah ini?” tanya Daniella.
Jonathan sudah duduk di atas ranjang. “Tidak,” jawabnya.
“Aku yakin mendengar suara hantu!” seru Daniella.
“Itu hanya kucing yang membenturkan kaleng ke tembok.”
“Bukan yang sekarang. Aku mendengar di gudang halaman belakang, tidak hanya suara tek, tek! Tapi, aku juga mendengar suara tangis seorang wanita dan itu tidak hanya sekali, beberapa kali aku mendengarnya." Daniella menghela napas. "Karena itu aku berlari hingga kakiku terluka!” jelas Daniella menggebu. Bahkan, dia lupa menutupi sebagian tubuhnya.
“Kau ke gudang?” tanya Jonathan mengerutkan dahinya.
Melihat keseriusan wajah Jonathan, menyakinkan Daniella bahwa ada makhluk halus di rumah mereka. “Apa pernah terjadi pembunuhan sebelumnya di rumah ini?”